
Tangannya mengepal. Sorbannya sudah berwarna kecokelatan dari yang semula berwarna putih bersih. Tangan dan kakinya dibelenggu rantai dan ia dicambuki oleh algojo Sultan Khorasan Raya.
"Menyerahlah, Ahmad! Atau kau akan mati!!" demikian kata algojo yang menjadi pemimpin penyiksaan.
"Tak pernah aku takut mati untuk berjuang pada keadilan."
Atas kalimatnya itu, laki-laki berjenggot pirang dan berparas menawan tersebut kembali didera oleh sekawanan algojo. Ada yang mencambuknya, ada yang memukulinya bahkan ada yang berusaha melucuti pakaiannya untuk menghinakan.
"Besok pagi, seorang Ahmad akan dijadikan bahan olokan di alun-alun kota jika tak juga ia menaati Sultan!"
Setelah itu, mereka meninggalkan lelaki tua itu sendirian, di dalam jeruji besi. Ia adalah salah satu imam di tanah Persia. Imam yang hidup sepeninggal sebad lebih imam-imam tersohor lainnya.
Beliau bukan Imam Ahmad bin Hambal. Beliau seorang hamba Allah yang masih memegang teguh ajaran Islam tetapi penguasa memusuhinya karena hal itu. Keteguhannya dianggap mengganggu kestabilitas pemerintahan.
Jabatan imamnya diputus karena Sultan yang sekarang begitu lalim dan seseorang yang menggunting dalam lipatan bagi kaum muslimin.
Dalam dinamika sejarah, kriminalisasi ulama bukanlah hal baru. Ada banyak ulama yang demi kebenaran, berani mengkritik penguasa. Mereka ini ulama-ulama lurus yang tidak silau dengan iming-iming penguasa dan kepentingan duniawi. Yang benar akan dikatakan benar; dan yang salah akan dikatakan salah. Hadits Nabi mengenai keutamaan jihad kepada penguasa yang lalim dan tiran dipegang dengan baik oleh mereka. Akibat dari keteguhan ini, mereka bisa mengalami kriminalisasi dan penyiksaan.
Seorang ulama besar bernama Sa'id bin al-Musayyib pernah mengalami kriminalisasi saat menolak baiat kepada putra Abdul Malik (al-Walid dan Sulaiman) sebagai ganti dari Abdul Aziz bin Marwan, akhirnya Hisyam bin Ismail, selaku Gubernur Madinah memberi sanksi 60 cambukan kepadanya, dan dipenjara.
Lebih parah dari itu peristiwa itu, Sa'id bin Jubair seorang Tabi'in dipenggal kepalanya oleh Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi, yang merupakan panglima 'bertangan besi' dari kekhilafaan Umawi, karena menentang khilafah Umawi bersama Ibnu al-Asy'ats. Demi memegang kebenaran, ia tak gentar kalaupun pada akhirnya harus gugur.
Pada zaman khilafah Abbasiyah, Imam Abu Hanifah dicambuk dan dipenjara oleh al-Manshur gara-gara menolak dijadikan Qadhi.
Pada era Dinasti Umawiyah, tepatnya ketika Marwan bin Muhammad menjadi penguasa. Imam Abu Hanifah ditawari jabatan hakim, tetapi beliau bersikukuh untuk menolaknya. Akibatnya, di daerah bernama Al-Kinasah, beliau dicambuk seratus kali. Bahkan sebelumnya, ketika Sang Imam menampik tawaran Ibnu Hubairah menjadi pengurus Baitul Mal, akhirnya beliau pun dicambuk.
Senada dengan kisah tersebut, Imam Sufyan Ats-Tsauri pun pernah berselisih dengan al-Mahdi lantaran tidak mau dijadikan Qadhi, sampai akhirnya ia lari ke Bashrah.
Nasib Imam Malik bin Anas juga tak jauh lebih indah, beliau dicambuk karena membangkang pada perintah Abu Ja'far al-Manshur, lantaran tetap meriwayatkan hadits, "Tidak ada talak bagi orang yang dipaksa."
Wahid Abdussalam Bâli dalam buku "Ulamâ wa Umarâ'" menceritakan konflik Imam Malik dengan penguasa. Alkisah, Ja'far bin Sulaiman -sepupu Abu Ja'far Al-Manshur- berniat buruk kepada Imam Malik. Dituduhkan rumor bahwa beliau tidak mengakui kepemimpinan Ja'far Al-Manshur. Mendengar berita itu, kuping Abu Ja'far panas, lalu memerintahkan kepada tentaranya untuk mencabuk beliau.
