
Seorang wanita bermasker berada dalam sebuah laboratorium untuk sebuah percobaan. Ada banyak tikus-tikus putih berada dalam kotak kaca yang akan ia gunakan sebagai objek percobaan. Tabung-tabung yang berisi cairan yang entah apa saja itu ia gabungkan kemudian ia menuangkan cairan tersebut ke dalam gelas ukur berbentuk tabung mini kurus.
Asap mulai mengepul kala ia memasukkan cairan dalam tabung tadi ke kotak kaca tempat di mana tikus-tikus tadi berada. detik kemudian tikus-tikus itu pun mati mengenaskan dengan mata yang memerah. Ternyata sang wanita melakukan percobaan untuk membuat virus atau semacamnya. Meski tak terlihat tapi tampaknya ia begitu menikmati hasil karyanya yang sangat memuaskan baginya.
*
Stasiun K.A Medan
Hiruk pikuk stasiun kereta api di Medan terasa begitu asing di telinga Mayrani Alisha. Dia adalah agen polisi bagian forensik yang di tugaskan oleh Ravendra Deva untuk menyelidiki sebuah tas yang berisikan formula mematikan. Mayrani Alisha mulai menyusuri lorong untuk menemukan tas hitam yang ia maksud. Tas di mana maut berada di dalamnya.
Telepon wanita manis berkulit putih dan bersurai hitam juga bermata kecokelatan itu berdering.
"Halo?!" Mayrani menjawab.
"Ya aku sedang berusaha Deva cerewet. Tas berwarna hitam 'kan?"
Mayrani agak berteriak menjawab telepon atasannya sekaligus kekasihnya karena kebisingan suara tangis bayi yang ingin menyusu, tapi sang ibu tak membawa botol susunya. Itu yang Mayrani dapat dari curi dengar percakapan si ibu dan teman di sebelah bangkunya.
"Sebaiknya aku turun di stasiun berikutnya saja. Biarlah berhenti di Binjai saja, tak perlu sampai Kisaran."
Mayrani lagi-lagi mencuri dengar, padahal ia masih setia meletakkan teleponnya di telinganya ketika ia melihat segerombolan anak sedang mem-bully seorang anak lainnya. Mereka laki-laki keseluruhannya.
"Iya ... iya ... aku dengar. Tas warna hitam. Sepertinya aku menemukannya." Lanjut Mayrani.
Hanya anak yang di bully-lah yang memakai tas hitam. Jadi ia putuskan untuk mendatangi mereka, dan memeriksa tas si anak tadi. Mengeluarkan isinya. Karena memang sedari awal dia tampak mencurigakan dengan terus mendekap tasnya itu. Seakan di dalam ada sesuatu yang penting dan rahasia. Itu menurut pandangan Mayrani.
Ibu yang anaknya menangis sedari tadi itu beranjak dari kursinya segera. Ia ingin keluar dari tempat itu karena si anak tak henti-hentinya menangis. Tanpa sadar ia meninggalkan tasnya yang juga berwarna
.
.
.
.
.
.
.
HITAM!
Wanita yang duduk di sebelah ibu pemilik bayi menangis tadi pun menyadari bahwa tas teman di sebelahnya ketinggalan. Maka itu sebelum si ibu pemilik bayi menangis itu jauh, wanita tadi memanggil.
"Tas Anda tertinggal!" begitu katanya. Ia berteriak seperti Yakuza yang menantang Mafia. "Dan botol susu anak Anda juga berada di dalam tas!" lanjutnya lagi.
Si ibu yang menggendong bayinya sudah tak lagi dalam kereta api karena memang tujuannya keluar dari sana.
Mayrani yang terkejut karena suara wanita itu menoleh. Sementara seorang pria menabrak bahu si ibu pemilik suara kencang.
PRANG!!!
Botol susu pun jatuh. Pintu kereta tertutup kembali, dan kereta tetap berjalan. Mayrani menatap horror pecahan botol susu.
Detik berikutnya Mayrani dan seluruh penumpang di gerbong itu bergelimpangan tak sadarkan diri. Tak ada yang tahu. Dan kereta pun tetap berjalan seperti biasanya.
Lalu, keesokannya gemparlah seluruh Indonesia atas tragedi di stasiun Medan.
****************************************
2 Tahun Kemudian
Jalanan Medan begitu padat membuat seorang wanita hamil agak kesusahan membawa barangnya. Ia baru saja tiba dari Singapura. Memanggil taksi, ia meminta sang sopir mengantarnya ke kantor polisi.
