
Kuberanikan membuat sebuah akun di sebuah aplikasi demi perempuan yang telah memberikanku segala yang kubutuhkan. Jika nanti dia marah, itu akan menjadi urusan belakang.
Aku yakin sebentar lagi ponselku akan berdering dan ceramah akan kuterima darinya yang menggilai warna ungu.
"Kau memang orang paling gila sepanjang sejarah hidupku, Nurdhillah! Kau gila, hah? Siapa mereka?! Dari mana mereka tau identitasku, hah?! Ini pasti kau punya kerja 'kan?!"
Aku tertawa membaca pesan yang ia kirim melalui aplikasi WA. Jika semua orang takut dengan amukannya, aku malah tertawa. Ya, bagiku dia lucu ketika sedang marah. Segala kalimat yang ia lontarkan tak pernah membuat sakit hatiku. Dia yang pernah kuragukan hatinya.
Dengan tenang, kuketik sebuah balasan yang pasti akan membuat amarahnya turun. Namun, aku tidak yakin kalau ia bisa mempertahankan air matanya. Gadis itu cengeng dengan segala keangkuhan yang ia tonjolkan. Sentil sedikit saja, maka habis sudah. Banjir!
"Ya. Aku. Gimana? Ganteng semua kan, Bu Guru? Tinggal pilih saja yang kau suka. Karena kayaknya semua tertarik tuh sama kau. Obati patah hatimu dengan cara mencintai lagi. Obati rasa kecewamu dari dia yang mengkhianati kesetian. Lagian jomblo kok tahunan. 4 tahun enggak dag-dig-dug karena dapat gombalan. Hahaha ...."
Umurmu udah tua, kami udah pada nikah, ada yang udah anak satu. Kau terlalu menutup hati. Nanti dikira lesbi. Hiiii ...."
Dia tidak membalas. Ciri khasnya jika palak-marah dan kesal-adalah ... meski sampai membuat novel kau di chat-an, takkan ia merespons, membaca pun tidak.
"Assalamu'alaikum."
Itu adalah kunci-tiket-agar chat dibaca dan dibalas meski hanya jawaban dari salam saja. Beruntung sekali dia paham bahwa salam wajib dijawab.
"Move on kali sama Abang yang kini telah hijrah ke Palembang!" kataku.
"Udah hilang. Wallahi. Aku gak suka caramu. Ini menjual namanya!"
"Gak ada transaksi uang, Sayang. Apa yang menjual. Lagian bukan main om-om."
Aku rasa menetralkan suasana adalah pilihan terbaik.
"Hah, itu bahkan lebih baik. Jual ada uangnya. Ini? Ck! And yeah, I love Uncles."
Lihatlah, bahkan dalam keadaan marah pun dia masih sempat membuatku tertawa-tawa, bahkan aku mengumpatinya. Maniak para om-om, dasar!
"Ayo ketemuan. Jumat kan pulang cepat kau. Kita ketemu di dekat sekolah kita dulu ya?"
Dia menyetujui ajakanku. Lagi pula kami tidak sholat Jumat, karena itu perintah bagi laki-laki.
Sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana meyakinkan dirinya bahwa tidak perlu takut menjalani hubungan serius hanya karena pernah kecewa. Dia, si pemberi nasehat paling ulung, tapi untuk dirinya ... dia tak bisa menerapkan.
Ibundanya sering mengeluhkan sikapnya yang seperti menjauh dari sosialisasi terhadap laki-laki kecuali ayahnya, adiknya, sepupu-sepupunya dan ayah anak didiknya.
Pernah kutanyakan padanya tentang ayah muridnya, apakah ada yang duda, dia berkata, "Suami kau udah ada. Ngapain kau tanya? Gatel!"
"Bukan untuk aku pulak. Untuk kaulah."
Saat itu ia memukul lengan kananku. Dan dengan santai dan tak merasa berdosa dia berkata, "Beruntung kau sahabatku, jika bukan ... aku sudah menggigitmu!"
__ADS_1
Vampir kali ah. Memang kutahu sejak kecil dia suka menggigit kalau gemas. Namun sekarang dia lebih memilih mengigigit bantal atau semacamnya. Kan bahaya kalau dia menggigit yang bukan mahrom.
"Makanya nikah, biar ada yang bisa digigit!"
Baiklah, aku akan berlari sekencang mungkin agar dia tidak bisa menangkapku. Sebab, jika ia sudah mengejar, maka hingga ujung dunia pun ia tak peduli.
Garang, gahar, cerewet, galak dan semua yang menyeramkan itu ada padanya. Aku serius. Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa bertahan dari perempuan yang sudah delapan tahun ini menjadi sahabat karibku.
Padahal pribadi dan gaya kami sangat bertolak belakang. Satu-satunya kesukaan kami adalah film India, segala yang berhubungan dengan cokelat dan cengeng. Hahaha, itu tiga ya?
