RAMPAI

RAMPAI
Modus


__ADS_3

Hari ini cuaca begitu terik. Namun, Nana hanya berada di rumah sendirian. Ia habis makan semangka segar yang ada di kulkas.


Kakeknya pergi ziarah ke Jombang. Papanya melakukan seminar jamu di Palembang. Kakak tertuanya ada studi wisata ke Palangkaraya. Kakak tengahnya belum pulang dari sekolah karena ada les tambahan mau ujian nasional. Sementara yang satunya lagi, asik mojok sama tetangga sebelah di kedai ujung kompleks. Jadilah Nana sendirian.


Namun, inilah waktunya Jun beraksi. Mendekati Nana dengan modus paling receh sedunia. Membawa gitar dan menyanyikan lagu untuk si gadis.


Dengan masih menggunakan celana sekolahnya yang berwarna biru——iya, mereka masih SMP, kelas satu pula——maka sang Arjuna menghampiri mangsanya. Ia sudah berdiri di depan pintu gerbang kemerdekaannya mendekati anak bungsu Muhammad Idris.


"Assalamualaikum!" sapanya seperti akan melakukan pantun Betawi di kawinan massal.


"Yang bener itu, Assalamu'alaikum kali! Ulangi! Nana gak mau jawab kalo salah!"


"Mesti pakai huruf 'ain ya Nana, ya?"


"Iyalah!"


Nana mengibas rambut se-apalah itu namanya di bawah bahu——dengan gaya ala iklan-iklan sampo di televisi.


Poninya ia sibakkan pula.


Mata Arjuna bersinar-sinar, walau tak seterang sinar bintang. Ia pun mengulangi ucapan salamnya yang dibalas dengan baik pula oleh Nana.


"Jun, iketin rambut Nana dong!"


Mendengar permintaan dengan nada manja begitu membuat hati Arjuna bin Jaelani Utsman seperti sedang ditumbuhi bunga Rafflesia, besar hingga merasa sesak.


Sigap, ia langsung bergabung dengan Nana untuk duduk di teras rumah sambil menenteng gitar pinjamannya.


"Nana baru beli jepitan rambut tadi di depan sekolah. Warna biru, agak sama warnanya sama baju yang Nana pakai."


Nana memamerkan jepitan rambut polkadotnya. "Cantik 'kan?"


"Cantikan Nana kok."


Ceileh, bocah pinter ngerayu!


Yang dipuji melayang, walau tidak sampai ke awan. Karena yang memuji hanya Jun. Coba bapaknya Jun yang memuji, kalau ada langit ke delapan, mungkin Nana akan terbang sampai ke tempat itu.


"Mana jepit rambutnya? Sini biar Jun pakaikan!"


Dengan kemampuan ala ibu-ibu yang sering ada di salon untuk mendandani, Jun pun mengikat sebagian rambut Nana dengan telaten. Sesekali ia mencuri untuk bisa menghirup aroma sampo pada rambut si gadis belia. Pikirnya, ia juga akan memakai sampo yang sama nantinya.


Setelah selesai, Nana berdiri dan becermin di jendela kaca rumahnya. "Wah! Cantik juga Nana ya?" pujinya pada diri sendiri.


"Iya dong, calon istri Jun gitu loh!" kata Jun pelan sekali. Sengaja biar Nana tidak mendengar.


Bocah zaman sekarang, tahu pula mereka calon istri. Apa yang mereka konsumsi sebenarnya?


"Nana ... Nana ... mau Jun nyanyiin gak? Jun udah bawa gitar nih!"


Nana menoleh. Dengan gaya khas papany——meletakkan kedua tangannya di pinggang——ia berujar, "Emang Jun bisa nyanyi? Kemarin pas acara 17-an aja ditolak lomba nyanyi kok."


Alamak!!


"Ih Nana! Itu kan cuman pura-pura. Sebenarnya Jun bisa nyanyi kok. Cuman yaa biar gak lolos aja kemarin tuh,"


Halah, jago betul ngeles anaknya om duda. "Soalnya suara nyanyian Jun cuma untuk Nana seorang,"


Nah, sekarang malah sekalian menggombal.


Nana kembali duduk di dekat Jun yang bagai pengamen minta jatah saweran karena sudah bernyanyi.


