
Menurutmu, definisi cinta itu apa? Apakah cinta itu hanya untuk lawan jenis? Ah, pertanyaan basi ala-ala sebuah fiksi pada umumnya. Baiklah, kuulang saja pertanyaannya. Menurutmu apa itu definisi dari mencintai sesama jenis? Tentunya ini bukan genre yuri seperti dalam animanga Jepun yang santer digandrungi oleh anak remaja Indonesia zaman ini. Jika dulu anak laki-laki tontonannya Samurai X-Aw! Kenshin Himura-atau Maitantei Conan alias Detective Conan, Pokemon, Doraemon, maka sekarang mereka malah suka anime hentai harem, seperti Sora no Otoshimono dan sejenisnya. Apabila dulu anak perempuan tontonannya Sailoor Moon atau Doraemaon, eh sekarang malah Junjou Romantica dan sejenisnya. Jangan tanya mengapa aku bisa tahu judul dari anime genre laknat itu. Wajar kalau bekas fujoshi bisa tahu. Maksudnya, dulu fujoshi dan sekarang sudah taubat dan mudah-mudahan nasuha.
Aha, kenapa malah mengomentari itu. Kembali ke topik utama.
Tidak dapat jawabannya atau malah tidak tahu jawabannya? Semoga kisah yang akan kuceritakan ini bisa membantumu mendapatkan jawaban.
Kisah ini tentang Charumitra dan Shubhadrangi. Merasa familier dengan kedua nama itu?
Sebelumnya, Charumitra dan Shubhadrangi adalah rival dalam hal apa pun, termasuk kecantikan. Padahal rupa mereka biasa-biasa saja. Asli Indonesia walau selalu mengaku-ngaku ada ketutunan India, Turki bahkan Tiongkok dan Korea Selatan. Jauh sekali, bukan? Mereka gila, memang demikian.
Sebentar! Kuyakin kau pasti menyangka ini kisah orang India karena nama mereka. Sudah kuduga, tapi jika kau melihat cover pict sebelumnya, maka kau tak akan berpikir begitu. Mungkin saja kau akan berpikir bagaimana kalau cerita ini lebih sampah dari sampah yang ada di pembuangan sampah? Jika aku mendengar pertanyaanmu ini, bukan aku sakit hati. Namun, aku akan membantumu untuk membully.
Bukankah sudah kukatakan, dua tokoh utama dalam kisah ini gila? Salah satu dari tokoh utama dalam kisah ini adalah diriku sendiri.
Di sini, takkan kuceritakan bagaimana Charumitra dan Shubhadrangi dahulu menjadi viral-eh rival maksudnya, tetapi hubungan setelah itu. Hubungan yang aneh selayaknya mereka.
"Boleh kupanggil kamu Dharma aja?" demikian tanya Charumitra padaku saat kami pulang bersama dari toko baju tempat aku bekerja paruh waktu di sela-sela perkuliahanku. Sementara dirinya pegawai tetap.
Aku tersipu. "Boleh," jawabku. "Tapi, kenapa?"
Kali ini, dia yang tersipu. "Kalau kubilang, pasti kamu gak bakalan percaya."
Aku panasaran, jalannya kublokir demi mendengar alasan yang membuatnya memanggilku begitu, padahal sudah kuizinkan dia memanggil demikian. "Bilang saja," kataku lembut.
Bisa kudengar dadanya bergemuruh. Padahal yang tengah ia hadapi bukanlah Samrat, kekasihnya.
"Karena kamu itu bagiku udah paket komplit, Dharmaku."
Alamak! Macam apa pulak ini. Akan tetapi, dadaku menghangat. Aneh sekali perasaanku ini.
Kami masih berada di jalanan, bukan mau ngamen apalagi mengemis. Seperti yang diinformasikan tadi, kami berjalan pulang.
"Bisa jelaskan lebih signifikan? Maksudku ...." aku menggaruk tengkukku karena merasa jengah. Jika ini anime, maka wajahku akan seperti Hinata kala berhadapan dengan Naruto. Merona dan tersipu malu.
"Uhm, aku mengerti."
Aku tersenyum lebar. "Seperti yang kukatakan Sebelumnya, kamu pasti nggak bakal percaya."