Murid beliau, juga mengalami hal yang susah bersama penguasa. Imam Syafi'i dituduh sebagai pendukung Syi'ah oleh pendengkinya, Mutharrif bin Mâzin. Bahkan dia memprovokasi Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menangkap Imam Syafi'i dan orang-orang alawiyin. Diutuslah Hammad al-Barbari untuk menangkap Imam Syafi'i dan orang-orang alawiyin. Ia dirantai dengan besi bersama orang alawiyin dari Yaman hingga Raqqah, kediaman Harun Ar-Rasyid Betapa sengsaranya dirantai dengan besi dari Yaman hingga Baghdad.
Ahmad bin Hanbal juga pernah mengalami nasib yang lebih menyakitkan dengan penguasa. Ia dicambuk, dipenjara selama 30 bulan oleh Ma'mun gara-gara tidak mengakui kemakhlukan al-Qur'an sebagaimana yang diyakini mu'tazilah.
Imam Bukhari pun akhirnya pergi dari negerinya karena "berusaha disingkirkan" oleh Penguasa Dhahiriyah di Bukhara saat itu, Khalid bin Ahmad al-Dzuhali. Penyebabnya, Imam Bukhari menolak permintaan Khalid untuk mengajar kitab "al-Jâmi'" dan "al-Târîkh" di rumahnya. Bukhari beralasan, seharusnya yang butuh ilmulah yang mendatanginya, bukan ulama yang mendatangi yang butuh. Pada akhirnya, Bukhari meninggalkan negerinya.
Menurut Ibnu al-Aththar, Imam Nawawi adalah ulama yang berani berhadapan langsung dengan penguasa. Demi kebenaran, dia tidak takut dicela. Jika tidak mampu menghadapi secara langsung, beliau menyampaikan kritik dengan mengirim surat.
Suatu saat, akibat kritikan yang sangat sangat tajam kepada Sultan Dhahir Baibars, hampir saja Imam Nawawi dikriminalisasi dan disiksa. Kritik Imam Nawawi ini diarahkan kepada sang penguasa karena kasus Hauthah. Inti permasalahannya, kerika Dhahir berada di Damaskus -pasca kekalahan Tatar-, ia mempercayakan kepengurusan Baitul Maal kepada orang bermadzhaf Hanafi. Berdasarkan madzhab Hanafi, harta yang dikuasai Tatar (musuh), maka otomatis harta dikuasai penguasa. Lantas Imam Nawawi dan ulama lain mengkritik pendapat tersebut. Dan kritik paling keras adalah yang disampaikan Imam Nawawi.
Sang Sultan marah dan mengira bahwa itu dilakukan Imam Nawawi karena kepentingan jabatan duniawi karena telah disingkirkan. Ternyata, beliau sama sekali tidak memiliki jabatan dan kepentingan dunia. Setelah kesalahpahaman ini berakhir, Imam Nawawi dicintai dan diagungkan oleh Sultan Dhahir Baibars.
Nasib ulama lain yang tidak kalah susah adalah seperti yang dialami Imam Ibnu Taimiyah diadukan kepada Emir Humsh al-Afram, oleh orang-orang sufi. Sampai pada akhirnya karena dianggap membuat keresahan oleh para pembencinya, ia pun dipenjara, dan mati di dalam penjara.
Ahmad bin Adam bin Ayyub pun meneladani imam sebelumnya. Ia tidak merasa takut pada ancaman dunia. Ia lebih tunduk kepada Tuhannya.
Kakeknya adalah salah satu pediri kekhanan ini. Ayyub membantu dengan harta dan pengetahuannya demi tanah madani yang diimpikan para muallaf Mongolia. Beberapa lagi tersebar di Turki dan anak benua India, mereka pun sukses memerintah dengan sistem kekhalifahan.
Mereka sejatinya adalah orang-orang Mongolia yang telah memeluk Islam tetapi masih terikut kebrutalan khas mereka. Belum dapat dihapus bagaimana mereka merusak pusat ilmu pengetahuan dunia saat itu di Baghdad. Bagai sungai tinta yang mengalir ketika tinta dan buku mereka buang ke sungai.
