
Simbol adalah kata, tanda, atau isyarat, yang digunakan untuk mewakili sesuatu yang lain seperti arti, kualitas, abstraksi, gagasan, dan objek.
Alunan suara feminin menyapa telinga Shinsuke. Mencuri dengar dua gadis di kereta bukanlah gayanya, karena biasanya ia lebih suka menyendiri dan menuliskan sesuatu. Namun, gadis yang sedang diajak bicara oleh orang yang berbicara tadi adalah seorang gadis yang menawan hatinya. Seorang muslimah dari pulau seribu masjid.
Nama asli gadis itu adalah Khadijah Gulzaarani. Sebulan yang lalu gadis itu pernah mengatakan sebuah kalimat yang Isamu tidak pernah duga akan membawanya pada imam masjid dan buku yang membuatnya mengagumi sosok luar biasa nabi akhir umat Islam. Yakni, Takbirlah!
Berilah hormat pada lelaki agung yang akan kusebut namanya ini! Ucapkanlah shalawat dan salam untuknya. Dialah pemimpin semua nabi dan rasul. Dialah yang menyelamatkan manusia dari kehancuran. Dialah sang guru cinta. Muhammad bin Abdullah wa Aminah. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.
Isamu adalah seorang ateis dan mengatakan pada Khadijah bahwa Tuhan hanyalah pikiran manusia yang memeluk agama. Cerita mistik yang diciptakan oleh manusia sebagai bentuk rasa tidak bisa menjaga diri. Dia tidak memercayai Tuhan apa pun dongengnya, demikian penuturan Isamu.
Saat itu, Khadijah hanya tersenyum. Dengan segala kerendahan hati ia berkata pada Shinsuke, "Benar sekali. Kami memang tidak bisa menjaga diri. Karena sejatinya sebaik-baiknya penjaga adalah Dia yang berada dalam pikiran. Dia yang selalu ada dalam pikiran dan juga hati makhluk-Nya yang beriman."
"Kenapa kau tidak memakiku karena menghina Tuhanmu, Miss?" Shinsuke bertanya penasaran.
"Karena engkau tidak tahu. Engkau belum tahu kebenarannya. Seseorang yang tidak tahu, bukan dimaki, tetapi diberitahukan."
"Dan kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku mengenai sesembahanmu?"
"Karena aku pun fakir, aku miskin dalam pengetahuan agama. Lagi pula, engkau bisa tanyakan pada syeikh yang ada di Masjid Kobe."
"Mereka akan menembakiku. Islam mengerikan!" Isamu berkata sambil tersenyum mengejek. Nada suaranya pun terdengar sekali mengolok-olok.
"Jika aku saja yang fakir tidak marah padamu, apalagi mereka? Percayalah, mereka akan menyambutmu. Islam adalah rahmatan lil 'alamin. Tidak ada kekerasan, tapi ketegasan!"
Sesuatu merasuk ke dalam qalbu-nya, rasa yang tidak bisa ia ungkapkan. Setelah percakapannya dengan gadis Nusantara tersebut, ia benar-benar pergi menuju masjid Kobe.
Bisikan hatinya menuntunnya menghampiri masjid Kobe dan menanyakan agama yang Khadijah anut yang diketahuinya bernama islam.
Malam itu, setelah selesai isya, seorang syeikh yang menjadi imam di masjid Kobe ia tanyai mengenai agama samawi atau abrahamik.
"Tiga agama samawi?" Syeikh Maulana Al Andunisiya mengulang sebagian pertanyaan Shinsuke dengan tenang.
Laki-laki itu mengangguk, kemudian meralatnya dengan, "Maksudku agama Abrahamik."
Syeikh tersebut tersenyum. "Samawi maksudnya dari langit. Bagaimana mungkin langit bisa menurunkan agama, Isamu-san? Dan Abraham ... umat Islam dunia menyebutnya Ibrahim. Dia adalah seorang muslim."
"Muslim? Tidakkah Abraham secara tidak langsung yang menurunkan agama Yahudi, Christian dan Islam?"
Bukankah keturunannya yang memecahkan agama itu menjadi dua agama lain? Dari Ishaq yang menurunkan hingga Jacob, Moses, lalu Jesus. Kemudian keturunannya yang lain, Ismail yang menurunkan Muhammad membawa Islam?"
Syeikh itu memuji pengetahuan Isamu mengenai nama-nama nabi dan rasul yang Isamu ketahui. Sebagai ateis, sungguh pengetahuannya mengenai sejarah ini patut diapresiasikannya.
"Ibrahim tidak membuat perpecahan, sesungguhnya ayah Ismail dan Ishaq adalah muslim. Muslim artinya berserah diri. Berserah diri kepada Allah. Laa Ilaaha Ilallah."