Kumenunggu sampai ia menyelesaikan kalimatnya. "Selama ini, aku belum pernah punya temen macam kamu. Kupikir kamu dulu nyebelin dan payah didekati. Kenarsisanmu kadang pengen buat aku muntah, tapi malah lama-lama aku ikut dalam kegilaanmu yang pernah kuhina dalam hatiku."
Aku menyeringai. Bukan hanya dia, seluruh temanku juga mengatakan hal senada. Apa yang kau lihat pada diriku awal perkenalan dengan apa yang kau lihat pada diriku jika sudah cukup akrab padaku adalah dua hal yang berbeda. Ibarat dua mata koin, berbeda tapi saling keterkaitan.
"Lalu kini?"
"Sekarang, aku malah kayak gak bisa lepas darimu. Bukan konteks yang negatif, tapi sehari tanpa kabar darimu rasanya kepalaku mau pecah!"
Aku tertawa. Dia merindukanku sebesar aku merindukannya. Tak pernah kukatakan aku merindukannya, dia yang sering berkata demikian. Namun, walau begitu, kami merasakan hal yang sama. Cintanya padaku sama besar dengan cintaku padanya.
Kalau dia gamblang menyatakan cinta, aku malah hampir tak pernah berkata kalau aku mencintainya, tapi bukan berarti tidak pernah.
Dibandingkan perkataan, aku malah lebih suka pada tindakan. Bukan aku menciumnya, jangam ngeres! Sudah kukatakan inu bukan genre xxx.
"Kok ketawa? Ini beneran loh."
"Charumitra, boleh kutahu apa bahasa mandarinnya kakak perempuan?"
"Jiejie,"
"Kalau adik perempuan?"
"Meimei."
Aku tersenyum mendengar jawabannya.
"Kenapa?" tanyanya.
Aku menarik pergelangan tangannya, "Ayo kita pulang, Charu Jiejie!"
Aku dan dirinya memang berbeda setahun. Aku tidak punya kakak, dan dia anak tunggal. Bukankah kami saling melengkapi?
Dia adalah kakakku dan aku adalah saudarinya, entah itu saudari muda ataupun saudari tuanya. Aku pastikan aku akan menjadi keduanya untuk Charumitra Abla (Kakak perempuan dalam bahasa Turki). Di satu sisi aku adiknya, di sisi lain aku juga kakak perempuannya.
Mulai saat itu, kami memiliki banyak nama panggilan lain.
Jika aku adalah Shehzadi Tamina, maka ia adalah Shehzadi Sofia. Apabila ia Zan Da (kalian harus membacanya dengan Zen Ta or Yen Da aku lupa karena aku tak pernah menyebut namanya lagi sejak ia menjadi kakakku) maka aku adalah Mei Yin. Jika ia Meltem maka aku Fatmagul (kalian harus membacanya Fatmagyul). Dia Song Rae Ah, dan aku Kim Ye Na or Nana (Karina). Dia Zanaka dan aku Mayutami or Mayumi.
Gila? Tidak, kami menciptakan dunia kami sendiri.
*****
Persahabatan itu bagai tabungan. Semakin lama maka akan semakin menyenangkan. Jika tabungan akan menjadi banyak, maka persahabatan akan semakin erat.
Apakah perumpamaanku begitu pasaran?
Aku mulai terbiasa dengan sikap irinya padaku, tidak begitu negatif. Aku bahkan senang, karena sisi keadikannya muncul. Adik-adikku juga kerap iri padaku. Ya, ini iri dalam konteks kakak dan adik, tidak ada yang salah, ini sebuah kewajaran.
"Maafkan jiejie yang labil ini, Mei."
__ADS_1
Aku sudah terbiasa dengan hal ini, "Tidak apa-apa, mei mengerti."
"Terima kasih. Karena kebijaksanaan mei inilah dulu jiejie manggil mei itu Dharma."
Aku tahu hal itu. Dia juga kerap mengatakan kalau aku lebih dewasa darinya.
Lihat, dia tak lagi ber-aku dan kamu. Jika kalian mengira, akulah yang memulai menuturkatakan panggilan kehormatan maka tebakan kalian benar. Sudah kukatakan sebelumnya, aku lebih kepada tindakan.
