RAMPAI

RAMPAI
Intiqam (1)


__ADS_3

Dharma dan Kavya menikah hari ini. Dharma sudah menyukai Kavya sejak ia masih berusia lima belas tahun. Kala itu Kavyana berusia dua belas tahun. Cinta monyet yang kini menjadi cinta selamanya.


Dharma terlihat bahagia. Senyumnya tampak menghiasi wajah tampannya. Begitupun Kavyana.


Namun ada perbedaan di sini. Dharma yang benar-benar bahagia, tetapi Kavyana yang terpaksa harus bahagia.


Kau pintar berdrama, Poetry. Karena dramamu saat ini kau terjebak bersamaku.


Dharma membatin, menatap lembut Kavyana yang berada di sampingnya.



Karena tugasnya sebagai komandan pembasmi pemberontakan di Indonesia, maka sehari setelah pernikahannya dengan Kavyana, ia membawa istrinya tersebut ke perbatasan Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Meninggalkan kota kelahiran mereka, Medan.


"Lima belas tahun lalu, Ayah sudah memberitahuku jika kamu adalah calon istriku. Aku tidak menolak, karena kupikir kamu cocok menjadi istriku. Aku menyukaimu. Dan selama lima belas tahun ini aku ... maksudku, aku akan berusaha membuat hidupmu menyenangkan seperti keluargamu memperlakukan dirimu. Maaf jika kamu tidak bahagia atas semua ini." Dharma berkata lembut pada sang istri.


Suami istri itu tengah berbaring telentang di atas ranjang mereka yang berseprai ungu muda. Dharma di sisi kanan, Kavyana di sisi kiri.


"Aku suka warna ungu," respons Kavyana yang menurut Dharma tidak nyambung.


Dharma tidak menyadari, bahwa sebenarnya ada makna terselubung dari kalimat yang Kavyana ujarkan.


"Hm?"


Dharma menaikkan alisnya dan berbalik. Kini ia berbaring menghadap Kavyana yang masih setia memejamkan matanya.


Tak ada respons dari perempuan itu. Dharma mengasumsikan bahwa tadi adalah igauan Kavyana yang sudah terlelap karena kelelahan.


"Aku menaruh minat yang besar pada perempuan yang baru saja mengatakan kalau ia suka warna ungu," gumam Dharma sebelum memejamkam matanya, berniat menyusul Kavyana.


Aku juga seperti itu.


Ah, Kavyana mendengar gumaman Dharma.


**


Mereka hidup normal. Seperti pasangan lainnya. Melakukan aktivitas seperti yang lainnya juga. Mereka mencintai dalam ketidaktahuan mereka, atau hanya Dharma saja yang belum tahu kalau sesungguhnya perasaannya berbalas.


Mereka memahami tanpa bicara banyak. Mereka saling mengerti tanpa gaya berlebihan. Hidup mereka normal meski tak pernah secara gamblang  berkata: aku cinta kamu, pada pasangan mereka. Cukup mereka saling memahami dan mengerti saja. Itu sudah mewakili segalanya. Mereka bahagia dengan hidup mereka.


Dharma adalah komandan pembasmi pemberontakan Indonesia yang ditugaskan di ujung pulau Sumatera, dan Kavyana adalah guru SD pada salah satu sekolah swasta di wilayah itu.


Setahun kemudian, mereka diberkahi seorang putra dengan paras yang sangat mirip Dharma, dan sang ayah memberikan nama pada putra mereka: Dhana. Perpaduan antara nama ayah dan ibu si bayi.


"Terima kasih Kavya," ujar Dharma suatu hari.


Kavyana yang hendak melepaskan seatbelt memandang Dharma.


Mereka berada di Medan sekarang. Di depan kediaman mertua Dharma.


Menurut info tadi pagi, keluarga Dharma juga berada di sana mengunjungi kediaman besan mereka demi menyambut Dharma-Kavyana beserta putra mereka, Dhana. Si anggota baru keluarga besar mereka.


"Hm?"


Kavyana menaikkan satu alisnya saat Dharma tak ada tanda-tanda melanjutkan perkataannya.


"Terima kasih. Karenamu kini aku menjadi seorang suami, menantu dan kini ... seorang ayah."


Kavyana tersenyum. "Terima kasih juga ... karena mas Dharma, Kavya juga menjadi seorang istri, menantu, juga seorang ... wanita!" Kavyaa terkekeh karena kalimat akhirnya.


Dharma ikut tertular tawa istrinya.


"Menyesal?" tanya Dharma setelah menghentikan tawanya.


"Tidak. Justru bahagia. Kavya harus jadi wanita dulu, baru bisa menjadi ibu, 'kan?"


Dharma mendengus geli.


"I love you." Kavyana memberanikan diri menyatakan perasaannya.


