
Setiap ahad, Idris dan Jaelani kerap mengajak anak-anaknya lari pagi bersama setelah subuh berjamaah, mengelilingi kompleks tujuh kali. Kedua bapak-bapak kece itu menanamkan motto: Tawaf di tanah air dahulu agar di Tanah Suci enggak canggung!
Entah motto macam apa itu. Padahal maksud mereka memang sekalian modus mau melihat janda kembang casing perawan kompleks sebelah.
Karena tetanggaan, mereka sering secara tak sengaja atau malah memang saling ingin bersama (?) jika melakukan lari pagi. Kesibukan Jaelani dan Idris memang membuat mereka jarang ada di rumah. Hanya akhir pekan saja baru bisa berkumpul.
Zainab sudah tentu lari-lari bersama Ismail. Mereka sudah seperti Rani Mukherji dan Shah Rukh Khan di film India. Kata Zainab judulnya Kabhi Kushi Kabhi Gham. Yang adegan Naina dan Rahul lari pagi.
“Naina itu Nana. Kan Na-i-na! Nana kalau ’i’-nya kita singkirkan!”
Mulai si bontot Idris cari pasal. Dia ikut berlari-lari di sebelah kiri Zainab dan sebelah kanan Ismail. Intinya sekarang dia ada di tengah-tengah.
“Apa sih, Dek? Ganggu aja! Sana sama kak Ishaq aja! Atau sama mas Baim gih!” Ismail berkata kesal.
Mereka kan yang jomblo! Imbuhnya dalam hati.
“Perlu bantuan gak, Bang?”
Nah, ini biang kerok setara dengan Nana. Partner-an dengan si Nana. Siapa lagi kalau bukan Jun. Dia berada di sisi lain Ismail.
Putra kedua Idris berpikir sejenak. Boleh juga kalau Jun membawa Nana.
Dengan isyarat matanya, ia picing-picingkan bagai kelilipan pada Jun.
“Nana, lempar jumroh, yok!” ajak Jun.
Nana yang kebingungan akhirnya berhenti, dan ditinggal Ismail juga Zainab.
“Manasik haji aja bukan, apalagi haji!”
“Maksudnya, lempar buah mangga punya pak ustadz Zakariya.” Jun agak berbisik ketika mengatakannya.
Makna lempar jumrah sudah dialihkan oleh putra Jaelani dan Khadijah. Makna sebetulnya dari lempar jumrah adalah melempari batu pada setan dalam diri, ini malah melempari bunga pada setan di dalam diri. Bunga bangkai bukan, ini bunga maksiat. Lebih buruk dari bangkai.
“Oh! Yang anaknya ganteng itu? Si ketua OSIS, namanya Yahya ya kalau enggak salah? Dih, juara umum di sekolah kita, iya kan? Pengen meluk deh!”
Yang diajak maksiat malah memikirkan dosa lain yang ingin dijamah.
“Ah, yaudahlah. Gak jadi aja!”
__ADS_1
Alhamdulillah, ada juga hikmah dari aura negatif bertemu negatif. Hasilnya jadi positif, ya seperti hukum mate-matika.
.
.
.
Setelah mandi dan sarapan, Nana dan Zainab benar-benar langsung pergi ke entahlah, yang pasti beli be-ha obralan yang sedang diskon.
Jun di rumah bersama ayahnya tertampan sekompleks, dan dirinya yang kedua. Yang ketiga ayahnya Nana, dan yang pasti Yahya itu nomor terakhir. Tentu saja itu menurut Jun. Kalau menurut Nana beda lagi. Apalagi menurut Zainab, beda sekali! Jauh.
Ia berada di kamarnya yang dingin walau sesungguhnya cuaca teramat panas hari ini.
“KB itu program Amerika yang ditunggangi Yahudi dan puncaknya HAARP! Makanya gue bikin anak banyak. Biar program kafir itu gagal!”
Eh! Telinga Jun menajam. Ia mencuri dengar. Suara yang ia kenali sebagai suara bapak si Nana terdengar bersemangat sekali. Dikiranya dulu, anak 4 karena jamu, rupanya karena ingin menggagalkan misi yang anti pada keturunan yang banyak.
