RAMPAI

RAMPAI
Dingin & Sepucuk Surat


__ADS_3

Ponselku berdering nyaring. Sebuah panggilan dari kakak Ibu, yang artinya kami panggil: Budhe.


Dengan sedikit kesulitan, kujawab teleponnya. Kuperintahkan Asri memberhentikan laju motor. Lalu, kami pun menepi.


“Assalamu'alaikum,” sapaku.


Dari seberang telepon terdengar jawaban. Adikku menunjukkan raut wajah malas. Aku hampir terkikik karenanya.


“Ah ya, Budhe. Mbak sama Adek ikut ke Bukittinggi, kalau bisa tapi ya?”


Kakak dari Ibuku, adalah orang yang paling suka mengajak kami ke kampung halaman suaminya yang bersuku Minang. Setiap tahun pasti selalu mengajak. Aku pernah sekali ikut ke sana, akhir sekolah menengah atas, sebelum ujian untuk masuk universitas kalau tidak salah, sekitar 6 atau 7 tahun lalu. Aku tak ingat kapan tepatnya.


Telepon sudah hampir selesai ketika kujawab mungkin kami akan membeli kue saja untuk Lebaran tahun ini, dan beliau cekikikan karena jawabanku.


Namun, ketika pertanyaan lain menyusul, aku tidak tahu cara mengakhiri percakapan ini.


“Kapan ngasih kabar tentang orang yang bisa meruntuhkan dinginnya hati dan harimu, Mbak?”


Aku adalah cucu pertama perempuan dari Kakek pihak Ibu. Cucu kedua dari seluruh cucu. Itu sebabnya semua orang di keluarga memanggil "mbak" kepadaku.


“Mungkin nanti.”


“Nanti itu kapan?”


Ya Salaam! Apa-apaan ini? Kemudian, Adek As—panggilan akrab anak perempuan kedua Ibunda—mengambil ponsel dariku.


“Budhe, maaf. Bukan enggak sopan. Tapi, Adek sama Mbak lagi di jalan. Nanti kita sambung ya?”


Adikku tersayang, sungguh dia memang pintar membaca situasi.


“Nih!”


Adek menyodorkan ponsel ke arahku.


Kemudian, perjalan kami lanjutkan.


Setelah lima menit, motor yang ia beri nama Doraemonita—karena dia suka anime Doraemon dan dengan segala yang biru hingga stiker di motornya adalah gambar Doraemon, juga barang-barangnya yang mayoritas berwana biru. Dari biru laut hingga biru gelap—berhenti di parkiran salah satu tempat.


“Makan Pizza, yuk! Kita kan sesama gak puasa. Hehehe ....”


Aku tersenyum.


“Gak ah, dingin. Kalau situasinya normal, bisalah kena AC. Lah ini? Kita baru pulang dari Rumah Sakit tadi, kan? Mbak dilarang dingin-dinginan. Mandi aja mesti air hangat nih entar.”


Dia menepuk dahinya, “AC-nya gak pala dingin kok.”


Baginya memang tidak dingin. Dia anti panas. Tidak tahan kalau sudah panas. Jika terkena panas atau matahari sedikit saja, tubuhnya akan memerah dan gatal-gatal, bahkan sampai membuat bentol-bentol. Berbeda denganku yang tidak bisa dingin.


Setelah berpikir agak lama, ia mengeluarkan jaket dari jok keretanya, kemudian memakaikannya kepadaku, lalu ia merapikan jilbabnya dan jilbab kakaknya yang agak rusak karena terpaan angin.


“Nah ...,”


Ia tampak puas dengan ide yang sebenarnya tak membantu.


Digandengnya tanganku setelah itu. Ya, dia memperlakukan kakaknya ini persis seperti seorang kakak pada adik kecilnya. Lagi pula, badanku memang lebih mini darinya. Sambil bercengkrama, kami menuju gedung yang katanya tempat kuliner lumayan bergengsi.

__ADS_1


Pramusaji membukakan pintu dan menyapa kami dengan ramah, menunjukan tempat duduk yang kosong, kemudian mengantar kami. Ia menyodorkan buku menu yang entah dari mana, padahal tadi dia tak memegang buku menu. Entah memang aku yang tak melihatnya.


Adek As langsung memesan.


“Double chocolate, untuk Mbakku tersayang.”


Dia tertawa kecil sambil melirikku. Seakan ia sedang mengatakan kalau dia adalah orang yang paling tahu apa yang akan kupesan. Padahal semua yang mengenalku dekat juga tahu.


Setelah itu, ia melanjutkan, “Sepaket nasi Delight, minumnya yang coca-cola ... eh! Gak usah, eh iya deh ... sama Aqua ukuran sedang terus satu porsi reguler Pizza Honey Delight. Sama pasta ya, Kak.”


Aku tersenyum. Dalam hati menertawainya yang terlalu bersemangat. Awas saja nanti sampai tidak habis. Aku tak mau jadi partner-nya 'menyembunyikan makanan sisa'.