"Oh ya? Palingan Jun cuma bisa nyanyi 'Cicak di Dinding', 'Lihat Kebunku', sama 'Pelangi-pelangi' aja!"


"Eh, Nana! Jangan salah! Jun juga bisa nyanyi 'Bintang Kecil' dan 'Balonku' kok!"


Nana mencondongkan tubuhnya pada Jun. Semburat merah menghiasi pipi Arjuna Ravendra. "Coba! Nana mau dengar!"


Jun mulai memetik gitarnya. Suaranya tidak merdu. Kuncinya salah-salah. Dengan percaya dirinya menyanyikan lirik lagu bintang kecil.


"Jun!!!" Nana memekik melindungi telinganya dari siksaan polusi suara yang Jun ciptakan.


Arjuna berhenti memetik gitar dan menyenandungkan lagu. "Nana kenapa?" tanyanya polos.


Nana menganggap malah pertanyaan itu seperti sebuah permainan. "Perutku sakit!" ketus Nana.


Jun menarik napas. Kalau sudah pakai "ku", mestilah Nana marah, kesal, merajuk, ngambek dan kawan-kawannya.


"Nana belum makan?" tanya Jun.


"Belum!"


Lagi, Nana masih ketus.


"Mau makan?"


Nana mengangguk.


"Mau apa? Nanti Jun beliin."


"Mau makan kau!" Nana masih berkata ketus. Bahkan lebih ketus dari yang tadi.


"Aih, Nana udah berani ya? Ingat, Na! Kita masih kecil. Masih sekolah. Belum boleh begituan. Menikah dulu harusnya."


Pikiran si bocah, siapa sih yang ngajarin? Mesti bapaknya yang suka mengintip janda kompleks sebelah yang ditemani bapak gadis incarannya.


Nana melupakan amarahnya. Wajahnya malah menampilkan raut bingung. "Eh! Apa maksudnya?"


"Maksudnya ...,"


Jun memegang pipi gembil Nana yang bagai kue Pao. "Nana harus nikah dulu sama Jun, baru tau."


Modusmu, Bocah!


Tiba-tiba saja, Nana mengerang. Memegangi perutnya. "Sakit, aduh!"


Jun panik. Perasaan, dia hanya pegang pipi, itu pun lembut, kenapa jadi sakit?


"Apanya yang sakit?"


Jun sedikit menjauh, ia memandangi Nana yang hampir berguling-guling.


"Perut Nana!"


"Jun ambilkan minyak kayu putih ya?"


"Minyak kayu putih belom dibeli lagi sama papa, udah abis. Telon aja yang di atas tipi."


Jun langsung masuk dan secepat kilat kembali dengan telon.


"Jun, kayaknya ada yang keluar deh."


Jun bingung. Apa yang keluar?


"Ada yang keluar dari itu! Nana takut. Aduh sakit lagi nih!"


"Makanya pakai minyak telon, biar gak sakit."


Jun mengabaikan kata 'itu' saking paniknya.


Dua kalimat di atas, membuat Ishaq yang baru saja pulang dari sekolah, dan akan memasuki rumahnya, berhenti melangkah. Pikiran nista memenuhi kepalanya. Kepala yang sering disuguhi JAV oleh kawan-kawannya.


"Ahh, sakit banget!"


Nana menangis. "Ini gara-gara Jun!"


Ishaq mempercepat langkahnya.


"Iya, iya ... maaf. Jun gak bakal buat ini lagi deh,"


Daripada panjang, Jun mengalah untuk disalah-salahkan oleh Nana. Lagi pula mana ada suara nyanyian membuat sakit perut.


"Jun! Keluar lagi!"


Ishaq tidak lagi mempercepat langkah, ia langsung berlari menuju teras rumah. Apalagi saat Jun berkata, "Aih! Berdarah!!!"


"WOII!!!" hardik Ishaq.

__ADS_1


Jun terlonjak.


"Ko apakan adekku, heh?! Kumatikan jugak ko sekarang!"


Ebusyeeet! Bahasa pasar Medan langsung keluar.


"Ishh! Abang! Itu-nya Nana berdarah! Tolongin Nana dulu baru marahin Jun."


Nana merengek. Menangis kemudian.


Ishaq mawanti-wanti agar Jun jangan kabur melarikan diri, apalagi sampai ke Singapura.


