RAMPAI

RAMPAI
Harapan


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan ini, setiap lima kali dalam sepekan, Dharma mengunjungi perpustakaan besar kota Medan. Letaknya yang dihimpit ikon kota Medan tersebut membuat perpustakaan ini tak pernah sepi dari pengunjung dari dalam dan luar daerah.


Di depan perpustakaan adalah istana Maimoon. Lalu agak berjalan sekitar lima menit kemudian, maka akan menjumpui Masjid Raya Al-Mahsun. Bangunan-bangunan ini terletak di posisi strategis, dan tidak kalah ramai dari alun-alun kota yang dijuluki dengan kota multietnis tersebut.


Dharma selalu membaca karya seorang penulis amatir bernama Sachi Mahindri. Dia adalah author putri daerah yang menyutradarai teater setiap pertunjukan di Taman Budaya Medan. Dia pun menulis serta menerbitkan sendiri dan bukunya dipajang di Perpustakaan Daerah. Dharma menyukai gaya penulisannya yang menghanyutkan. Namun, lebih dari itu, ia ke perpustakaan hanya untuk melihat gadis yang membuatnya hanyut ke dalam sebuah arus bernama cinta. Begitulah yang Dharma asumsikan.


Pertama kali bertemu adalah ketika Dharma menghadiri pesta pernikahan kawan karibnya. Gadis incarannya ini adalah salah satu teman dekat istri kawannya. Melalui istri sahabatnya inilah Dharma tahu di mana Kavya—gadis incarannya—bekerja.


Setiap selesai asar ia sudah pulang dari kantornya, pada sebuah lembaga keuangan mikro syariah, di sekitar pasar tradisional Suka Ramai, ia selalu menyempatkan diri untuk ke perpustakaan yang jarakanya lima belas menit dari kantornya jika ia menempuh menggunakan motor.


Awal-awal ia hanya berani memberikan senyum, dan dibalas senyum pula oleh sang gadis. Sebulan kemudian Dharma memberanikan menyapanya. Lalu berakhir dengan pulang bersama.


Dharma selalu membuka obrolan-obrolan ringan ketika keluar dari perpustakaan. Kavya menanggapi sesekali dan kadang tersenyum geli, bahkan tak jarang ia tertawa.


“Apa kau punya acara lain, Kavya?” tanya Dharma, tak seperti biasanya yang berisi gurauan. Ini ia berani bertanya yang semua orang mahir dalam bermodus tahu ke arah mana pembicaraan Dharma bermuara.


“Apa Mas Dharma ingin mengajakku kencan, hingga bertanya demikian?”


Respons Kavya sungguh di luar dugaan Dharma. Sepertinya Dharma lupa, siapa yang menjadi teman dari Kavya. Gadis ini adalah teman dari istri kawannya yang menyebalkan itu.


Dharma tertawa kecil. Kemudian mengangguk.


“Kalau begitu, aku yang pilihkan tempatnya ya?” ujar Kavya lagi.


Sekali lagi, Dharma dibuat takjub oleh Kavya.


Dharma memakirkan motornya di sebuah Coffee Shop yang ia tahu pemiliknya. Ketika Dharma menanyakan mengapa mengajaknya ke tempat ini, Kavya enteng menjawab kalau dia mencintai orang yang ada di balik pembuatan kopi favoritnya.


Sang barista adalah kesayangannya. Demikian kata wanita itu. Saat Dharma mengatakan kopi yang Kavya sukai, maka memburulah napas Dharma. Barista yang membuat kopi tersebut adalah pemilik tempat ini juga.

__ADS_1


Deva Wijaya namanya.


“Dia sudah menikah.” Dharma berkata dingin.


“Aku sudah tahu.” Kavya membalas ceria.


“Kau mencintai laki-laki bersuami?”


“Laki-laki bersuami? Yang bersuaminya benar. Tapi perempuan kok. Ih, Mas Dharma mah kebanyakan nonton begituan ya?”


Tak jauh dari mereka Deva dan Maya tertawa pelan karena kekonyolan Dharma. Barulah Dharma sadar bahwa barista yang Kavya maksud adalah Maya Mahindri bukannya Deva Wijaya.


Laki-laki itu tertawa setelah mengatakan maaf. Kavya sebenarnya ingin sekali menertawakan Dharma yang menurutnya lucu itu. Akan tetapi ia masih memiliki hati agar Dharma tidak merasa kecil hati.


“Cemburu itu benar-benar aneh ya?”


Dharma malas menoleh karena ia tahu siapa yang baru saja mengatakan itu. Dia yakin sebentar lagi akan ada squad membully dirinya.


Maya kemudian meletakkan gelas yang berisi kopi favorit Kavya. Tanpa memesan terlebih dahulu, Maya sudah hapal kopi yang akan Kavya konsumsi. Lagi pula, ia pun menggratiskan kopi untuk Kavya setiap kali ia datang.


“Selamat dinikmati.”


Mas Dharma mau kopi buatan saya atau suami saya?”


Maya beralih pada Dharma setelah mengatakan dua kata itu pertama pada Kavya.


Dharma lebih suka teh daripada kopi. Ia bahkan tidak suka kopi buatan Deva maupun Maya. Intinya semua kopi, ia tak suka.


“Air putih saja.” Dharma menjawab.

__ADS_1


“Ya ampun! Takut gak bisa bayar atau gimana? Kugratiskan kok.”


Deva, menyahut dari balik tubuh istrinya.


Dharma ingin sekali menjahit mulut Deva yang kadang sedikit bocor alus itu. Padahal Deva tahu alasan mengapa Dharma tidak memesan kopi.


“Mas Dharma mau aku pilihkan kopi?” Kavya menawarkan diri.


Dharma dilema. Mau mengangguk, tak sesuai hati nurani. Mau menolak juga tak sampai hati.


“Sebenarnya, Dharma tidak suka kopi,” buka Deva. Kemudian laki-laki itu meninggalkan meja Dharma-Kavya.


Tinggallah Maya yang menjadi obat nyamuk bagi dua orang itu.


“Tapi, Mas Dharma sukanya kamu!” Maya menyambung kalimat suaminya dan kemudian tancap gas menjauhi Dharma dan Kavya.


Dharma melotot. Pasangan ini memang jago membuat onar. Melihat ekspresi Dharma, Kavya malah tertawa. Mau tak mau pria itu juga ikut tertawa.


Deva, yang kini sudah kembali ke tempatnya berbisik geli, “Bodoh!”


“Siapa?”


“Dharma.”


“Hanya karena cinta dia disebut bodoh? Bagaimana dengan Bapak Deva Wijaya? Rela menanti padahal tidak pasti.”


“Siapa bilang tidak pasti? Buktinya kau menjadi istriku.”


“Gak nyambung ish!”

__ADS_1


Deva tertawa, tapi bertanya masih memandangi Kavya dan Dharma. Dia yakin sekali kalau pada akhirnya kedua orang itu akan duduk bersama secara berdampingan di pelaminan.


__ADS_2