RAMPAI

RAMPAI
Deva's Maya


__ADS_3

Kata orang-orang, dia adalah seorang bangsawan Jawa, berdarah biru walau kalau dites di rumah sakit tetap saja warnanya merah. Namun, ia tidak begitu peduli akan itu semua. Yang dipedulikannya hanyalah cita-cita untuk menjadi seorang yang bebas. Terbebas dari aturan kolot sukunya, menurut gadis itu. Maya namanya. Lengkapnya ... Maya Mahindri.


Namun sayang, ayahnya ... Priayi Jawa itu tak mengizinkan. Alasannya konyol dan tak dapat diterima oleh logikanya.


Karena kamu anak perempuan. Kamu hanya harus di rumah, mengurus suami dan anakmu! Maka itu kamu harus menemui calon suamimu untuk membicarakan pernikahan!


Sudah tiga kali ia dijodohkan oleh ayahnya.


Pertama dengan pemuda bernama Indra Chakrasena!


Dia teman Maya di sekolah dasar. Yang Maya ingat darinya adalah dia teman dari suami sahabatnya. Sementara yang diingat ayah Maya adalah dia berdarah bangsawan.


Romo hanya tak ingin kamu turun kasta, Maya. Mengertilah peran Romo kita! Beliau melakukan ini karena beliau sayang padamu. Maka itu beliau berpikir putrinya hanya harus menikah dengan bangsawan juga.


Well, itu yang kakak laki-lakinya katakan saat Maya mengadukan perihal hal ini.


Lain lagi halnya dengan Kavya, kakak iparnya yang satu itu malah terlihat kecewa. Katanya, mengapa bukan dirinya saja dulu yang dijodohkan dengan Indra.


Mbak bisa mengatakan pada Romo, sana! Jika mau ... Mbak saja yang menikah lagi.


Jawabnya kala itu.


Jangan bergurau diajeng! Aku bukan Draupadi. Laginya masmu lebih ganteng kok. Tenan malah!!!


Okey. Maya tak pernah menampik hal itu. Dharma Yudistira alias kakak laki-lakinya memang yang paling tampan setelah ayahnya.


Lalu pemuda berikutnya adalah dengan pemuda bernama Arjuna Kavitra.


Dia dulu senior Maya sewaktu SMA. Dia playboy tingkat dewata! Memang tampan nan memesona, tapi kalau mesum?


Maya saja dulu pernah akan dia cium! Untung saja seorang teman datang membantunya. Dharma langsung membatalkan perjodohan saat Maya menceritakan masa SMA-nya dulu dengan Arjuna.


Saat itu Dharma berkata pada ayah mereka,


Aku tidak perduli meski dia bangsawan, Romo! Aku tak sudi adikku dengan lelaki brengsek!!!


Oh, Mas-ku Sayang ... Maya love you ....


Demikian kata Maya pada Dharma kala itu.


Ya, meskipun kakaknya berwajah datar bagai papan telenan, tapi dia hangat dan peduli. Langsung saja ayah mereka yang terhormat itu membatalkan perjodohan.


Tak habis akal, Ayahnya pun berniat mengincar bangsawan lain. Kali ini teman semasa kecilnya, Chandra Suryadika!


Mungkin saja ayahnya begitu frustrasi, makanya ia menjodohkan putrinya dengan Chandra yang sudah seperti saudara laki-laki bagi Maya.


Baik Chandra maupun Bayu Andrasyah adalah teman terbaiknya. Posisi mereka sama dengan posisi Dharma. Mana ada saudara menikah dengan saudara sendiri.


Ketika Chandra menerima perjodohan, ia terkejut. Entah apa alasannya, setahu dunia dia tak pernah suka perempuan. Bukan kelainan ****. Akan tetapi, ya heran saja.


Kau mau menikahi saudarimu sendiri, heh? Chandra!! Langkahi dulu mayatku kalau kau ingin menikahi Maya!!!


Bayu marah besar saat mendengar itu. Awam juga tak mengerti kenapa Chandra semarah itu.


Kau cemburu, Bayu? Aku yang menang.


Kalimat yang ambigu itu bukan berarti Chandra dan Bayu menyimpan rasa 'kan?


Okey, itu sudah berlalu. Semua calon yang diusung ayah mertua kavya untuk dijadikan menantu, batal menikahi putri bungsunya. Namun begitu, tak menyurutkan semangat ayah dua anak itu untuk menikahkan Maya.


