
Setahun lalu, ketika aku melewati jalanan di sekitar perumahan elite di kota Tokyo, aku melihat sesosok tubuh yang tergeletak di atas salju. Tindakan konyol yang memalukan. Apa dia orang gila yang kabur dari rumah sakit? Begitu pikirku kala itu. Lebih baik aku cepat-cepat meneruskan jalan.
Namun ketika mata itu diam-diam mencuri pandang menatapku, segalanya seakan berhenti. Matanya bulat dan besar. Susah sekali mengalihkan pandangan dari kelopak mata itu, bagai terhipnotis.
Setiap laki-laki, pasti melihat perempuan pada matanya. Lalu bagian dada. Itu sudah lumrah, maka hal itu pula yang kulakukan karena aku laki-laki normal. Kemudian kupandangi wajahnya. Hidungnya mancung, matanya besar dan bulat. Kulitnya putih, rambutnya agak kemerahan. Dia bukan orang Jepang! Kami sipit dan kebanyakan tidak mancung kecuali superstar——aku juga tidak yakin itu asli atau operasi.
“Ah, excusme, Sir!”
Sudah kuduga, dia bukan orang Jepang. Sial! Mana orang-orang Jepang kebanyakan tak menganggap english itu perlu. Ya termasuk aku. Lagi pula mengapa ia menyapaku? Untung cantik, tapi sayangnya gila.
Tunggu! Sejak kapan dia sudah berdiri di hadapanku? Perasaan tadi masih menikmati salju. Sihir wanita memang luar biasa, hingga kaum pria sepertiku tak menyadari pergerakannya.
“A-aa, a-ano ...,”
Kuso!
Dia malah tertawa melihat kegugupanku. Sialnya lagi, dia terlihat cantik dengan tingkahnya itu.
“Namaku Hima. Anda?”
Kalau bisa berbahasa Jepang, kenapa sok pakai bahasa penjajah sih? Tunggu, aku tidak ingat kalau Jepang pernah dijajah Inggris Raya. Lagi pula yang penjajah itu kan kami.
“Kau bisa bahasa Jepang?”
Ia mengangguk. Rambutnya yang terurai begitu berkilau meski tidak tertimpa cahaya matahari. Lagi pula musim ini susah membedakan kapan pagi, siang dan sore. Semua terlihat sama.
“Ibuku orang Jepang,” ujar perempuan itu sambil memainkan rambutnya.
Ketika ia bermain dengan rambutnya, maka di sana pula aku ingat akan Tuhan. Nikmat Tuhan yang sukar didustakan adalah wanita. Selama ini aku tidak punya pengetahuan tentang apa pun tentang Tuhan dan semacamnya. Aku seorang agnostik.
“Kau sedang apa tadi? Tidur di salju begitu.”
“Mencari kerudung ... dan ya, Anda belum mengenalkan diri.”
“Mencari kerudung? Apa kau tidak salah cara dan tempat, Hima-san?”
Ia menghela napas sambil memandangku tak percaya. Ia pasti kesal karena aku tak kunjung merespons perkenalannya. Ia bertambah cantik satu tingkat di mataku.
Aku sekarang percaya bahwa cinta pandangan pertama itu nyata, benar adanya.
“Tadi aku terjatuh!” jawabnya jengah.
“Kawaii!”
Ia semakin tersipu malu. Kulihat pipinya menjadi kemerah-merahan.
Kemudian aku membantunya mencari kerudungnya yang hilang secara absurd. Yang ternyata tertimbun di salju yang ia tiduri tadi. Konyol, bukan?
Karena kekonyolan itulah hingga kini kami menjalin sebuah hubungan yang disebut dengan pertemanan. Ibunya asli Jepang dan ayahnya asli India. Percampuran orangtuanya menciptakan anak perempuan yang parasnya bagai dewi. Sebenarnya aku belum pernah bertemu dengan seorang dewi pun, tapi orang-orang menggambarkan wanita cantik dengan kata dewi, dan aku hanya menyontek kalimat mereka saja.
“Mengapa Anda melamun?”
Suara lembutnya mengembalikanku dari kenangan setahun lalu. Bahkan kini kami duduk di bangku dekat tempat kejadian perkara tahun lalu.