Sultan Khoorasan saat ini dipimpin oleh Israil bin Daud bin Umar. Ayahnya menamainya demikian karena saat ia lahir, ayah dan ibunya sedang melakukan perjalanan malam ke ibu kota Mongolia dan berharap diridhoi Allah. Selain itu, nama ini juga diharapkan bisa membuatnya berakhlak dan berlisan baik seperti nabi Ya'qub Alaihissalam.
Harapan itu sirna kini. Karena ibu suri dan permaisurinya yang orang Mongolia begitu dendamnya pada orang-orang Farsi. Israil duduk di singgasana pun karena ia telah membunuh adik bungsunya yang bernama Sulaiman yang sebenarnya telah dibaiat oleh ayah mereka untuk duduk di atas singgasana.
Ahmad menengadahkan tangannya dari balik jeruji besi. Memohon dan meminta pada Illah.
"Ya Illahi ... sungguh aku tidak lagi tahan menahan siksa mereka. Tubuhku telah lemah dan tak ada lagi yang mau menjalankan syariat-Mu. Wahai Tuhan Semesta Alam ... sebagaimana Nabi dan Rasul-Mu Zakariya, aku pun belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu."
Dengan tutur kata yang lembut, ia bersuara lagi, "Anugerahilah aku seorang anak laki-laki yang akan mewarisi keluarga Adam bin Ayyub, dan jadikankah ia seorang yang Engkau ridhoi, ya Allah. Yang akan membela agama ini dan membebaskan negeri ini dari kesesatan yang nyata."
Selesai doa, ia memejamkan mata dalam posisi duduk. Dalam bayangannya ia mengingat istrinya yang di rumah. Telah menantinya dengan perut membuncit.
"Ya Allah! Sudah berapa lama kutinggalkan istriku?" lirihnya.
Di akhir kesadarannya ia menyebut nama istrinya, "Khadijah ... maafkan aku. Semoga Allah melindungi kalian dan meridhoi urusan kita."
*****
Astaghfirullaahal 'adziim ...
Astaghfirullaahal 'adziim wa atuubu Ilaih ...
Astaghfirullaahal 'adziim al ladzii laa ilaaha Illaa huwal hayyul Qayyuum wa atuubu Ilaih ...
Astaghfirullaahal 'adziim lii alimiina wal muslimaat al ahyaa i minhum wal amwaat.
Istighfar berjamaah setelah salat subuh dilantunkan di masjid putih, dipimpin oleh Imam Ahmad bin Adam bin Ayyub. Ketiganya adalah imam besar bagi Khorasan dan Persia. Ayyub digantikan Adam dan dilanjutkan oleh Ahmad.
__ADS_1
Mereka semua, yakni Imam Ahmad dan jamaahnya beristighfar sebanyak seratus kali kepada Tuhan yang Haq.
"Robbana dzholamna anfusana ...,"
Imam Ahmad mengangkat tangannya ke udara. Memulai doa yang pernah diucapkan bapak para manusia dahulu, Adam Alaihissalam.
"Robbana dzholamna anfusana ....," ulangnya. Kalimat itu diucapkannya sebanyak empat kali, lalu setelah itu ia menyambung lagi.
"Wailam taghfirlana ... watarhamna ... lana kunanna minal kho ... siriin."
Sedikit terisak ia saat mengucapkan doa itu.
"Faghfirlana ya Ghoffar, faghfirlana ya Ghoffur, faghfirlana ya Rahman, faghfirlana ya Robbl 'alamin ...."
Sampai kalimat ini, semua jamaah meneteskan air mata mengingat dosa yang mereka lakukan sebelumnya.
"Faghfirlana ya Allah .... faghfirlana ya Allah ... faghfirlana ya Allah ... faghfirlana ya Allah ... faghfirlana ya Allah ...." isakan makin jelas terdengar. Baik dari Imam maupun jamaahnya. Mereka memohon ampun kepada Allah atas dosa mereka hingga ditimpakan cobaan yang menyakitkan hati.
"Faghfirlana ya Robbana ... faghfirlana ya Khaliqana ... faghfirlana ya Roziqona ... faghfirlana ya Arhamar Rohimin."
Tak henti-hentinya sang imam memohon ampunan pada Allah Subhana Wata 'Ala agar mereka semua yang ada di negeri Persia diridhai, diberi karunia dan negeri mereka diberkahi.
