
Darma mengunjungi istrinya tercinta yang diduga mengalami depresi karena kematian putra mereka yang bahkan belum genap setahun.
Wanita yang menjadi ibu malang tersebut masih berada di rumah ayahnya di Medan. Mahirani, ibu Dharma yang juga ibu mertua Kavyana adalah orang yang sering menemani Kavya.
"Puisiku, ayolah sembuh ... aku rindu."
Dharma memeluk Kavyana yang selama kematian Dhana pandangan matanya kosong.
"Aku tidak gila, Mas. Aku berduka atas kematian putraku. Apa itu salah?" lirih Kavyana tanpa ekspresi.
"Mas Dharma tidak menganggap kamu gila, Poet."
"Lalu apa maksudnya dengan sembuh?" Kavya bertanya datar.
Dharma tak menjawab. Sia-sia rasanya berdebat dengan seorang ibu yang anaknya mati tepat di depannya.
Dharma bukannya tak berduka. Dia lebih dari berduka. Hingga ia dendam pada orang yang telah membunuh putranya. Bahkan ia ingin sekali membakar hidup-hidup si pembunuh. Bukan hanya Deva yang ingin membakar hidup-hidup si keji itu. Dharma juga sama.
"Mereka juga membunuh suami Kenkyo-sensei. Deva berkata begitu."
Deva lagi! Apa hubungan mereka ini, dan mengapa Deva tampak mengetahui segalanya? Dharma bingung, tapi biarlah, suatu saat ia pasti akan tahu.
•
Sehabis mengunjungi Kavya yang berada di Medan, Dharma langsung menuju kediaman Deva. Lebih tepatnya markas Deva.
Ia mulai memencet bel. Lima menit kemudian, Deva membukakan pintu markasnya.
"Bagaimana jika kita bermain catur, Deva?"
Deva tersenyum masam dengan mata sayunya.
"Kau sudah tertidur? Maaf, aku tak melihat waktu."
Dharma berujar santai.
"Catur adalah permainan dengan waktu, Kawan. Tapi tak ada waktu yang pasti untuk memainkannya." Deva menyindir.
"Omong kosong!" cibir Dharma tertawa.
"Omong kosong katamu? Apa yang kau harapkan dari orang yang kau bangunkan tidurnya di tengah malam? Sebuah puisi?" Deva pun membalas dengan dengusan.
"Ayo!" katanya kemudian mengajak Dharma memasuki markasnya.
Di teras depan rumahnya, Deva menyusun bidak-bidak caturnya di atas papan berwarna hitam-putih berbentuk persegi itu. Untuk bermain catur bersama Dharma.
"Kau belum memberitahuku tentang hubunganmu dengan Kavyana-ku."
Dharma menggeser bishop-nya yang kebetulan ia dapat sisi putih.
Kini mereka tengah duduk berhadapan. Bertanding dalam bermain catur.
"Cemburu?" goda Deva.
"Tsk. Ayolah, bukan begitu."
Deva tertawa.
"Aku dan Kavyana adalah teman masa senior high school. Kami cukup akrab. Kami bertambah akrab karena guru caturku dan guru SD Kavyana adalah pasangan suami istri."
"Kenkyo-sensei?!" Dharma memastikan.
Deva mengangguk sebagai respons. Mata Dharma berkilat entah karena apa.
"Artinya, pembunuh putraku adalah pembunuh dari pak Ahmad?"
Jadi dia sudah mulai dapat membuka teka-tekinya?
Deva menyeringai. Kini Dharma sudah tahu alasan kemahatahuan Deva.
"Untuk itu, aku akan membalas para setan itu! Nyawa dibayar nyawa! Akan kubunuh mereka dengan membakar tubuh-tubuh kotor itu di dalam api!" geram Deva.
"Bisakah kau ralat itu? Kita bekerjasama untuk membalas dendam pada pembunuh orang-orang yang berarti bagi kita."
