RAMPAI

RAMPAI
Intiqam (4)


__ADS_3

Jika bayanganmu saja meninggalkanmu saat kegelapan, apalagi orang lain?


Kematian sepupu kesayangannya sekaligus sahabat baiknya membuat Nanjar menjadi dingin, dan entah kenapa mulutnya pun menjadi tajam saja.


Dharma paham arti kehilangan. Dia pun pernah merasakannya juga. Putranya yang masih kecil telah mati sama mengenaskannya dengan Maya.


"Aku tau siapa yang membunuh adik sepupuku, Dharma. Dan aku tak akan kalah darinya dalam membuat rencana untuk membalaskan dendamku."


BOHONG!


Nanjar berbohong ketika ia berkata bahwa ia tahu pembunuh Maya.


Jika ia tahu, harusnya Togar sudah mati di tangannya.


.


.


.


Kavya tengah memilih pakaian hitam untuk dipakainya nanti malam. Dharma mengajaknya menghadiri sebuah pengajian untuk Maya dan Bisma yang Nanjar adakan.


"Siapa itu Maya, Mas?"


"Sepupu Nanjar."


Kavyana mendesah iba. Belum lagi Bisma yang juga meninggal dalam insiden ini. Sebenarnya, apa yang sedang mereka lewati, ia tidak tahu.


"Bisma ... aku tak menyangka, dia akan mati seperti ini,"


Kavyana mengusap sudut matanya yang membasah.


Nanjar mengundang seluruh orang yang dikenalnya. Bahkan Dharma dan Kavyana wajib hadir meski sedang berpergian. Meninggalnya rekan wajib dihadiri sebagai penghormatan terakhir.


Pengajian akan berlangsung hikmat dilihat dari luar rumah yang tenang dan dirundung kesedihan.


Apakah memang akan hikmat? Atau akan ada ledakan kemeriahan lainnya?




Pengajian pun dimulai!


Akankah pengajian berlangsung semestinya?


Ataukah akan ada kejadian besar?!


Baiklah, kita mulai saja dari sudut sebelah kanan.


Di sanalah sang Queen Vizier dan suaminya duduk manis yang tentu saja bersama Deva.


"Kau tambah cantik dengan jilbabmu," Deva memuji makhluk indah yang imut itu.


Yang dipuji merona hebat. Sementara suaminya memandang jenuh. Ia cemburu. Bukankah kecemburuan laki-laki itu memang dibenarkan?


Sebuah earphone terpasang manis di telinga Togar. Earphone yang  menghubungkannya dengan seseorang.

__ADS_1


Sepertinya memang akan ada rencana yang akan dilancarkan malam ini.


Dan tak disangka, Roy Wijaya pun datang bersama Hildan. Namun, siapa yang mengundang mereka?


"Deva!" Togar menghampiri Deva yang bersama Dharma dan Kavya.


Nanjar terlihat gusar! Dia tak tau yang mana kawan dan yang mana lawan. Mereka bisa saja adalah lawan. Tak dapat dipercaya!


KRAK!


BHOOOOM!!


Ledakan kecil membuat pengaruh besar bagi orang yang di dalam.


Siapa pelakunya?


Hildan tampak menggelepar di tanah dengan mulut yang bersimbah darah.


"Checkmate!!"


Deva berdiri angkuh di atas mayat Hidan. Pria itu bahkan menginjaknya.


"Saatnya menyerang!" Deva berucap santai.


Nanjar menghubungi Bisma dan Maya yang mati tapi pura-pura.


Bagaimana bisa?


Deva si genius adalah dalang dari rencana ini. Sejak awal ia memang sudah curiga terhadap Togar. Ia juga menyuruh pasangan Dharma-Kavya untuk berakting. Tak hanya mereka, Maya dan Bisma pun demikian.


Deva sengaja melibatkan Maya, karena ia tahu Togar pasti akan menargetkan sepupu palsu Nanjar itu karena gadis itu adalah deputi rahasia yang menyelidiki kasus ini. Togar tahu jati diri Maya sesungguhnya karena mencuri dengar percakapan Deva dan gadis itu. Deva, menyadari kalau Togar memata-matainya.


