RAMPAI

RAMPAI
Mahabbah (2)


__ADS_3

Seminggu yang lalu, Ayah Isamu, yakni Hanasaki Osamu marah besar ketika putra bungsunya memutuskan untuk memeluk Islam. Isamu boleh tak beragama asal jangan memeluk Islam yang membenci ritual menyembah matahari, ajaran agama Shinto. Setidaknya, Isamu boleh memeluk agama yang lain asal bukan islam karena lebih diberi keringanan. Namun Islam, ayahnya paling tidak bisa menerima. Karena agama Islam itu tidak membolehkan semua kesenangan dunia, menurutnya.


Sake saja mereka larang. **** dan segala yang membuat senang. Lagi pula, Islam adalah kaisar ******* terbesar dunia. Demikian pemahaman Osamu mengenai Islam.


"******* Arab mana yang telah memengaruhimu, Anakku?"


Ayahnya berdiri angkuh di samping sofa ruang tamu mereka, lalu ia mengeluarkan sebuah serbuk putih dari plastik mini dan sesekali menyesap barang haram yang diselundupkan dari negri tirai bambu.


"Astaghfirullah, Otou-sama!!" Isamu memandang nanar ayahnya yang berkacak pinggang menatap tajam dirinya. "Aku memeluk Islam atas kesadaranku."


Berang, Osamu menarik kerah baju Isamu yang masih mempertahankan keyakinan barunya.


"Kau akan menyesal!"


"Wahai ayahku sayang, semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan mendoakan ampunan bagimu pada Tuhan yang Haq. Sesungguhnya Dia sangat baik kepada umat Muhammad, kepada makhluknya, Ia begitu sayang."


"Sebegitu kecewa dan bencikah kau kepada Amaterasu omikami-sama, Isamu?!"


Osamu mendorong tubuh Isamu hingga pria itu jatuh terjerembap.


"Ayah, janganlah terperdaya pada hasutan setan. Sesungguhnya Amaterasu dan semua yang dianggap Tuhan oleh umat selain Islam bukanlah ilahi. Janganlah ayah menjadikan setan sebagai auliya. Sesungguhnya mereka adalah musuh yang nyata bagi manusia."


Isamu kembali bangkit dan menyentuh lengan ayahnya.


"Berani sekali kalau menasehatiku dan menceramahiku, Isamu!" seru Osamu sambil menepis tangan putranya. Serbuk mahalnya jatuh tercecer.


"Jika kau tidak juga berhenti mendebatku, kupastikan kau akan menerima cambukan paling mematikan! Silakan tinggalkan aku selamanya jika kau tetap memilih Tuhan Islam!"


Telunjuk Osamu mengarah tepat ke wajah anak bungsunya tersebut.


"Tuhan langit dan bumi, Tuhan segala yang ada di bumi dan langit, Ayah. Bukan Tuhan Islam, tetapi Tuhan kita semua. Tuhan Iblis, manusia, hewan dan manusia. Bahkan Tuhan dari Tuhan agama lain. Kukenalkan namanya pada ayah. Dia adalah Allah yang memiliki sembilan puluh sembilan sifat yang mulia! Allahu Akbar!"


"Isamu!!!"


Ayahnya berteriak kalap, dan saat itu juga kepalan tangan pria itu mendarat di wajah Isamu.


"Kau bukan lagi Hanasaki! Kau bukan bagian dari kami!" teriaknya.


Malam sunyi nan gelap menjadi saksi atas pengusiran seorang ayah pada anak kesayangannya. Anak yang lebih memiliki agamanya daripada baktinya pada sang ayah.


"Benar. Kerabatku memang hanya yang sekeyakinan denganku. Namaku mulai sekarang adalah Ahmad. Ahmad Isamu!"


Suara tamparan terdengar jelas. Pipi Isamu memanas karena terkena tamparan maut dari kakak laki-lakinya. "Aku bisa saja membunuh gadis kecil itu, Isamu! Kau tahu siapa aku, bukan?"


"Wallahi, aku memeluk Islam bukan karena siapa pun! Aku memeluk Islam karena hidayah dan tuntunan Allah!"


"Persetan!"