"Assalamu'alaikuuuuuum,"


Ya, bertambah ramai. Karena Ismail dan Zainab ikut memeriahkan.


"Woi, Bang!" Ishaq memanggil penuh emosi. "Si Bontot nih, diperkosa sama adek cewekmu!"


"HAH?!"


Suara Nana dan Jun paling keras di antara mereka.


Padahal bukan Jun memerkosa Nana, tetapi Nana memang sedang mengalami Menarche. Menarche adalah siklus menstruasi pertama, atau pendarahan menstruasi pertama, pada perempuan.


•••••


Sesampainya anak-anak Jaelani di rumah mereka, Zainab tertawa nista karena kejadian awkward yang menimpa adik lelakinya dan kakak laki-laki dari Nana. Mereka hampir saja mengeroyok putra Khadijah itu hingga babak belur sebelum Zainab menyadari bahwa Nana mengalami haid hari pertama.


"Ketawa aja terus! Di sini tuh aku yang terjolimi!!" ujar Jun dengan gerakan badan berlebihan, layaknya sedang terkena ayan.


Ia sempat kena ***** mesra level tinggi dari dua kakak laki-laki Nana jika kakak perempuannya tidak segera melerai.


Namun, tiba-tiba ide melintasi otak polosnya untuk mencemari pikirannya.


"Papanya Nana kapan pulang ya, Kak?"


"Bukannya nanya abah sendiri malah nanya bapak orang lain. Buta banget cinte elu ke die ye, Jun, ye?"


Nah, ujung-ujungnya si sulung duda Jaelani meniru-niru bahasa di televisi.


"Iye! Emang nape?!"


Nah, adeknya ikutan.


Zainab menggeleng-gelengkan kepala. Bukan ia sok bijaksana. Kalau lagi balas chat-an pacal telcinta memang gitu. Dunia mau terbalik atau bumi akan kedatangan Al-Masih Ad-Dajjal saja dia cuek.


"Aku mau ngapalin surah Ar-Rahman aja dah!" ucap Jun sambil berlari-lari ke kamarnya.


"Busyet dah! Kebelet kawin tuh anak apa yaak?"


Zainab mengelus dada. Setelah itu ia kembali berkutat dengan ponsel membalas pesan si doi.


*


Ishaq terpaksa membeli pembalut wanita ke warung atas paksaan Ismail. Dia yang paling muda, maka dialah sering kena apes.


"Kak, satu pembalut bersayap ya. Sebungkus." Ishaq berkata malas, malu dan ingin menyembunyikan wajah tampannya ke perut bumi saking malunya. Warungnya sedang ramai, dan semua yang ada di warung itu perempuan pula.


Mereka sedang cekikikan karena perilaku Ishaq yang entah mengapa bisa menarik para cewek-cewek berghibah ria.


"Mau yang merek apa, Bang?" tanya si penjual.


"A-apa a-aja lah." Ishaq menjawab jengah. Dia benar-benar merasa dipermalukan.


"Warna apa, Bang?"


"Emang ada berapa merek dan warna sih, Kak? Yang penting pembalut, bersayap! Terserah mau merek dan warna apa. Terserah aja!!" Ishaq kesal setengah mati.


"Ukurannya, Bang?"


Ishaq terdiam. Ukuran? Apa maksudnya? Tiba-tiba ia teringat pelajaran biologi dulu, ada gambar pembalut juga, entah kenapa gurunya juga mengikutsertakan pembalut wanita pada pelajaran biologi pada bab alat reproduksi manusia.


Si penjual lantas memberikannya.


Pembalut masih saudaraan dengan diapers baby. Ah, kalau Ishaq mengira-ngira, pastilah ukuran Nana, adiknya yang mungil tapi berisi itu ukurannya L atau XL?


Giliran si penjual yang kebingungan. "Maksudnya?"


"Pertengahan L dan XL. Nah, itu ukuran apa?"


Si penjual mulai paham. Dia pun berniat menggoda Ishaq. "Yang dibeli sebenarnya pembalut atau popok sih, Bang?"


Wajah bodoh Ishaq kembali tergambar. Kebingungan yang dialami laki-laki itu kembali menjadi ghibahan baru untuk para cabe di sana.


"Untuk anak perempuan remaja lah. Yang baru pertama dapat."