Dharma dan Deva menaikkan sudut bibir mereka.


"Kalian tidak melupakan kami, bukan?"


"Tentu saja tidak. Nanjar."


Nanjar berada di antara Maya dan Bisma.


"We're the players!" Deva berkata geli.


"Baiklah, mari beraksi!" intruksi Komandan Dharma.


Sesaat kemudian ia menyeringai kejam. Pembalasan dimulai!


Karena Dharma telah mengumpulkan sekutu untuk penyerangan ini.


.


.


.


Kavya, Maya, Bisma, Dharma, Nanjar, dan Deva pun merencanakan ekspansi ke markas Roy Wijaya. Ini adalah rencana awal mereka. Menyerang frontal pembunuh guru Deva dan anak Kavya-Dharma.


Dharma dan Maya pada kelompok yang sama. Mereka satu tim, sedang menyiapkan segala senjatanya. Senjata api dan beberapa senjata tajam lainnya.

__ADS_1


"Aku merindukan petarungan seperti ini."


Kemudian ia memberi petuah pada Deva untuk benar-benar menjaga Kavya, dan sederet ancaman lainnya, agar ia pun tenang melaksanakan misi ini supaya berjalan mulus.


Deva tak membalas. Biarlah Dharma merasakan kecemburuan sesaat, seperti dirinya ketika Kavyana didapatkan oleh suaminya.


Kavya mendatangi Dharma, "Mas, aku tak akan apa-apa."


Kemudian, Dharma mengecup kedua pipi Kavyana.


****


Peperangan telah dimenangkan oleh Dharma, Deva, Nanjar, Bisma, Kavyana, Maya beserta sekutu-sekutunya.


Ada banyak jagal dan pasukan yang tewas dari kedua belah pihak. Anak-anak buah Dharma segera mengurusnya, tubuh bergelimpangan itu harus dibersihkan sebelum pagi tiba. Juga bekas darah, senjata, dan benda-benda tajam.


"Terima kasih banyak atas bantuan kalian." Dharma menepuk bahu Bisma, Deva dan Nanjar.


"Ini bukan tentang putramu saja. Tapi tentang guruku juga." Deva berujar.


"Tentu ini juga demi kehormatan kita." Nanjar menimpali.


Dharma merangkul tiga pria itu bergantian. Dharma juga memeluk ayah mertua dan kakak iparnya.


"Thanks, you're the real hero, Dad, Bro!" Dharma menepuk pundak Khalid dan Aji.


Kemudian Dharma dan Kavya juga terlihat berpelukan.


Akhir yang baik meski mereka tidak tau motif Roy Wijaya melakukan tindakan kejahatan.


Mereka sudah mati sebelum menjelaskan. Namun, yang terpenting sekarang, masalah selesai.


Mereka menang.


*****


Sebulan sejak peperangan di gedung bersejarah itu, Dharma dan Kavya yang sudah pulang ke Medan kembali mengunjungi Aceh untuk menghadiri pernikahan Deva dan Maya, deputi yang membantu mereka.


Orangtua almarhum Dhana bertemu lagi dengan Deva dan Bisma.


Tak hanya Dharma dan Kavya, Nanjar pun turut menghadiri.


"Dharma dan kau yang akan mendampingi Deva di pelaminan." Nanjar menginformasikan pada Kavyana.


Kavyana tersenyum.


.


"Wajah kalian kompak sekali kusut begitu?" celetuk Kavyana yang duduk berderet bersama dua laki-laki tersebut, tentunya dengan Maya juga.


"Jas mahalku sobek karena si bodoh ini menarik-nariknya." Deva berucap  kesal sembari memperlihatkan jasnya yang sobek pada dua wanita di samping kanan dan kirinya.


"Aku 'kan tidak sengaja, pintu mobilmu saja yang tidak profesional." Dharma berujar santai.


"Apa kau bilang?!" Deva tidak terima.


"Mengamuklah, maka pestamu berantakan. Lalu mertuamu akan mengejarmu!" Dharma kembali membalas.

__ADS_1


Maya dan Kavyana terkekeh bersamaan. Sekarang, dan seterusnya hanya akan seperti ini. Deva dan Dharma yang takkan pernah akur.


__ADS_2