"Jika Anda tak keberatan boleh aku bertanya pada Anda, Bu?" tanya sang sopir melirik wanita hamil itu dari kaca.
"Ya?"
Wanita itu merespons.
"Aku sudah lima belas tahun menjadi sopir taksi. Tapi selama ini para turis akan memintaku mengantar ke hotel tapi Anda penumpang pertamaku yang meminta mengantarkan ke kantor polisi."
Si wanita tak menjawab si sopir taksi. Ia menghela napas dan memilih memperhatikan jalanan daripada terlibat percakapan dengan si sopir taksi ini.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di kantor polisi.
Sang sopir taksi membantu wanita hamil itu menurunkan barang bawaannya.
"Thanks,"
Wanita tadi memberikan ongkos taksinya.
Si sopir menggumamkan terima kasih, lalu setelahnya pergi.
"Ada yang bisa saya bantu, ma'am?" tanya salah satu petugas polisi yang kebetulan berada di depan pintu hendak keluar niatannya karena sudah jam makan siang.
"Aku ingin melapor tentang orang hilang," ujarnya sendu.
Polisi berpostur tegap membantu wanita hamil ini membawa barangnya tadi, menggantikan tugas si sopir taksi.
"Mari saya antarkan," tawarnya ramah.
Polisi ber-name tag Dharma Akbar tersebut kemudian membawanya ke dalam dan menemui atasannya.
"Pak Ravendra Deva!" sapanya pada atasannya.
"Ah, Dharma!"
Ravendra Deva melayangkan pandangannya pada wanita itu setelah menjawab sapaan bawahannya.
"Ada yang bisa kubantu, ma'am?" tanyanya pada si wanita.
"Aku ingin melaporkan orang hilang, Pak," tuturnya lembut.
Dharma menarikkan kursi untuk wanita hamil itu duduki. Atas perlakuan tersebut wanita itu tersenyum sembari mengucapkan terima kasih.
Si kapten polisi menyeruput kopi. Ia memandang perut buncit si wanita hamil.
"Berikan teh pada wanita ini, Dharma!"
"Tidak perlu repot. Saya hanya akan melaporkan sesuatu, Pak."
"Sebelumnya, Anda bisa memanggil Ravendra atau Deva saja padaku,"
Agaknya si Kapten merasa panggilan yang baru saja si wanita sematkan padanya terlalu membuatnya tua, atau apalah itu sebutannya.
"Baiklah, Pak ... maksud saya Deva. Sekarang, bisakah saya mengeluhkan perihal hilangnya saudari saya?" lembut nan tegas si wanita berujar.
"Tentu. Nama Anda?"
"Kavyana Zuriyati."
"Nama yang hilang ?"
"Mayrani Alisha!"
Ravendra Deva agak terkejut tatkala mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh Kavyana.
"Katakan!" perintah Ravendra lagi. Ia menutupi ekspresinya yang gagal tersembunyi dari Dharma.
"Tiga minggu lalu, saudari saya ke Medan untuk sebuah perjalanan bisnis. Kami bertelepon setiap hari. Seribu kali ia menelponku dalam sehari. Aku sampai memarahinya karena aku tak mau gajinya akan habis karena biaya telepon. Tapi, lima hari ini dia tak ada kabar. Aku cemas, aku menyusulnya dari Singapura ke Medan. Bisa tidak, Anda membantu saya menemukan saudari saya? Dia adik bungsu saya yang sebenarnya penakut."
"Hmm ... bisakah Anda menyebutkan ciri-cirinya? Atau apakah Anda punya fotonya?"
Dharma memerhatikan Kavyana yang berubah semakin sendu.
"Adik saya tidak suka berfoto. Tapi sebentar, saya punya satu foto semasa kecil kami."
Kavyana mengubrak-abrik tas tangannya mencari foto adiknya.
__ADS_1
Dharma dan Deva melempar pandangan. Wanita yang di hadapan mereka tidak sedang bergurau, 'kan? Untuk apa foto semasa kecil?
"Ini," Kavyana memberikan foto tersebut pada Deva.
Meski percuma, Deva mengambil foto itu dan memperlihatkannya kepada Dharma yang berdiri di samping Kavyana.
"Dia tinggal di mana selama di Medan, Bu Kav?" Deva bertanya lagi
"Di sebuah hotel. Padang Bulan namanya. Entahlah, tapi ini alamat yang ia berikan padaku." Kavyana menyerahkan secarik kertas pada Deva.
