
Saya menapaki kota Medan, provinsi Sumatera Utara, Indonesia yang terasa kental aroma multi etnis yang masih bertahan selama ribuan tahun. Tak mengherankan, Medan pernah menjadi salah satu kandidat ibu kota negara Indonesia di masa lampau.
Simbol dari multi etnis itu bertebaran di hampir setiap sudut Medan, menawarkan sisi yang berbeda di kota terbesar di pulau Sumatera nan indah itu. Kota ini juga begitu banyak tempat wisata yang menakjubkan, demikian pula bahasa yang terkesan unik dari bahasa daerah lain.
Kota ini juga pernah menjadi pusat judi, narkoba hingga disebut kota setan. Seperti yang pernah kudengar dari pamanku dari pihak ibu, paman Ramli. Istri paman asli gadis Medan bersuku Melayu. Bibi Zahratunnisa namanya.
Di bawah pohon yang rindang di taman masjid Raya Al-Mahsun di musim penghujan, saya duduk menikmati kopi hangat yang dibeli di depan sebarang masjid. Di depan saya, duduk seorang perempuan muda. Matanya mengingatkan kita pada batu suiseki warna gelap, dengan kerudung hijau di dalam dan ada lagi seperti selendang yang menutupi hijabnya, berwarna hitam panjang.
Ia duduk di samping pohon lain bersama seseorang yang wajahnya kurang ramah tetapi cukup selaras, mereka mirip seperti saudara kembar, ah saya rasa begitu. Tak ada adegan yang istimewa dari mereka, yang membuatnya tak biasa adalah ada rona merah di kedua pipi pria yang saya katakan tak ada kesan ramah.
Dalam hati, saya mencoba menyusun kalimat maukah kamu saya beri senyuman dan sudikah kamu memberi saya sebuah rona merah seperti yang laki-laki itu dapatkan? dengan senyuman paling semringah.
Namun sayang, itu hanya angan dan suara hati saja. Tak terealisasikan karena saya tak berani.
Kepingan kenangan ini terjadi pada sepuluh tahun lalu saat saya berusia tujuh belas tahun. Saya tengah jalan-jalan ke Medan sebelum menjadi mahasiswa tingkat strata satu di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya melancong dengan mengandalkan kebaikan hati paman Ramli dan bibi Zahratunnisa yang memberi saya uang saku lebih.
Saya memang suka berpergian sendirian daripada berkelompok. Karena menurut saya, jika sendiri, kita bisa bebas mengekspresikan diri.
Saya masih berada di sana ketika pria tadi meninggalkan perempuan jelita itu. Pada hari itu saya memutuskan memberanikan diri untuk berbicara padanya dengan ala kadarnya.
Ketika saya mengucap salam, ia membalas salam saya dengan santun. Ia bagai mawar cantik. Detik itu juga saya menamainya di hati saya dengan: Güzel Gül or in english disebut Lovely Rose.
"Jika kamu tidak keberatan, bolehkah saya bergabung, Güzel Gül?
Ia menjawab dengan senyuman, "Tentu saja. Tapi apa arti dari dua kata terakhir tadi?"
Aku tersenyum dan mengatakan bahwa itu hanya sebuah sapaan penghormatan bagi perempuan jika di Turki. Aku tidak berbohong, itu memang bahasa Turki.
Kemudian kami berkenalan lebih jauh. Namanya Lily Azusenna. Saya memanggilnya Lily. Katanya ia tinggal di sini. Asli warga Medan. Ia biasa menghabiskan waktu di tempat ini hampir setiap hari bersama calon suaminya. Laki-laki tadi adalah suaminya kelak. Namanya Hasyim Natama. Mereka masih berusia lima belas tahun.
Tadi saya sempat berpikir kalau mereka saudara kembar atau setidaknya hanya kakak dan adik. Sayang sekali, padahal saya telah jatuh hati dengannya saat pandangan pertama.
Selama dua hari berikutnya, setelah pulang dari sekolahnya, Lily mengajak saya jalan-jalan dan menunjukkan sudut-sudut kota tempat ia tinggal.
Kami menyusuri jalan berbatu menuju kuil-kuil yang dibuat oleh penganut Buddha, merebahkan badan di atas bebatuan di tepi danau buatan sambil menikmati indahnya taman.
"Apakah Hasyim tidak bersamamu hari ini?"
Dia menggeleng dengan ekspresi sedih. Ingin sekali bertanya makna kemurunganya. Berjuta pertanyaan muncul di benak saya. Namun urung karena tak mau merusak momen manis yang tengah saya nikmati.