"Bisa kau beri bukti bahwa Abraham itu muslim?"
"Al-Quran, surat ketiga ayat ke 67 menegaskan bahwa Ibrahim adalah seorang muslim."
"Buku karangan Muhammad yang bahkan tidak bisa membaca dan menulis, kau percaya?"
"Nah, bagaimana mungkin Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam mengarang sebuah buku sementara buta dalam baca dan tulis? Tidakkah kau merasa itu adalah mukjizat?"
"Bisa saja itu sihir seorang Arab pedofil yang menikahi anak perempuan pengikutnya yang bahkan lebih muda dari anak bungsunya, yang sebelumnya ia laki-laki materialistis karena menikahi ratu Mecca, yakni putri bangsawan kaya yang seorang janda cantik demi harta! Ah, Muhammad si tukang kawin!"
Isamu berharap orang yang ia ajak bicara ini akan memukulinya karena junjungannya dihinakan.
Syekh tersebut tampak memerah mukanya. Kemudian ia beristighfar demi menjaga dirinya dari perbuatan mungkar atas perkataan seorang ateis yang tidak tahu apa-apa di depannya.
"Carilah kebenaran dengan membaca sirah. Sirah bermakna biografi. Jika engkau juga tidak bisa memercayai, maka bacalah buku yang selain muslim tuliskan mengenai beliau. Dengan catatan bukan kalimat hinaan. Murni kenyataan, bukan hujatan."
Isamu merasa aneh. Mengapa ia tidak ditembak atau dikeroyoki seperti yang sering beredar di televisi dunia karena jelas telah menghina Pembimbing manusia menuju Surga. Demikian kata umat Islam mengenai Muhammad.
Saat itu ia tertantang untuk membaca dan membeli buku mengenai utusan terakhir tersebut. Utusan yang gigih dan keras dalam menyerukan bahwa menyembah Allah adalah kemutlakan. Ia tidak akan membeli yang ditulis oleh seorang muslim. Kata ayahnya dulu, kalau ingin mengetahui seseorang dengan baik adalah melalui musuh atau rivalnya. Karena kalau pada teman atau sepemikiran dengannya, apalagi dalam kasus ini adalah umatnya, jelas saja nabi terakhir itu akan dipuji.
Ia ke toko buku dan menemukan sebuah buku yang berjudul The "100 Ranking of the most Influential Persons ini History."
Sebuah karya dari sejarawan, matematikawan dan seorang astronot bernama Michael H. Hart. Dia berkebangsaan Amerika yang rumornya negara yang paling anti-Islam.
"Seratus orang paling berpengaruh di dunia," bacanya.
Ia mengambil buku bersampul jingga itu dan membawanya ke kasir untuk dimilikinya.
Sepulang dari toko buku itu, ia menghadiri semacam pagelaran. Seminggu yang lalu ada informasi bahwa seorang dokter dan seorang yang menguasai ilmu perbandingan agama mendatangi negerinya. Ia tertarik dan ikut menghadiri. Sebenarnya dia sudah lama penasaran dengan da'i asal Bharata yang terkenal seantero dunia.
Isamu berjanji dalam hati tidak akan ikut bertanya dan hanya mendengar isi yang akan dokter itu sampaikan saja.
Dia terkesima pada penjelasan sang dokter mengenai konsep ketuhanan dalam Islam. Ia membenarkan bukti-bukti yang Alquran tuliskan, padahal belum lama ini ia mencelanya.
__ADS_1
"Memalukan! Kebodohan macam apa yang kuperbuat? Aku tidak mengetahui isi kitab itu, tapi aku mencelanya dan menuduh pembawanya sebagai penyihir." Isamu bergumam kecil.
Kau telah mengucapkan sebagian syahadat sebagai atheis, La ilaaha! Artinya tidak ada Tuhan.
Jika kau lafalkan lagi, Ilallah! Kau sudah bertauhid.
Shinsuke tertegun. Ia kembali memusatkan perhatiannya kepada sosok penuh wibawa yang ada di depan podium. Seorang perempuan ateis bersyahadat tanpa paksaan. Hatinya mulai merasakan pergerakan yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata. Namun, ia masih belum tergerak untuk memeluk agama yang disempurnakan oleh Muhammad Rasulillah.
Sepulang dari sanalah, ia secara tak sengaja bertemu lagi dengan Khadijah. Tidak bisa dibilang bertemu karena hanya Isamu saja yang menyadari bahwa mereka dalam satu kereta.
Kereta berhenti di stasiun. Dua gadis tadi masih sibuk membicarakan hal yang tidak Shinsuke ketahui. Yang ia tahu ada menyebut-nyebut simbol. Selebihnya ia kurang memahami.