"Baiklah, Bu. Laporan Anda kami terima. Sekarang, tanda tangani di sini," ujar Kavyana memberi pena dan buku tebal.
Kavya menyambut dua benda tersebut. Ia berniat melaksanakan titah sang kapten polisi. Namun, saat ia akan menandatanginya, kepalanya merasa pusing, dan ia pun menjatuhkan kepalanya, pingsan di atas meja sang kapten.
"Haaaah ...!" Deva mengeluh.
Kemudian Deva melirik Dharma. "Jika sudah sadar, tolong kau antarkan ibu Kavya, Akbar."
Dharma mengangguk.
*
Mobil jeep polisi adalah kendaraan yang Dharma kemudikan untuk mengantarka Kavyana sampai pada tujuannya.
"Anda memiliki nama yang indah, Bu Kavyana."
Dharma memulai percakapan.
Dharma tak mau perjalanan ini diselimuti kebisuan. Walau sebenarnya dia suka keheningan, tapi bukan berarti dia suka situasi ini.
"Anda terlalu memuji, Pak." Kavyana tertawa pelan menanggapi.
"Aku sempat bertanya-tanya, apakah Kavyana adalah nama asli Anda? Karena maknanya begitu indah. Kavyana adalah puisi, bukan?"
Entah kenapa Dharma menikamati dialog mereka. Padahal biasanya dia hanya akan berbicara seperlunya. Tak ada basa-basi jika bukan pada orang yang ia kenal.
Kavyana membenarkan.
Jeep melaju tenang diisi percakapan Dharma dan Kavyana.
"Parade tahunan kota Medan?" tanya Kavyana ketika melihat sebuah festival di jalanan.
Dharma menanggapinya dengan tersenyum.
Kavyana sibuk mengagumi keindahan festival di jalanan yang tersaji untuk matanya.
*
"Bu Kavya, Anda yakin ini alamatnya?" Dharma bertanya ketika mereka sudah sampai pada alamat yang tertuju di kertas yang Kavya berikan.
"Begitu yang tertulis di kertas, Pak," balas Kavya.
Bangunan seperti apartemen tapi lebih kumuh tersaji di hadapan mereka.
"Wanita kaya seperti Mayrani Alisha, apa mungkin tinggal di tempat seperti ini? Bahkan ini tak layak di sebut hotel." Dharma menggerutu datar.
Kavyana menimpalinya dengan kikikan merdu. "Dia memang sedikit unik,"
Mereka berjalan menuju resepsionis.
Kring!!!
Kavyana memencet bel tradisional milik hotel karena tak ia temui seorang pun yang duduk di balik meja itu.
Dharma betah memperhatikan gerak-gerik si wanita hamil yang lincah. Kadang pemuda itu ikut tersenyum dengan tingkah Kavya. Wanita hamil yang ia kawal sedikit unik menurutnya. Mungkin ini pengaruh saudari mudanya atau bayi yang ada di kandungannya.
Dharma agak terkikik membayangkan betapa uniknya keluarga yang Kavyana bina.
"Apakah roh tertawa tengah merasuki Bapak?"
Itu bukan pertanyaan dari Kavya, tapi seseorang yang baru saja berdiri di balik meja resepsionis.
Dharma mendecih! Seingatnya si pemuda maniak cerita horor ini tak pernah memanggilnya dengan sopan.
Kavyana terlonjak. Di kepalanya berisi pertanyaan 'Apakah Dharma Akbar punya pribadi ganda? Dengannya ramah, tapi kenapa pada si resepsionis seperti kucing dan tikus?'
Dharma menyadari kernyitan Kavya "Dia teman kuliahku, namanya Khalid Ravendra. Adik kembar atasanku tadi, Deva Ravendra. Tidak sama persis mirip, karena bukan kembar identik."
Kavyana mengangguk dan mulutnya membentuk hurup 'o'.
"Aku tak mau berbasa-basi, Khalid. Aku ingin bertanya tentang Mayrani Alisha. Di kamar nomor berapa ia tinggal?"
"Siapa itu? *******? Pemberontak?" jawabnya.
"Jawablah dengan benar, Khalid!" sergah Dharma.
Pemuda bernama Khalid menghela napas. "Akan kucari, tapi ku rasa tak ada tamu atas nama Mayrani Alisha."