Sesekali aku ingin menjadi adiknya, dan aku pun menggodanya dengan rajukan dadakanku. Dan, voila! Dia memang menjadi kakakku. Dia akan terus membujukku meski ia tak tahu di mana letak salahnya.
"Jiejie ada salah ya, Mei? Mei kan udah janji kalau kita ada masalah langsung bilang, gak ada main diem-dieman gini."
Dia-jiejie-ku-paham sekali jika kediamanku adalah letak kemarahanku.
"Jiejie minta maaf kalau ada salah. Jiejie gak tau di mana salahnya jiejie. Mei tahu sendiri, aku gak pekaan orangnya."
"Jika Eounnie rasa tidak ada salah, kenapa Eounnie minta maaf?" tanyaku dingin.
Kami tengah duduk di meja kasir. Kasir toko memang ada dua, dan kami berdua adalah penjaga kasir. Meja kami juga tak begitu berjauhan.
"Tapi Eounnie rasa kamu beda, kayak ngehindar gitu," ujarnya lagi dengan aksen jawa yang kental.
Sebenarnya memang ada rasa kesal padanya yang tak akan mungkin kuberitahu pada kalian, tapi sudah kuberitahu padanya.
"Onee-chan tenang saja, nanti kalau aku sudah agak tenang, aku pasti kembali lagi jadi Hime-mu kayak biasa."
Aku menjanjikannya agar ia tenang.
Kulihat ia memang tenang, tak lagi segelisah tadi.
Panggilan kami kian bertambah. Maknanya sama, Kakak dan adik.
Jiejie-Meimei. Onee-chan-Imouto atau Hime-chan terkadang. Eounnie-Yeodongsaeng.
Panggilan Asia Timur semua. Namun kami lebih sering menggunakan Jiejie dan Meimei.
*****
Pernah suatu ketika seseorang yang sedikit jail berkata begini padaku,
"Mungkin kalau dalam per-yuri-an, kau itu seme dan dia uke."
Cih! Aku tak menyangkal kalau sebelumnya aku adalah seorang fujoshi, tapi untuk hubungan yang dilaknat oleh agamaku tentu saja kujauhi. Na'udzubillah!
"Why, Lady? Jealous?" tanyaku padanya menantang.
Tentu saja aku ingat, tak cuma dia, banyak yang bilang begitu. Aku tak lagi heran. Bahkan ada yang terang-terangan melamarku, "Kita bisa menikah di luar negeri, " begitu kata perempuan kelainan orientasi itu padaku. "Sorry, Miss. I am straight!" kataku saat itu.
Dia nampak kecewa. Pikirnya aku seorang lesbian hanya karena sepuluh teman wanitaku berkata ingin sekali menikahiku jika saja aku laki-laki.
Baik, kembali ke topik. "Lalu?" tanyaku.
Kami berada di pelataran kampus saat ini.
"Boleh gak sih aku iri dengan kedekatanmu sama teman kerjamu?"
Aku tertawa nyaring. "Boleh, asal sehat aja."
"Kenapa sih kau itu menarik? Aku kan repot kalo misalnya kau dekat ama yang lain, ama Pia, ama Kazia, ama Isun, ama Ros, ama yang lain. Apalagi ama si rekan kerja! Repot nahan kesal."
"Mungkin kau sudah mulai membelok," candaku.
Teman-temanku yang lain-baru saja tiba dan mendengar pembicaraan kami-tertawa mencibir Nuri-temanku yang tadi.
Kadang aku berpikir, apa yang membuat mereka tertarik padaku? Kuberitahu saja, aku ini frontal dan bicara sesuka hati tanpa peduli pendengar itu senang atau tidak dengan perkataanku. Aku orang yang payah berpura-pura lemah lembut.
Aku juga tidak kenal rasa takut. Jadi intinya, kalian jangan pernah mengharapkanku bisa berbicara sampah-manis diluar tapi di dalam beda lagi-dan memuji kalian jika memang kalian tak pantas mendapatkan pujian itu.
