RAMPAI

RAMPAI
Lomba


__ADS_3

Tujuh belasan adalah perayaan yang sangat terkenal di Indonesia. Diadakan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan instansi pemerintah dan swasta serta di lingkungan masyarakat. Tujuannya adalah sebagai bakti nasionalisme. Memperingati kemerdekaan menjadi kesenangan tersendiri bagi sebagian besar warga Indonesia.


Misalnya dari kelas sastra tingkat lima. Warga kelas itu menampilkan seni sejarah dari berbagai belahan dunia, kecuali dunia lain.


"Whoooaaa! Mereka serasi sekali memerankan tokoh kolonial ya?"


Decak kagum keluar dari Ahmad Ravendra.


Dia duduk di posisi paling depan.


Kini, dua tokoh utama sedang melakukan tarian dengan pakaian khas Belanda zaman dahulu. Terlihat serasi dan menghayati sekali.


“Yana sih, cocok. Tapi si onoh? Cocok jadi tokoh antagonis di film-film India." Muhammad Arjuna, kembarannya membalas tajam.


"Yang biasanya matinya itu mengalahkan sakratul maut sapi sembelihan itu kah?"


Kembarannya mengangguk yakin. "Lagi pula, ArYa lebih cetar! Si Pedang sih, cocok sama katana atau wakizashi ... khanjar juga."


Arjuna mengangguk-angguk menyetujui kalimat saudaranya.


"Aku juga berpikir, Karina juga cocok untuk ...,"


Ia melihat sekeliling untuk memastikan tak ada yang mendengar dialognya dan kakak laki-lakinya yang lahir satu menit dari dirinya itu. Setelah aman, ia berbisik agak takut, "Akhi Ravendra."


Suara mereka mengundang kekehan kecil dari seorang gadis yang namanya baru saja mereka sebutkan.


Sebuah ide kemudian muncul di kepala Karina. Selang beberapa belas menit kemudian, pemudi bermata cokelat gelap memprhatikan dua orang yang tengah berjalan menuju arahnya.


"Jiejie hebat sekali!" puji Karina.


Ayana bersemu sementara Khalid merotasikan matanya. Drama perempuan memang selalu menyebalkan.


"Tahu tidak? Aku jadi ingin bercerita tentang fiksi yang kubaca sewaktu menuju aula ini karena ingin melihat pertunjukan kalian tadi. Jiejie mau dengar?" lanjut Karina.


Ayana menganggukkan kepalanya antusias sembari tersenyum cerah. Sementara Khalid berdecak. Kalau tidak gosip pasti ghibah. Dasar perempuan!


"Khalid juga boleh ikut kalau mau mendengar ceritaku."


Mata Karina beralih pada Khalid yang memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan bagai senam kesehatan.


"Na, harusnya kau masuk ke dunia entertainment daripada hukum. Bercerita saja hobimu."


Walau mencibir, Khalid yang sok cool ini tetap menyanggupi.


Buktinya dia sudah ambil tempat di sisi Ayana untuk mendengar kisah yang akan Karina tuturkan.


"Jiejie mau es cokelat? Biar dibeli dulu." tawar Karina.


Lagi-lagi Khalid mendecih, dan dalam hati mencibir. Kesabaran seorang pria diuji pada saat seperti ini. Derita pria yang diberi tugas oleh ayah masing-masing gadis itu agar tidak membiarkan dua sepupu Khalid dipepetin duo nyentrik seperti inilah gambarannya. Menemani dua gadis itu kemana-mana hingga waktunya bersama para temannya juga hampir tidak ada.


"Tidak usah, Karina Natarani, aku membawa air mineral. Kata abah dan kak Fatimah ini lebih baik dan bagus untuk kesehatan."


Khalid tertawa mengejek. Ayana seperti gadis kecil yang masih duduk dibangku sekolah dasar yang selalu patuh dan taat pada nasihat guru dan orang tua seperti bunyi janji siswa yang selalu dibacakan ketika upacara bendera. Padahal kedua pipi Khalid pun masih sering dikecup ibunya kalau akan pergi kuliah. Sebenarnya mereka sama-sama aneh, tapi sayangnya tidak sama-sama saling mencintai.


Ayana Sofi sebenarnya suka pada Arjuna. Berbeda dengan Khalid yang memendam rasa sukanya pada bungsu adik perempuan ibunya. Jika saja ia tidak lelet menyatakan cinta dahulu, sudah pasti takkan diserobot pengakuan Ayana mengenai sukanya ia pada sosok kembaran Ravendra.


