
"Buktikan kalau Allah-mu memang ada, Kenkyo!!"
Suara bernada frustrasi itu terdengar pilu, seakan membelah malam.
Di pangkuan laki-laki berkumis tipis itu, seorang perempuan dengan rambut tergerai panjang tengah meregang nyawa. Air mata mengalir deras dari keduanya. Malam sunyi, petir menyambar menjadi suasana di kamar pribadi mereka.
"Justru karena Allah ada, makanya Dia mengirim malaikat maut-Nya untuk menjemputku." Wanita itu menjawab lirih. Halus sekali suaranya.
"Kamu bilang, Dia maha pengasih lagi maha penyayang. Lalu kenapa Dia menyiksa hamba-Nya yang lemah dan baik sepertimu? Dia lebih cocok disebut kejam!"
Si wanita beristighfar. Menyuruh suaminya melakukan apa yang baru saja ia kerjakan. Dengan enggan, si pria menuruti. Wanita di pangkuan itu tersenyum dalam tangisnya.
"Tuhan kita ingin mengatakan pada Anda, bahwa beginilah sakaratul maut itu. Agar Anda senantiasa mengingat kematian."
Mendengar kalimat istrinya, laki-laki itu menangis tersedu-sedu.
"Ada sebab, ada akibat. Kausalitas itu berlaku, Suamiku."
Laki-laki itu terhenyak. Menyadari bahwa karena dirinyalah sang istri meregang nyawa sedemikian rupa. Andai saja ia tidak mengikuti egonya, penikaman takkan terjadi.
"Allah menyayangiku. Allah menjemput agar aku tidak lagi merasakan kesakitan pada tubuhku ini,"
"Aku akan membalas mereka!!"
"Allah adalah hakim yang terbaik. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah, dendam tidak akan bisa menentramkan hati. Jika kalian saling menyerang, tak akan ada habisnya."
Kumohon, hiduplah dengan damai bersama putra-putra Anda. Perlakukan Shinichi putra Naomi seperti Anda memperlakukan Kensuke dan Kyosuke, dua putra kembar Khadijah Kenkyo."
Laki-laki itu terisak. Ia tidak sanggup kehilangan istri tercintanya. Istri yang mengenalkan padanya arti cinta sesungguhnya. Istri yang mengenalkannya pada Tuhan yang haq. Istri yang tidak pernah berhenti mencintai dan menghormatinya. Istri yang setia menemaninya.
"Aku yang sudah tua. Kenapa harus kamu yang dipanggil, hm?"
Wanita itu tersenyum. "Karena Allah percaya kalau Anda mampu merawat tiga anak laki-laki kita."
"Si kembar masih membutuhkan ibu mereka. Aku mohon padamu, Sayang. Mintalah pada Allah untuk menangguhkan kematianmu." Shinsuke yang hilang akal, meminta hal yang sedemikian gilanya.
"Kamu yang sering bilang kalau tak ada yang mustahil bagi Allah. Kumohon, mintalah pada Rabb yang selalu kau puja dan puji itu," isaknya lagi. Setelah itu itu benar-benar menangis mengalahkan derasnya hujan di luar sana.
"Asyhadu ... alla ... ilaaha ilallah ... wa asyhadu ... anna ... Muhammad ... Rasulullah."
Tepat saat wanita itu selesai mengucapkan syahadat dengan suara yang putus-putus, saat itu pula Israfil mencabut nyawanya.
"KENKYO!!!!!" jeritnya pilu.
Halilintar semakin memamerkan kuasanya. Kamar itu kini juga terisi dengan suara tangis kepiluan dari suami yang kehilangan istrinya.
Pria tua itu telah kehilangan istrinya. Meninggalkan duka yang mendalam. Laki-laki pecundang itu adalah Takahashi Shinsuke. Diriku sendiri.
"Walidati!"
Putra sulung Shinsuke membuka pintu dan mendapati ayahnya menangis sambil mendekap erat tubuh ibu kandung dari dua saudara mudanya. Ia tidak bodoh, anak itu tahu kalau istri dari ayah biologisnya itu telah berpulang.
Ia mendekati kedua orangtua yang mengasuhnya. Ia angkat kedua tagannya, berdoa.
"Abati ...," lirih ia memanggilku sembari mengusap kasar matanya yang basah. Aku masih menangisi istriku, tak begitu mengacuhkannya.
"Ya Allah, berikanlah tempat kepada wanita yang sudi kupanggil dengan sebutan ibu ini di tempat yang sebaik-sebaiknya. Aamiin."
Shinsuke tertegun. Tangis berhenti untuk sekejap. Aku mengelus kepala putra biologisku. "Beritahu adik-adikmu kalau walidah kalian sudah tiada. Aku tidak sanggup. Apa yang harus kukatakan pada anak-anak itu?"
