RAMPAI

RAMPAI
Kesalahan


__ADS_3

Dharma berlari-lari seperti orang gila ketika tak didapatinya Kavyana di sekolah. Ia baru saja pulang dari perkuliahan, dan ibunya, Maya menyuruh pemuda itu untuk menjemput adik perempuannya di sebuah Taman Kanak-kanak.


"Di mana kau, Bocah?!" desisnya.


Ia bertanya pada seluruh orang yang ada di sekolah itu, tetapi tak ada yang melihat.


"Vya sudah pulang bersama paman berkacamata, Paman." Seorang bocah perempuan yang memiliki berat badan berlebihan di mana-mana tersebut menginformasikan.


Mata Dharma terbelalak. Bukan karena Kavya pergi bersama paman berkacamata sesuai informasi bocah kecil tambun yang di baju kemejanya tertulis nama Sita, tetapi panggilan bocah itu pada Dharma-lah penyebabnya.


"Paman?!" Dharma bertanya.


"Iya. Sepertinya Vya kenal juga pada paman itu."


Dharma berpikir tentang paman yang dikenal Kavya. Kira-kira siapa? Tak ada paman di keluarga mereka yang akan sudi menerima Kavya. Entah apa alasannya, hanya ibunya yang tahu.


Paman? Apa mungkin ...?! Akh!


Dharma mengeluarkan ponselnya. Menghubungi seseorang. Tak dijawab oleh yang akan diteleponnya. Namun, sesaat kemudian sebuah pesan, masuk ke ponselnya. Ketika selesai membaca serta huruf yang terdiri dari dua kata, Dharma tersenyum.


"Naratama bodoh!" desis Dharma seraya tersenyum.


***


"Assalaamu'alaikum~"


Suara mungil terdengar dari luar rumah. Disusul suara lainnya, lebih berat dan berwibawa.


"Wa'laikumussalaam," balas perempuan paruh baya berambut hitam panjang sewarna matanya. "Anak ibunda sudah pulang," sambutnya kemudian.


Tentu saja sambutan itu untuk anak perempuan kecil yang pipinya bagai kue Pao. Anak perempuan usia sekitar tujuh tahun berlari menghampiri wanita tersebut dan ia dipeluk ketika sampai di depan si wanita. Lalu membawa gadis manis itu ke kamar yang cat pintunya berwarna biru muda.


"Kalau mau membawa Kavya, harusnya beritahu aku!" Dharma memberikan protes pada Naratama.


"Dia adikku juga. Bukan cuma adikmu, jangan serakah!" balas Dharma.


"Kau ini bodoh atau bagaimana?! Aku tidak akan seperti orang gila mengira Kavya diculik pedofil kalau sebelumnya kau bilang padaku!"


Naratama tergelak. Kemudian laki-laki berusia dua puluh tiga tahun itu mengacak rambut milik adik laki-lakinya. "Maaf ya, Dharma."

__ADS_1


Dharma mencibir, tapi hatinya senang, sudah lama sekali kakaknya tidak berlaku seperti itu padanya.


"Tapi, jangan cemburu pada Kavya. Dia adikmu, ingat?"


Peringatan Naratama belum sepenuhnya Dharma pahami. Apa maksud cemburu ini, ia tidak tahu. Cemburu pada Kavyana bagaimana?


*


Maya menggambarkan Kavyana seperti bunga. Bunga yang cantik dan harum. Bunga lavender adalah bunga yang cocok bagi anak gadis kecilnya. Lavender maknanya juga sangat baik. Cinta yang tinggi. Jadi, Kavya dilambangkan oleh Maya sebagai cinta yang tinggi.


Kadang, Dharma dan Naratama merasa ibu mereka lebih menyayangi Kavyana yang lahir belakangan. Namun, tak mereka ketahui mengapa Deva, suami ibu mereka sekaligus ayah bagi mereka bertiga malah terlihat menjaga jarak pada Kavya.


Seperti saat ini, Deva tak merespons Kavyana kecil yang minta diajak bermain bersama. Ia terus menghindari gadis kecil itu.


"Ayah, ayo kita bermain!" seru Kavyana antusias.


Deva yang membaca koran tak menghiraukan gadis kecil itu sama sekali. Dia malah memanggil Maya dan berkata, "Gadis kecil ini terus merengek tidak keruan! Kepalaku mau pecah!"


Maya memberi senyuman pada suaminya. Senyum miris, kemudian membawa Kavya untuk bermain bersama kakak-kakaknya. Setelah ia beri Kavyana pada dua kakaknya, Maya kembali mendekati suaminya.


"Kavyana hanya ingin bermain. Dia tidak tahu rasanya bermain dengan ayahnya."