"Maksud dari ukuran, Abang! Ukuran isi! Mau isi delapan, atau yang dua puluh? Atau malah yang tiga puluh?"


"Oh!"


Kembali Ishaq menampilkan wajah jengahnya. "Yang bisa dibeli pakai uang lima puluh ribu aja deh."


"Oh! Ini!"


Penjual itu memberikan empat bungkus isi tiga puluh pembalut.


"Gak usah diplastikin, Kak!" larang Ishaq ketika si penjual akan memasukkannya ke dalam kantongan plastik besar.


"Ribet! Gini aja!" sambung Ishaq dengan percaya dirinya.


"Eh, yakin, Bang?"


"Iya loh."


Kemudian, pergilah ia dari warung meninggalkan para perempuan yang terpingkal-pingkal menertawakan kekonyolannya.


Jarak warung ke rumahnya bukan dekat. Harus melewati banyak rumah orang lain juga.


Saat ia akan dekat pada rumahnya, seorang kawan sebayanya, menggodanya kalau mabuk-mabukan dengan pembalut wanita sudah tidak musim lagi seperti beberapa waktu lalu.


Ishaq beristighfar sambil memeluk keempat bungkus jumbo pembalut berwarna merah muda yang ada gambar sayapnya juga di bungkusannya.


Lalu, dia berjalan secepat yang ia bisa. Si kawan tadi, tertawa kemudian.


Sesampainya di rumah, gantian Ismail dibuat heran oleh Ishaq.


"Keberanianmu patut diacungi jempol empat, Bro!" kata Ismail menepuk-nepuk punggung adiknya sekeras yang ia bisa. Tindakan kurang mendidik itu, membuat Ishaq terbatuk-batuk.


"Aku memang yang paling berani di rumah ini!" Ishaq berbangga hati.


"Iya. Paling berani malu!" sambung Nana yang keluar dari kamarnya dan sudah siap dengan pakaian syar'i-nya untuk menimba ilmu di Madrasah Qasim Abdullah, madrasah kakek buyutnya.


Ishaq yang tidak paham maksud berani malu ini, mangabaikan kode-kode meledek dari kakak dan adiknya.


"Mau kemana, Dek?" tanya si Ismail.


"Dangdutan!" jawab Nana ketus.


Hormon yang menyebabkannya berubah-ubah kepribadian layaknya sosiopat di dalam cerita.


"Abang ikutan dong, Neng!" si kakak malah menanggapi.


"Kak, si abang gila ya?"


Nana bergosip dengan Ishaq mengenai Ismail.


"Udah dari dulu kali,"


Ismail merasa terzalimi jika mereka sudah membentuk squad. Padahal menurut Ismail, Nana yang lebih dulu membuat pasal. Ia hanya meneruskan. Akan tetapi, malah dia yang dituding. Masalahnya, tak ada yang berani membuat Nana merajuk, akhirnya mereka lebih suka mengalah.


"Mau ngaji ya?" Ismail mencoba berakrab ria saja. Tidak mau adik perempuannya sampai menangis. Tak ada papa atau kakek, jadi susah kalau nanti Nana mengamuk. Tidak ada pawang, demikian istilahnya.


"Basi benget sih pertanyaannya! Mau kemana lagi emang? Konser K-Pop?!" cibirnya.


Ismail mengelus dada sambil menggumamkan kata sabar berulang kali, disertai istighfar.


****

__ADS_1


Nana diantar Ismail ke madrasah, ini tahun terakhirnya di madrasah. Ismail memberikan uang berwarna ungu untuk Nana.


"Belajar yang baik ya, Dedek~" Ismail mengelus puncak kepala Nana yang tertutup khimar hitam.


Nana tersenyum. Bukan karena perhatian kakaknya, tetapi uang yang diberi. Uangnya jadi bertambah. Tadinya hanya dua puluh ribu, menjadi tiga puluh ribu.


Sungguh sangat benar kalau kaum wanita menyukai uang, tidak terkecuali.


Ismail mengemudikan motornya kembali, menjauhi madrasah. Di saat yang sama, Arjuna menghampiri Nana yang sedang tersenyum. Kemudian ia kembali melancarkan gombalan yang baru saja ia dapat ketika di rumah tadi sembari membaca Ar-Rahman.