"Kami sudah tahu, Abah."
Si kembar pun berdiri di sisi ayah mereka, kiri dan kanan. Tak ada rasa berlebihan yang bisa kurang kalau dari dua putra-putra Kenkyo.
Pelajaran luar biasa apa yang telah kau ajarkan pada putra-putraku hingga mereka bisa setabah ini, Kenkyo?
-------------
Walidati: Ibuku
Walidah: Ibu
Abah: Ayah
__ADS_1
Abati: Ayahku
________________________________________________________________________
Kalimat dan pesan ibu masih terngiang jelas di benakku.
"Pelajarilah agama, Nak. Doakan ibumu nanti. Karena doa anak yang saleh akan diijabah oleh Allah. Mau mendoakan walidah?"
"Tentu saja, Walidati." Kataku saat itu.
Aku juga telah berjanji akan membawa ayah pada jalan yang akan mempertemukan mereka kelak. Ibu bilang, kita akan bersama dengan orang yang kita cintai di akhirat nanti.
Ayah datang padaku, ia berkata, "A-aku ... aku akan mempelajari Islam dengan benar. A-aku ingin bertemu istriku. Aku ingin menjadi suaminya di akhirat nanti. Aku tidak mau yang lain."
Aku menggoda ayah yang kemudian kusesali karena bukannya ayah kalah, malah aku yang dibuat salah tingkah karena jawaban beliau.
"Apa Abah tidak mau bersama bidadari saja? Lebih cantik jelita. Perawan selamanya. Betisnya indah tak terbayang, kulitnya putih tak tertandingi."
"Di dalam Alquran mereka diibaratkan dengan Yaqut dan Marjan. Batu permata mulia, benar?"
Ya, Ar-Rahman, tepatnya. Aku mengangguk.
"Jika ibumu adalah Yaqut, Marjan dan lu'lu' bagiku. Untuk apa lagi serakah?"
Aku tidak tau harus apa menanggapi kalimat cinta ayahnya yang menggambarkan betapa candunya pada ibu kami.
"Abati," aku memanggil lirih, penuh haru. Tidak menyangka jika wanita yang melahirkanku memiliki suami majnun seperti ini. "Allah maha pencemburu. Janganlah Abah mencintai Walidati melebihi cinta Abah kepada Allah. Walidati sering mengingatkan kami akan hal itu."
Kulihat Takahashi Shinsuke tersenyum sarat makna. "Jika ada seorang gadis yang kau cintai mengirim surat cinta padamu, siapa yang akan kau beri perhatiannya, Nak? Surat yang dikirim atau si pengirim?"
Pertanyaan apa ini? Tentu saja aku ... keduanya. Apa maksud pertanyaan ayah?
"Kau akan lebih mencintai siapa? Surat atau pengirim surat?"
Pengirimnya, tapi kujaga juga surat yang dia kirimkan, dan menjadi kenangan terindah. Akan kujaga seperti aku menjaga nyawaku, karena surat itu penting, takkan ada yang kudustai kalau aku mencintai si pengirim surat.
Ah! Aku tahu maksud ayah. Jadi, inilah analoginya? Ayahku ... jauh lebih pintar kurasa dibanding ibu. Namun, ibu lebih lihai menyampaikan ilmu yang mudah dipahami. Bukan maksud membandingkan. Tentu saja ibu dipilih tiga kali sebelum ayah.
Bukankah demikian sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam?
"Jadi, Tou-sama, kita mulai dari mana? Mengunjungi masjid atau menghadiri kajian di masjid Kobe?"
"Siapa penceramahnya?"
"Seorang da'i asal Indonesia."
Aku yakin ayah pasti akan bangkit dan takkan menawar lagi. Indonesia adalah negeri yang ayahku banggakan. Karena ibuku adalah separuh Indonesia. Nenek kami, Takahashi Fatma adalah warga Indonesia bersuku Melayu.
"Mari kukenalkan kau dengan bahasa nenekmu!" kata ayah kemudian.
Lihat, bukan?
Ayah begitu bangga untuk apa yang ada pada Indonesia. Sesekali bahkan ia mengajari bahasa Melayu dan Indonesia pada kami. Menggantikan ibu.
Ah, ibunda ... andai ibunda bisa melihat ayah sekarang. Aku cengeng sekali hingga air mata keluar membasahi pipi.
"Anak laki-laki tidak boleh menangis, Ken!" ucap ayah merangkul pundak ku.
Aduh, Ayah! Aku jadi malu.
________________________________________________________________________
Aku lahir sesudah Ken. Bungsu dari Takahashi Shinsuke. Ibuku bilang nama kami adalah perpadua antara nama ibu dan ayah. Ibuku juga selalu berpesan untuk selalu akur pada saudara dan saling menyayangi.
