
"So, Mrs. Vizier, ada yang bisa kamu jelaskan?" tanya Dharma saat tiba di depan rumah mereka pada Kavyana yang melepaskan seatbelt-nya.
Kavyana terkekeh. Panggilan yang baru saja Dharma ucapkan untuk menggodanya membuatnya tergelitik.
"Aku lelah, besok saja Mas Dharma tanyakan pada Deva, ok?"
Kavyana membuka pintu mobil mereka. Kemudian langsung turun. Ia ingin segera sampai di kamarnya dan tidur. Ia lelah sekali.
Dharma tak langsung turun. Ia masih memikirkan kejutan-kejutan yang Kavya tampilkan untuknya seharian ini. Bagaimana bisa semua ini? Terasa membingungkan bagi dirinya. Apa yang ia lewatkan, dia tak tahu.
Vizier and Queen.
Keduanya sama, hanya beda istilah saja. Bidak catur terkuat dan paling bebas gerakannya.
Dharma menebak-nebak, ada teka-teki apa hingga Kavya yang harus menempati posisi bidak catur yang terkuat?!
Ini adalah rencana Deva. Maka, besok ia akan menanyakannya pada si laki-laki itu. Bukankah tadi Kavya pun berkata demikian?
*****
Dharma tak sengaja bertemu Deva di pasar Rukoh. Jalan Utama Rukoh, Rukoh, Syiah Kuala. Saat itu, Dharma hanya ingin mengambil barang belanjaan Kavyana yang tertinggal.
Sementara Deva, sepertinya memang sengaja menguntit. Bukan menguntit Dharma, tetapi orang lain. Bidak lawan, mungkin saja.
Deva menyadari kehadiran seseorang yang mengikutinya, lalu menarik tangan si pengikut alias Dharma. Lantas, mencari tempat untuk berbicara. Untuk itu mereka menuju warung Padang.
"Apa yang kau lakukan, Dev?!" Dharma bertanya.
Bukan ia kesal atas penarikan paksa dari Deva. Namun maksud pria itu yang melibatkan Kavya. Dharma menaruh curiga pada Deva.
"Kita bisa bicara baik-baik, bukan begitu Komandan?"
Mereka menuju meja kosong di pojokan. Kemudian duduk berhadapan.
"Katakan! Aku tidak punya waktu banyak!" ketus Dharma.
Deva menyeringai. Lalu, ia mengangkat tangan kanannya ke udara sambil mengarahkan pandangannya pada pelayan.
"Nasi rendang, dua!" ujar Deva saat pelayan perempuan tadi menanyakan pesanannya.
"Minumnya?" pelayan tadi bertanya kembali.
"Jus jeruk dan ...,"
"Kopi hitam pahit Sidikalang!" potong Dharma cepat.
Pelayan itu mencatat dan berpamitan pada mereka untuk membuatkan pesanan.
"Aku tidak tau kalau Anda suka kopi pahit. Tapi percayalah, kopi pahit dan kopi susu rasanya berbeda." Deva mencoba membuat suasana tenang.
"Aku ke sini bukan untuk membahas kopi!" Dharma menanggapi dingin.
"That's right! Aku akan bertanya, mengapa kau ingin mendatangiku?" nada suara Deva terdengar sangat serius.
"Apa maksudmu membawa Kavya dalam misi ini?" Dharma menyindir Deva.
Deva tertegun. Sesaat kemudian ia menyeringai. "Aku tidak keberatan jika Kavya jadi leader."
"Bukan itu maksudku!" ucap Dharma sembari memamerkan senyum angkuhnya.
Dia tahu makna yang terkandung dalam kalimat Deva. Bukan Dharma iri pada istrinya, malah ia takut akan keselamatan sang istri yang terancam nantinya.
"Jadi apa?" Deva bertanya, memasang wajah heran, yang dibuat-buat.
"Apa maksudmu? Berhenti bermain-main, dan seriuslah!"
Kembali pria di depan Dharma menyeringai.
"Komandan, ini bagian dari misi, hanya itu yang bisa kukatakan saat ini."
Dharma menatapnya dingin. Mengabaikan ocehan pria aneh yang ada di hadapannya.
↓
__ADS_1
↓
↓
Kavya memegang seatbelt-nya erat-erat. Dharma mengemudikan laju mobil dengan kecepatan maksimal. Ia terlihat marah sekarang. Dia benar-benar ingin mencekik Deva saat ini juga
"Ada apa, Mas?" tanya Kavya yang masih menggenggam sabuk pengamannya dengan suaranya terdengar bergetar.
Dharma baru ingat, dia tidak sendirian di dalam mobil. Tampaknya Dharma kurang fokus dan membutuhkan air mineral. Perlahan, pria itu memelankan laju kemudinya.
"Maaf Kavya, aku tidak dalam keadaan baik saat ini," lirih Dharma menggenggam erat tangan Kavya.
Wanita itu menatap Dharma dalam. Lalu mengelus punggung tangan kiri suaminya yang menggenggam tangan kanannya.
"Tidak apa-apa."
Kavyana tersenyum. "Semua akan baik-baik saja, Mas."
.
.
.
.
Dharma masih merenungi kata-kata Deva tentang Kavya adalah bidak terpenting dalam misi. Queen/Vizier pula.
Tidak mungkin! Haruskah Kavyana terlibat? Batin Dharma berkecamuk.