Ketika Ryuga, kakaknya tadi kembali ingin menghajar Isamu, ayah mereka menghentikan. "Biarlah, ada saatnya dia merengek meminta kembali nanti. Dia hanya masih dimabuk asmara."


Isamu tersenyum miris. Dia berpikir, apa yang kurang jelas dari pemaparannya tadi? Bukannya sudah jelas ia takkan mundur menjalani hidup sebagai seorang muslim? Namun, yang menjadi gangguan dalam pikirannya adalah: bagaimana kakak sulungnya bisa tahu mengenai Khadijah yang ia sebut gadis kecil tersebut?


*


Di malam yang sunyi, di malam yang esoknya adalah hari agung umat Islam, Khadijah beribadah kepada Tuhan langit dan bumi. Ia mendirikan salat istikharah dan dilanjutkan dengan membaca surat Al-Kahfi sesuai yang dianjurkan. Setelahnya, ia berdoa pada Tuhannya dengan suara yang lembut.


Dia berkata, "Wahai Tuhanku, sungguh aku tidak bisa memutuskan tentang hidupku kecuali Engkau turut andil di dalamnya dengan memberi petunjuk."


Aku belum pernah kecewa dalam meminta sesuatu pada-Mu, ya Allah ya Tuhanku. Dan sungguh aku khawatir terhadap fitnah akibat lamaran seorang pria yang tidak diketahui apakah ia baik untukku atau malah sebaliknya."


Sesungguhnya hanya Engkaulah yang maha tahu, wahai Tuhanku."


Rabbiij 'alliiiii aa yah. Ya Tuhanku, berikanlah aku tanda."


Setelah selesai menyelesaikan doanya, Khadijah kembali menuju ranjangnya dan melanjutkan tidurnya yang hanya tersisa sejam lagi karena harus sholat fajar, sholat subuh.


*


"Jangan kau menerima pria kafir itu sebagai suamimu, Khadijah. Dia orang yang tak mencintai Allah. Jika Allah saja ia tinggalkan apalagi kamu."


"Dia bukan kafir. Dia muallaf, Gege.¹"


Laki-laki itu menatap lekat Khadijah, adiknya sewali, seayah. "Kafir memiliki cara untuk menjauhkanmu dari Allah, Mei.²"


Jangan lupakan kasus di negeri ibu Shofiyah. Banyak yang murtad karena salah pilih suami. Suami yang pura-pura memeluk Islam, tetapi akhirnya malah dia yang menarik si istri pindah keyakinan. Kamu mau murtad juga?!"


"Na'udzubillahiminzalik."


Dialog bersama kakak laki-lakinya itu terus terngiang di benak Khadijah. Benar, banyak kasus di negeri ibundanya yang murtad karena suaminya yang katanya muallaf, tetapi setelah menikah atau punya anak ia kembali ke agama dan turut pula membawa istrinya. Murtad berjamaah. Namun, kasus ini sungguh berbeda. Isamu lebih dulu memeluk Islam, kemudian melamar. Sementara kasus di negri ibunya, mereka melamar, kemudian beberapa waktu sebelum akad, barulah bersyahadat.


Ketika ia tanyakan itu pada kakaknya, maka pemilik nama Ma Sung Yu itu menjawab, "Itu hanya taktik. Jangan lupakan bagaimana taktik mereka dulu menjajah. Bukan cuma negri ibu Shofiyah, negri ibuku Dilraba juga mereka jajah!"


Sungguh suami dari kakak iparnya itu memusuhi kafir sebegitu parahnya karena kelakuan mereka yang semena-mena menuduh Islam adalah agama *******.


*


Fatma menatap sendu kawan karibnya yang kini tengah sibuk sendiri dengan segala pikirannya. Calon pelamarnya sudah lebih dulu ditolak kakaknya. Flat sederhana milik Fatma menjadi latar aksi galauan gadis keturunan Jepang-Indonesia.


"Saat kita melibatkan Allah dalam semua urusan kita, percayalah ... kita tidak mungkin dikecewakan."

__ADS_1


Demikianlah Fatma menghibur. "Apa yang kau dapat ketika beristikharah, Khadijah?"


"Allah menjawabnya dengan sebuah tanda. Di mataku ini, selalu terlihat Isamu ji-san, Fatma."