Aku anak yang paling nakal, tetapi ibu tak pernah memukul meski kadang suaranya akan menggelar. Ah, aku jadi merindukan ibu.
Kata ibu, kalau rindu, aku bisa mengirim doa. Dulu, aku tidak mengerti, tapi setelah kematiannya, barulah kupaham.
"Kyo, ada gadis cantik asal Indonesia! Kau tak mau lihat?"
Suara Jun mengembalikanku.
Kelas kami sudah sunyi. Hanya ada aku, Jun dan lima mahasiswi lain di dekat pintu, menggosip, biasa perempuan.
__ADS_1
Semua orang terdekatku tahu, kalau aku begitu terobsesi dengan gadis asal Indonesia, kecuali Karina, kekasih Jun.
"Siapa? Karina?"
"Bukan dia! Dia gadis jadi-jadian. Ini benar-benar seorang gadis!"
"Aku akan beritahu pada Nana-chan tentang ucapanmu tadi."
Dia memucat. Lihat! Lagaknya sok mengejek Karina. Sudah kodratnya, laki-laki itu agak-agak takut pada perempuan yang ia sukai.
Ayahku bahkan berkata siapa pun laki-laki itu. Mau dia orang paling jahat, paling angkuh, paling sombong paling durjana bahkan yang paling berwibawa atau paling saleh sekalipun pasti tunduk pada wanita.
Bukanka Rasul juga berkata bahwa wanita adalah cobaan terbesar dunia sekaligus fitnah paling besar?
Tahu Fir'aun? Manusia yang mengaku Tuhan yang Allah kirimkan nabi Musa dan nabi Harun untuk mengajaknya bertaubat? Nah, ia juga tunduk pada permaisurinya, ibu angkat dari nabi Musa sendiri.
"Jangan! Nanti dia menangis."
Aku tertawa. Dia atau kau yang akan menangis, Jun?
"Baiklah, siapa perempuan yang kau bilang tadi?"
"Dari fakultas kedokteran, namanya ... Amira!"
Baik, saatnya pendekatan. Haha!
Ibu bilang, perempuan itu makhluk yang lemah tetapi kuat. Jadi, perlakukan mereka dengan baik. Sampai kini, aku belum tahu apa makna lemah tapi kuat. Namun, aku yakin akan menemukannya nanti.
________________________________________________________________________
Kalau ada yang bilang ibu tiri itu kejam, itu pasti mereka belum bertemu ibuku. Ibu Kenkyo yang rendah hati seperti namanya.
Ibuku itu selalu berkata bahwa cinta bukan harus tumbuh karena hubungan darah. Cinta tumbuh karena keimanan dan karena kita manusia. Kodrat manusia adalah saling merangkul untuk kebaikan.
Ibuku bilang, manusia beriman tidak akan masuk ke tempat asal sendirian, akan beramai-ramai.
"Kita ini dari surga. Anak cucu Adam Alaihissalam yang beriman hendaknya kembali ke surga bersama-sama."
Sebelum usia dua puluh lima, aku masih tak menemukan apa maksud kalimat ibu. Namun, kini seiringnya waktu aku paham, bahwa ibu menyuruhku untuk menyiarkan Islam dengan baik. Mengenalkan agama Islam pada dunia dengan benar dan santun.
Beliau bukan ibu kandungku, tapi beliau pula yang menjadi madrasah pertamaku.
Tak pernah membenciku dan ibu kandungku meski karena kami, ia harus kehilangan separuh dari suaminya. Tak pernah ia membedakan antara Shinichi, Kensuke ataupun Kyosuke.
Akan selalu kuingat kata-kata ibu bahwa kalimat tauhid dan maknanya harus kujunjung hingga akhir hayat.
"Tou-chan!"
Aku yang menikmati teh sambil bernostalgia mengenang ibu, menoleh ke belakang karena panggilan putriku.
"Sofia-chan, kemari!"
Dia mendekat, mencium tanganku. "Assalamu'alaikum."
Kujawab salamnya dan mengacak rambutnya.
"Di mana kaa-chan?"
Aku menanyainya tentang wanita yang kunikahi setahun lalu.
"Masih membereskan dapur," jawabnya.
"Sofia-chan sudah mau masuk sekolah, jangan sering menangis lagi ya!" peringatku.
Kini, ia duduk di pangkuanku. Gadis kecil usia lima tahun tersebut mengangguk.
"Dia menurut sekali padamu, Anata."
Istriku datang dengan senyuman indahnya. Membawakan sepiring kue kering untuk kami.
"Itu karena aku ayahnya."
Dia memandangku, mata itu menyiratkan sebuah kata: terima kasih. Meski usianya sepuluh tahun lebih tua dariku, ia masih terlihat muda dan manis. Takkan ada yang menyangka usinya sudah tiga puluh enam.
__ADS_1