Deva mengangguk mengiyakan perkataan Dharma.
Deva masih menyimpan foto pernikahan Ahmad dan Kenkyo. Itu akan mengingatkannya akan misinya membalas dendam pada Roy! Roy Wijaya adalah dalangnya. Dalang pemberontakan, dalang pembunuhan dan dalang kejahatan lainnya.
Deva mengetahuinya, tapi tidak dengan Dharma.
***
Pukul 07.00, masih sangat pagi. Namun sepagi ini, Deva sudah berada di sekitar stasiun kereta Api, menanti kedatangan Dharma.
Komandan Dharma baru saja keluar dari gerbong kereta, bergegas berjalan di antara gerombolan penumpang menuju ke tempat Deva berdiri menunggunya. Dharma merapatkan mantel tebalnya, angin kencang yang menerbangkan helaian rambut membuat suami Kavya itu menggigil.
"Komandan!" Deva menyapa terlebih dahulu.
Dharma melihat arloji pada pergelangan tangan kirinya, keretanya terlambat beberapa menit karena masalah sistem.
"Maafkan atas keterlambatan kereta yang saya naiki, Dev."
Deva tertawa, "Menjadi seorang Komandan, membuatmu terbiasa berbicara formal ya? Kaku!"
Dharma melotot. Deva balas menatap jail.
"Apa?" tanya Deva sejail tatapannya. "Tidak terima, ya?"
"Bukan begitu! Kupikir itu benar.”
__ADS_1
Deva tertawa semakin keras, begitu juga dengan Dharma.
"Deva, pernahkah kau ... meski sekali saja ... menyukai istriku?"
Deva menghentikan tawa karena pertanyaan Dharma. Dia menyeringai, "Tentu saja."
Dharma tertegun. Jika bukan karena dijodohkan, Dharma yakin, Kavyana akan menikah dengan Deva. Dilihat dari kedekatan mereka, bukan tak mungkin bahwa sesungguhnya mereka saling mencintai. Pikiran konyol seorang pria jika cemburu, memang absurd.
"Bukan cuma aku. Kami semua menyukainya," lanjut Deva.
"Kavyana adalah primadona, jika kau ingin tahu. Dan sang primadona itu kini menjadi istrimu ... kau menang atas Kavyana tanpa repot ikut berkompetisi, Dharma. Congrats!"
Dharma yakin sekali, hingga sekarang Deva pasti masih menyimpan perasaannya terhadap Kavyana. Perasaannya mengatakan demikian.
Mereka meneruskan langkah menuju sebuah tempat yang kata Deva adalah sebuah markas. Markas besar seorang pejuang keadilan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dharma membawa pulang Kavya ke Aceh. Sudah hampir tiga bulan wanita itu berada di Medan. Dharma sengaja pindah dari rumahnya yang lama, agar Kavya tak lagi begitu merasa sedih atas kehilangan putra kecil mereka.
"Kamu suka tempatnya, Kavya?" Dharma bertanya lembut.
Diperhatikannya Kavya yang melihat-lihat rumah baru mereka.
Kavya tak menjawab, tapi kepalanya mengangguk.
"Terima kasih," ucap Dharma.
Kavya menghadap Dharma. Matanya menatap mata sang suami. Dahinya mengernyit. Bukankah harusnya dirinya yang berterimakasih?
"Terima kasih karena sudah menjadi istriku. Terima kasih atas dukunganmu selama ini. Terima kasih atas segalanya. Menemaniku dalam suka dan duka. Terima kasih karena segala hal yang selama ini kita lewati. Terima kasih, terima kasih, Kavyana."
Rupanya, Dharma memahami kernyitan di dahi istrinya.
Kavyana langsung menghampiri Dharma dan memeluk erat tubuh kekar suaminya. "Terima kasih kembali, Mas."
Malam pukul 08.40.