"Ya Allah, ya Rahman Rahimin ...,"
Imam Ahmad melanjutkan doa setelah isakan para jamaahnya sedikit mereda.
"Tak ada seorangpun di antara hamba-hamba-Mu, kecuali mereka pernah berdosa kepada-Mu. Bahkan para nabi-Mu pernah berbuat salah kepada-Mu. Kemudian, ketika mereka memohon ampunan-Mu, Engkau pun mengampuni ya Allah."
Bapak para manusia, Adam ... pernah melakukan kesalahan di hadapan-Mu, lalu ketika ia memohon ampun, Engkau pun mengampuni, ya Allah."
Nabi Nuh pernah berbuat dosa kepada-Mu, dan saat ia memohon ampun, Engkau juga mengampuninya, ya Allah."
Begitu pula Nabi Musa, Engkau mengampuni dosanya ketika ia memohon ampun atas kesalahannya. Nabi Ibrahim pun demikian. Engkau mengampuninya ketika ia memohon ampun atas kesalahannya kepada-Mu."
Bahkan ... nabi-Mu yang mulia ... Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam pernah berbuat kesalahan. Dan ketika beliau memohon ampunan-Mu ... Engkau mengampuninya, ya Allah."
Kami yakin, tak seorangpun yang meminta ampun kepada-Mu kecuali pasti Engkau mengampuni dosanya, ya Allah."
Engkau tidak peduli sebanyak apa pun dosa hamba-Mu, pasti Engkau mengampuni. Dosa yang kami perbuat tidak merugikan atau menguntungkan Engkau, ya Allah. Justru dosa kami merugikan kami. Engkau mahamulia, maha segala maha, ya Allah. Engkau Ghoffar, Engkau Ghoffur, Engkau-lah Rohman, Engkau-lah Rohim, Engkau-lah Karim, Engkau-lah Ra'uf, Engkau-lah Hakim. Ya, Allah ... ampuni dosa-dosa kami."
Jangan Engkau binasakan kami dengan dosa-dosa kami."
"Janganlah Engkau cabut kasih sayang di antara suami-istri dari kami karena dosa-dosa kami. Jangan Engkau cabut kasih sayang antara ayah dan anak, begitu pula anak dan orangtua. Dan yang lebih utama dari itu, ya Allah ... janganlah Engkau jauhkan kami dari Rasulullah di Padang Mahsyar karena dosa-dosa kami, ya Allah. Janganlah Engkau memberi azab kepada kami karena dosa-dosa kami."
Sesungguhnya rahmat-Mu mendahului kemurkaan-Mu, ya Allah."
Ya Robbana ... janganlah timpakan musibah kepada bangsa kami ini karena dosa-dosa kami, ya Allah. Janganlah Engkau menguji kami dengan pemimpin yang zalim, justru karena dosa-dosa kami sebagai masyarakatnya, ya Allah. Jangankan Engkau menghilangkan keberkahan dari negeri kami ini."
Ya Allah ampunilah dosa perempuan-perempuan muslimah bangsa ini, pemuda dan semuanya. Ampunilah ya Allah sehingga keberkahan dan kasih sayang dari-Mu dapat Engkau turunkan pada kami."
Robbana dzholamna anfusana, wailam taghfirlana watarhamna lana kunanna minal khosirin. Laailaha Illa anta, subhanaka inni kunna minadz dzolimin."
Sungguh kami tahu Nabi Yunus Alaihissalam pernah melakukan kesalahan kepada-Mu. Lalu Engkau menimpakannya ujian. Engkau biarkan ia tenggelam di dalam lautan yang gelap. Di dalam lautan itu ia memohon ampunan-Mu, ya Robbana: Laailaha Illa anta subhanaka inni kuntuminadzolimin."
Maka bergetar arus-Mu. Engkau ampuni dosanya dan selamatlah ia dari musibah itu. Maka, selamatkanlah kami dari segala musibah yang disebabkan oleh dosa-dosa kami, ya Allah. Selamatkanlah kami di dunia dan akhirat ya, Allah."
Jangan Engkau tutupi hati kami karena dosa-dosa kami, ya Allah. Siapakah lagi yang dapat memberi petunjuk jika Engkau menutup hati hamba-Mu, ya Allah."
