RAMPAI

RAMPAI
Mahabbah


__ADS_3

Aku.


Sebuah warna yang melambangkan kekuasaan, kekuatan, keagungan, keindahan, kelembutan, aristokrat, ambisi, spiritual, kemewahan, empati, pencerahan, misteri, angkuh, arogan, sensitif, intuisi, kreativitas dan pemberi inspirasi.


Keeksistensian yang sudah ada sebelum manusia tercipta membuatku menjadi saksi atas banyak peristiwa. Di negeri ini, aku disebut dengan murasaki-warna ungu.


Kini, Murasaki ingin membagi sebuah kisah.


.


.


.


*****


.


.


.


Mereka pertama kali bertemu pada musim semi di Tokyo Daigaku. Ketika gadis itu baru masuk universitas dan si pemuda adalah seorang asisten dosen di sana. Mereka semakin akrab seiring berjalan waktu. Kebersamaan mereka yang begitu sering membuat keduanya demikian.


Si gadis bernama Hanasita Lily. Hanasita memiliki arti bunga mawar yang mekar dan Lily adalah bunga untuk simbol bulan Mei. Bulan kelahiran si gadis. Bunga mawar pun mekar di akhir bulan Mei. Gadis yang bernama Hanasita Lily ini lahir pada tanggal 27 Mei. Menurutku nama itu sungguh cocok untuk dirinya.


Sementara si pemuda bernama Kyosuke. Dia berbeda tujuh atau delapan tahun dari Hanasita. Memiliki saudara kembar bernama Takahashi Kensuke. Nama mereka diambil dari nama kedua orangtua mereka.


Kenkyo dan Shinsuke. Pasangan Takahashi paling kuingat sepanjang sejarah.


Meski sudah lumayan lama, aku masih mengingat dengan jelas pemandangan di padang rumput itu. Punggung gunung yang berselimut debu selama musim panas terbilas bersih oleh hujan lembut yang berlangsung beberapa hari, kini menujunjukkan birunya yang cemerlang. Angin oktober menggoyang pucuk-pucuk ilalang, awan membentang berarak di langit biru. Angin berembus melintasi padang rumput, mengayun-ayunkan rambut si gadis. Pucuk dedaunan berdesir-desir dan dari kejauhan terdengar samar lolongan anjing.


"Hanasita, mau kuceritakan sebuah kisah?" tawar putra Kenkyo itu pada Hanasita kala itu.


"Tentu, Sensei."


Kulihat ada binaran kebahagiaan pada mata besarnya.


"Kau suka baca novel, 'kan?" tanya Kyosuke lagi.


Hanasita mengangguk antusias. "Tapi, apa hubungannya dengan cerita Anda?"


Kyosuke mendudukkan diri di atas rerumputan. Hanasita melakukan hal yang sama.


"Aku ingin menceritakan sebuah novel yang ayahku tuliskan untuk mengenang ibu dan kisah cinta mereka."


Jika aku berwujud manusia, mungkin akan ada lengkungan pada bibirku. Aku tahu kisah mereka.


Sedikit kenangan yang kuingat dari mereka adalah ketika kelahiran Kensuke dan Kyosuke.


Kala itu mereka baru saja pindah ke rumah induk Takahashi Ryosuke, ayah Shinsuke. Si kembar baru berusia sebulan dan masih tidur sekamar dengan orangtua mereka, dalam baby box.


"Mereka begitu tampan, Koibito. Sudah jelas aku mencintai kamu jauh lebih besar karena anak-anak kita begitu mirip denganku."


Shinsuke memandang kedua buah hatinya takjub.


Kenkyo duduk di tepi ranjang tengah menikmati segelas cokelat hangat favoritnya, merespons, "Ken-chan dan Kyo-chan itu laki-laki, Shin-koi. Itulah sebabnya anak-anakku mirip Shin-koi."

__ADS_1


"Anak kita, Koibito. Aku juga ikut dalam membuat mereka, bahkan aku punya andil lebih besar."


Setelah mengatakan hal itu, Shinsuke tertawa geli.


"Iya, anak kita!" ketus Kenkyo, wajahnya juga memerah.


"Tapi, aku ingin mereka mewarisi sifat dan sikapmu yang manis, yang kusuka."


Shinsuke melangkahkan kaki jenjangnya ke arah Kenkyo. Duduk di sebelah wanita muda itu


"Aku juga suka makanan manis!" Kenkyo berseru senang.


"Ya, aku tahu itu, Koibito. Kecuali untuk makananan manis. Aku kewalahan mengatasi kegilaanmu akan makanan manis. Jika ditambah lagi, aku bisa mati. Apa bagusnya makanan manis, cih!"


Sesaat kemudian, Shinsuke tertawa terpingkal-pingkal. Terlihat sekali ia menikmati raut istrinya yang kini berubah murung.


"Tidur di luar sana!" ancam istrinya. Kenkyo merajuk. Salah satu reaksi Kenkyo yang Shinsuke suka adalah rajukannya yang manja.


Masih menahan senyum, Shinsuke menggoda, "Eh, Koibito-ku marah? Kamu tahu? Aku-"


"Ji-san tidak dengar aku bilang apa?"


Kenkyo menepis tangan Shinsuke yang hendak mengelus pipinya.


Polisi Tokyo itu terkejut.


"Kubilang tidur di luar!" Kenkyo mendesis penuh penekanan. Matanya menatap tepat pada bola mata Shinsuke. Garang dan galak.


Shinsuke meneguk saliva susah payah. Apa-apaan panggilan 'paman' itu? Begitu pikir Shinsuke. Panggilan Ji-san-paman-disematkan Kenkyo pada Shinsuke terakhir kali adalah saat pertama kali hubungan suami istri yang mereka lakukan di Korea Selatan sekitar lima atau enam tahun sebelum kelahiran anak-anak mereka.