“Apa yang Anda pikirkan, hm? Ayo katakan padaku!”
__ADS_1
“Aku bertanya-tanya, bagaimana seharusnya aku memanggilmu?” ungkapku jujur.
Aku suka padanya. Kami menjalin hubungan petemanan. Belum lagi setiap pekan, aku dan dia menghabiskan waktu untuk sekadar ... seperti kencan. Tak ada kontak fisik. Dia agak berbeda, masih memegang teguh nilai agamanya dan norma budaya ayahnya.
“Aku benar-benar tidak paham apa maksudmu.”
Ia memasang wajah serius.
“Kekasih hati, gadis cantik, juwita, jelita ... semua yang baru kusebutkan adalah namamu.”
Saat aku menyelesaikan kalimatku, tak kutemui rona merah muda yang biasa menghias wajahnya ketika ia kupuji. Kali ini, raut wajahnya aneh, dan aku tidak mau menafsirkan makna ekspresinya itu.
“Anda suka padaku?” tanyanya tanpa tedeng aling-aling.
Ya, tentu saja. Tak kusuarakan, tapi aku mengangguk.
“Seperti apa?”
Itu yang tidak kuketahui. Rasa suka ini seperti apa? Apa hanya karena dia cantik atau ada sesuatu yang lain.
“Seperti aku ingin kita hidup bersama.”
“Kita harus menikah dulu, Fujiwara-san.”
Ia tertawa. Pasti ia menganggap aku tengah bergurau.
“Aku tidak keberatan. Lagi pula usiaku sudah cukup, kau juga. Pekerjaan juga mapan.”
Aku memantapkan bicaraku, karena aku sungguh-sungguh.
“Meski seandainya aku suka pada Anda, kita tidak mungkin bersama.”
“Jangan katakan itu. Islam adalah agamaku. Dalam agamaku, tak ada agama abrahamik. Yang ada hanya islam.”
Ia tersenyum.
“Baik kuralat, apa karena kau seorang yang beriman dan aku tidak?”
Dia mengangguk, membenarkannya.
Pertemuan berikutnya, aku menemuinya, mencoba membujuk. Bukankah pernikahan berbeda kepercayaan masih bisa dilangsungkan? Negeri ini tidak seketat negeri islam yang lain. Saat itu pula, ia marah padaku.
“Perzinahan dilarang oleh agama. Itu termasuk dosa besar setelah musyrik, murtad dan membunuh.”
Sejak saat itu, kami tidak lagi bertemu. Aku memutuskan untuk mencari kebenaran mengenai Tuhan karena satu kalimatnya setelah kalimat yang tadi. Sungguh aku penasaran mengenai hukum dan segala yang diatur oleh Islam.
Aku melakukannya bukan karena Hima. Akan tetapi aku melakukannya atas takdir yang membawaku kepada Hima atas izin Allah.
Sebulan setelah kucari tahu, aku resmi kembali memeluk Islam. Fitrah manusia memang harusnya tunduk pada Tuhan yang Maha Esa. Dan Islam artinya tunduk pada Tuhan.
*****
Hari itu, aku belum tahu maknanya. Belum tahu tentang perkataannya yang:
“Sekalipun kau ahlil kitab, haram hukumnya aku menerima lamaranmu. Lain ceritanya jika aku yang laki-laki, kau yang perempuan, itu masih diperbolehkan.”
__ADS_1
Ya, kalimat itulah yang membawaku kepada Islam.
“Kau terlalu percaya kitab sucimu.”
Aku benar-benar menyesal kala itu, menghina Alquranul Karim tanpa kutahu apa isinya.
“Hanya kitab suci yang diwahyukan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang diperuntukkan seluruh umat manusia. Kitab suci kami universal. Jangan mengolok-ngolok. Aku bisa sakit hati.”
Aku mendecih ketika itu.
Alhamdulillah, aku diberi hidayah, jika tidak, hingga sekarang pasti aku masih saja tersesat. Bahkan aku tidak meminta maaf kerena menista Kalamullah.
“Kau tau? Prophet berkata bahwa kita akan bersama orang yang kita cintai. Dan aku percaya itu. Sabda Prophet dan firman Allah dalam Alquran lebih aku percaya daripada satu ditambah satu sama dengan dua.”