Kami melewatkan waktu hingga petang dan mengakhiri hari dengan masuk ke masjid terdekat dan beribadah di sana.
Selama dua hari bersama, kami tak pernah bersentuhan fisik, bahkan menempelkan telapak tangan, karena dia seorang muslimah yang harusnya ditinggikan, begitu yang paman Ramli ajarkan. Saya akui saya jatuh cinta dengannya dan ingin sekali menyentuh tangan putih halusnya, tapi ia sudah punya calon suami yang mencintai dan dicintai olehnya. Jika saja tidak, saya pasti sudah mengungkapkan perasaan saya dan meminangnya, lalu bebas menyentuh tangan indahnya yang terhias inai.
__ADS_1
Terus terang saja, saya tak punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya.
Jadi, saya putuskan untuk meninggalkan Medan, menumpang mobil orang ke tempat yang saya tak pernah ingat namanya. Akan tetapi beberapa hari kemudian saya menyerah dan kembali ke Medan, berdiam diri di bawah pohon rindang dekat Masjid Raya Al-Mahsun.
Tak lama kemudian Lily dan Hasyim datang dengan sepeda masing-masing. Lily mengenalkan saya dengan Hasyim yang kentara sekali tak menyukai saya. Namun ia mengajak saya ke suatu tempat bersama Lily
Mereka bersepeda bersama. Sementara saya bersepeda menggunakan milik Hasyim. Kami ke tempat yang begitu luas padang rumputnya. Indah memukau mata. Hasyim bilang ini akan menjadi milik Lily jika mereka menikah nanti. Saya tak mau menafsirkan apa maksud lelaki itu mengatakan hal demikian kepada saya.
Kami makan siang dengan telur dadar gulai yang dibawakan oleh Lily. Saya belum pernah makan siang dengan menu telur dadar gulai. Kami menyantap hidangan area padang rumput itu.
Setelah selesai, Lily berpamitan untuk menemui ayahnya di pondok dekat padang rumput tempat kami bertiga menghabiskan waktu. Ayahnya adalah orang berpengaruh di Medan.
"Sepupuku, Lily Azusenna sering bercerita mengenaimu padaku, Akhtar." Hasyim berkata dingin.
Apa itu sebuah pernyataan kecemburuan seorang sepupu? Tunggu, saya tidak mengerti!
"Sepupu? Bukankah calon suami?"
Saya tidak bisa menyembunyikan keheranan saat Hasyim berkata bahwa mereka bersepupu.
"Sepupu bukan mahram. Halal hukumnya menikahi sepupu, dari pihak mana saja."
Pengetahuan seperti ini saja tidak tahu, bagaimana bisa kau membimbingnya?! Bukankah lebih baik denganku? Nasab kami juga tersambung."
"Perasaan seperti itu bisa terjadi pada siapa pun," lanjut laki-laki itu.
"Tak ada niatanku untuk berbuat jahat, Hasyim."
"Seharusnya begitu. Kami sesama dari keluarga golongan atas. Apakah pernah kau lihat hamba sahaya bersama amira di kehidupan nyata?"
Kalimat-kalimat itu menyakiti saya. Namun juga menjadi motivasi saya.
Saya masih punya waktu di Medan sebelum terbang kembali ke Lombok, tapi semakin lama berada di kota ini, semakin sakit rasanya.
Sakit karena tak bisa mengatur rasa antara cinta dan keinginan untuk mengutarakannya pada Lily. Namun lebih dari itu Hasyim Natama-lah alasan terbesar.
Keesokan harinya, saya ucapkan selamat tinggal pada pasangan itu di masjid pertama kali kami bertemu. Kami berdiri di depan pelataran luas masjid yang dibangun sejak kesultanan Deli berjaya, dan akhirnya saya mengutarakan perasaan saya untuk terakhir kali dan secepat kilat meninggalkan mereka. Ketika membalikkan badan, saya mendengar Lily mengucapkan sesuatu dengan lirih. Telinga ini menangkap ada rasa kecewa yang dalam pada ucapan lirihnya. Sementara Hasyim mengancam saya melalui sorot matanya yang tajam. Saya sungguh menyesal dan merasa seperti orang bodoh.
Pada bulan ajaran baru saya memulai studi di Lombok, sementara Lily, saya duga yang saya tahu, masih di Medan bersama keluarga dan tentu saja kekasihnya.
Setelah perpisahan itu, kami pun hilang kontak. Selama beberapa tahun.
