RAMPAI

RAMPAI
Beloved


__ADS_3

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.


Demikian kalimat yang Mas Aryandra torehkan di setiap permulaan tulisannya. Seperti biasa, hatiku seakan tentram jika membaca setiap bait kalimat pemilik coffee shop tempatku bekerja.


Aku menjulukinya Yavuz. Mas Aryandra 'Yavuz'. Tahu kenapa? Karena ia selalu 'murung', wajahnya tak pernah berseri-seri. Datar, kaku dan ah entahlah ... kurasa ia pun seperti squidward yang kehilangan pita tertawanya. Hahaha ....


Hari ini, akan kukisahkan tentang dirinya yang memanggilku ... Dilruba.


Aku memang bilang Dilruba, bukan Dilraba. Dilraba itu selebriti asal negri Tirai Bambu dari suku Uyghur. Ya, meski begitu, aku jauh lebih cantik darinya. Mas Yavuz yang bilang saat kutanyakan siapa yang lebih elok dipandang. Hahaha ....


Dilruba diambil dari bahasa Farsi, Turki atau Urdu yaa? Aku lupa. Mas Agharna pernah mengatakannya dulu.


Dilruba bermakna ... Beloved! Kekasih hati. Ahaiii ....


Baiklah, baiklah ... kembali ke topik. Nama tadi sudah. Sekarang usia. Mas Aryandr Yavuz berbeda lima tahun denganku. Matanya indah meski ekspresinya tak pernah indah. Seperti yang kukatakan tadi. Datar, murung dan kehilangan pita tertawa.


Pernah kusinggung tentang tawa, ia malah membawa dalil naqli tentang tertawa. Katanya: banyak tertawa itu mematikan hati.


Aku curiga title-nya bukan Sarjana Ekonomi melainkan S. Ag alias Sarjana Agama. Jangan-jangan dia ustadz yang sedang menyamar jadi pemilik usaha Dagang Kopi matang (?) berbentuk kafe.


Bodo amat ah, yang penting ganteng. Ya alau agak terganggu juga jiwanya kadang-kadang. Lebih sering me-yavuz-kan diri (?) sih daripada menggilakan (?) diri.


Saat kusindir dia dengan Yavuz saja, ia malah berbangga diri. Rumor bahwa bos muda mengidap penyakit jiwa rupanya memang benar. Untung saja tampan, jika tidak ... Arthaka alias sepupunya sekaligus temanku masa SMA dulu, akan menjadi partner-ku membawanya ke Rumah Sakit Jiwa.


"Assalamu'alaikum, Airani ...."


Mahasuci Allah! Aku hampir terjengkang dari tempat duduk di meja kasir karena sapaan yang mengejutkan dari dia yang sedang ku-ghibah-i.


Kujawab salamnya, kemudian tersenyum. Sayang sekali, dia tak membalas senyumku yang mahal ini. Harusnya dia tahu, selain ayah dan dua adik lelakiku, hanya dia pria yang kuberi senyum manis ini. Kurang ajar memang. Awas saja nanti dia.


Sepelitnya aku pada senyum, dia lebih pelit lagi. Padahal senyum bagian dari ibadah.


Aku hanya pelit senyum pada laki-laki, lah dia? Semua orang! Entah apa yang terjadi padanya di pengujung hayatnya nanti. Mungkinkah ada azab untuk orang yang pelit dengan senyum? Seperti di televisi yang sering ditonton ibu.


"Nanti Uta dan Sila akan datang dengan Hasna."


Seperti biasa, suaranya datar macam papan telenan ibu di dapur.


Lalu? Kenapa memang? Takut dikerjai Utara dan Aysila gitu? Oh, aku akan menjadi pendukung dua perusuh itu.


"Jinakkan dua bocah itu."


Subhanallah! Aku tak salah dengar?! Seliar apa mereka dan memangnya aku penjinak?


"Aku?!"


Dia mengangguk. "Iya, kamu."


"Kok aku?!"


Tentu saja aku pura-pura bingung dan bertingkah bodoh. Haha ... rasakan itu, Yavuz!


"Karena hanya pawang buaya yang bisa menjinakkan buaya, Airani."


Astaghfirullah! Tak kusangka si yavuz akan berkata demikian.


"Mas Yavuz tau tidak ... yang lebih susah dijinakkan itu pawang buaya daripada buaya itu sendiri?"


Kena kau!


"Tahu."


Nah!


"Tapi kamu mungkin lupa kalau Pawang buaya itu sudah jadi Dilruba sekarang. Yavuz's Dilruba."