Astaghfirullah rabbal barroya ... astaghfirullah minal khotoya. Astaghfirullah rabbal barroya ... astaghfirullah minal khotoya. Astaghfirullah rabbal barroya ... astaghfirullah minal khotoya."
"Robbana atina fiddunya hasanah wa file akhiroti hassanah wa qina adzabannar."
Ketika selesai mengisi tabligh di masjid putih itu, Imam Ahmad bin Adam bin Ayyub ditangkap karena doanya di masjid putih. Doanya yang menurut pemimpin adalah doa yang membahayakan kestabilitasan pemerintahan.
Di halaman masjid, ia diarak sebagaimana imam Syafi'i terdahulu. Ia dirantai pada tangan dan kaki dan berjalan menuju istana. Tak hanya itu, Ahmad juga dilempari batu selama perjalanan ke istana.
Sesampainya di istana, ia diadili di persidangan Sultan. Hatinya menangis melihat para dayang yang hampir tidak berbusana di sekitar Sultan Israil. Matanya ia pejamkan sambil berdoa dalam hati atas pelecehan terselubung pada perempuan negerinya oleh penguasa.
"Imam Ahmad, Assalamu'alaikum!" ucap Israil dari atas singgasana.
Imam tersebut membalas salam penguasa negri yang dibuka——dibebaskan dari kejahiliyahan——oleh Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khattab.
"Apa yang telah saya perbuat, wahai Amir-ul Mukminin? Sehingga saya dihinakan sedemikian rupa?"
Sultan Israil tersenyum miring. "Kau melancarkan propaganda. Kau adalah provokator yang berlindung di bawah bendera Tauhid!"
Ahmad bin Adam terdiam sejenak. Seingatnya ia tidak berbuat demikian.
"Bukankah wajib hukumnya menaati penguasa, Imam Ahmad?"
__ADS_1
"Benar, Amir-ul Mukminin. Benar."
"Maka, mengapa kau larang rakyatku ke tempat minum dan mendatangi perempuan?! Sementara itu membuat mereka senang! Kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat adalah tanggung jawabku."
Imam negeri Persia itu beristighfar. Hatinya teriris atas kezaliman perkataan sultannya.
"Segala yang merusak tubuh dan akhlak adalah haram di dalam syariat kita, wahai Syahensyah. Jangan mengundang kemurkaan Allah. Sesungguhnya semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak."
Sultan Israil tertawa keras. "Ancaman fiktif dari fiksi Orang Arab begitu kau yakini, Imam. Apa kau pernah ke akhirat dan menyaksikan langsung? Belum, 'kan? Kau belum bisa membuktikan semua yang kitab itu tuliskan! Dongeng, fiktif dan harusnya kitab itu kita ubah dengan peraturan khas Persia dan membangkitkan adat budaya Majusi sebagaimana nenek moyang kita."
"Terlaknatlah kau, Israil bin Daud! Semoga rahmat tidak pernah lagi menghampirimu! Semoga kalian binasa sebagaimana kaum 'Aad dan kaum durhaka sebelum ini!"
Menteri yang juga merupakan sepupu jauh dari saudara seayah Israil menyergah ketika ia sampai di pengadilan.
Ia langsung mendatangi pengadilan ketika salah satu kepercayaannya mengabarkan bahwa Imam Ahmad didiskriminasikan.
Zakariya bin Musa bin Imran namanya. Ia satu-satunya mentri yang tunduk pada hukum Allah. Ia tidak pernah gentar menyerukan kebenaran dan mengkritik pemerintahan yang jauh dari syariat.
Saat itu menjadi hari terakhir bagi Zakariya bin Musa bernapas. Karena saat itu juga sultan Khorasan itu memenggal kepalanya tepat di hadapan Ahmad dan punggawa lainnya. Beberapa dayang berteriak karena dahsyatnya tebasannya itu.
Imam Ahmad bertakbir karena terkejut. Mengucapkan innalilahi wainnailaihi raji'un dengan nada sedih.
"Bencana akan datang, Amir-ul Mukminin! Bertaubatlah! Allah maha pengampun, ya Sultan. Jangan membuat binasa negeri ini karena kezaliman."
"Prajurit! Penjarakan Ahmad bin Adam dan siksa dia sampai ia mengeluarkan fatwa halalnya anggur dan mendatangi perempuan tanpa ikatan pernikahan! Kejar istrinya jika ia tak mau juga menurut!"