"Assalamu'alaikum!" sapa Isamu pada dua gadis yang ada di depannya.
"Astaghfirullahal'aziim!"
Dua gadis tadi terlonjak. Terkejut bukan main. Tiba-tiba menyapa saat mereka sedang asik membicarakan tentang tugas mereka.
Isamu tertawa kecil. "Apa kalian terkejut hingga salamku tidak dijawab? Bukankah wajib hukumnya menjawab salam?"
"Pertanyaan Anda banyak sekali." Demikian respons teman Khadijah. "Ya, hukum membalas salam memang wajib. Dan wajib hukumnya untuk tidak mengganggu perempuan!"
Isamu memperlihatkan wajah tidak enaknya. "Apakah aku mengganggu? Maaf."
"Untung saja memaafkan itu mulia, kalau tidak?!"
"Fatma, sudahlah." Khadijah melerai. Kemudian ia beralih pada Isamu "Salammu kujawab ... wa'alaikum,"
"Kenapa tidak lengkap?" protes pria itu.
"Sudah mending dijawab!" lagi-lagi suara itu disuarakan oleh Fatma. "Siapa sih dia?"
"Yang kuceritakan itu." Khadijah sedikit berbisik pada temannya.
"Ooo ... ya, ya, ya." Fatma mengangguk-angguk.
"Hajimemashite. Namaku Fatma Maylily. Yoroshiku."
"Isamu desu."
"Heh? Apa-apaan dia itu?"
Khadijah mengangkat bahu sebagai respons kepada Fatma yang mempertanyakan sikap Shinsuke.
**MAHABBAH**
Dua hari setelah membeli buku itu, barulah ia sempat membaca karya orang Amerika tersebut. Isamu terpesona. Penulis itu meletakkan nama Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam di tempat teratas.
Nabi Muhammad menduduki peringkat satu dalam seratus orang paling berpengaruh di dunia.
"Siapa sebenarnya Muhammad bin Abdullah ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia tidak mengerti mengapa bahkan peringkat Al Masih di urutan ketiga. Paulus posisi keenam. Musa yang katanya Yahudi menempati posisi ke 15. Bukankah Islam dibenci oleh Barat? Mengapa tokoh utama dalam penyebaran agama Islam di dunia malah diberi tempat paling atas?
Maka, semakin penasaranlah dia.
"Bahkan peringkat Umar bin Khattab di atas peringkat Paus Urbanus II si penyeru perang salib."
Umar bin Khattab berada di posisi lima puluh. Kontribusi terbesar Khalifah Ar-Rasyidin kedua itu adalah memperluas Daulah Khilafah Islamiyah.
"Apa itu Islam sebenarnya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Aku akan membeli Alquran dan terjemahannya, yang Islam katakan sebagai pedoman hidup."
***MAHABBAH***
Isamu pernah mendengar nama Johann Wolfgang von Goethe. Sepengetahuan Isamu, dia adalah seorang penyair, negarawan, seniman, dan ilmuwan asal Jerman.
Bahkan menurut berbagai sumber yang pernah Isamu baca, dia adalah salah satu orang terjenius di dunia dengan IQ sekitar 240, sementara Einstein 165.
Goethe sangat suka mempelajari apa saja. Mulai dari filsafat, sastra, tata negara, sains, bahkan juga seni rupa, dan seni musik. Kegemarannya belajar ini membuat ia berkenalan dengan Islam dan mempelajarinya dengan cukup dalam.
Isamu cukup terkejut saat mengetahui kalau Johann Goethe menulis berbagai puisi tentang Allah, Islam, dan Rasulallah Shalallahu Alaihi Wassalam, lebih jauh ia pun sering bertukar pikiran dengan sahabat-sahabatnya melalui surat pribadi tentang Islam dan serba-serbi kehidupannya.
Banyak buku yang dibacanya tentang Islam mulai dari buku-buku berbahasa Arab, buku tentang perjalanan ke timur tengah, manuskrip muslim seperti Rumi, puisi, antologi, biografi (sirah) nabi Muhammad, dan lain-lain. Goethe sendiri juga sering bertukar pikiran dengan para cendekiawan orientalis. Ia juga rajin membaca beberapa terjemahan Al-Quran. Dari kesemuanya ini ia kemudian menuliskan beberapa karyanya yang terkenal seperti "West-stlicher Divan" yang beberapa liriknya terinspirasi dari beberapa ayat Al-Quran.
"Aku akan mengikuti jejak orang ini. Aku akan mencari kebenaran yang hakiki tentang Tuhan, Islam, Muhammad dan Al-Qur'an!"
__ADS_1
Isamu membaca pendapat Goethe tentang islam. Dalam tulisannya, ia mengungkapkan bahwa ia bermaksud untuk merayakan malam suci Ketika Nabi Muhammad diberikan Alquran langsung dari langit.