Manis sekali mulutnya! Cih! Dipikirnya aku akan melayang begitu? Haha, maaf saja! Aku biasa saja tuh.


"Pipimu merah," katanya. Kemudian laki-laki itu meninggalkanku di meja kasir, menuju ruangan pribadinya di kafe ini.


Apa?! Dia pasti membual. Hey, bibirku bergerak sendiri membentuk lengkungan tanpa kuinginkan. Dasar pengkhianat!


*_*


Aku mendapati tatap mata jail Utara kepadaku. Aysila juga barusan mencium pipiku tanpa sebab. Arthaka dan Hasna tak kalah membuatku berpikir keras. Sebab sedari tadi, mereka terus saja tersenyum aneh dan cekikikan bagai hantu malam. Apa-apaan mereka ini? Mau mengibarkan bendera perang padaku atau ingin mengajak berkoalisi untuk menyerang Yavuz? Ah, pikiran macam apa yang barusan tadi?


Suasana kafe yang ramai, membuatku sibuk melayani pelanggan. Sesekali kulirok para adik Mas Aryandra. Dikarenakan banyak pengunjung, kudapati Arka berulang kali memelototi Utara dan Aysila yang tampak heboh bermain ludo sambil jerit-jeritan. Hasna kembali tak acuh pada sekitar, baginya ponsel yang Yavuz berikan kemarin malam adalah dunianya. Keempat manusia itu di meja khusus yang Mas Aryandra siapkan di sebelahku. Mereka berempat adalah adik dan sepupu dari Yavuz.


"Ssstt, wajahnya tetap aja jutek ya? Kupikir nyonya besar bisa manis kalo sama pelanggan. Bisa bangkrut nih usaha Mas Ay kalau punya pegawai macam Mbak Ai."


Ya, bagus! Utara memang butuh diberi subsidi pengetahuan! Berani sekali dia ber-ghibah ria. Dengan Aysila pula. Bocah ingusan, tahu apa sih?


"Ya, tapi lebih kasian sama Mas Ay sih. Kok bisa mau gitu ya sama Mbak Galak itu? Cantik kalau galak mah sama aja bo-ong!"


"Uta, kalau Mbak Aila dengar ...."


Aysila meletakkan telapak tangannya di leher, lalu sedikit menggesernya sambil berkata, "Krekk! Patah lehelmu!"


Dapat kulihat wajah Utara pucat pasi. Tidak tahu saja mereka kalau aku bisa mendengar gosip-gosip panas ini.


"Aira, Sila ... Aira! Bukan Aila." Hasna mengoreksi tapi tidak melepas pandangannya dari ponsel.

__ADS_1


"Ih, Kak Hasna nguping ya? Dosa tau!" bocah-bocah itu serempak melakukan protes pada Hasna atas aksi yang menurut dua bocah itu tidak terpuji.


"Apa? Cuma ngoreksi aja kok."


"Sila kan cadel. Mana bisa bilang huruf 'r' sih."


Aku tak tahu, apa itu pembelaan dari Uta atau malah ia sengaja menunjukkan kekurangan saudari sepupunya. Kulihat Arthaka malah tertawa.


Tangisan terdengar! Ah gawat! Aysila menangis. Kemudian aksi tuduh-tuduhan pun terjadi.


Ya, Gusti ... kenapa Yavuz punya saudara yang bertolak belakang darinya?!


Tangisan Aysila mengundang perhatian pengunjung sekaligus kunjungan sayang dari bos Yavuz.


Seperti biasa, wajahnya yang tidak bersahabat adalah yang pertama kali menyapa.


"Masuk ke ruanganku. Sekarang."


Habislah kalian, Anak-anak! Haha~


* * * *  * * * *


Arthaka memberi siulan kepadaku setelah mengantar ke sebuah taman rekreasi yang baru dibuka menggunakan motornya. Kadang, dia menjadi tukang ojek pribadi juga.


"Pasti berdebar-debar ya, Kakak Ipar?"


Kuberi ia seringai, pertanda bahwa ucapannya adalah salah satu dari kalimat sampah. Lagi pula, manusia memang harus berdebar pertanda hidup, bukan?


Aku ke tempat ini karena punya janji dengan seseorang. Bukan Yavuz ... eh maksudku Mas Aryandra. Bukan dia. Namun, seseorang di masa lalu.


Seseorang yang pernah membuat patahku patah hati karena pengkhianatannya. Padahal, aku sangat ... ah mengapa jadi curhat? Lagi pula bisa malu kalau Arthaka memergokiku masih menangisi nasib masa lalu. Benar begitu, ‘kan?