"Pas ngeliat senyumnya Nana tuh, Jun jadi teringat surah Ar-Rahman."


Nana bergeming, tak ingin meladeni. Ia berjalan saja menuju kelasnya. Jun mengikuti.


"Fabiayyi ala irobbikuma tukadjiban!" Jun masih gencar melancarkan serangan modus yang menurutnya syar'i. Padahal bungkus, isinya tetap saja tidak. "Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


Mendengar itu Nana berhenti. Jun bersorak dalam hati. Dipikirnya Nana akan jatuh. Namun ...,


"Melihatmu juga kayak tanda baca huruf lam-alif di Alquran! Pantang berhenti. Harus jalan terus!"


Jun menggigit jari telunjuk miliknya sendiri saking gemasnya pada Nana yang aneh. Sebentar manis, sebentar galak, sebentar baik, sebentar ya begitulah.


••••


Malam ini hari sabtu, besoknya libur nasional. Kalau kata guru mengaji bilangnya harus Ahad, enggak boleh Minggu.


Karena Minggu itu nama pendeta missionaris di zaman penjajahan dahulu. Sebab, sedari dulu hari yang benar sebelum Senin adalah Ahad.


Karena Jun belum begitu paham masalah haramnya musik bagi mukminin, maka ia akan mencoba peruntungan dengan menyanyikan lagu di depan pagar rumah Nana bagai pengamen, setelah selesai makan malam dan salat isya tentunya.


Nadanya tak terkenal, jelek tak bermutu pula. Liriknya jangan ditanya. Gombalan paling retjeh sedoenia.


Nanananana~


Celana na na na  baru tersangkut...


Celananya bulu Jin si Jun~


Meski dikelilingi banyak akhwat


Nana-lah yang merajai hati Jun.


Demikian liriknya dengan nada yang semrawut. Suara sumbang pula.


Pintu utama kediaman Muhammad Idris terbuka lebar. Pelaku utama tentu saja sang kepala rumah tangga yang wajahnya Astaghfirullahalazim! Seram bagaikan film horor jenis gore yang biasanya identik dengan mafia-mafiaan.


“Assalamu'alaikum~” ucap Jun. Kemudian di dalam hati ia tambahkan: Papa Mertua Galak bin Sangar macem anaknya, tapi sayangnya saya sangat tergila-gila.


Iya, memang lebih panjang di dalam hatinya.


“Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh!”


Lengkap sekali jawaban juragan jamu ini. Seperti menghadiri Tabligh Akbar di Lapangan Merdeka Medan.


Sebenarnya, tadi Muhammad Idris mau langsung mengomeli Jun yang menyumbangkan suara sumbangnya. Namun, karena dilihatnya janda kompleks sebelah melintas, ia pura-pura berwibawa. Biasalah, manusia memang begitu.


“Wah Jun! Mari masuk! Pasti kau lelah karena telah benar-benar menyumbang sebuah lagu yang tidak terkenal dan aneh itu. Menyumbangkan sebuah lagu dengan suara sumbang.” Idris berkata manis dengan sindiran ajib-nya.


Jun tidak begitu bodoh untuk memahami bahwa itu sinyal-sinyal sindiran. Namun bebal, ia memilih masuk saja. Sudah ditawari, mubazir pikirnya.


“Alhamdulillah. Makasih, Om!”


Arjuna bukan putra Pandu melainkan putra Jaelani itu langsung tancap gas memasuki rumah yang yang menjadi tempat bernaung insan incarannya.


Setelah sampai di dalam rumah, ia mendapati anak-anak Idris yang sedang bermain Monopoli.


“Wah, main Ludo ya?” Jun bertanya basa-basi. Ia sudah melihat itu monopoli. Mo-no-po-li.


“Ah enggak kok, Jun. Ini lagi main catur!” jawab Nana meladeni ke-absurd-an kawannya.


Sementara para laki-laki yang lebih dewasa dari mereka yang di situ menatap kedua remaja SMP tersebut dengan menggoda.


“Ih kalian cocok deh. Ikut SUCA sana!” Ismail berkata sambil menghitung uang monopolinya yang cuma dua lembar berwarna kuning dan satu berwarna hijau. Yang sebenarnya tak perlu berlagak dihitung.