Serius, hanya itu persamaan yang kami miliki.
Dia suka semua yang namanya buku, aku benci itu, kadang kepalaku serasa berputar kalau melihat sampul buku. Mual.
Aku tidak pilih-pilih makanan, tapi dia memakan apa yang cocok di lidahnya. Sering ia bilang padaku, "Kau itu tong sampah, semua makanan masuk."
Kujawab, "Selama itu halal, gratis, dan enak. Sah aja, kan?"
Dia tertawa. "Tentu saja, Sayang. Aku suka mottomu."
Aku suka all fashion. Sepatu, tas, baju, aksesoris. Dia kurang suka. Dia bisa terlihat seperti perempuan-bukan berati dia tomboi-itu hanya karena ibunya dan aku.
Aku suka make up dia hanya bermake-up jika kepepet. Maksudnya, dia hanya berhias jika akan pergi bekerja atau menghadiri walimah. Parah betul memang dia.
Sejak dulu, dia anti make up dan aku takkan bosan membuatnya mencintai make up. Dia harus tahu kalau pria suka keindahan. Bukan dia tidak cantik, aku tidak bilang begitu. Namun, terkadang pria suka perempuan yang 'hot', bukan? Maksudku, tampilan yang menantang-oh baiklah, tidak semua memang. Mantanku itu salah satunya. Hahaha ... terselip kisahku sedikit tak apa-apa ya?
"Besok udah libur, kan? Nyambut puasa."
Dia mengangguk. Matanya tak teralih pada menu yang tersedia di meja.
"Gimana abang-abang yang-"
"Kublokir!"
Wadaw! Betulan tidak berubah dia. Suka sekali mengambil tindakan sesuka hati. Jika tak suka, ia putuskan semua akses untuk bisa dekat dengannya. Tak jarang banyak yang kena unfriend atau blokir. Sebenarnya untuk hal yang ini, kami juga memiliki persamaan. Bedanya, dia suka berbuat pada lelaki walau beberapa kasus pada perempuan juga, sementara aku sebaliknya. Rasanya sayang kalau harus mem-blacklist lawan jenis. Normal dong ya?
"Bukalah hati. Kau mau jadi gadis selamanya? Nikah itu indah kok. Enak juga. Serius."
"Jika demikian, mengapa kau selalu mengeluhkan kehidupan setelah pernikahan kepadaku?"
Nah, ini dia yang tidak kusukai darinya. Makan apa sih dia? Es batu kurasa. Dingin sekali kalau masalah seperti ini. Patah hati kok lama.
"Menikah itu sunnah."
"Dan tidak pacaran itu wajib!"
__ADS_1
Dia mendongak, menatap mataku tajam.
Kalimatnya seakan-akan dia tidak pernah pacaran saja. Dia bilang begitu karena sakit hati di belakang hari.
"Lagi pula, aku tidak pandai pacaran. Kau tau sendiri."
Kuhela napas. Aku tidak akan mendebatnya lagi. Tidak akan. Kalimat yang ia ucapkan sudah menjelaskan bagaimana terlukanya dan trauma dia.
Namun, apa salah jika seorang sahabat hanya ingin melihat sahabatnya juga merasakan hal yang seluruh manusia juga tahu itu hal indah.
Cinta.
Bukankah cinta itu indah?
"Aku pesan cokelat hangat, dan pisang siram coklat campur keju. Kau?"
"Samakan aja."
Dia memanggil pramusaji dengan lambaian tangan. Kemudian menyebutkan pesanan ketika si pramusaji menanyakan pesanan.
"Jodoh gak akan kemana. Semua sudah ditulis di Lauhul Mahfudz."
Dia berujar demikian ketika sang pramusaji sudah pergi.
"Kalau tidak diusahakan mana bisa 'gak kemana', zaman sekarang jodoh itu kemana-mana. Kalau gak diambil temen, ya nyari yang lain!"
Dia tertawa dan menudingku tidak jelas. Padahal yang tidak jelas itu dia. Mau sampai kapan menanti yang mustahil dan tidak jelas.
"Kim Nam Gil masih ada."
Nah, kan?! Andai menyantet itu dihalalkan dalam agama, telah lama kulakukan padanya. Ke-halu-annya terlalu liar. Kenapa tidak sekalian Toneri saja ia nantikan.
"Aku serius, Zahratussita!"
Tak pernah kusebut nama aslinya, kali ini kusebut untuk menegaskan betapa seriusnya aku.
"Haaa ... aku bisa liat. Kau benar-benar serius, Sayang."
Masih saja dia merespons dengan gaya bercanda.
"Pikirkan usiamu!"
"Masih 23. Masih muda. Emang kau ... Kakak!"
Aku hendak membalas, tapi terhalang karena pramusaji telah mengantar pesanan.
__ADS_1
Biarlah kali ini, dia yang memenangkan diskusi. Lain kali, mungkin dia akan menang lagi.
Eh?!