Setelah selesai kuliah, saya ke Palembang dan Pekanbaru selama satu setengah tahun sebelum ke Batam. Di Batam ini keluarga biologis saya pernah menetap sebelum kami tercerai-berai.
__ADS_1
Kadang saya memikirkan Lily, tapi hanya sekadar mengingatnya dalam kenangan memori.
Tahun demi tahun berlalu, dunia berubah, tetapi rasa saya terhadap gadis Medan itu tak pudar sedikitpun.
Saya memberanikan diri untuk mengirim pesan di akun sosialnya berkat salah satu rekan yang karena takdir Allah ternyata adalah teman Lily juga, Amaya si gadis Jepang. Kami akhirnya bisa lagi menjalin kontak. Ia bekerja dan menetap di kota ini juga, Batam. Sebuah kejutan membahagiakan bagi saya.
Ia bercerita bahwa sebelum pesan saya datang, ia bermimpi bertemu Hasyim Natama dalam mimpinya. Sepupu sekaligus mantan kekasihnya yang telah tiada tiga tahun lalu.
Lily Azusenna bertanya ke mana Hady m Natama akan pergi, dan ia menjawab, "Allah menyuruhku untuk menuntun kamu menuju orang yang lebih mencintaimu dibandingkan diriku, dan di atas cintanya padamu, ia mencintai Allah."
Lily bertanya lagi, "Siapa maksudmu?"
Namun lelaki itu tak menjawab.
Saya meyakini yang dimaksudkan adalah nama saya. Tiba-tiba saya ingat kejadian di padang rumput sepuluh tahun lalu. Tempat yang saya datangi bersama mereka.
Kami bertukar email setiap hari.
Dari komunikasi intens ini kami sadar bahwa kami sama-sama menyukai ketenangan, buku dan seni. Kami juga sama-sama senang menonton film. Akhirnya kami tiba pada satu kesimpulan: kami sebaiknya menghalalkan cinta ini.
Ia kembali ke Medan selama beberapa pekan dan setahun berikutnya kami menikah dan menetap di Palembang karena saya pindah tugas ke ibu kota Sumatera Selatan.
Saya tak mengucapkan cinta sejak pengakuan terdahulu. Saya malu, dan hanya berani menuliskannya pada selembar kertas di buku harian.
Waktu sepuluh tahun ternyata tak menghapus rasa itu. Rasa cinta yang tertinggal di depan satu pohon, di dekat masjid di Medan, ternyata tidak hilang.
Waktu berlalu. Tahun ini pernikahan kami memasuki tahun yang ketujuh.
Beberapa tahun lalu, saat kami melewatkan waktu di ladang pertanian di atas tanah Medan milik ayah mertua, saya menerima paket dari kawan lama di Batam. Selain buku yang saya perlukan, isinya adalah surat yang usianya lebih dari belasan tahun lalu yang saya kirim dari Lombok untuk kawan baik saya, Aji. Padanya saya berani mengungkapkan perasaan saya. Salah satu surat yang ia bingkai adalah:
... Namanya Lily Azusenna, saya menamainya Güzel Gül, gadis cantik berusia 15 tahun. Bersamanya saya menghabiskan hari-hari yang indah di Medan. Ia tinggal di kota ini dan tutur bahasanya lemah lembut dan bagus. Kalau saya tak meninggalkan kota ini, mungkin saya terperangkap dalam jeratan asmara yang pelik karena saya tahu saya mungkin saja telah jatuh cinta dengannya selamanya.
Saya tersenyum mengingatnya. Istri saya yang di sebelah, bertanya tentang paket yang membuat suaminya ini tersenyum.
"Bukan apa-apa, Istriku. Hanya bukti bahwa aku sangat mencintaimu."
Pipinya bersemu. Dulu saya ingin sekali dia membuat kedua pipi saya bersemu. Namun kini saya lebih suka jika ia bersemu karena diri ini.
"Saya mencintai Abang." Lily berkata malu-malu.
Saya membalas ucapannya dengan pelukan, kemudian mengecup keningnya. Yaa zawjatii, uhibbuki hubban jamman. Wahai Istriku, aku juga sangat mencintaimu.
Kisah ini memang sederhana. Cinta saya memang sederhana. Sesederhana cara Allah memberikan kejutan pada hamba-Nya. Mungkin bukan seperti kisah cinta hebat seperti milik para pecinta tersohor lain. Namun, saya bahagia bahkan lebih dari kata istimewa sebab saya mencintainya karena Allah.
__ADS_1