“Stand Up Comedy Academi, Bang?” Ishaq bertanya, pura-pura tidak tahu maksud si kakak. Gen pura-pura ini sudah tentu Idris yang menurunkan.


“So Unch Community Alahmak!”


Ibrahim yang melanjutkan.


Suara dehaman yang sengaja diserak-serakkan terdengar. Itu milik Idris yang memang sedikit sentimen dengan Jaelani beserta anak laki-lakinya. Zainab tidak termasuk karena dia perempuan. Perempuan tidak boleh dibenci, itu motto keluarga Muhammad. Iya, Muhammad Idris maksudnya.


“Eh, Papa! Peliharaan siapa yang tadi nyangkut di pagar kita, Pa?” tanya Nana tanpa merasa berdosa. Padahal dia tahu itu suara Jun.


Semua orang tahu itu suara Jun. Akibat pertanyaan Nana itu, ketiga kakak lelakinya menahan tawa mati-matian. Ditambah ekpresi Jun yang bagai orang paling teraniaya di dunia ini tatkala mendengar itu.


“Ih Nana kejam! Itu kan suara Jun yang mendendangkan bahwa Nana seorang yang merajai hati Jun walau sebenarnya Nana adalah ratu di rumah tangga kita nanti, dan tuan putri di rumah orangtua Nana.”


Gombalannya semakin ingin membuat Ibnu Ahmad Umar ingin menendang Jun ke bulan yang pernah terbelah tetapi bukan di langit Amerika.


“Ish! Jun musyrik! Bahwa sesungguhnya yang merajai manusia adalah Allah! Istighfar, Jun!”


Nana mendadak jadi sholehah! Pasti ada maunya.


Jun pun mengucapkan kalimat istighfar. Bukan karena ia tersadar dari kesalahannya, tetapi karena Nana yang meminta. Sesungguhnya maha benarlah sabda Imam besar bahwasanya cobaan paling berbahaya di dunia ini bagi kaum Adam adalah perempuan. Mereka adalah fitnah terbesar setara Dajjal.


“Ya ’kan, Pa?”


“Anak papa memang paling berilmu.” Idris memuji.


Ishaq memasang wajah malas, ia tahu ini akal-akalan. Pura-pura. Dasar ibnati Idris!


“Pa, belikan tas baru ya?”


Tuh kan!


Nana mendekati Idris yang membenahi sarungnya yang hampir melorot.


“Mas Baim ingkar! Katanya mau belikan Nana tas dari Pontianak!”


“Palangkaraya!” Ismail membenahi kesalahan ucap Nana.


“Ish sama aja Palangkaraya sama Pontianak!” Nana tidak mau disalahkan.


“Beda atuh, Neng.” Idris yang kali ini membetulkan kebengkokan Nana, putri bungsunya yang paling manja dan ajaib.


“Kan sama-sama di Kalimantan, Pa!” rengek Nana, dia masih tidak mau kalah.


Semua tanpa terkecuali menghela napas kasar. Bahkan Jun sekalipun.


“Yaudah, nanti mas aja yang belikan di dekat kampus. Jangan merajuk!” kata Ibrahim pada akhirnya.


Nana bersorak, tetapi belum mau beranjak merayu ayahnya. “Minta duit aja deh, Pa.”


“Buat apa? Udah malem.”


“Buat besok. Mau beli B.H sama Kak Zainab di Matahari. Lagi diskon, cuci gudang katanya.”


“Hey! Saring napa aih! Bilangnya bra gitu. Ya Allah! Apa kek selain be-ha!” Ishaq menyergah.


“Kakak juga bilangnya be-ha! Kenapa sih memangnya sama kata be-ha?!”


Jun mulai membayangkan hal tidak-tidak. Nana sudah pakai be-ha, pikirnya. Berarti sudah besar. Apanya yang sudah besar kira-kira menurut Jun?


“Pulang sana, Jun! Udah malem. Nanti abah nyariin!”


Idris buka suara.


Walau enggan, Jun menurut saja. Itung-itung belajar jadi calon mantu yang baek.


“Nana masuk kamar, besok papa kasih uang biru lima lembar, ya?”


“Uang ungu juga lima ya, Pa?”


Nana, si maniak warna ungu masih sempat bernegosiasi.


Mau tak mau, Idris mengagguk, menyanggupi walau hatinya dongkol luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2