Ia membolak-balik kertas. Mencari nama Mayrani Alisha yang katanya sudah tiga minggu berada di sini.
"Nihil!" Khalid berkata sambil menggelengkan kepala.
"Pasti ada! Lagi pula kenapa di catat di buku? Apa tak ada komputer?" Kavyana mulai kesal. Mungkin ia lelah.
"Ini hotel tanpa bintang, Madam. Mana ada komputer." Khalid membalas tak kalah ketus.
"Tapi saudariku memang menginap di sini! Mana mungkin dia berbohong! Setiap hari dia menelponku, memberitahukan tentang keadaanya ... keberadaannya. Tentang segalanya padaku!"
"Tenanglah Kavyana." Dharma menenangkan. Tanpa sadar ia memanggil tanpa sapaan kesopanan.
"Mungkin bukan hotel ini, Madam!" Khalid berkata ketus.
"Di tangga, ada simbol iluminati Yahudi! Saudariku sering menceritakannya. Apa aku salah?"
Dharma agak berlari ke arah tangga tak layak itu, dan memang mendapati ada simbol yang Kavyana katakan tadi.
Dharma berlari ke arah meja resepsionis lagi, "Bagaimana Anda tahu?"
Kavyana mengerang, "Ya! That's it! Jika bukan karena setiap hari saudariku menelepon dan memberitahukannya, bagaimana aku bisa tahu, hm?"
Benar juga.
"Tapi, Madam ... saudari Anda memang tak pernah menginap di sini." Khalid bekata lagi.
"Aku tak mau tahu! Aku akan menunggu saudariku dengan menginap di kamar yang saudariku sewa. Kamar nomor 5 di lantai 3!"
Khalid mengalah. Ia tak mau berdebat lebih lama. Sia-sia menurutnya.
"Baiklah, ini kuncinya! Dan tandatangani di sini."
Kavyana menyodorkan buku tamu.
"Tidak mau!"
Kavyana melenggang meninggalkan meja resepsionis.
Dharma menggelengkan kepalanya yang entah untuk keberapa kali.
"Biar aku yang menandatanginya." Dharma menawarkan diri.
Khalid tersenyum nakal.
"Apa?" Dharma merasa senyum Khalid mengejeknya.
"Memangnya apa?" balas Khalid jahil.
"Senyummu itu!" ketus Dharma,
"Apa masalahmu? Ini senyumku. Terserahku saja mau begaimana."
Dharma mendengus, jengah pada godaan Khalid.
__ADS_1
Sementara Kavyana sudah sampai di lantai tiga kamar nomor lima, setelah di antar oleh salah satu bellboy hotel tak berbintang tersebut.
Kavyaa mulai membersihkan kamar yang agak berdebu itu. Membuka jendela-jendela kamar untuk memberikannya udara segar. Langit Medan mulai menggelap. Dari jendela, ia masih bisa melihat mobil jeep yang di kendarai oleh Dharma untuk mengantarkannya.
Dharma belum pulang rupanya. Mungkin dia akan bernostalgia dulu pada teman lamanya, Khalid.
Kavyana menata barang-barangnya. Setelah beberapa saat matanya mengalirkan air. Ia menangis. Mungkin merindu sang adik.
Isakannya terdengar lebih jelas.
Malam itu ia mengisinya dengan tangisan kepiluan karena merindu.
•••••••
Kavyana terbangun di pagi hari. Ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Agak terseok ia berjalan karena beban di perutnya.
Setelah mandi, ia berpakaian. Lalu dengan rambut yang masih basah ia keluar dan turun ke lantai satu dengan tas tangannya.
"Selamat pagi, Bu." Khalid menyapa.
"Aku bukan Bu. Kavyana Zuriyati!" protesnya.
"Iya, iya. Lalu pagi-pagi sekali ingin kemana, Mbak Kavya? Khalid bertanya ramah.
"Aku akan keluar sebentar, menemui bos saudariku," jawab Kavyana tak kalah ramah.
...
Kavyana kini berada di ruangan mewah yang ia yakini ruangan bos saudarinya. Perempuan yang sudah tak muda lagi, tetapi masih memikat.
"Ibu Sri," sapa Kavya menunduk hormat dan memberi salam.
Wanita itu membalas salam.
"Baik," Kavyana memberi jeda. "Bu Sri, aku hanya ingin bertanya mengenai saudariku Mayrani Alisha."
Sri tampak menghela napas.