Entah bangsawan mana lagi yang akan ia carikan. Lagi pula siapa pun itu, dipastikan nasibnya sama dengan yang sebelumnya. Berakhir dengan kegagalan.


------------------------------------------------------


Orang-orang mengatakan kalau pria yang sedang berdiri menghadap cerminnya pelit pujian. Si Lidah Tajam adalah julukannya.


"Deva Mahendra!"


Suara ibunya menggelegar hingga ke lantai dua. Segera Deva menjawab panggilan sang ibu. Dengan langkah malas, ia menuruni tangga menuju ruang keluarga.


"Calon mertuamu sudah datang, Nak!" seru ibunya menghampiri putra sulungnya.


Deva mendengkus. Cobaan hidup, pikirnya. Suami ibu kandungnya benar-benar serius dengan ucapan.


"Wishnu~"


Entah kenapa Deva merasa suara ayah kandungnya itu mendayu-dayu saat memanggil tamunya.


Tunggu, siapa namanya? Kenapa terasa familier di telinga?


"Krishna~"


Nah! Si tamu tak kalah mendayu.


Tidak tahu kenapa Deva jadi teringat dengan wabah LGBT. Mendengar nada suara mereka saat memanggil nama masing-masing, Deva jadi berasumsi mereka terkena wabah laknat bernama LGBT.


Ekhemm!!


Pemuda yang dibawa si tamu ayah berdehem. Deva jadi batal melihat adegan selanjutnya dari——okey, sepertinya ia sudah melewati batas.


"Ibunya Deva sudah menyiapkan makanan. Kita makan dulu saja," Krishna berkata santai sambil melirik Dharma yang menahan senyum.


Deva tak menyangka kalau yang datang mengulurkan perjodohan adalah ayah dan kakak laki-laki dari gadisnya.


Ia tak sabar untuk berkunjung ke kediaman Wishnuwardhana besok.


Akan kukejutkan kamu ... Magic ....


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Maya tidak tahu siapa lagi pemuda yang akan disodorkan ayahnya kali ini. Ia menurut saja saat seorang penata rias sewaan ayahnya mendandaninya. Meski minimalis, Maya terlihat sangat cantik.


"Waah!! Maya kami cantik sekali!" puji Kavya sambil berdecak kagum. Terlihat sekali ia kegirangan.


Maya tak merespons. Ia tampak gundah.


"Kudengar, calon yang ini juga bangsawan lho, May. Aku sudah melihatnya! Dia ... tampan!"


Diakhir kata, Kavya histeris heboh bak fangirl yang melihat idolanya.


Maya! Maya!! Maya!!!

__ADS_1


Suara kepala rumah tangga mereka membuat dua perempuan cantik itu berpandangan dan segera menemui sang ayah.


"Siapa namanya?" tanya Maya dalam perjalanan menuju ruang tamu, menemui ayah, kakak, dan tamunya.


"Nanti juga kalian berkenalan. Sudah tidak sabar. Hmm?" Kavya menggoda Maya.


Maya memerah, bukan tersipu, tapi menahan kekesalan.


"Kavya!" sergah Maya.


Kavya berjengit, adik iparnya malah memanggil nama. Kalau dulu, wajar. Mengingat mereka memang berteman baik. Kalau sekarang sudah berbeda. Maya lasti kesal makanya seperti ini responsnya pada Kavya.


"Baiklah, Maya."


Maya tersenyum seram pada Kavya, yang wanita itu tahu alasannya.


"Deva Mahendra!" kata Kavya ketika mereka sudah tepat di ruang tamu.


Maya kenal nama itu. Sangat!


Maya berharap orang ini bukan Deva Mahendra yang itu. Iya, berandalan sekolah yang sok keren, sok cool, dan si muka datar yang narsis itu ... mantan kekasihnya yang menjadi musuh bebuyutannya.


Namun, harapan Maya pupus sudah ketika wajah sok cool Deva terpampang jelas.


Pandangan mereka beradu. Entah kenapa Maya merasa tatapan Deva seakan tengah menyeringai padanya.


*******


Maya sudah bertekad bahwa ia akan kabur dari rumah. Ia tak mau menikah dengan si pemuda yang dulunya adalah pembuat onar seantero sekolah.


Lelucon apa ini? Takdir benar-benar mempermainkan dirinya!


Maya akan membuat rencana dan hanya Tuhan yang tahu apa rencana gadis berambut panjang itu di tengah malam gulita.