Nah, wajahnya saja menunjukkan ia prihatin padaku. Oh tidak bisa! Aku akan memasang wajah biasa saja.


"Apa?!" tanyaku, pura-pura ketus. Biar kesan galaknya tidak hilang dimakan kenangan.


"Galak amat sih ... kayak Ibu Suri aja."


"Ibu Mertua keles."


"Ibu Suri kan ibu mertua juga." Arthaka melakukan aksi bela argumen.


"Apa sih? Gak jelas bengat."


"Banget! Aihhhh!" protesnya. Aku tertawa menanggapi aksi protesnya.


Setelah itu, ia meninggalkanku. Ia berpamitan untuk menjemput Utara dan Aysila yang mengaji di madrasah, lalu setelah itu ia akan menjemputku kembali.


Tak dapan kutahan senyumku karena perlakuan Arthaka. Dia seperti kakak laki-laki bagiku meski aku lebih tua dua bulan darinya. Arka lahir di musim panas aku lahir di musim semi. Ah! Aku lupa kalau ini di Indonesia. Mana mungkin ada musim semi.


"Ai ...."


Apa aku melamun? Mengapa rasanya tidak menyadari bahwa ada orang di belakang. Cepat sekali dia sampai.


Menoleh ke belakang, ternyata memang dia sudah tiba. Sejak kapan? Isshh! Seperti hantu saja.


"Hai," sapaku. Jika Arthaka melihat, kurasa ia akan tertawa. Karena sepertinya diriku sedang melakukan aksi memalukan.


Dia mengeluarkan tawa. Ya ampun! Masih aja seksi seperti dulu. Jangan goyahkan saya, ya Allah!


"Cinta, apa kabar?"


Pingsan boleh tidak, sih? Cinta katanya? Oke, itu kan dulu! Ai adalah cinta dalam bahasa di Asia Timur.


"Kabarnya Ai-rani akan segera menikah denganku!"


Allahu Akbar!! Aku akan pingsan sekarang juga! Sinetron macam apa ini?? Kenapa aku seperti pemeran utama wanita yang disuka dua pemeran pria di dalam cerita-cerita itu sih? Inginnya pingsan, tapi tak bisa. Mau ketawa, tapi malu. Aku harus apa?


Mengapa tiba-tiba ada dia?


Lagi pula mau apa Yavuz kemari? Menguntit atau karena info Arthaka? Kurang ajar! Padahal kubilang rahasia. Butuh diberi pelajaran juga itu kakak laki-lakinya Utara.


Laki-laki yang sudah menjadi mantan kekasihku itu memberi senyuman. Manis sekali, beda dengan Yavuz yang tidak pernah tersenyum.


Yavuz berdiri di sisi kiri, kulirik ia, dan tak sedikitpun bibirnya berubah. Datar! Ini orang apa robot sih? Kok bisa cinta pulak aku ama dia. Menyebalkan!


"Hai ...,"


Dia, Dinansyah mengulurkan tangan.


Mas Aryandra mengangguk, tapi enggan membalas uluran tangan.


"Saya Dinansyah."


"Saya tidak peduli."


Usia Yavuz berapa, hah?


Aura yang pasti bukan aura kasih apalagi Aura Kasih, menguar. Senyum Dinansyah lenyap, tatapannya juga sengit. Mereka seperti akan melakukan pertandingan Sumo atau semacamnya.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Harusnya itu yang kutanyakan padamu, Mantannya Dilruba!"


Sudah cukup! Ini seperti drama India saja. Yavuz ini ... tak kusangka dia jago membuat onar.


Yavuz ... aku malas memanggil namanya lagi. Biarkan saja dia kusapa begitu sampai tua.


"Kabarku baik, Dinan. Dan, Mas Yavuz! Ayo, pulang!"


Ucapanku tak dipahami sepenuhnya oleh Mas Yavuz. Maksudku, dia pulang saja sendiri. Ini malah ikut menarik-narik tanganku.


Terpaksa aku ucapkan salam pada Dinansyah. Sayangnya, dia tidak menjawab salamku. Tentu saja dia kecewa dengan tingkah Yavuz Sultan Aryandra yang terhormat ini.


"Yang Mulia, bisa Anda jelaskan maksudnya?"


Dia membisu. Gayanya memang gitu. Suka main bisu-bisuan. Membisu saja sampai bisulan.


"Dilruba ...."


Akhirnya dia bicara juga. Aku menatapnya, tepat pada mata indahnya. Berbulu mata lentik tak perlu maskara. Bulu mata Yavuz jauh lebih lentik daripada bulu mata milikku.


