
Khadijah adalah sebaik-baiknya teman dan wanita di masa kini. Itu menurut pandanganku. Pandangan seorang Ahmad Dharma Ibrahim kepada temannya. Teman hidup sekaligus teman dalam segala hal.
Darinya, aku belajar arti dari kesabaran luar biasa. Seperti Rasullullah yang sangat mencintai Khadijah-nya hingga akhir hayat tak pernah beliau melupakan Ummul Mukminin Utama Khadijah binti Khawailid, demikian pula diriku. Sama seperti Nabi kita yang mengatakan bahwa takkan ada lagi wanita yang bisa menggantikan posisi ibunda Khadijah dalam hidup dan hati beliau, maka aku pun seperti itu pula pada Kavya-ku.
Aku memberinya julukan Kavya karena ia begitu mahir berpuisi, seperti Ummul Mukminin Utama Khadijah binti Khuwailid yang juga menguasai puisi.
Jika sebelum menikah dengan Rasulullah, julukan putri bangsawan kaya raya tersebut adalah Ratu Mekah dan setelah menikahi Rasulullah julukan beliau adalah ibu bagi kaum muslimin atau disebut Ummul Mukminin. Maka Khadijah-ku, setelah dan sesudah menikah tetaplah Kavya bagiku.
Akan kuberikan sedikit informasi mengenai dirinya. Mungkin tidak akan semulia ibunda Khadijah, tetapi Kavya-ku juga lembut, penyabar dan suka berderma seperti Ummul Mukminin Khadijah. Memang takkan dapat menyaingi Ummul Mukminin I, tetapi Khadijah-ku mahir berhitung, aritmatika dan berkuda. Tentu saja kalian tidak salah membaca. Kavya-ku memang mahir berkuda sama seperti The True Love of Muhammad SAW tersebut. Bukan hanya mahir berkuda, ia juga mahir dalam memanah dan berenang. Apa kalian tahu bahwa ketiga cabang olahraga itu adalah olahraga yang dianjurkan Rasulullah, olahraga Islam.
Kavya-ku selalu meneladani ibunda Khadijah binti Khuwailid, terutama kesabarannya yang luar biasa. Bersabar bukan hanya sebatas bertahan terhadap rintangan. Sabar adalah tidak berbuat zalim meski mampu melakukannya¹.
Ketika itu, Kavya dituduh berbuat curang oleh salah satu pamannya. Paman bungsu dari pihak ayahnya itu tidak terima jika Khadijah yang bukan anak kakaknya mendapat warisan berupa uang dan rumah sepeninggalan Khalid, ayahnya. Jika ibunda Khadijah adalah dari keluarga bangsawan, maka Khadijah-ku adalah seorang putri hartawan.
Ketika itu, kami belum menikah. Ia hanya anak gadis yatim piatu yang masih berusia tujuh belas tahun.
"Tidak mungkin kakakku tidak tahu aturan pembagian warisan menurut agama. Seorang anak haram hasil zina tidak pantas mendapat apa-apa dari kakakku!"
Ketika itu, ia menampilkan senyumannya seakan tengah menghadapi anak kecil yang tengah merengek minta permen.
"Benar. Itu memang benar, Paman. Ayah tidak akan mewariskan apa pun."
Aku begitu tercengang, bagaimana bisa diusianya yang masih terbilang muda, ia masih bisa bersikap seolah ia sudah mengarungi kehidupan ini selama lima puluh tahun? Awal kekagumanku adalah dari sikap sabarnya.
__ADS_1
Khadijah adalah seorang anak dari teman bibi Mahira, istri paman Khalid yang telah meninggal setahun sebelum Khalid.
Anak angkat memang tidak bisa saling mewarisi, demikian pula dengan anak hasil zina. Namun yang menggangguku adalah kalimat pamanku. Apakah ia tidak tahu bahwa tidak ada anak haram di dunia ini? Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Perbuatan orangtuanya-lah yang haram.
Aku adalah keponakan dari istri adik bungsu ayahnya sekaligus temannya.
Kemudian ada satu perkara lagi yang memantapkan hatiku untuk ia kujadikan temanku selamanya.