Istri dari Takahashi Shinsuke positif merajuk.


"Diam!"


Ayah dari Kensuke dan Kyosuke langsung terdiam. Kurasa ia menyesal telah mengatakan harapannya agar kedua putranya mewarisi sifat dan sikap ibunya, atau malah tidak sama sekali.


"H-Hey, Anata. A-aku bisa kedinginan."


"Urusai!"


Lagi-lagi penegak hukum dengan julukan 'Singa Timur' ini tak dapat berkutik. Singa adalah lambang raja. Namun, yang namanya raja pasti tunduk pada ratunya. Kenkyo adalah ratu hatinya Shinsuke. Jadi, apapun yang menyangkut Ratu Takahashi Kenkyo, Shinsuke akan tunduk.


Kenangan itu masih melekat. Bahkan aku masih ingat kedukaan mendalam Shinsuke saat kekasih hatinya meninggalkan dunia ini.


Akibat dari duka mendalam Shinsuke, pria itu melepaskan jabatannya dan menuliskan sebuah kisah untuk mengenang istrinya dan pengalaman pertama mereka saat ke Korea Selatan hingga kehamilan Kenkyo yang selalu meminta Maras Dondurma, es krim khas Turki.


Meskipun berduka, ia tidak melepas tanggung jawabnya sebagai ayah. Ia malah merawat dua putra kesayangannya penuh kasih. Tak berniat mencari pengganti sang istri.


"How sweet! Aku tidak menyangka ada kisah yang manis seperti itu. Ada laki-laki yang begitu memuja wanitanya. Manisnya ...." respons Hanasita ketika Kyosuke menyelesaikan kisahnya. "Apa nama judul kisah yang baru saja Sensei ceritakan?"


"Otou-sama memberikan judul 'Affair' pada kisahnya."


"Na-nani? Judulnya sungguh menyeramkan."


"Judul kisah yang ditulis oleh ayahku memang 'Affair', tetapi kisah yang kuceritakan tentang orangtuaku berjudul 'Mahabbatan'. Kamu tahu? Aku adalah shiper mereka."


Hanasita memiringkan kepalanya sambil tersenyum ramah. Sepertinya kapal mereka sama.

__ADS_1


"Hanasita tahu kenapa aku menceritakan ini?"


Hanasita menggeleng. Keduanya masih duduk di atas rumput dengan angin yang menerpa rambut.


"Karena aku suka Hanasita."


Seperti ayahnya, Kyosuke juga memiliki gaya yang aneh untuk menyatakan cinta pada gadisnya.


Mata dua insan itu kini bersirobok, saling mengunci.


"Suka?!"


Sepertinya gadis itu masih kurang paham makna suka yang Kyosuke utarakan.


"Setelah Hanasita lulus, ayo kita susul Kensuke! Dia sudah memiliki seorang anak perempuan. Namanya Takahashi Karina. Kami memanggilnya Nana-chan."


Tanpa dapat dicegah pipi Hanasita memanas. Tersipu malu karena lamaran Kyosuke padanya. Pandangannya pun ia tundukkan.


"A-apa itu ti-tidak terlalu cepat?" gadis itu bertanya. Kelihatan sekali kalau ia sedang gugup dari getaran suaranya dan arah pandang matanya yang ke kanan dan ke kiri.


Tangan kanan Kyosuke menggapai dagu Hanasita, ia dongakkan kepala gadis itu untuk menatap netra khas ayahnya, Asia Timur.


"Okaa-chan dinikahi oleh otou-sama ketika usianya belum genap tujuh belas tahun. Outo-sama bahkan membawa okaa-chan keluar negri saat usia ibu belum genap delapan belas tahun."


Outo-sama tidak akan pernah meninggalkan okaa-chan bahkan untuk melaksanakan tugas negara. Otou-sama mencintai okaa-chan, itulah sebabnya ayahku menikahi ibuku di usia ibu yang masih sangat muda."


Ini adalah bentuk keseriusan keluarga Takahashi Ryosuke, Hanasita. Kami akan menikahi perempuan yang kami suka tanpa lebih dulu merusaknya."


Wah! Gadis mana yang tidak akan jatuh jika pria tampan mengatakan hal ini?


Gadis ini pun sama. Pancaran matanya mengisyaratkan bahwa ia sangat terkesan pada retorasi pemuda di hadapannya.


Kurasa Shinsuke tidak menuliskan di buku itu bahwa sebelum Kenkyo, dia sudah merasai puluhan wanita.


Aku tidak berdusta. Shinsuke itu maniak ****. Kadang aku berpikir, apa dia tidak terkena penyakit kelamin? AIDS misalnya.


Tuhan memang sangat baik padanya. Ya, aku berpikir begitu.


"Bagaimana?" Ryosuke gencar menanyai Hanasita atas pernyataannya.


"Boleh aku membaca sendiri buku yang Shinsuke-san tuliskan untuk mengenang Kenkyo-san?"


Inilah perempuan. Ketika ditanya, malah balik bertanya.


"Aku pasti menunjukkan 'Affair' padamu. Aku janji."


Hanasita mengangguk. Kyosuke bertanya makna anggukannya.


"Itu untuk keduanya. "


Putra pasangan Shinsuke dan Kenkyo langsung mendekap Hanasita tepat saat lembayung senja tampak di ujung barat.


.


.


.

__ADS_1


Baiklah, kusudahi kisah ini. Lain waktu, jika diizinkan, akan kuceritakan kisah lainnya.


__ADS_2