Sekarang, baru kutahu maknanya. Sayangnya, mengapa setelah kepergiannya? Akankah aku bertemu dengannya nanti? Dia mencintaiku juga, tetapi lebih mencintai agama, Rasul dan Allah dibanding apa pun, meski itu kedua orangtuanya.
Di mana lagi bisa kutemukan gadis seperti ini?
Setelah kalimatnya itu, aku semakin gencar menelusuri segala mengenai Islam. Bagaimana ia bisa seteguh itu. Agama yang dianutnya sungguh ajaib.
“Kaa-san! Aku ingin bersyahadat!” kataku saat telah kutemui begitu banyak kebenaran dalam Islam.
Aku tidak mempelajarinya dari orang-orang Islam. Aku membaca kitab mereka. Sesuai anjuran salah satu dokter asal India, seorang yang berilmu tinggi, yang bahkan bisa menghapal semua kitab suci. Masyaa Allah.
Aku menghadiri sawalanya karena ia dari India. Aku merindukan Hima, jadi mungkin terdengar konyol. Namun itulah kenyataannya. Karena rindu pada Hima, dan kebetulan Jepang kedatangan muslim jenius dari India, mengapa tidak?
India. Hima juga setengah India, dan ia telah kembali ke sana bersama ayahnya, bersama ibunya juga.
Ah ya, reaksi ibuku saat kunyatakan itu hanya tersenyum, mengatakan bahwa jika menurutku hal itu benar, ibu hanya bisa mendukung.
Ibuku yang bijaksana, semoga Allah juga memberinya hidayah. Aamiin.
Setelah itu, aku mendatangi seorang ulama di Tokyo, mengutarakan maksudku. Beberapa orang mengucapkan hamdalah dan mulai memelukku.
Disaksikan oleh salah satu syeikh Masjid Kobe dan beberapa jamaah, aku bersyahadat.
“Wahai Tuhan Semesta Alam! Wahai Tuhan dari Ibrahim, Tuhan dari Musa dan Ya’kub, Tuhan dari Al-Masih dan Tuhan dari Prophet Muhammad. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah! Dan aku bersaksi bahwa Isa ibnu Maryam, Israil bin Ishaq bin Ibrahim, juga Muhammad shalallahi alaihi wassalam adalah para utusan Allah!”
Kemudian, syeikh itu mengucapkan kalimat dalam bahasa Arab yang disebut syahadatain. Aku disuruh mengucapakan itu. Atas bimbingannya, aku pun mengucapkan kalimat agung itu.
“Asyhadu alla Ilaha Ilallah. Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu.”
Selanjutnya yang kudengar adalah takbir yang dikumandangkan.
Fujiwara Toneri resmi memeluk Islam. Alhamdulillah.
Aku tidak mengganti namaku seperti muallaf Jepang lainnya. Aku mendengar ceramah Dr. Zakir Naik bahwa aku tidak perlu mengganti nama selama nama itu baik. Allah melihat keimanan, bukan nama atau siapa kau di dunia. Bangsawan dan budak sama di sisi Allah, yang membuat berbeda hanya keimanan. Inilah salah satu yang membuatku tertarik pada Islam, bukan karena perempuan atau Hima. Awalnya iya, tapi semakin kucari, semakin kuyakin ini karena hidayah Allah.
Sepuluh tahun sudah aku memeluk Islam, menuntut ilmu dan memberikan sesuatu untuk agama ini. Menulis tafsir Alquran hingga menerjemahkan hadits shahih ke dalam nihon-go.
Selama sepuluh tahun pula aku selalu mengkhususkan doa di sepertiga malam, yakni:
Wahai Malikul Kuddus, berikan aku Hima di yaumil akhir nanti.
Benar! Hima sudah tiada sepekan ia sampai di India. Setahun sekali aku mengunjungi kuburnya di India sana. Dia menderita sakit keras, dan tujuannya ke Jepang beberapa tahun lalu adalah ikhtiar untuk sembuh. Namun, takdir telah tertulis sebelum kita terlahir ke dunia.
__ADS_1
Ini adalah rangkuman kisahku. Kisah cinta dan kisah pencarian jati diri. Semoga kisahku bisa memberi manfaat.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.