Aku tidak sebaik yang kalian pikir, aku ini ... tipe tsundere, katanya. Aku juga selalu ingin memimpin dan tidak menolak jika dipimpin. Pahamilah maksud kalimatku.
Kadang-kadang juga egois, aku tipe meledak-ledak dalam mengungkapkan perasaan. Aku tidak suka make up, lebih suka membeli buku daripada baju. Namun, aku masih masuk dalam jajaran gadis fashionable dalam gank-ku.
Oh, ibuku itu Ratu Fashion! Lagi pula, aku bekerja paruh waktu di toko baju, masa iya pakaianku tidak ikut trand.
Berbicara tentang toko baju, aku harus cepat sampai di sana. Hari ini toko ramai, begitu kata Jiejie di pesan tadi.
"Aku gak bisa lama, aku pamit ya, Ladies!"
Setelah mendapat izin mereka, aku langsung melesat cepat menuju toko tempatku bekerja. Tak jauh dari unuversitas, berjalan kaki dua puluh menit pun sampai.
Mula-mula kubuka pintu toko. Tampaklah Charumitra yang sedang menulis catatan.
Kuucapkan salam dan ia membalas salamku. "Sudah makan, Jie?" tanyaku.
"Jiejie mau diet."
Aku mendekati mejanya. "Meimei bawakan makanan favoritnya jiejie loh."
__ADS_1
Senyuman yang semringah menghiasi wajah bundarnya. Aku tersenyum tak kalah lebar.
"Doi tadi ngirim pesan ke Jiejie. Katanya kita yuri, kita gila dan apalah apalah tadi."
Tangannya cekatan membuka bungkusan yang kubawakan.
"Who?" tanyaku sembari melewati mejanya untuk menuju mejaku.
"Devraj."
Aku tersentak. "Kami putus!" kataku ringan.
"Hah? Kenapa? Apa gara-gara doi ngira kamu yuri? Bodoh! Kemarin cemburu gak jelas, sekarang malah-"
"Bukan!" potongku cepat. Dan kemudian aku menceritakan hal sesungguhnya dari alasan mengapa berakhirnya hubunganku dengan kekasihku itu berakhir, yang lagi-lagi hanya dia saja yang berhak tau alasannya, tak akan kuceritakan di sini. Lagi pula, ini kisahku dan Charumitra, bukan dengan mantanku itu.
Ia memberikan senyuman prihatinnya kepadaku. "It's okey, belum jodoh."
Aku ingin berpura-pura tidak apa-apa, tapi tidak bisa. Aku menangis karena putus cinta. Alasan menangis paling hina yang pernah ada di muka bumi ini adalah menangisi laki-laki yang bukan siapa-siapa kita, maksud bukan siapa-siapa adalah, dia bukan muhrim kita dan tidak ada hubungan kekerabatan.
"Kalau perlu sandaran bahu, jiejie gak keberatan minjeminnya."
Aku langsung memeluknya.
"Ah palingan juga dia bakal nyesel. Semoga dia dapat pengganti yang jelek dan buruk rupa dan hati."
Aku tertawa, doanya jelek sekali. Namun, aku berharap doa itu benar-benar terjadi.
Hey, kami-Dharma Shubhadrangi dan Charumitra-adalah partner in crime.
"Bagaimana dengan Samrat? Kapan kalian menikah?" aku bertanya sembari melepaskan pelukan kami.
"Mei, ada yang mau jiejie bilang sama Mei,"
Kemudian ia menyerahkan beberapa lembar foto padaku.
Mataku membelalak, terkejut tentu saja. Kupandangi foto dan dirinya, mataku sudah berkaca-kaca.
"Licik!" cibirku.
Mata kami kembali berair dan lagi-lagi berpelukan. Ah, sudah seperti Teletubbies saja.
Hanya kami yang tahu apa yang terjadi. Ini sudah menjadi kode etik. Rahasia tetaplah rahasia.
*****
Hubungan kami merenggang akibat beberapa pihak dan salah pengertian. Aku tak menyalahkan mereka, akulah yang salah harusnya tak perlu aku memercayai mereka yang menaburkan minyak. Atau tak perlu aku ikut terbakar karena hal itu. Aku tak akan mengatakan alasan mereka atau apa yang mereka katakan padaku. Tidak akan, rahasia tetap rahasia bagiku. Walau mati, tak akan kubocorkan.