Ah, tapi Jun memerhatikan sekitar. Takut-takut nanti ada Intel, bapak ceweknya ditangkap karena dikira rasis, sara atau apalah namanya itu kata mereka. Dia mengucapkan syukur karena suasana komplek sunyi, senyap, sepi. Layaknya hatinya.
“Gue sih mau aja dulu. Bini gue yang kagak mau, Dris. Gue sih 12, 20, atau 100 oke aja.”
“Elu yang sinting, Ogeb! Ya kagak sampek 20 atau seratus juga keles! Itu bini lo, bukan kucing. Gelo maneh teh!"
“Jadi gimana?” Jaelani meminta solusi.
“Kawin aja lagi, sono!”
“Kawin aja sih gue mau, enak juga pan ye? Udah berapa lama gue kagak ngerasain ye? Sepuluh tahun!”
“Elu akad-in dulu kali, Jae! Baru deh lu kawinin. Bebas!”
“Gaye ape aje ye?”
“Gaye ape aje! Terserah elu, udah halal!”
Jun mematung akibta mendengar percakapan dua duda haus belaian itu. Mendadak air mukanya berubah jadi merah.
Niat mau bergabung, diurungkannya demi menjaga kesucian hati dan pikirannya.
__ADS_1
Namun, selang beberapa detik, ia mendengar suara dua duda yang tadi mesra, kini saling melempar ejekan tabu dan berakhir dengan, “Si Asih pasti lebih puas sama gue! Lu letoy! Sepuluh tahun kagak kepake!”
Dan balasan dari ayah Jun tak kalah tabu, “Justru karena sepuluh tahun kagak diajak perang, ntar pas tempur jadi mantep!”
Astaghfirullah! Astaghfirullah!
Jun beristighfar sebanyak mungkin. Sampai ia harus bertasbih demi terselamatkannya dirinya dari dua duda absurd. Yang kalau sudah bertemu dan hanya berdua saja, pasti memakai bahasa dan logat yang bukan dari Sumatera.
Daripada di rumah, Nana pun tak ada untuk ia ganggu, akhirnya ia memutuskan untuk mencucikan pakaian mengajinya di laundry depan kompleks. Pakaian putih yang membandel, konon katanya bisa langsung bersih dan tersetrika dalam satu hari.
Ketika ia pulang dari tempat laundry, ia menjumpai Nana yang sedang manikmati es krimnya dengan Yahya. Anak yang menurut Nana paling tampan, padahal biasa saja menurut Jun.
Dilanda cemburu, Jun mendatangi mereka. Ia mengambil es yang hendak dijilat Nana, setelah sebelumnya ia mencubit pipi gembil gadis itu.
“Kak Zainab kok gak ada sama Nana?” kentara sekali dari suaranya ia tidak senang.
“Eh, Jun!” Yahya menyapa. Bagaimana juga Jun adalah murid ayahnya di tempat ngaji.
“Basi!” desis Jun.
Yahya tak memedulikan. Ia berpikir positif, mungkin yang dibilang basi adalah es krim yang Nana hendak konsumsi.
“Balikin esnya Nana! Kak Zai udah pulang duluan sama Bang Ismail.”
Nana melototkan matanya yang besar. Yang entah karena memang sudah cinta, malah terlihat sangat indah dalam pandangan Jun.
“Cantik!”
Nana, perempuan remaja yang pasti bersemu jika dipuji.
“Pacaran yaa~” Yahya berkata.
Sebenarnya dia menggoda Jun dan Nana yang diasumsikan oleh dirinya telah menjalin tali kasih. Namun, apes bagi Nana dan untung bagi Jun, dua kalimat Yahya dikira permintaan Yahya untuk meminta Nana sebagai kekasihnya.
Maka karena kesalahpahaman itu, Nana mengangguk antusias. “Iya!” katanya bersemangat.
Jun berseru tak kalah heboh, “Alhamdulillah ya Allah! Keiinganan hamba terkabul!!!”
Absurd memang!
__ADS_1