Fatma menghela napas, "Sudah fix ya rupanya? Ya sudah, terima paman itu."


"Enggak segampang itu kali. Gege enggak ngizinin. Dengan alasan kasus seperti di Indonesia yang banyak murtad itu loh."


Fatma mengangguk. Ia memahami ketakutan Sung Yu. Akan tetapi, dia juga ingin memberi solusi pada kawan baiknya yang sudah ia anggap sebagai saudari.


"Katakan saja, bahwa ayahmu sebelumnya juga seorang Nasrani Jepang, dan ketika menikah dengan bibi Dilraba memeluk Islam hingga kematiannya. Sempat menikah dengan ibu Shofiyah pula, dan punya anak perempuan, kau. Hingga maut, paman Jalaluddin Jun tetap mempertahankan Islam. "


Wajah Khadijah jadi semringah. Ia tidak terpikir sampai sana karena saking banyaknya yang ia pikirkan.


"Fatma, Ukhti ... I love you!"


Khadijah memeluk erat sahabat perempuannya, yang dibalas "Semoga Allah melimpahkan cinta untukmu sebagaimana engkau mencintai diriku." oleh Fatma.


******MAHABBAH******


Isamu meninggalkan rumahnya, dan bertemu dengan Khadijah di pelataran masjid, kemudian ia melamar si gadis. Jawaban si gadis membuatnya merasa senang sekaligus gugup.


"Temuilah Kakak laki-lakiku, dia adalah waliku. Jika memang serius, mintalah aku darinya."


"Aku akan datang menemui kalian,"


Begitu katanya ketika itu.


Dan hari ini, tibalah saatnya Isamu datang berkunjung sesuai yang disepakati oleh kedua pihak. Bertemu di rumah Ma Sung Yu.


Kakak Khadijah tidak menyangkan bahwa laki-laki yang bahkan lebih tua darinya itu akan mengajukan lamaran pada adiknya.


"Aku akan menerima lamaran Anda jika Anda bisa membacakan Al-Kahfi di depanku. Arab dan terjemahannya. Hapalkan!"


"Aku menyediakan Ar-Rahman untuk adik Anda, Yu-san."


"Perdengarkan padaku Al-Kahfi, maka aku akan menikahkan kalian saat itu juga!"


Muallaf sepertinya tentu saja belum begitu memahami bacaan Arab. Ar-Rahman bisa ia hapal berbekal rekaman murotal seorang ustadz asal Indonesia yang suaranya lembut dan terasa sedap didengar pada telinga Isamu.


"Baiklah," katanya kemudian. "Berikan saya waktu untuk mempelajarinya."


.


Setelah kepulangannya dari rumah kakak dari gadis yang ia inginkan, ia mencari seorang guru ke masjid-masjid di seluruh Tokyo. Pekerjaannya untuk sementara ia tinggalkan. Ia berpegang teguh pada janji Tuhannya. Yaitu: Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.


Tujuan menikah Isamu juga mulia. Ia hanya ingin lebih dekat kepada Allah, Tuhannya. Ia ingin lebih mengenal sang Khalik dari istrinya yang memang telah mengenal Allah, Muhammad dan Islam lebih dulu.


Kemudian di siang hingga sore hari ia akan bekerja sebagai pengantar susu. Di usianya yang tidak lagi muda, sekitar tiga puluh tiga tahun, ia harus jadi pengantar susu. Ia tidak lagi menggambar dan menulis sebagai profesinya. Ia tidak lagi seorang mangaka atau penulis cerita fantasi yang melibatkan setan dalam cerita itu.


Tujuannya adalah mengharapkan keridhaan Tuhan semesta alam. Ia tidak mau diazab di akhirat nanti. Ia teringat perkataan seorang da'i yang membuatnya bergetar ketika kalimat itu diucapkan.


Celakalah bagi orang yang tahu itu adalah sebuah kesalahan, tetapi ia masih pura-pura tidak mengetahui dan tak acuh. Celaka juga bagi orang yang sudah diberitahukan, tetapi ia ingkari. Celakalah mereka, celakalah mereka! Sesungguhnya mereka akan bersama iblis di Jahannam!


Menjadi seorang muallaf bukanlah perkara mudah. Setiap malam pula ia meminta kepada Allah untuk diteguhkan imannya.