"Bu, aku sudah katakan padamu sebelumnya di telepon kemarin malam bahwa tidak ada satu karyawanku bernama Mayrani Alisha, juga bekas karyawanku. Tak ada." Sri menjawab simpati.
"Tapi coba pikir, Bu Sri! Bagaimana aku bisa tahu ini kalau bukan saudaiku yang memberitahu? Aku tahu Anda dan tempat ini karena adikku."
Benar juga!
Tapi ada apa ini? Kenapa semua orang pada tak mengenali dan mengetahui siapa itu Mayrani Alisha? Sementara, Mayrani mengenali mereka, itulah mengapa Kavyana dapat mengetahui siapa Sri Ningtyas, kantor, bahkan tempat menginap.
Ada apa ini??
Kavyana tampak berpikir keras.
Kesalahan apa ini? Kenapa ganjil sekali?
Pintu ruangan ibu Sri diketuk.
"Ma'am, ada polisi yang mencari ibu Kavyana?" kata sekretaris Sri.
Kavyana melihat ke arah Sri lalu ke arah sang sekretaris yang berdiri di pintu.
"Heh? Aku?!"
...
Kavyana menuruni tangga untuk menemui si polisi yang ingin menemuinya. Mungkin si polisi sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan saudarinya. Senyuman semringah terpatri di wajah manisnya.
Polisi yang dimaksud ternyata Dharma Akbar. Kavyana menyambutnya dengan senyuman yang di balas dengan senyuman pula.
Akhir-akhir ini Dharma sering tersenyum, pada satu objek. Kavyana.
"Kav, aku sudah memeriksa data keberangkatan. Tapi nama Mayrani Alisha tak ada."
Mereka kini berada di toko es krim. Menikmati es dan duduk berhadapan.
Kavyana lesu. "Kupikir, Anda telah menemukan adikku."
Dharma merasa bersalah. "Afwan, Ukhti."
Maaf? Kavya tak salah dengar?
"Kenapa?"
"Hm?"
"Kenapa sulit sekali menemukannya?"
Tangan Dharma terulur menggenggam jemari Kavyana. "Kita pasti menemukannya." Dharma berkata optimis.
"Syukron, Akbar."
Dharma tersenyum. Kavyana memanggil namanya. Ia merasa sangat ... menikmatinya.
------
Dharma mengantar Kavyana ke hotel Khalid Ravendra.
"Apa kau tak mencurigai sesuatu mengenai pencarianku ini, Akbar?"
Kavyana melepas sabuk pengamannya.
Dharma menghela napas. "Aku belum tahu. Tapi Kavya tak perlu khawatir, aku akan membantu."
Kavya tersenyum, "Tidakkah ini aneh?"
Dharma mengangguk, "Memang ganjil. Tapi, kita akan berusaha. Bersemangatlah!"
Dharma menyemangati.
Kavyana tersenyum miris.
"Jangan tunjukkan wajah itu! Kau juga tak boleh lupa ... ada bayi dalam kandunganmu" Dharma menegur.
Kavyana tersenyum lebih ikhlas sambil menggumamkan terima kasih.
"Besok pagi aku akan datang lagi. Kita akan cari saudari Anda." Dharma berujar ketika Kavyana sudah keluar dari jeepnya.
"Aku merepotkan saja. Dharma pasti sibuk, jadi ...,"
"Membantu menemukan Mayrani juga pekerjaanku dan kewajibanku."
Kavyana tersenyum, "Assalamu'alaikum."
Dharma membalas salam lambaian tangan. Tersenyum pada punggung Kavyana.
"Aku berjanji untuk membantumu mengunggkap tabir rahasia ini," janji Dharma dalam hati.
Wanita itu tampak kepayahan berjalan akibat kehamilannya.
Tapi anehnya, Dharma merasa wanita itu tampak sangat cantik dan memikat. Tak seperti wanita hamil lainnya.
Jatuh hati kah ia?
.
Nun jauh dari Dharma dan Kavya, berdiri di atas gedung pencakar langit seorang pria.
"Halo?" Suara terdengar dari mulutnya.
"Apa?!" Suaranya terdengar lagi. Sedikit gusar.
"Baiklah, Khalid. Trims!" Ia menutup telepon. Mata hitamnya berkilat bagai bara api.
"Akan kuhabisi mereka."
__ADS_1
Dialah Deva Ravendra.
"Dharma dan Kavya akan kuhabisi seperti aku menghabisi Maya ... Mayrani!"