Maya, tiba-tiba saja membutuhkan Khalid untuk melakukan misinya. Diambilnya ponsel layar datar keluaran terbaru yang dibelikan oleh kakak kesayangannya pekan lalu dan mencari kontak dengan nama: Khalid (bukan) bin Walid!


"Assalamu'alaikum ... Khalid Al-Indonesiyani?"


--


"Kau ini benar-benar gila, Maya! Apa kau tahu itu, heh?" Khalid berkata malas sembari menatap Maya malas pula.


Mereka kini tengah berada di terminal bus. Dengan Maya yang membawa banyak tas. Dari tas tangan hingga tas pakaian.


"Aku sudah tau sejak lama, Sayyid Khalid."


Maya memakai kata sayyid bukan untuk memuliakan, tapi sebaliknya. Meledek.


"Tch! Benar-benar kau ini! Segila-gilanya Sofia, tak ada yang menyadari bahwa kau lebih gila darinya! Dan fakta mengejutkan itu ... cuma aku yang tahu!" lanjut Khalid dengan nada ogah-ogahan.


"Dan kami tentunya!" jawab Chandra datar. Dia baru tiba bersama Bayu.


Khalid refleks berteriak tidak elite. Bayu, Chandra dan Maya sampai menutup telinga mereka.


"Apa yang mereka lakukan di sini, Maya?" tanya Khalid setelah jeritan tak elitenya itu mereda.


Maya tak menghiraukan Khalid, malah sibuk bermain dengan ponselnya.


"Seingatku kita lebih dulu kenal sebelum kau dekat dengan Maya, Bayu!" cibir Khalid.


Di sudut tempat keempat orang tadi, ada sepasang mata tajam sedang memperhatikan mereka.


------


"Apa?!" Bayu berteriak dengan tidak elitnya.


Teriakan itu disebabkan oleh cerita Maya yang mengatakan bahwa calon suami yang selanjutnya ditawarkan oleh Wishnu adalah Deva Mahendra.


"Deva yang itu? Si Tengik? Si ... si ... si ...."


"Iya Bayu, dia! Jadi, berhenti berteriak, kita jadi pusat perhatian karena ulahmu, Semprul!" Khalid memotong racauan Bayu yang menggebu-gebu.


"Dan kamu menolaknya lagi? Kamu sangat terlihat membenci priayi."


Kali ini suara Chandra yang terdengar.


Maya, Bayu, dan Khalid menatap Chandra dengan cengiran kikuk.


"Buk-bukan begitu Chandr, Ak-aku ... mmm ... aku cuma ...."


Maya tidak enak hati. Lagi, ia pun pernah menolak Chandra.


Semua yang dipilihkan ayahnya adalah para bangsawan dan semuanya ditolak olehnya.


"Jangan dengarkan dia! Sekarang katakan saja rencanamu, kami akan membantmu!" Bayu berujar yakin.


Bayu memang sangat menyayangi Maya. Dia bahkan konon lebih protektif daripada Dharma.


"Hanya membantuku menutupi jejak saja. Aku akan ke Jakarta!"


Khalid langsung tahu apa rencana Putri Bangsawan Wishnuwardhana ini. Chandra mengangguk saja.


"Maksudmu? Aku ndak ngerti,"


Mulailah kumat penyakit lola-nya Bayu.


"Bayu cuma harus mengikuti intruksi Khalid saja," Maya berkata ceria.


Khalid memberikannya tiket ke Jakarta yang sudah dipesankan sebelum olehnya bersama:


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Deva Mahendra!


.


.


.


.


Bagaimana bisa berlaku hal semacam itu?


"Siapa?" tanya Deva pada Khalid yang menutup panggilannya.


"Maya," jawab Khalid singkat. "Seperti dugaanmu, dia benar-benar menghubungiku."


Deva menyeringai. Ia adalah stalker number one Maya. Jadi jangan heran jika ia pun dapat membaca pikiran gadis itu. itu sebabnya dia sehabis pulang dari kediaman mantan kekasihnya menuju kediaman Khalid. Menemui salah satu komplotan Maya yang juga teman seangkatannya sewaktu sekolah dulu.


"Kesannya aku jadi mengkhianati Maya."


"Kau membantunya, Khalid. Bukan mengkhianatnya," kata Deva tenang.


"Jadi apa yang harus aku lakukan?"


"Aku yakin sekali kau tau apa yang harus kau lakukan, hn?"