"Syahadatmu telah gugur, Israil! Mintalah ampun!" ujar Imam Ahmad saat ia diseret bagai binatang buas hingga ia masuk ke dalam jeruji besi.
*****
Kabar penangkapan Imam Ahmad telah sampai ke telinga mertuanya, Yahya bin Utsman. Dengan segara ia mendatangi putri kesayangannya, Khadijah. Berniat untuk membawanya ke tempat jauh dari Khorasan. Karena ia tahu, Sultan Israil pasti akan mengejar keluarga Imam Ahmad. Penguasa Persia sudah terkenal dengan kedzalimannya selama tiga tahun terakhir ini. Ia menghalalkan semua yang diharamkan agama.
"Bukannya aku harus meminta izin suamiku dulu, wahai Ayah?" tanya Khadijah saat Yahya bin Utsman mendesaknya untuk meninggalkan ibukota Khorasan dan mengungsi di desa terpencil di Persia untuk sementara waktu.
"Imam Ahmad dipenjarakan oleh Amir-ul Mukminin, Putriku."
Mendengar berita itu, Khadijah langsung mengucap kalimat syahadat dan beristighfar.
"Ahmad-ku, apa yang terjadi?" lirihnya sembari mengelus perutnya yang besar.
"Penguasa lalim itu akan mengejarmu juga untuk menyulitkan suamimu."
"Tapi, Ayah. Tanpa izin suami, bukankah haram bagi istri untuk keluar dari rumah?"
Untuk sesaat, Yahya bin Utsman tertegun. Ia merasa bangga karena ajaran Islam diserap baik oleh putrinya.
"Jika terdesak, Islam membolehkan. Ayolah, Nak. Ayah akan menyesal seumur hidup jika tidak bisa menyelamatkanmu."
Khadijah, perempuan paling cantik di negri Persia yang konon katanya melebihi kecantikan ratu Khorasan itu bergeming. Dalam keheningan itu, pintu rumahnya diketuk. Rasa was-was menyelimuti hatinya.
Yahya, ayahnya menghampiri pintu saat Khadijah masuk ke dalam kamarnya. Yahya membukakan pintu, seorang pemuda sumuran putrinya mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikun, Syeikh Yahya!"
Syeikh Yahya menjawab salam si pemuda.
"Saya Ali, diutus Imam Ahmad untuk menyampaikan surat ini untuk Syeikh dan Sayyidah Khadijah."
Yahya bin Utsman mengangguk, "Syukron, jazaakallaallahu!"
Kemudian pemuda bernama Ali itu pamit. Yahya memerhatikannya. Ternyata Ali tidak sendiri. Tak jauh dari sana ada beberapa laki-laki yang mengibarkan bendera Tauhid, hitam dan putih bertuliskan: Laa ilaaha Ilallah. Muhammadur Rasulullah, dalam tulisan Arab Persia.
Yahya bin Utsman berspekulasi itu para jamaah Imam Ahmad yang tidak takut melawan kebathilan. Pintu rumah pun ditutup ketika rombongan itu sudah jauh. Yahya memanggil putrinya dan menyampaikan apa yang telah Ahmad kirim melalui utusannya yang bernama Ali.
"Aku tidak pernah tahu ada jamaah bernama Ali. Bagaimana rupanya, Ayah?"
"Aku hanya bisa mengingat, ia bersama kawanannya mengibar Ar-rayah dan Al-liwa', Khadijah."
Khadijah menerima surat yang disodorkan ayahnya. "Bacalah! Aku juga akan membaca surat dari menantuku. Pergilah ke kamarmu, Nak."
Khadijah menurut. Ia berfirasat tidak baik. Dan memang itulah yang terjadi. Suaminya meninggal di dalam penjara, dan ia menjanda.
****
Catatan:
Doa yang dibacakan Imam Ahmad adalah doa yang Ustadz Teuku Hanan Attaki lantunkan. Saya dengar di radio dan entah kenapa bisa terbayang. Jadilah tulisan ini. [Tentu sedikit saya ubah. Harusnya negri Indonesia, saya ganti jadi Persia. lainnya ... hampir sama]
Saya cuma ingat doa dan sang ustadz, lupa ini pengajian kapan dan di mana.
__ADS_1