Sebenarnya ada niatannya menikung, tetapi ia mengurungkan niatnya karena saingannya adalah si tampan yang menjadi teman sekelasnya juga. Bukannya ia takut, hanya dia kurang keberanian. Oh baiklah, dia memang tidak berani.


"Mana? Katanya mau cerita," protes Khalid.


Padahal tadi dia berlagak sok menolak, tapi lihatlah sekarang? Dia yang paling antusias mendengar kisah yang hendak Karina tuturkan.

__ADS_1


"Okey, aku tadi baca kisah bagus sekali. Di ******* dengan judul Gamatih."


Kali ini, Ayana ikut bersuara, "Sepertinya aku pernah tahu nama itu."


Karina tersenyum sambil mengusap helaian lembut mahkota hitam miliknya yang panjang dan wangi karena ia baru saja keramas dengan sampo yang katanya terkemuka dan nomor satu di dunia.


"Judul itu aneh, makanya kamu bisa tahu. Kalau yang aneh-aneh tuh mesti kalian tahulah." Khalid menyambar setelah ia berdecih.


Tanpa mengacuhkan Khalid yang mencibir, Karina melanjutkan, "Kisah yang tersembunyi dari dunia. Mau dengar?"


Ayana mengangguk layaknya anak yang melakukan permainan "angguk-anggukan" di taman kanak-kanak.


Berbanding balik dari Khalid yang malah kepanasan, walau AC menyala. "Tak usah bertela-tela! Langsung saja, Na!"


"Maksud Khalid bertele-tele?" sanggah Ayana. Ia merasa kalimat sepupu jauhnya tersebut janggal.


"Hm," ucap Khalid. Sesungguhnya dia kalah malu karena ada "typo" dalam berbicara.


"Ada apa? Tembus kah? Ini masa bulananmu?" Karina mulai memberi pertanyaan absurd.


"Iya tembus! Ke ulu hate! Nyeri! Pokoknya aku kegerahan!!" ketusnya sambil mengipasi tubuhnya dengan kertas naskahnya yang ia pegang. Pemuda yang dijuluki pedang oleh Arjuna dan Ravendra itu seperti iblis kesetanan di mata Karina.


"Mulai deh authisnya muncul! Ruqyah sana, biar cepat keluar setannya! Kasihan sekali ... tapi heran juga sebenarnya, masa iya iblis bisa kesetanan."


Ayana menahan tawanya akibat mendengar olokan Karina pada Khalid yang kini mungkin di dalam hati sedang menyumpah serapahi gadis yang kerap disapa Nana itu.


Namun, siapa peduli? Karina hanya peduli pada kisahnya.


Bertambah kesal Khalid, siapa pula penulis bodoh itu? Ia tidak tahu, penulisnya sendiri adalah Ayana yang ada di dekatnya.


.


.


.


Suara dua pemuda menginterupsi.


Karina mengangguk dan mempersilakan mereka ikut mendengar. Ayana juga semringah ketika mengetahui siapa yang ikut bergabung. Di lain pihak, Khalid malah terlihat bertambah kesal. Mereka adalah dua orang yang paling tidak ingin Khalid jumpai dan ikut bergabung bersama mereka bertiga.


.


.


.


“Jadi, bagaimana kelanjutan kisah mereka, Nana-chan?” tanya Ravendra sambil memandangi Karina yang menurutnya seribu kali lebih cantik ketika bercerita.


“Gantung!” ketus Arjuna. Itu protesnya sekaligus jawaban atas pertanyaan Ravendra.


“Namamu sudah ganti ya, Akhi?” sindir Ravendra sembari melirik Arjuna bagai pisau dapur yang berkarat. Kelihatan tak tajam, tetapi Berbahaya jika terkena.


”Mungkin,”


“Nah, Indra ...,”


Setelah berkata dua kata itu, Karina beralih menatap lembut mata indah kawan karibnya, Ayana. “Sebenarnya bukannya kisah ini tidak selesai, tapi memang belum selesai.”


“Kenapa tidak diselesaikan? Durasi?” Ravendra masih belum paham kode-kodean Karina.


Arjuna mengacak surai kekasihnya sambil memperdengarkan tawanya yang khas. Lebih merdu dari alunan nada dari Sakuhachi, tentunya itu menurut Ayana. Sedangkan Khalid merasa sedang mendengar bunian yang sedang keselek biji kelapa sawit.