Khalid menelepon temannya, memesan tiket kereta menuju Jakarta berjumlah dua. Bahkan sesungguhnya Khalid mengetahui kalau Maya pasti akan menghubungi Chandra dan Bayu juga. Mereka bertiga sangat dekat, tak heran jika Maya ingin kedua sahabatnya ada di dekatnya pada saat ini. Sahabat adalah segalanya, bukan?


Jadi, siapa sebenarnya yang membuat rencana?


Maya, Deva, atau malah Khalid? Berencana lah sesuka hati kalian, tetapi tetap Tuhan semesta alam yang menentukan pada akhirnya.


.


.


.


.


.


Khalid melambaikan tangannya ke arah Maya yang akan memasuki bus. Bayu memeluk boneka yang ia dapat dari Maya sambil sesegukan karena kepergian gadis itu. Chandra tersenyum tipis, sembari menggumamkan kata 'hati-hati Maya'.


Tak ada yang menyadari sesosok laki-laki yang ternyata Deva, juga ikut masuk ke dalam bus menuju Jakarta bersama Maya.


"Kenapa kau sesegukan begitu, Bayu? Lebay!" cibir Chandra.


"Dasar bodoh! Coba tanya Khalid kenapa aku sesegukan!" balas Bayu.


Chandra menatap Khalid, menuntut jawaban. Khalid mengangkat bahunya. "Setahuku sesegukan Bayu karena pembuluh darah membesar yang disebabkan emosional pada orang tersebut yang menangis sehingga pernapasan pada paru-parunya tidak stabil!"


"Pekoq!!!!" jerit Bayu meraung-raung.


Khalid menyeringai.


"Jadi?" Chandra belum mengerti.


Tampaknya Khalid hanya memberitahukan rencananya saja pada Bayu. Sebab dia takut, Chandra tak akan membantu jika ia tahu sesungguhnya.


"Katakan yang kau tahu, Khalid!" Chandra berkata dingin sembari memblokir jalan yang akan Khalid lewati.


Mata Khalid membulat, pelipisnya dialiri peluhnya sendiri. Chandra tampak menakutkan saat ini. Dia yakin, ujung-ujungnya Chandra pasti membawa nama Wishnuwardhana.


"Atau akan kutanyakan sendiri pada pak dhe Wishnu!"


Nah kan! Khalid tak pernah melesat dalam menebak! Tanyakan yang dikatakan Chandra bukan makna sebenarnya, tapi ada banyak makna terkandung di sana.


Dasar pengadu, rutuk Khalid.


Pemuda itu menghela napasnya, "Baiklah ... apa boleh buat?"


*******


Maya memasang headseat di telinganya. Kacamata masih bertengger manis diwajah tegasnya. Tak menyadari teman sebangkunya di dalam bus sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya sambil menyeringai dengan mata berkilat senang.


Masih dengan senandung kecilnya, Maya merogoh tas tangannya yang terdapat foto dua seorang, salah satunya dirinya sendiri. Tangan mungilnya mengusap foto itu sembari tersenyum, "Aku akan mewujudkan cita-citaku."


Setelah mengatakannya ia cekikikan bak gadis yang tengah berbicara pada kekasihnya.


Seringaian Deva luntur menjadi tatapan sendu ke arah foto tersebut. Foto mereka. Kemudian melepas headseat yang terpasang di telinga Maya.


"Apa yang kau laku——Huaaaaaa!!"


"Menemani calon istriku, tentu saja. Pertanyaan macam apa itu, Maya?"


Lantas Maya memukul pundak Deva.


"Penguntit!!! Pergi kamu, Mahendra senget!!"


"Aku akan menemanimu. Bukankah kau ingin menjadi Ratu, Tuan Putri?"


Maya refleks berhenti memukuli Deva seraya mengangguk.


"Bagus!" ujar Deva menyeringai.


"Pertama-tama, kita harus sampai ke tempat tujuan, lalu kamu harus menurutiku. Paham?" titah Deva.


Lagi-lagi Maya mengangguk seperti dihipnotis oleh Deva.


Deva mengambil ponselnya. Mengetikkan sebuah pesan, kemudian ia mengirimkannya pada beberapa kontak di sana. Pada mereka yang pantas mendapatkan kabar ini.


Wishnuwardhana, Dharma Yudistira, Kavyana, Krishna, dan Khalid.


Di sana tertulis: Mission is completed!

__ADS_1


__ADS_2