Si bodoh Dharma Shubhadrangi membuat jurang pemisah di antara dirinya dan kakaknya. Untuk alasan yang sensitif, alasan yang seharusnya seorang Dharma Shubhadrangi dapat menyelesaikan dengan kebijaksanaan dan kedewasaan. Namun, gadis penggila warna ungu tersebut malah memperkeruh. Jika biasanya ia dapat dengan mudah memengaruhi, hingga seniornya berkata bahwa pekerjaan yang cocok untuknya adalah seorang diplomat. Maka kini, ia terpengaruh oleh satu kalimat yang membuat hubungannya dan kakak perempuannya renggang. Aku tak akan bilang apa itu.
Namun, saudari tetaplah saudari. Logikamu akan kau tenggelamkan ke dasar samudra Hindia jika menyangkut cinta. Tentunya cinta pada siapa pun. Cinta pada ibu, ayah, ataupun saudara-saudaramu atau siapa saja.
Aku malu mengakuinya, tapi aku benar-benar menangis. Pesannya yang memilukan itu pemacunya. Ya Allah, sekeji itukah sikapku?
Tentu saja keji. Kejam adalah namaku, rival-rivalku dulu memberiku dengan julukan, "Si Kejam yang menakutkan."
Beberapa temanku bahkan mengatakan aku lebih horor dari film horor. Namun, jika itu dalam keadaan marah.
Di kamar tidur aku merenunginya. Pesannya sama sekali tak kubalas, kecuali salam. Salam itu wajib dibalas. Pada siapa pun aku marah, tapi jika salam, aku tak bisa mengabaikannya begitu saja.
Aku ingin membalas pesannya dan mengatakan bahwa tuduhannya tidaklah benar. Aku ingin mengirim pesan bahwa aku sama rindunya dengan dirinya. Aku sama-sama menangis dalam sujudku.
Apa ini? Kenapa rasanya sakit sekali? Ini bukan yuri tapi sisterhood. Kenapa aku susah bernapas ketika kutahu dia merasa aku marah padanya? Kenapa aku juga tidak bisa tidur nyeyak ketika kami belum menyelesaikan kesalahpahaman kami? Kenapa aku begitu mencintai dirinya? Kenapa aku merasa tidak tenang dengan jurang pemisah ini?
"Kembalilah seperti meimei-nya Zanaka, Himeka."
Pesan itu dikirimkan oleh sahabat baikku yang netral dan paling tulus menyayangiku.
Dia tahu, meski aku dan kakakku itu sering beda pendapat dan kadang terlibat pertengkaran kecil, tapi kami saling membutuhkan. Membutuhkan di sini adalah hati.
Kami membutuhkan hati masing-masing. Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku.
Aku meneleponnya, tak diangkat. Ah, apa kami bergantian merajuk? Pikiran konyol itu hinggap begitu saja. Aku meletakkan ponselku.
Beberapa menit kemudian, paggilan atas nama "Jiejie Eounnie" menghiasi layar ponselku.
Aku ragu-ragu menjawabnya.
Ah, aku takkan memberitahukan apa saja yang kubicarakan dengan dirinya. Namun, ia berkata, "Teleponan sama kamu lebih mendebarkan daripada dengan Samrat. Lebih buat deg-degan."
Hal itu langsung membuatku tertawa ngakak. Canggung tak ada lagi.
Singkatnya masalah kami selesai meski ia menanyakan apa masalahku sampai sedemikian rupa. Aku berjanji kapan-kapan akan kuberitahu. Dia mengatakan bahwa malam ini tidurnya akan kembali nyenyak.
Sekarang aku yakin kalau aku sama pentingnya dalam hidup kakakku itu. Sekarang aku harus kembali, aku merantau sudah terlalu jauh hingga kutinggalkan masa-masaku dengannya.
Dia mencintaiku dan aku mencintainya. Cinta seperti ini memang ada. Bukan sebuah kelainan orientasi. Kami hanya terserang cinta yang teramat besar pada saudari kami, walau bukan kandung.
__ADS_1