"I love you more, My Poet!"


Tepat setelah Dharma menyelesaikan perkataannya, ia langsung menarik Kavyana untuk ia kecup pipinya. Namun, kegiatan mereka harus terhenti kala Dhana memperdengarkan rengekannya di kursi belakang. Tanpa dikomando, keduanya tertawa geli.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mahirani mengabadikan moment Dharma-Kavyana bersama Dhana yang dipangkuan ayahnya dengan mengambil potret mereka yang tengah bercengkrama di salah satu ruangan kediamannya.


Dharma mendapat cuti dua hari dari pusat. Ia pun mengajak Kavyana ke Medan. Sehari menginap di rumah milik ayah mertuanya. Lalu sehari akan menginap di rumah milik ayahnya.


"Dhana dan Kavyana biarkan saja berada di sini, seminggu lagi. Kau biarlah pulang ke Aceh sendiri."


Mahirani, ibu Dharma berkata tanpa beban, tak melihat ekspresi putra bungsunya yang memasang wajah tidak suka.


Ibunya tiba-tiba datang dan mengatakan hal begitu. Siapa yang tidak kesal?

__ADS_1


"Tidak bisa, Bu. Aku tidak mengizinkan," Dharma bersuara.


"Mengapa kau manja sekali sih?" protes Mahirani. "Lagian Ibu merasakan firasat buruk."


Dharma merotasikan bola matanya bosan. Selalu begitu! Dulu jika Dharma akan kembali ke Aceh sang ibu selalu berkata,


Ibu merasakan firasat buruk.


besok saja ke Aceh!


Namun, lihat?


Kavyana mengenggam tangan Dharma. "Kita ikuti kata Ibu saja, Mas. Aku juga berfirasat tidak baik."


Mahirani menyunggingkan senyumnya. Sepertinya ia akan menang, pikirnya.


"Apa yang kamu khawatirkan, Sayang? Bukankah ada aku, hm?"


Seketika senyum Mahirani memudar. Anak bungsunya benar-benar merusak suasana hati.



Maka malam ini pasangan Dharma-Kavya pun pulang ke Aceh membawa putra mereka Dhana yang berusia hampir satu tahun.


Malang, di jalan sunyi yang mereka lalui ada insiden tak menyenangkan. Keluarga kecil itu di serang oleh pemberontak merangkap pembunuh bayaran!


Mereka banyak sekali. Menyeret Dharma dan Kavyana yang menggendong Dhana.


DOOORRR!


Suara tembakan menggema di mana-mana.


Dharma yang sendiri, tentu kalah dengan para pemberontak yang berpuluh orang. Merka mengancam Dharma.


"Jika kasus ini tidak juga ditutup ... maka, akan kubunuh anak-istri Anda, Komandan Dharma!"


Begitu suara menyeramkan yang terdengar.


Dharma mendecih. Tak mempan oleh ancaman. Tak sadar bahwa posisinya dalam bahaya.


"Akan kubuktikan kalau begitu."


Menarik pelatuk pistol, pria berkacamata itu menembak ke arah Dhana.


Setelah itu semua terasa gelap. Bagi Dharma maupun Kavyana.


Para pemberontak dan sang penembak sudah entah kemana. Cepat sekali mereka pergi.



Dhana tidak selamat meski Dharma dan Kavyana membawa anak mereka ke rumah sakit terdekat.


Mahirani histeris mendengar kematian cucu laki-lakinya meninggal. Ayah Dharma, Khalid pun tak kalah sedih meski rautnya tetap datar. Ravendra, ayah Kavyana memeluk anak perempuannya yang hilang kendali.


Aaaaarggghh!!!!!!!!


Teriakan pilu Kavyana menggetarkan hati telinga yang mendengarnya.


"Putraku, Ayah! Dia masih kecil! Kenapa bukan aku saja yang dibunuhnya, Ayah? Kenapa, Ayah? Kenapa?!" ia semakin menggila.


Kavyana melepaskan pelukannya pada Ravendra. Ia menghampiri Dharma.


"Kenapa musuhmu jahat sekali Mas?! Kenapa dia menghabisi putraku yang malang?!"


Dharma memeluk Kavyana. Mencoba menenangkannya.


"Shhh ... tenanglah, aku akan membalas mereka."


Aura bak dewa kematian menguar.


Isak tangis memenuhi kamar rawat Dhana yang telah tak bernyawa.


Kakak laki-laki Dharma yang di Palembang dan kakak laki-laki Kavyana yang berada di Pekanbaru pun sudah dikabari. Mereka tak kalah terpukul. Keduanya mengabari akan sampai besok di Medan dengan penerbangan awal.



Mayat Dhana di makamkan bersebelahan dengan makam nenek dari pihak ibunya. Makam Natasha.