"Yes, Your Honour?"


"Your Highness, aku ... takut."


Apa yang dia takutkan? Aku berpaling? Tidak akan! Baiklah, tadi hampir goyah memang. Namun, hanya main-main saja. Tidak mungkin dia bisa membaca pikiran, 'kan? Laginya, setelah lama membisukan diri, dia hanya ingin bilang ... "Aku takut" saja? Ya Allah, tabahkan hati hamba-Mu ini.


"Takut apa sih?"


"CLBK."


Aku mengeluarkan suara tawa yang tak kupedulikan akan dilihat orang. Kami memang masih di sekitaran tempat itu. Bahkan Dinansyah masih melihat kami. Hanya melihat, karena kuyakin ia tidak mungkin bisa mendengar percek-cokan ini.


"Apa aku terlihat begitu?"


Sungguh! Aku tidak percaya dengan alasannya. Aku benar-benar harus mempertanyakan usia laki-laki ini.


"Tentu. Kau labil."


Ya Salaam! Jika kalian memiliki kekasih sepertinya kusarankan banyak perbanyak istighfar dan ... udah, putusin aja! Kan gitu ya kata Ustadz keturunan China yang juga menulis buku Muhammad Al Fatih?


Namanya?? Kalian tidak tahu?! Cari tahu sana!


****


Mengajak kencan tapi didiamkan itu rasanya bagaimana? Putusin aja kali ya? Eh, tapi kalau nanti aku dipecat bagaimana? Cari kerja itu susah. Awalnya memang aku menerima Bos Yavuz menjadi kekasih karena takut dipecat, lalu karena tampan. Sungguh hanya karena itu. Akan tetapi, pepatah Jawa ada benarnya juga. Witing Tresno Jalanan Soko Kulino. Eh benar tidak? Aku suku Sunda, si Yavuz yang bersuku Jawa.


Nah kembali ke topik. Lama-kelamaan, aku pun jatuh. Perempuan itu memang mudah sekali luluhnya. Tidak sampai satu tahun, bayangkan! Tak sampai setahun tercuri juga qalb-ku.


Awalnya kupikir pulang cepat dan diajak kencan akan menyenangkan. Bayanganku akan diajak makan es krim, belanja ini-itu, pokoknya senang-senang. Dari tujuh bulan tiga pekan satu hari menjalin kasih, baru ini ia mengajak kencan. Sesuatu sekali bukan?


"Mas?"


Yavuz tidak menjawab. Mungkin karena kebisingan kendaraan di sekitar kami. Salah sendiri, ngajak kencan kok di Lapangan Merdeka. Duduknya di atas motor lagi. Ngapain?! Kayak cabe-cabean. Ya Gusti, dia pasti baru pertama kali pacaran. Masyaa Allah sekali.


Namun, yang pacaran tak seharusnya di-MasyaaAllah-in sih.


Kupanggil ulang dirinya. Kali ini lebih keras.


Si Raja Yavuz memandangku tanpa suara. Serem juga tuh mata kalau diperhatikan. Untung juga di tempat ramai. Coba kalau di tempat sunyi. Auto nangis saya mah.


"Laper."


Aku tidak tahu mau bilang apa. Asal bunyi saja tadi.


"Makan,"


Elah! Semua juga tahu kalau lapar itu makan. Kode itu, kode!


"Ai, saya mau ngomong serius sama kamu."


Heh?! Apa itu? Saya? Kamu? Ohoho~ ternyata ini benar serius.


Tadinya aku berani saja memandangnya, tetapi karena tatapan dan nada suaranya, aku jadi hanya berani memandang stang motornya. Menggelikan sekali. Memalukan. Hikss ....


"Kita putus aja ya?"


Hah? Putus?! Sepertinya aku bukan mau pingsan, tapi pelupuk mata ini rasanya seperti ada genangan air.


"Saya nggak kuat, Ai. Nggak tahan."


Apa ini maksud percakapan Utara kepada Aysila?


"Aaa,"


Aku menguatkan diri untuk tidak menangis. Bukan aku takut dipecat karena diputuskan. Aku yakin, Bos Yavuz tidak mengaitkan hubungan kerja dengan pribadi.


Jadi, inilah akhirnya ya?


“Saya enggak kuat menahan gejolak cinta padamu. Saya enggak tahan untuk merumahkan kamu.”


Tunggu dulu! Apa maksudnya?

__ADS_1


“Kita putuskan saja untuk menikah di bulan Maret. Ya?”


Baiklah, sepertinya aku akan kehilangan kesadaran.


__ADS_2