Dia juga menulis, "Tidak ada keraguan tentang efisiensi Kitab ini. Itulah mengapa para pengagumnya yang nyata menyatakan bahwa Al-Quran tidak mungkin 'dibuat' manusia.
Goethe juga menambahkan "Buku ini selamanya akan tetap sangat berkhasiat/efektif."
Setelah ia membaca itu, ia membeli karya Goethe yang lain. Ia mengambil Divan untuk dibacanya.
Isamu terus mencari tahu tentang Islam. Ia membeli kitab suci Islam dan semua yang Goethe baca mengenai islam.
Dalam karyanya "Divan", Goethe menulis:
"Ob der Koran von Ewigkeit sei?
Darnach frag' ich nicht !
Da_ er das Buch der B|cher sei
Glaub' ich aus Mosleminen-
Pflicht"
Apakah Quran berasal dari keabadian?
Aku tidak pernah meragukannya!
Bahwa ia adalah kitab dari segala kitab
Aku percaya meskipun aku bukan muslim.
Bertambah tertarik lagi ia kepada ajaran agama Islam.
Maka di malam yang sunyi dari hiruk pikuk, ia membuka lembaran kitabullah. Ia buka dari kiri, seperti umumnya orang yang tidak tahu kalau pembacaan orang Arab adalah dari kanan ke kiri, yang sebenarnya seperti sistem Jepang juga. Membaca dari kanan ke kiri.
Isamu meneteskan air mata tatkala pertama kali membaca surat Al-Ikhlas. Surat itulah yang ia temui dan baca pertama kali. Kemudian, takdir dan hidayah Allah membuatnya membaca ayat ke 225 dari surat Al-Baqarah.
Ketika membaca terjemahan dari ayat-ayat itu, Allah membuka hatinya. Allah penunjuk jalan dan pemberi hidayah, menuntun Isamu kembali pada fitrahnya. Mengakui Allah dan menyebutkan nama-Nya.
"Mahasuci Engkau. Sungguh aku menzalimi diri sendiri dengan menentang keberadaan-Mu, ya Allah!" demikian raungan Isamu di malam hari, ketika sunyi. Ketika biasanya para mukmin mendirikan qiyamullail.
Hidayah datang pada orang yang mencari kebenaran. Hidayah hanya akan menghampiri bagi yang dikehendaki-Nya.
"ASYHADU AN LA ILAHA ILLA ALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH."
Aku bersaksi tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu Utusan Allah."
Kemudian setelah itu, Isamu bertakbir!
Allahu Akbar!
****MAHABBAH****
Takdir langit yang telah tertulis di Lauh Mahfudz membuat Khadijah dan Isamu kembali bertemu. Mereka bertemu di pelataran sebuah masjid ketika selesai menghadiri tausyiah penceramah yang datang dari Malaysia.
Khadijah masih bersama Fatma, temannya tempo hari. Bukan hanya perempuan itu saja, Isamu juga melihat seorang lagi laki-laki bersama mereka. Mungkin saja teman kuliah. Isamu bisa melihat betapa masih mudanya mereka. Mungkin berbeda dua belas tahun darinya. Laki-laki bermarga Hanasaki tersebut menghampiri ketiga mahasiswa itu.
"Ya Allah, paman ini lagi." Fatma bergumam sambil merotasikan matanya.
Setelah sampai tepat di depan para mahasiswa itu, Fatma mengucapkan salam yang hanya dibalas oleh ketiganya dengan, "Wa'alaikum."
Ketika Isamu hendak bertanya mengenai jawaban salam yang tidak lengkap pada ketiganya, Khadijah langsung menyambar dengan diawali dengan permintaan maaf.
"Begitulah ajaran Islam jika menjawab salam dari yang bukan umat Islam."
Isamu tersenyum seraya menatap dalam tepat ke mata Khadijah yang tidak sipit seperti dirinya. Sementara yang dipandangi menunduk malu dengan pipi yang memanas.
"Terima kasih atas penjelasannya,”
"Jika aku mengucapkan Syahadatain maukah kau menikah denganku?" sambung Isamu lagi.
Tak hanya Fatma dan laki-laki tersebut, Khadijah bahkan juga lebih dari terlonjak. Ada apa gerangan ia dilamar di depan masjid?
"Umar, apa semua orang Jepang memang segila ini ya?" Fatma bertanya pelan serupa bisikan pada kawan prianya.
"Aku juga tidak tahu, Fatma. Aku tidak tahu."
Suara Umar terdengar begitu lirih. Kehilangan semangat karena lamaran paman Jepang pada Khadijah-nya.
__ADS_1