“Banyak kali pesananmu. Budget cuma 200 ribu loh.”


“Hehehe ... laper kali Adek, Mbak.”


Aku mengangguk. Terserah padamu saja.


Seperti halnya anak muda—bukan berati aku tua, kami beda 1.5 tahun saja—dia pasti akan membuat insta story, status WA, dan lainnya. Kegiatannya terhenti saat kukatakan bahwa ini bulan puasa, dan meski tidak puasa, adalah dosa memposting makanan dan ceramah lainnya.


“Iya, Buk Mei ... Ustadzah sejuta Adek! Hahaha ....”


Aku tertawa mendengar tawanya. Rasa dingin yang mendera tak kupikirkan. Bersama saudari muda memang selalu menyenangkan, apa pun tingkahnya dan celetukannya.


Sembari menanti pesanan, kami bercengkrama, ia meremas-remas telapak tanganku.


“Biar gak dingin,” katanya.


Aku menoleh ke arah kiri, tersenyum padanya. Kami duduk bersebelahan. Tempat duduk yang kami pilih adalah tempat yang bahannya sofa, bukan kursi seperti yang lain.


Tak berapa lama, pesanan datang. Meja kami penuh dengan berbagai menu. Kami mulai menyantap.


Rasakan itu!


“Mbak!” dia memanggil.


“Hm?”


Dia memberi kode dengan mata dan senyumnya. Aku paham tanda ini.


“Kan gak mungkin kita bilang bungkus? Lagian emang gak bisa kalo di tempat beginian.”


Makanya jangan makan di tempat begini. Sudah mahal, ribet lagi kalau tidak habis.


“Pizza-nya aja. Yang lainnya gak usah.”


“Hm!”


“Kan kebiasaan dari dulu. Hm teros ih!”


“Iya, santai aja. Lakukan aja aksimu.”


“Siap!”


Namun, saat ia akan mengambil Pizza dari wadah yang semacam mangkuk lesung (?) berwarna hitam, tak sengaja ia senggol sendok Pizza yang semacam alat penghalus semen yang biasa untuk bangunan. Entah apa namanya, aku tak tahu.

__ADS_1


Maka, terjatuhlah beberapa pizza ke atas meja.


“Ya Allah!!”


Aku menahan tawa, sementara dia sudah cekikikan. Semangat sekali dia hari ini. Mentang-mentang lamaran kekasihnya diterima penuh oleh ibunda kami.


“Mbak, tengok lagi. Adek mau naruh di tas ini Pizza-nya.”


“Iya loh.”


Setelah ia berhasil dengan aksinya. Kami memanggil pramusaji yang sama untuk meminta bon belanjaan.


“Semuanya 187.500 rupiah, Kak.”


Adek tersenyum lebar. Uang kakaknya ternyata cukup. Kurasa itu yang ada dipikirannya.


“Bayar di kasir aja, atau langsung, Kak?”


“Langsung boleh, kasir juga.”


Dia melihat meja kami. “Makanan yang gak habis, gak mau dibungkus, Kak?”


Aku dan adikku melempar pandangan dan senyum, tentu lebih arti.


Tahu begini, tak perlu sembunyi-sembunyi tadi.


“Gak usah, Kak.”


Kalimat itu serentak kami ucapkan.


•Sepucuk Surat•


Malu-malu bocah usia sepuluh tahunan itu memandang gurunya.


“Ada apa, Rino?” tanya sang guru.


“Rino dapat surat, Bu Sur.”


Bu Sur adalah nama panggilan sayang para murid kepada guru kelas lima dari anak didiknya. Ibu Suri, demikian panggilan mereka kepada wanita indo-Jepang tersebut.


“Surat cinta? Kau tidak boleh bermain cinta sebelum dewasa, Rin.” Ibu Suri menasehati.


Rino tertunduk. Yang tadinya ia berani menatap gurunya yang duduk di singgasana mengajar, jadi menunduk.


“Sini, mana suratnya?” pinta si guru penyuka warna ungu, selayak nama aslinya.


Ragu-ragu siswa itu memberi sepucuk surat yang diberi oleh anak perempuan balita pemilik kantin kepadanya. Takut gurunya marah.


“Rino!”


Rino lupa, guru kelas lima tahun ini adalah guru galak seantero sekolah. Padahal masih gadis, tapi soal kegalakan ibunya saja kalah.


Setelah pertarungan sengit antara guru dan murid, yang tentu saja itu penggambaran yang berlebihan ... akhirnya Rino memberi sepucuk surat tersebut.


Benar saja dugaannya. Wajah si guru memerah, pasti ingin marah. Sebab begitu tanda-tandanya.

__ADS_1


Guru tersebut meraih tas warna ungunya dan mengambil uang sepuluh ribuan. “Kasih ini ke ibu kantin, sisanya untukmu!”


Ternyata itu adalah sepucuk surat tagihan utang ibu guru kelas lima yang ada di kantin.


__ADS_2