Ya Allah, wahai Tuhanku, berilah aku Rahmat dan sempurnakanlah bagiku petunjuk dalam urusan.


Dia tidak pernah lelah meminta pada Tuhannya. Ia meyakini bahwa Tuhan yang maha pemurah dan penyayang akan menyertainya dan membantunya. Sungguh, janji Allah itu pasti ditepati. Tak pernah ia ragu akan hal itu.


.


Suatu ketika, saudara jauhnya dari Korea Selatan datang mengunjunginya. Kabarnya, ia tahu tempat tinggal Isamu karena diberitahu oleh Ryuga, si Yakuza paling berbahaya di Jepang. Lee Tae-gyeon namanya. Dia pun seorang ateis, yang kabarnya adalah satanic, Freemason. Tae-gyeon sendiri adalah seorang kepala polisi di Incheon, dan sedikit rasis seperti kebanyakan orang Korea Selatan.


"Bagaimana mungkin orang-orang jelek dari Indonesia bisa menarik minatmu, Hyung³! Aku bisa carikan perempuan yang lebih dari dia, yang tidak akan merenggut kebebasannmu."


Orang-orang muslim itu memang pemaksa. Mereka memberi syarat masuk ke dalam agama mereka jika ingin menikahi perempuan mereka! Apa ini yang namanya damai?"


Isamu mengerutkan dahinya. Pastilah sepupu jauhnya ini termakan oleh omongan kakak laki-lakinya yang tentu saja salah besar.


"Aku lebih dulu memeluk Islam sebelum melamar dirinya. Dan ya, Islam memang agama cinta dan damai. Lihatlah dengan mata hatimu, wahai Pemuja Mata Satu!"


Tidak terima akan perkataan frontal Shinsuke, Tae-gyeon memakinya dengan "Umat Muhammad si tukang sihir dan tukang kawin!"


Isamu membalas dengan mengatakan bahwa lebih mulia berpoligami karena halal dibandingkan melakukan **** bebas dengan banyak perempuan. Seakan itu sangat menyindir Tae-gyeon yang memang hobi berzina, tidak hanya dengan kekasihnya tetapi juga perempuan pezina lainnya.


Isamu juga meluruskan bahwa si tukang sihir sebenarnya adalah para pemuja mata satu. "Kau tidak bisa membuktikan bahwa Baginda Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam adalah tukang sihir, dan takkan bisa karena itu sejelek-jeleknya dusta! Tapi Islam? Islam bisa membuktikan bahwa pemuja mata satu adalah sesat!"


Lee Tae-gyeon menyeringai kejam. Ia adalah manusia yang tidak berperasaan. Bukannya Isamu tidak tahu bahwa skandal Tae-gyeon sebenarnya telah diketahui oleh ayahnya sendiri, gubernur salah satu kota di Korea Selatan.


Aib Tae-gyeon ayahlah yang menutupi, tapi karena kuasa Allah, Isamu tahu kebenaran sejak enam tahun lalu. Sejak ia ditugaskan ayahnya untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian Korea untuk membantu mengusut kasus kematian para wanita yang misterius. Leher yang tergorok kuku tajam atau semacam wakizashi. Dan jasad mereka tak pernah ditemukan karena dijadikan tumbal oleh para Freemason.


Atas nama baik keluarga, mereka menutup kasus. Maka sejak saat itu Isamu berhenti dari kepolisian. Ia merasa mengkhianati tugasnya. Enam tahun lalu ia resmi mengundurkan diri dan bekerja sebagai penulis di sebuah agensi. Bakat menggambar juga ia kuasai. Jadilah ia masuk ke dalam salah satu mangka sekaligus penulis yang ada di Jepang. Ia mengenali Iluminati dari sana. Ia banyak membaca dari kitab-kitab terdahulu bahkan Injil yang belum banyak direvisi bahwa Iluminati adakah musuh dari agama Islam dan Nasrani. Injil menyebutnya Antikristus sementara Islam menamainya Dajjal si Al-Masih palsu, Al-Masih Ad-Dajjal. Kedua versi setuju jika makhluk itu wajib diperangi dan akan datang nanti sebelum kiamat, dan Isa Al-Masih yang akan membunuhnya, atau pada Nasrani menyebutnya Jesus Christ.


