RAMPAI

RAMPAI
Mitra


__ADS_3

"Jangan menangis," ujarnya lembut pada gadis yang duduk di balik meja, berhadapan dengannya.


"Tapi aku sudah menangis, Dev."


Devandra Putra, nama lelaki itu. Ia tertawa mendengar balasan di sela-sela isakan kawan kecilnya. Tindakan itu membuat gadis tersebut melotot garang kepadanya.


Bukannya berhenti, Deva terus tertawa. Gadis yang sudah ia kenal sejak duduk di Taman kanak-kanak tersebut melemparkan sampah minuman mineral tepat ke wajahnya.


"Maya Lily, sumpah! Kau itu galak tiada tara."


"Tara memang tidak sedang di sini! Sama Dodi paling!" ketus perempuan itu.


Deva menarik poni Maya dengan gemas, tak kalah dengan nada suaranya. "Bukan Tara tapi tara. Pikirmu huruf besar alias nama orang? Bukan!"


Gantian Maya yang tertawa. Jam kerja dua orang ini sudah berakhir sejak sejam lalu. Namun mereka memutuskan untuk melakukan sesi curhat dulu sebelum memulai perjalanan pulang.


"Tinggalin aja dia, May. Ngapain coba bertahan?"


"Ya gimana? Udah cinta."


"Kayak drugs gitu ya? Padahal gak baik tapi seneng aja. Sakau!"


"Di sini aku mau curhat, bukan supaya diceramahi."


Deva beranjak, hendak meninggalkan kafe sederhana itu.


"Sudah pukul sepuluh, May. Ayo pulang!"


Ia melangkah perlahan yang diikuti Maya di belakangnya. Memasang ekspresi kesal, jalannya saja sampai menghentakkan kaki.


"Kau bahkan lebih tau rasanya, Dev. Apakah bisa kau menanggalkan perasaanmu terhadap Kavya ... bunga Lavender-mu?"


Deva menggeleng-geleng sembari tersenyum di balik dengusannya.


“Bodoh!” bisiknya, nyaris tak terdengar oleh telinganya sendiri.


"Andai sainganku itu bukan kakakmu ... Dokter Taslim Dharma itu ... dibandingkan aku, dia memang lebih unggul!"


Maya mendekati Deva yang hampir mencapai pintu.


"Mereka akan menikah bulan depan." Maya berkata lirih.


"Hm, aku tau. Kau sudah bilang padaku."


Maya terkejut. Seingatnya belum pernah ia membocorkan rahasia yang sudah diwanti-wanti Kavya agar jangan memberi tahu Deva sebelum undangan disebar.


Raut wajah Maya yang sudah Deva hapal membuatnya kembali menarik poni si gadis.


"Maya ... aku hapal setiap ekspresimu. Aku bahkan tahu apa yang ingin kau sampaikan sebelum kau melafalkannya. Hanya dengan melihat ekspresimu itu."


Maya tersenyum. Menggoda Deva dengan berkata bahwa ia cocok sekali menjadi seorang ibu atau menjadi ayah kedua baginya. Deva menanggapi ketus dengan menyebut bahwa Maya pantas mendaftarkan diri ke rumah sakit jiwa.


Mereka berjalan menuju pangkalan becak bermotor. Bukan karena tidak ingin memesan kendaraan lain dari sebuah aplikasi, hanya saja, mereka lebih suka naik becak.


*__________MITRA__________*


.

__ADS_1


.


Hari ini, Deva libur. Ia berencana akan mengunjungi Dodi setelah dari toko untuk membeli sebuah buku yang diinginkan Maya tetapi belum kesampaian dibelinya karena sibuk. Ketika ia keluar dari toko buku, ia memutuskan singgah di sebuah coffee shop, menikmati secangkir kopi sejenak.