Saat itu usia kami dua puluh tahun, tugas kuliah membuat kami harus pulang agak larut. Rumor hantu dan penculikan begitu marak pada saat itu. Jujur saja, aku yang seorang laki-laki saja agak takut ketika melewati jalanan kompleks perumahan yang sepi, dan sekarang kami malah disuruh menunggu oleh ibu di depan gedung tua yang sepi. Kata ibu, ayah akan menjemput kami di sana.
Ah, informasi berikutnya, aku telah menikahi Khadijah setelah tamat dari sekolah menengah atas. Ibuku adalah dalang dari semua ini. Ia menyayangi Khadijah yang berbudi luhur dan tidak setuju dengan apa yang adik iparnya lakukan pada istriku.
"Dharma takut?" tanyanya padaku saat itu. Tangan halus nan lembutnya menggenggam tanganku yang dingin. Karena genggaman itu, bukan cuma tangan yang menghangat, tetapi juga hatiku.
"Bersabarlah. Ayah akan sampai sebentar lagi. Ibu tadi berkata begitu kan?"
Aku mengangguk. Kubalas genggaman tangannya karena memang aku masih ketakutan. Aku heran dari mana keberanian luar biasa itu ia dapatkan?
"Keberanian bukanlah tidak takut. Keberanian adalah sabar menanti pada tempat yang semestinya meski dalam keadaan takut sekalipun.²"
Aku tertawa di dalam hati. Mengapa ia bisa selalu tahu apa yang kurasakan? Oh, Kavya-ku!
Lima tahun kemudian, ia melahirkan putri pertama kami, namanya Zainab Zuriyati. Aku yang memberikan nama itu pada putri kecil kami. Tiga tahun setelahnya lahirlah Muhammad Ismail sebagai putra kami. Ibuku yang memberinya nama. Kehidupan kami memang biasa saja, tidak ada peristiwa atau tragedi luar biasa yang bisa dijadikan sejarah.
__ADS_1
Namun, kebiasaan itulah yang mampu menciptakan kenangan.
Hingga, kebiasaan itu terenggut karena kematian istriku yang tercinta. Istriku yang pintar berpuisi, sabar, dan cerdas. Dia meninggal karena dipanggil Allah melalui cara yang tidak bisa kuterima. Dibunuh oleh suami dari ibu kandungnya.
Zainab masih berusia tujuh tahun tatkala itu. Kedua anakku bersama nenek-kakeknya. Aku masih berada di kantor. Sebagai pegawai kantor pajak, aku terbiasa pulang larut.
Ketika pulang, kutemukan istriku tergeletak dengan perut yang bersimbah darah. Hampir saja aku gila karena melihat tubuh istriku yang terbujur di lantai. Aku tidak bisa menahan air mata dan isakan tangisku. Aku bahkan mengatakan Tuhan itu kejam saking marahnya atas kematian istriku yang tak wajar.
Memang pelaku sudah diadili, tetapi aku masih saja kurang bisa menerima.
Apa yang harus kukatakan pada dua anakku? Apa yang bisa kulakukan untuk mengobati luka batin kami?
Namun jauh dari itu, Zainab yang masih kecil malah menghiburku. Di luar dugaan malah ia yang menenangkanku. Persis seperti ibunya, ia begitu sabar dan mulia. Terima kasih, Allah. Engkau berikan Zainab perangai seperti ibunya. Kesedihanku dan Ismail, putri kecilku itulah yang mengatasi. Bahkan ia yang menyadarkan diriku untuk bisa mengikhlaskan ibunya dan memberi maaf pada kriminal itu.
Khadijah, kau sebenar-benarnya pendidik. Kavya, kau sebaik-baiknya ibu dan kekasih. Aku takkan pernah berhenti mengenang dan mencintaimu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sepuluh tahun sudah kepergian ibu dari Zainab Zuriyati dan Muhammad Ismail, kini aku akan menikahi seorang wanita yang ayahku pilihkan karena desakan keluarga. Namun, tetap wanita yang pertama takkan pernah tergantikan. Sebab Kavya adalah sebagian dari diriku dan hatiku hanya milik Khadijah. Seperti Rasulullah yang takkan pernah lalai mengingat Khadijah Radhiyallahu Anha bahkan bertahun setelah kematian ibunda umat Islam itu, demikian pula diriku.
*******
1 dan 2: Perkataan Khuwailid kepada putrinya, Ummul Mukminin Utama Khadijah binti Khawailid, sang ratu di hati Muhammad Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.
__ADS_1