RAMPAI

RAMPAI
Terlambat


__ADS_3

Inginnya meninggalkan sholat, tapi mengingat ancaman bagi yang meninggalkan subuh membuat saya berpikir ratusan kali. Biarlah terlambat asal sholat. Namun, sholat tepat waktu adalah yang paling utama.


“Bunda!! Kenapa atuh enggak bangunin  teteh? Kesiangan ish!”


Rengekan saya membuat ibunda tertawa kecil. “Sudah dibangunin. Kirain lagi libur.”


Heleh! Tentu ibu tahu masa periode bulanan saya. Kami berdekatan jadwal.


Bergegas saya ke kamar mandi setelah melirik jam dinding di ruang tamu yang menunjukkan pukul enam lebih empat puluh menit. Sementara masuk sekolah pukul setengah delapan pagi.


Hajab aku! Itu yang kurapalkan di setiap guyuran air. Senin kemarin juga terlambat dan merapalkan dalam hati kalau seterusnya saya takkan terlambat. Taubat, nasuha pula. Namun, kini?


Selesai sholat dan berpakaian, saya pun memeriksa jam di dinding kamar, ternyata sudah pukul tujuh lewat dua puluh. Semakin paniklah saya.


Ibunda datang ke kamar. Ketika itu saya sedang memasang hijab.


“Teh Hime, pergi sama mbak Esha, ya?”


Hah? Dia terlambat juga? Oh ya Allah!


“Esha lama, teteh mau cepat, Bun.” Saya merengek.


“Udah siap dia. Sekolah kelen kan deketan. Bareng aja kalee. Hari ini bunda gak bisa nganter, Teteh!”


Terpaksa saya iyakan saja, supaya cepat dan tak menimbulkan drama di pagi hari.


“Lagian terlambat kok ya kompakan. Janjian begadang apa cemana?”


Ya Allah! Sindiran macam apa ini?? Saya pura-pura tak mendengar. Menyambar tas yang ada di meja rias, saya bergegas keluar kamar, pamitan pada kedua orangtua, kemudian keluar dari rumah bersama adik saya.


“Cepet! Teteh udah telat, Mbak!” ujar saya setelah selesai memakai sepatu.


Esha masih memakai kaos kaki hitamnya yang sebelah kanan.


“Mbak Esha juga telat.” Esha berujar santai selayaknya sedang menikmati pemandangan di pantai, padahal ia sedang berlesehan di lantai.


“Ya makanya cepet! Pakai sepatu aja lamanya kayak menunaikan rukun haji!”


“Kayak pernah aja ngerjain haji.”

__ADS_1


 


Ya Ghofur! Bocah kelas lima ini!


“Ya Belom. Tapi setidaknya pernah manasik haji di Asrama Haji Titi Kuning!”


Pertengkaran kami dilerai bunda dengan kalimat pamungkas, “Jangan ribut kelen, atau mau bunda sumpel mulutnya pakai cabe?!”


Akhirnya kami pun terdiam. Kebetulan Esha juga telah selesai memakai sepatu. Setelah itu, kami kembali mencium pipi ibunda dan pamit pergi.


Untuk mencapai angkot, kami harus berjalan hingga ke depan gang. Angkot nomor berapa saja kami naiki, yang penting cepat sampai sekolah. Esha lebih dulu turun daripada saya. Sekolahnya berbeda dengan tempat mengajar kakak sulungnya ini.


Sesampai di depan sekolah, gerbang susah terbuka lebar, bel sudah lama berbunyi. Saya berlari-lari, selayaknya anak sekolah menengah atas yang takut terlambat masuk.


“Aduh Ibuk! Jangan lari-lari, nanti jatuh!”


Saya rasa, pipi ini memerah karena kalimat itu. “Udah telat, Pak.”


Saya masih berlari. Meski saya mengajar di lantai dua, dan harus menaiki tangga, tetap saja kaki ini saya gunakan untuk berlari.


Kekanakan memang, tapi itu memang saya lakukan.


Tidak banyak yang berubah dari tampilan sekolah ini. Semua masih sama. Mungkin hanya cat dan pepohonan dan bunga saja yang sudah berubah. Semakin indah sekolah ini kulihat. Banyak kenangan yang tercipta di tempat bersejarah ini.


“Kak! Kakaknya Keshia, ya?”


Suara anak perempuan berpakaian pramuka mengejutkan saya, ketika tubuh ini telah sampai di tengah lapangan. Untuk menjawab pertanyaan gadis kecil itu, anggukan saya beri.


“Kok tau?”


“Mirip!” jawab kawannya yang lain.


Mereka berjumlah lima orang.


“Keshia anak kelas lima itu?”


Wah! Jadi mereka kelas berapa??


Saya mengangguk lagi.

__ADS_1


“Bentar ya, Kak. Kupanggilkan.”


Salah satu di antara mereka menawarkan.


“Kalau tidak keberatan, sok atuh.”


Gadis itu pun memasuki kelas sambari meneriaki nama Esha dan menginfokan bahwa saya telah datang.


Adik saya itu tampak terkejut karena senang. Dia langsung memeluk saya sambil bergumam, “Teteh.”


“Makasih, Kak.” Esha berkata pada lima orang yang ternyata seniornya.


Demikian saya, ikut mengucapkan terima kasih kepada mereka.


Melangkah menuju keluar gerbang, Esha berkata, “Anak kelas enam yang tadi itu suka sama Teteh. Katanya Teteh cantik. Lebih cantik dari Teh Asri.”


Saya tertawa. Semua anak-anak baik laki-laki dan perempuan pasti akan berkata begitu. Berbeda dari yang lain, mereka lebih suka pada kecantikan adikku yang lain, Asri.


Intinya, anak perempuan Ibunda Sri memang unggul. Haha, saya hanya bercanda. Jangan dianggap serius.


Ponsel berdering, saya melihat sebuah chating dari sahabat terbaik.


“Hime, aku mendaftarkanmu di Tantan.”


Demikian bunyi teksnya.


Akh!! Cari mati dia!


“Kukasih nomor ponselmu ke kandidat calon suamimu ya.”


Belum sempat kubalas sudah datang chat lain.


Saya mengetik pesan, dengan huruf kapital, “JANGAN!”


Sebuah pesan baru masuk.


Ah! Terlambat!!


Dia sudah menjualku.

__ADS_1


__ADS_2