Ia mengirim sebuah pesan kepada Dodi untuk menjumpainya saat istirahat makan siang kantornya. Deva hanya ingin menanyakan kejelasan atas hubungan pria itu dengan sahabatnya. Ia merasa kasihan dan sakit hati atas pengaduan Maya yang kerap diabaikan Dodi atau kadang memergoki laki-laki itu bersama Tara sedang bersenda gurau dan terlihat mesra. Maya yang karena cintanya, tak sanggup menanyakan masalah itu langsung pada kekasihnya. Deva tak habis pikir, bahwa cinta seorang perempuan dapat membunuh karakter. Misalnya Maya yang tak kenal takut dan berani berorasi bahkan mendebat tak peduli apa yang ia sampaikan itu bisa membuat lubang di jantung, menjadi sangat takut jika ia salah berbicara di depan kekasih.


"Apakah semua perempuan akan semanis itu?" Deva bermonolog, tersenyum pada buku yang pegang. Di sana tertulis nama Maya beserta stiker gambar tersenyum.


"Semanis siapa?"


Alamak! Ada pulak yang mendengar. Suaranya familier, mirip milik Dodi Pratama. Padahal ia baru saja mengirim pesan, tapi cepat sekali si kawan sampai.


"Ibuku." Deva menjawab asal dan datar. Walau sebenarnya ia sedang menahan detak jantung yang berpacu cepat. Masih terkesima dengan takdir. Begitu diajak bertemu, langsung kesampaian.


Namun, sayangnya Deva salah sangka. Dipikirnya Dodi bertanya pada dirinya. Ternyata pada orang di sebelahnya. Tampaknya pemuda yang menjadi kekasih Maya tersebut tidak menyadari keberadaan spy figuran Devandra Putra.


"Aku tidak bisa meninggalkan Maya, Tara."


Tanpa diduga, Dodi mengatakan itu pada selingkuhannya. Setidaknya begitu dugaan Maya dan Deva untuk dan sampai saat ini.


Deva tak menduga sama sekali, kalau Lauhul Mahfudz menggariskan kejutan semacam ini. Jiwa kedetektifannya seketika muncul. Ingin tahu lebih banyak tentang hubungan rumit cinta segitiga ini.


"Kenapa?" tanya Tara, suara tidak sukanya kentara sekali.


"Cinta."


Hampir saja bibir Deva mengeluarkan umpatan pamungkasnya.


"Tapi kau juga cinta aku. Kau harus pilih salah satu."


"Kau tak mengerti Tara."


"Kalau bisa dua kenapa enggak? Bukannya jatah laki-laki itu empat?"


Sebenarnya untuk kalimat barusan, Deva setuju. Ia membenarkan bahwa jatah laki-laki memang empat. Hanya saja Deva tidak terima. Itu artinya semi poligami. Belum menikah tapi sudah punya dua. Pantaskah?


"Kau orang paling berengsek, Dod." Tara berkata sinis.


Lagi-lagi Deva juga setuju. Kali ini karena kalimat Tara. Ia menarik ujung kanan bibirnya.


"Dari dulu kau adalah mitraku, Maya. Selamanya akan begitu." Deva berbisik seraya memandang buku yang akan ia beri pada Maya.


*__________MITRA__________*


.


.


.


Maya merasa aneh dengan senyuman setan yang dipamerkan oleh Deva kepadanya. Jangan-jangan kawannya ini jadi gila karena pernikahan Dharma dan Kavya tinggal menghitung hari.


"Kau kenapa?" tanya Maya yang mulai risih dengan pandangan Deva dan tentu saja senyuman anehnya.


Bertambah mengerikan karena baru mereka yang sampai di kafe. Lima orang lagi masih dalam perjalanan. Maya tidak pintar me-ruqyah orang yang kesurupan makhluk gaib. Makanya ia cemas kalau-kalau ternyata keanehan Deva disebabkan gangguan mahkluk yang kisahnya tercantum di surat Al-Kahfi.


"Aku punya penawaran. Kau mau?"

__ADS_1


Maya menghela napas. Dalam hati mencibir juga. Sok memasang tampang horor hanya untuk melakukan penawaran.


"Apa?!" seru Maya.


"Jadilah mitraku untuk selamanya."