Arya memeluk adik bungsunya, Dharma yang menangis tersedu. Sofi, kakak ipar Dharma menenangkan Mahirani yang juga hancur hatinya.


Aji memeluk adik perempuanya, yakni Kavya yang menangis dalam diamnya.


Lily, istri Aji berdiri di samping mertuanya, Ravendra. Menepuk pelan bahu si kakek yang patah hatinya karena kematian cucu bungsunya.


..

__ADS_1


Tak jauh dari sana ada sepasang mata yang juga mengalirkan air mata.


"Paman akan balas dendam atasmu dan guru paman. Mereka akan paman bakar hidup-hidup!"


"Dev!"


"Kav!"


Eh? Sejak kapan Kavyana di sana bersama pria bertopi tinggi?


Tak lama Kavyana pun pingsan.


Pria itu langsung menahan tubuh Kavya agar tidak jatuh ke tanah.


Dharma yang melihat itu, dengan sigap berlari menuju tempat Kavya.


Seorang  pria asing tengah merangkul istrinya yang tak berdaya alias pingsan dengan kurang ajarnya. Itu menurut Dharma. Padahal pria itu membantu Kavyana yang pingsan.



Kavyana dibawa ke kamarnya di kediaman Ravendra. Dharma menggenggam tangan istrinya selembut mungkin. Keduanya menangisi kisah memilukan yang mereka alami.


Satu jam kemudian, Kavyana membuka mata. Dharma memberikannya air putih, setelah mendudukkan Kavyana yang tadi terbaring di ranjangnya.


"Mas," suara Kavyana masih terdengar parau.


"Ssshh ... istirahatlah lagi," bujuk Dharma.


Kavyana memeluk erat Dharma. Mereka akhirnya menangis bersama. Tak ada yang ditahan. Mereka menangis mengeluarkan perasaan mereka yang kian menyiksa dan menyesakkan.


Perasaan yang diekspresikan dengan tangisan. Tangis orangtua yang kehilangan anak semata wayang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dharma mengunjungi Deva ke alamat yang tertulis di kertas yang Kavyana berikan pagi tadi kepadanya.


Sebenarnya ia penasaran pada si lelaki berpenamlilan absurd seperti berandalan.


Deva menyambut tamunya dengan tangan bersidekap dan rokoknya yang bertengger rapi di apit oleh bibirnya.


Ia memang sudah menduga, Dharma pasti akan datang menemuinya.


"Mari masuk, Komandan," tawar Deva dengan keramah-tamahan yang jauh dari kata pas-pasan. Mata sayu tak bersemangat selalu menghiasi wajah malasnya.


"Ingin bermain catur, Pak?"


"Jika itu pertanyaan maka jawabannya adalah tidak. Begitu pula jika itu adalah tawaran! Aku datang hanya ingin tahu hubunganmu dengan istriku."


Seperti biasa, tak ada basa-basi dari seorang komandan.


Deva menyeringai. "Baik, tetapi kau kalahkan dulu aku bermain catur!"


"Jangan bercanda! Aku bisa mengalahkanmu dalam hitungan menit. Aku tak peduli jika bahkan kau adalah pecatur andal sekalipun!"


Deva tergelitik. Ia menyunggingkan senyuman geli.


Permainan pun dimulai.


Siang itu mereka mengisi waktu dengan bermain catur. Saling memutar otak untuk tujuan yang berbeda. Dharma karena istrinya, sementara Deva untuk menguji suami Kavyana. Taktik dan strategi adalah senjata paling ampuh untuk menang dalam permainan ini.


"Skakmat!" Deva berseru.


Komandan Dharma kalah dari Deva si berandalan.


"Ayo sekali lagi! Aku akan mengalahkanmu pada kesempatan berikutnya!" tantang Dharma.


Deva menyesap rokoknya yang ia letakkan pada asbak di meja berbeda dengan meja papan catur.


"Itulah perbedaan bermain catur dan kehidupan. Tidak ada kesempatan kedua dalam kehidupan. Tapi bermain catur ada."


Deva tersenyum penuh arti sehabis mengucapkan kalimat yang juga penuh arti.


Dharma memusatkan netranya sejenak pada mata Deva yang menatapnya. Kemudian ia menyusun kembali anak-anak catur itu pada papan susunannya.


"Permainan tetaplah permainan.


Bermain untuk kemenangan adalah sebuah kesalahan. Tapi bermain untuk belajar, maka kau akan memenangkannya." Deva memberi petuah setelah kekalahan Dharma yang entah keberapa kalinya.


Ya,


Permainan tetaplah permainan.


Pikiran hanyalah alat. Gerakan pion lemah itu adalah kuncinya.


Dharma belum begitu paham rupanya.

__ADS_1


__ADS_2