Dharma tak habis pikir, apa yang direncanakan Deva sebenarnya? Ditatapnya dinding kamarnya yang bercorak abstrak yang mengingatkannya pada hidup Deva.
Kavya membuka pintu kamar mereka. Membuat Dharma tersadar dalam lamunannya.
"Rautnya cemas begitu? Ada apa, Mas?" Kavyana bertanya lembut.
Hidup bertahun-tahun dengan Dharma membuat Kavya tahu saat kapan suaminya itu kalut, cemas, sedih, gundah, dan emosi lainnya.
Dharma menatap Kavyana.
Kavyana menenggelamkan kepala Dharma pada pertengahan dadanya.
"Aku akan baik-baik saja, Mas."
Kavya mengelus lembut surai suaminya.
"Mas yang gak baik-baik aja, bahkan jika hanya memikirkanmu ikut dalam misi, rasanya aku mau mati!" suara Dharma terdengar parau.
Kavyana mengeratkan pelukannya "Aku akan baik-baik saja. Aku janji,"
"Kupegang janjimu," nada Dharma mengancam. Kavyana tertawa.
.
.
Perlahan Kavyana membuka matanya. Agak silau karena cahaya matahari yang menusuk matanya.
"Sudah bangun?" suara maskulin Dharma terdengar di gendang telinga Kavyana.
Kavyana beringsut turun dari ranjangnya. Kemudian menatap suaminya lekat-lekat.
"Di mana kita, Mas? Dan apa yang Mas sembunyikan dariku?!"
"Kamu pikir apa yang bisa aku sembunyikan darimu, Sayang?"
"Tapi, di mana kita?" Kavya menghampiri Dharma.
Namun, sesaat kemudian kesadarannya melemah dan akhirnya pingsan. Itu karena Dharma membiusnya.
"Sorry, Poetry." Dharma berujar lirih.
Ia menggendong Kavya yang tengah pingsan. Kemudian mengecup dahi wanitanya dengan penuh rasa cinta.
__ADS_1
Nanjar datang tergopoh-gopoh. Mendobrak pintu agak keras.
"Kau bisa menghancurkan pintu." Dharma berujar tenang.
Dibaringkannya tubuh Kavyana ke atas ranjang dengan perlahan.
"Katakan, ada apa?" Dharma melangkah mendekati Nanjar setelah selesai dengan Kavyana.
"Seseorang telah membuat konspirasi dengan pembunuh guru si Deva dan putra kalian." Seorang gadis menjawab mewakili Nanjar yang tengah terguncang.
Masalahnya semakin runyam saja.
"Siapa dia, Nanjar?" tanya Dharma pada. Namun, matanya menelisik si perempuan.
"Sepupuku, Mayarani." Nanjar menjawab sambil menyeringai.
Mayarani melihat ke arah Kavyana yang berbaring di ranjang.
..
.
.
Deva mendatangi masjid sendirian. Ia memang sengaja berkeliling kota Banda Aceh untuk membaca situasi.
Togar dan Bisma tak bisa ikut bersamanya karena akan menemani Maya dan Nanjar menyambut sebuah perayaan islam di alun-alun.
Deva tersentak ketika melihat pada satu objek. Kemudian ia melihat ke sekelilingnya. Dia kalah cepat.
Kurang ajar! Mereka bergerak lebih cepat dari yang kukira!
Deva mengumpat dalam hati.
Dengan gerakan cepat, ia menjauhi tempat itu.
"Menarik sekali! Rupanya ini permainan yang sangat menarik." Seseorang memakai masker berujar jenaka.
***
Seseorang memang harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya. Ada aksi maka akan timbul reaksi. Ada sebab, ada juga akibat. Bukankah itu sudah hukum alam?
Di apartemen megah itu, duduklah di sofa yang diimpor dari Turki, seorang prodigy, Roy Wijaya namanya.
Dia tidak sendirian, bersama seseorang yang mengaku bernama Hildan, salah satu anggota hitam.
Memiliki misi yang sama membuat mereka bersatu untuk mewujudkannya.
Misi mereka adalah, MENGHANCURKAN!
"Jadi, Hildan ... apa rencana selanjutnya? kau tahu, pemikiranmu begitu briliant," puji pria berumur tersebut.
Untuk menciptakan keonaran dan keraguan pada otak beberapa orang, itu pujian yang memang pantas di sematkan pada Hildan.
"Bukankah Togar sudah berhasil masuk? Kita tinggal menunggu hasil darinya saja. Mereka pion kita yang sempurna, Pak," kata orang itu.
"Dan kau adalah otak dari rencana besar ini. Kudapatkan dua orang itu, kau dapatkan Deva. Setimpal!"
Detik selanjutnya hanya suara tawa yang terdengar.
.
.
.
Maya bertemu Bisma di surau kecil di dekat pasar tradisional Darussalam. Mereka melakukan ibadah dhuhur pada sang pencipta, Allah.
"Nanjar tahu kalau Maya sedang bersamaku?" tanya Bisma celingak-celinguk. Memastikan tak ada Nanjar yang akan muncul tiba-tiba seperti hantu di televisi yang ditontonnya tempo hari.
"Anda tidak perlu khawatir, aku sudah meminta izin padanya."
Tepat saat Mayarani menyelesaikan kalimatnya, tembakan terdengar. Peluru tembus tepat ke jantung mereka.
__ADS_1
Dan tahukah siapa pelakunya?
Dia adalah Togar!