Mulai saat mengetahui inilah hatinya seakan diketuk. Ditambah pertemuan dirinya dengan mahasiswi yang menambah rasa ingin mencari kebenaran tentang adanya Tuhan.


"Tuhan itu tidak ada, Hyung. Kamilah yang menciptakan fenomena di dunia."


"Kalian menciptakan HAARP, dan semua ulama Islam tahu tujuan itu."

__ADS_1


Seringaian Tae-gyeon semakin menyeramkan. Dia adalah salah satu psikopat yang berbahaya dari Asia.


"Mintalah pada Tuhanmu untuk menyelamatkan gadismu. Bisakah dia? Hahahaha,"


Isamu menggeram. "Kubunuh kau jika terjadi sesuatu padanya! Aku tak peduli meski kau kekasih sahabatku!"


Tae-gyeon bersorak dalam hati, hingga senyumannya dapat dilihat karena kelewat lebar. Memancing mantan ateis memanglah mudah. Dia yakin, bahwa Shinsuke bukan mencintai Allah tetapi gadis muslimah yang sering terlihat bersama temannya di beberapa tempat di sudut kota Tokyo. Namun, senyuman itu kembali luntur ketika Isamu menambahkan kalimat lain, "Dengan izin Allah!"


Lee Tae-gyeon telah kalah membawa Isamu pada kesesatan. Namun, ia takkan menyerah. Kali ini, ia biarkan Isamu, tapi tidak untuk selanjutnya.


*


Doa, usaha, dan tidak berprasangka buruk kepada Allah akan membuat semua urusan menjadi lancar. Maka benarlah janji Allah bahwa barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka ia akan mendapat ganti yang lebih baik dari yang ia tinggalkan. Ia tinggalkan kekafiran, Allah berikan ia kekuatan untuk menjalani kerasnya cobaan. Ia tinggalkan pekerjaannya, Allah gantikan dengan pekerjaan yang halal, dan cukup baginya. Ia tinggalkan keluarganya demi keimanan dan Tuhannya, Allah gantikan keluarga baru yang ia inginkan.


Sungguh Allah maha membolak-balikkan hati. Keluarga Khadijah memintanya datang dengan mahar dan seperangkat alat sholat untuk menikah.


"Sesungguhnya aku belum bisa menghapal Al-Kahfi beserta terjemahannya, apakah waktuku telah habis untuk itu?" tanyanya pada saudara laki-laki Khadijah.


"Menikahlah dengan Khadijah Gulzaarani binti Jalaluddin Jun. Aku membebaskanmu dari hapalan itu."


Mata Isamu berkaca-kaca. Katanya, "Suatu saat aku akan membayar utangku, Yu-san."


Mereka tertawa, termasuk Madina kakak ipar Khadijah.


"Akan kupanggilkan Khadijah," katanya.


Kemudian ia beranjak dari duduknya dan tak lama membawa serta Khadijah yang terhias manis.


"Aku bukan tiba-tiba memberikan adikku padamu, tapi aku hanya tak ingin mendurhakai ayat Allah. Karena siapa saja yang mendurhakai ayat Allah walau satu ayatpun, maka kafirlah!"


Khadijah tersenyum. Ia paham, ayat mana yang dimaksud oleh kakaknya. Isamu tidak tahu atau lebih tepatnya belum tahu ayat apa yang dimaksud, tapi jika ia sudah menikah nanti, akan bertanya Khadijah.


Hikmah dari itu, Isamu semakin yakin, bahwa Al-Kitab Al-Qur'an benar-benar mukjizat yang nyata sejak dahulu hingga sampai ke era modern. Bertambah cintalah ia kepada Allah dan Rasul-Nya.


*


Sebaik-baiknya perempuan adalah yang maharnya mudah. Tidak menyusahkan mempelai pria. Isamu memberi sebuah kalung emas seberat 5 gram sebagai mahar bagi Khadijah.


Pernikahan mereka memang dilangsungkan secara sederhana. Beberapa kerabat dekat Khadijah, teman akrab Khadijah seperti Fatma, Umar, Hafshah, Khalid, Zainab, Usman dan teman muslim lainnya yang dari Indonesia turut menghadiri juga.