Maya mengernyit. Memproses apa yang ingin disampaikan sahabatnya. Setelah ia paham maksudnya, berkatalah ia dengan penuh penekanan, "Aku tidak punya rasa semacam itu padamu dan aku tahu kau pun begitu!"


Deva membenarkan, tapi tak habis akal, ia menjawab lagi, "Jika kau mau, kita bisa menjadi mitra di mana saja dan kapan saja. Bukankah hubungan ini menguntungkan juga?"


Maya diam-diam setuju juga. Kacang yang ada di tangannya, mulai ia makan perlahan. Memikirkan tawaran sahabatnya yang mungkin saja sudah tak ada jalan lain lagi untuk mengobati patah hati. Demikian pula dengannya yang akan sembuh dari sakit hati, dan ditambah akan mendapat perlindungan ekstra dari Deva.


"Menarik juga." Maya mengangguk.


Deva merespons dengan senyuman lebar. Lagi pula ia masih percaya dengan kalimat bijak Jawa: Witing Tresno Jalanan Soko Kulino.


Suatu saat rasa itu pasti tumbuh. Sahabat jadi cinta memang sudah banyak kisah. Sahabat jadi cinta kemudian menikah juga ada. Namun, sahabat menikahi bukan atas dasar cinta, mungkin jarang. Maya dan Deva adalah salah satu dari yang jarang itu.


"Jadi?"


"Apa maharmu untukku?" cecar Maya.


"Apa pun yang kau mau. Tentu saja juga harus sesuai dengan isi dompetku."


Maya tertawa.


"Anyway, May ... ini hari merah. Seharusnya kita enggak kerja sih."


Hah?


"Aku ke sini, karena statusmu di we-a. Sekalian aja kegunakan momen memalukanmu ini."


"Deva!! Ya Allah!!! Kuatkan hamba dengan makhluk manusia bukan, setan pun mirip ... semacam Deva ini!!" seru Maya frustrasi.


Deva tertawa sambil berlari dari kejaran Maya serta lemparan kacang-kacang yang secara brutal gadis itu sasarkan padanya.


*__________MITRA__________*


.


Maya mendatangi kedua orangtuanya, mengatakan bahwa Deva akan melamar. Di sana ada pula Dharma dan Kavya yang sedang berbincang. Sekalian saja Maya pamerkan pada Kavya, pikirnya. Sesama teman, kadang memang saling memamerkan. Seperti bulan lalu saat Dharma memberinya cincin sebagai lamaran, Kavya memamerkannya pada Maya sambil mengolok Dodi yang tidak lelaki, begitu.


Sekarang gantian Maya yang ingin menunjukkan bahwa Deva jauh lebih baik dari kakaknya sendiri. Bukan mengajak pacaran tapi langsung menikah.


"Sepertinya, Adek butuh privasi untuk bicara sama Ayah dan Bunda." Dharma berdiri dari duduknya. Ia melirik Kavya yang dimengerti oleh gadis itu.


Lalu keduanya pergi dari ruang diskusi keluarga menuju ruang santai. Dia dan Kavya duduk di sana sambil menonton acara yang saat ini digandrungi rakyat Indonesia kebanyakan.


"Kavya, apa kau tau makna mitra?" Dharma tiba-tiba menanyakan itu, tentunya setelah jeda iklan.


"Sahabat, teman." Kavya menanggapi, tapi tak melepas pandangan dari televisi mengikut Dharma.


"Mitra berasal dari bahasa Sansekerta. Memang artinya teman, sahabat. Tapi ada makna lain dari mitra. Dalam English ... Mitra juga bermakna Partner, Pair, Mate." Dharma menjelaskan sebagaimana guru kepada siswinya.


"Apa padanan bahasa kita yang mampu memaknai mitra, hm?"


Walau di akhir dia bertanya juga.

__ADS_1


"Kawan Seperjalanan. Pakai italic," jawab Kavya.


Dharma tertawa. Kavya ikut tertawa karena mendengar suara tawa calon suaminya.


__ADS_2