Koran yang di tangan Deva, dibanting ke lantai. Dengan kejam, ia berkata penuh dengan penekanan, "Aku bukan ayahnya! Dia bukan siapa-siapa di rumah ini!"


"Tapi, aku ibunya. Kau suamiku!"


"Terserah!"


Dari sana, Dharma dan Deva menyimpulkan sesuatu. Simpulan mengenai hubungan mereka semua. Simpulan yang sama tapi tak serupa.


*


Ketika usia Kavyana sepuluh tahun, yakni lima tahun kemudian, Maya meninggal dunia. Semakin menjadi ketidaksukaan keluarga pihak ayahnya pada Kavyana, terlebih ayahnya sendiri. Ia dengan anehnya menuduh Kavyana-lah penyebab kematian istrinya.


"Bodoh!" itu adalah komentar Naratama saat ayahnya mengaitkan kematian Maya pada adik bungsunya.


Dharma sendiri mengepalkan tangannya erat. Ia dan Naratama sudah tahu mengenai kebenaran bunga Lavender ibu mereka. Kenyataan ini membuat kedua kakak beradik itu bertambah kuat tekad untuk melindungi Kavyana dari siapa saja. Termasuk keluarga dan ayah mereka. Juga termasuk menjauhkan Kavyana dari ibu biologisnya, yakni Sherly, yang merupakan selingkuhan ayah mereka.


"Ini semua gara-gara anak haram itu!"

__ADS_1


Gelas yang ada di meja, Naratama hempaskan. Membuat kaca-kaca itu berderai di lantai, seperti hatinya. Hancur ketika adiknya dituding dengan sebutan tidak pantas.


"Setiap anak yang lahir ke dunia itu suci. Jika ada yang tidak suci atau haram, itu adalah perbuatan orangtuanya! Kupikir dulu Anda mengaji, bukan?"


"Peraturan macam apa itu?! Dalam hukum masyarakat dunia, jika dilahirkan bukan karena ikatan pernikahan maka hukum bagi si anak adalah haram!"


"Peraturan? Itu hukum agama Islam. Entah apa jadinya ini jika ibunda tidak memberi pelajaran agama. Pasti kami sama tidak bermoralnya seperti Anda."


Deva emosi. Wajahnya memerah karena sindiran putra sulungnya. Hampir ia berkata-kata lagi, Dharma sudah menikung. "Memangnya siapa yang mau dilahirkan seperti itu?"


Bukankah karena kesalahan Anda-lah adik kami itu lahir? Bukankah karena kebodohan Anda-lah ibu kami sakit-sakitan?"


Bukankah karena Anda, wanita keji itu ingin membunuh anak kandungnya sendiri? Ah, siapa namanya? Ya, Sherly."


Deva terdiam. Ia menggertakkan giginya. Berani benar anak-anaknya malah membelot padanya dan membela Kavyana, alasan tangisan istrinya.


"Pergi." Deva berkata dingin.


Baik Naratama dan Dharma menyeringai kecil. Memang mereka akan pindah dari rumah yang selalu membuat adik semata wayang merasa tertekan.


Maya juga mewasiatkan agar pergi dari rumah Deva jika ia sudah tidak ada lagi di dunia, agar keamanan Kavyana tetap terjaga.


*


Naratama sudah bekerja sebagai kasir di sebuah super market. Uangnya lumayan cukup untuk mengontrak rumah untuk ditinggalinya bersama dua adiknya.


Kavyana masih sering murung karena kematian ibunya, Maya. Naratama sering menghibur gadis kecil itu. Kadang ia membawa adik bungsunya ke taman bermain atau memakan makanan manis untuk membuat baik mood si anak.


Beruntung ada dua teman sebayanya yang tinggal juga di sebelah rumah mereka, Sita dan Mahila. Mereka pula lah kadang yang menjadi tempat Kavyana berkeluh kesah. Sita, yang dahulu menyebut Naratama dan Dharma dengan sapaan 'paman'.


lima bulan kemudian, Kavyana sudah bisa menampilkan senyumannya yang lama hilang. Ia kembali bersekolah.


"Aku rasa, Sita dan Mahila akan cocok dengan Kavyana." Naratama membuka percakapan dengan Dharma di ruang tamu.


"Kuharap begitu." Dharma merespons.


Jauh dari tempat mereka tergeletak pria tua bersimbah darah di sekujur tubuhnya. Ia melakukan aksi bunuh diri akibat rasa bersalah yang tak sanggup ia tanggung. Di sampingnya tergeletak secarik kertas, berbunyi:


Aku tahu bunuh diri itu sebuah dosa. Aku tahu tempatku di Neraka. Aku dzalim pada Maya-ku, pada anak-anakku dan pada diri sendiri. Maya, bisakah kita menjadi pasangan suami istri lagi? Aku janji takkan mengkhianati lagi.

__ADS_1


__ADS_2