Saat di kamar pengantin, Fatma menggoda Khadjah dengan celetukannya, "Ternyata benar ya, romantis itu bukan saat dia memberimu mawar dan cokelat, tapi saat dia memberi mahar dan seperangkat alat sholat. Ahaiiii!"


"Fatma!" Khadijah berseru kecil sambari mencubit pinggang Kavya.


Karena tindakan Khadijah itu, Fatma meringis menahan rasa nyeri di pinggangnya.


"Kapan ya aku nyusul?" tiba-tiba pertanyaan jomlo meluncur begitu saja tanpa bisa dicegah. Dia juga ingin dihalalkan secepat mungkin, ikut sunnah katanya.


Khadijah tersenyum. Ia tahu kalau sebenarnya Fatma memendam rasa sukanya pada Umar. Fatma mencintai Umar dalam diam. Tangan Khadijah yang terhias inai menggamit tangan Fatma. Pandangan mereka beradu di atas ranjang pengantin.


"Sekarang, mungkin kau mencintainya dalam diam. Layaknya cinta seorang Fathimah kepada Ali. Mungkin sekarang bagimu memilikinya adalah ketidakmungkinan, seperti Ali terhadap Fathimah."


Tapi, saudariku ... bukankah Allah begitu mudah membolak-balikkan sebuah hati? Ayo, lebih dekat lagi pada Allah. Hati manusia hanya milik Allah, maka serahkan semua pada Allah. Yakinlah Allah punya cara yang indah untuk menyatukan hati yang mengharapkan ridha-Nya "


Fatma tersenyum tenang. Sungguh indah persahabatan yang dilandasi karena iman. Imanlah yang takkan menyesatkan, sebaliknya ia akan menenangkan. Sebaik-baiknya teman adalah teman yang mengajak pada kebaikan.


Teman adalah cerminan dirimu. Temanmu menggambarkan siapa kamu dan level keimananmu. Maka, diwajibkan bagi semua umat Muhammad memilih teman secara bijak.


*


Isamu memasuki kamar pengantin setelah Fatma keluar dari peraduan Khadijah yang sering ia kunjungi, tetapi mungkin untuk seterusnya ia takkan bisa lagi sesuka hati untuk keluar-masuk kamar sahabatnya ini.


Ia duduk bersebelahan dengan Khadijah. Di atas ranjang yang dipenuhi kelopak mawar merah dan putih. Isamu menyandarkan kepalanya pada bahu Istrinya. Diperlakukan seperti itu, membuat rona merah menjalari pipi sahabat Fatma. Degup jantungnya juga tidak beraturan.


Perlahan, Isamu juga melepaskan kerudung yang melekat di kepala Khadijah. Ketika dibuka, tampaklah rambut panjang nan halus lagi hitam dan wangi milik Khadijah. Mata pria itu berbinar, sungguh indah istrinya ini. Wajahnya yang kawaii juga membuatnya tak henti bersyukur telah diberikan jodoh oleh Allah yang dia idamkan.


"Terima kasih sudah mau menerimaku yang mantan kafir ini."


Khadijah memandang tepat ke mata suaminya. Ia kurang senang dengan diksi "mantan kafir" yang baru saja suaminya katakan.


"Jangan pernah katakan kalau Anda adalah mantan kafir. Anda adalah muallaf! Muallaf digambarkan seperti bayi yang baru lahir, mereka dibebaskan dari dosa terdahulu yang mereka lakukan sebelum memeluk Islam."


Anda adalah suamiku. Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam pernah bersabda yang kira-kira isinya: Jika diperbolehkan menyembah manusia niscaya aku akan menyuruh kalian menyembah suami. Tapi tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah."


Tidakkah Anda merasa kedudukan Anda begitu tinggi? Jangan merendahkan diri."


Setelah selesai mengucapkan itu, tubuh Khadijah dipeluk erat oleh Isamu.


"Khadijah-ku ... Bungaku, Rusukku ... Koiboto."


Khadijah membalas pelukan suaminya. Sesungguhnya hanya Allah yang maha pemberi hadiah terindah.


.


.


Catatan:


¹: Kakak laki-laki

__ADS_1


²: Adik Perempuan


³: kakak laki-laki (diucapkan oleh laki²)


__ADS_2