__ADS_1


“Aku pernah membaca sebuah karya berjudul Al Farisi. Di sana, ada kisah yang tidak diceritakan, tetapi bisa dimengerti.”


Khalid mengernyit. Dia mulai pusing kalau si bunian sudah menggunakan bahasa aliennya. Jika saja Khalid memperhatikan lebih jauh, Arjuna tengah melempar pandangannya kepada Karina.


“Aku mau pinjam! Apa boleh?”


Arjuna mengangguk. “Tentu saja, Chagiya.”


Khalid lagi-lagi merasa gerah. Tidak mau disebut autis lagi, ia memendam demonstrasinya dalam hati. Akan tetapi dengan sikap tenang yang ia buat-buat, maka berujarlah ia dengan maksud meledek, "Sok manis."


“Jomlo gitu emang ya? Sirikaaan aja!”


“Jangan sembarang bicara kau, Ndra. Aku bukan jomlo seperti tudinganmu!”


Karina menutup mulutnya karena hampir saja ia berteriak karena pengakuan tak langsung Khalid yang lagi-lagi menurut dirinya. “Bukan Bhisma, 'kan ya?”


Aduh, andai saja Karina tahu kalau kenyataannya Khalid menyukai sahabatnya dan ingin sekali menikung  Arjuna. Akan tetapi apalah daya?


“Aku masih normal, Nana!”


“Dan, gadis tidak normal mana yang mau denganmu?” Ravendra ikut bergabung bersama kekasihnya menggoda Khalid. “Mimi peri?”


Membludaklah tawa nista dari kedua pasangan itu. Khalid semakin sebal ditertawaka oleh empat orang itu, tetapi ia tahu semakin ia merasa panas maka semakin senanglah Ravendra mengoloknya.


“Memangnya dia bisa gadis?! Bodoh!” sela Khalid.


“Maaf, Khalid. Bukan maksudku meledekmu. Indra memang keterlaluan untuk candaannya hari ini. Tolong maafkan kami ya,”


Arjuna merasa tidak enak.


Bukan ia tidak peka akan perasaan Khalid. Baik ia dan Khalid tahu kalau pemuda yang model rambutnya agak kekunoan itu kesal luar biasa.


“Hm,”


Sementara alasan Ravendra senang mengolok temannya yang ia ketahui sejak lama menyukai kekasih hati saudaranya adalah rasa marah atas fakta tadi. Untung saja Ayana tidak menyadari perasaan Khalid. Bukan karena Khalid sok-sokan pintar menyembunyikannya dari Ayana. Arjuna-lah yang pintar mengalihkan perhatian Ayana untuk tidak pernah menyadari perasaan Khalid Maulana.


Namun, benarkah begitu? Benarkah Ayana Sofi tidak menyadarinya?


“Chagi, ayo! Istirahat perlombaan akan segera habis.”


Ayana mengangguk. Tangannya terulur untuk menyambut tangan Arjuna yang tersodor di depannya.


Ravendra melakukan hal yang sama pada Karina. Sesekali gadis itu memanggil saudara Arjuna dengan panggilan koi karena teman spesialnya itu memang memintanya memanggilnya demikian.


Khalid menoleh ke arah Karina. Mereka menjadi semakin lebay. Belum menikah saja sok pakai koi-koi segala. Memangnya mereka berdua itu ikan?


"Idih, Nana ... pakai koi segala. Koi! Apa itu? Koi mil gaya?" sembur Khalid.


"Idih, Khalid. Ketahuan suka nonton India juga," sambar Ravendra.


"Kok bisa tahu itu India? Nonton juga yaa?" ledek Khalid tidak mau kalah.


"Tentu saja. Arjuna bahkan ikut bergabung. Benarkan, Akhi?"


Muhammad Arjuna mengangguk tegas sambil merangkul Ayana. Pipi gadis yang dirangkulnya bersemu merah seperti tengah mendengar rayuan.


Khalid menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap dua pasang yang tak pernah mendapat restu dari ayah pihak perempuan tersebut.


“Baiklah, selamat bersenang-senang!”


Khalid tidak mau ditinggal. Ia lebih dulu meninggalkan mereka berempat.

__ADS_1


Keempatnya berpandangan satu sama lain, lalu mengangkat bahu.


__ADS_2