Kavyana duduk dipangkuan Dharma. Menyamankan kepalanya di perpotongan leher suaminya. Matanya terpejam karena lelah akibat pindahan, dan beres-beres. Untung saja dia sudah makan malam tadi, memesan dari restoran karena kesibukan mereka.
Sementara Dharma, mengusap-usap punggung Kavya. "Aku mencintaimu," bisik Dharma yang kemudian mengecup puncak kepala Kavya.
"Kavya juga. Kavya cinta Mas Dharma," balas Hinata.
Dharma tersenyum. Kavya-nya masih terjaga. "Ayo kita tidur di kamar saja!" ajak pria itu.
Kavyana mengangguk, hendak bangkit dari atas pangkuan suaminya. Namun ditahan Dharma. Kavyana menatapnya bingung. Detik berikutnya Dharma sudah membawanya ke dalam gendongannya.
Kavyana bersemu merah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dharma masih belum diberi izin untuk bekerja. Ia masih harus cuti. Jadi selama itu pula ia akan menyusun rencana dan menjalankannya demi membalaskan dendam pada pembunuh-pembunuh keji layaknya ******* tersebut.
Markas terlihat lebih ramai dari biasanya. Ada tiga orang yang bertambah, dan ia mengenali salah satunya.
"Nanjar," gumamnya.
"Oi, Dharma? Apo kabar? Lamo nian Kito tak bejumpo!" sapa pria tinggi putih dengan aksen Palembang-nya sembari melambaikan tangan pada Dharma.
Dua pria lainnya ia tak kenal. Pria berparas khas jawa. Lalu yang kedua sepertinya memiliki hobi membaca, dan mungkin dari suku Batak. Yang menjadi pertanyaan dalam benaknya adalah,
Kenapa Nanjar bisa mengenal Deva?
"Oh, Komandan!" Deva menyapa.
Dharma melangkah untuk lebih memasuki tempat yang disebut markas tersebut.
"Selamat datang, namaku Togar." pemuda Batak yang memegangi buku berbasa-basi seraya menampilkan senyumnya. Entah itu ikhlas atau palsu, hanya Tuhan yang mahatahu.
Dharma mengangguk sebagai respons.
"Dharma Yudistira. Komandan III divisi unit I, bagian pembasmi pemberontakan. Benar?" suara berwibawa pemuda yang tersisa menarik perhatian Dharma.
Dharma mengangguk singkat. Si wajah Jawa menyeringai lebar.
"Bisma, adik dari Krisna." Ia memperkenalkan dirinya.
Dharma tahu persis siapa itu Krisna, tapi, apa hubungan semua ini dengan Deva?
Seakan bisa membaca isi pikiran Dharma, Deva berkata tenang, "Bisma, aku dan istrimu satu sekolahan dulu."
Apa dia salah satu penggemar Kavyana-ku juga? Pikir Dharma waswas.
Jika dipikir, untuk apa lagi Dharma risau? Kavya sudah menjadi miliknya, bukan?
"Ya, dia salah satu dari kami."
Lagi, Deva tampaknya berbakat menjadi cenayang.
Baik, tapi Nanjar dan Togar? Kenapa mereka ada di sini juga?
Deva berdiri di depan keempat pemuda dengan latar belakang berbeda-beda.
"Seperti bermain catur, dalam meringkus kriminal kita dituntut memiliki strategi dan taktik jitu untuk mendapat kemenangan." Deva memulai orasinya.
"Pemain adalah kunci utama permainan. Player is everything. Pemenang adalah pemimpin yang memiliki nilai paling tinggi. Pemenang yang sejati adalah pemenang yang lebih unggul dalam strategi dan tetap taat pada aturan main," lanjut Deva.
"Apo maksudnyo? Aku dak ngerti," protes Nanjar sambil menggaruk-garuk kepalanya yang mungkin saja berketombe.
__ADS_1
"Maksudnya, Nanjar ...," Dharma mendesis, "selain strategi, kau juga harus menaati aturan main."
"Iya, aku paham! Tapi, aturan yang cak mano?!" Nanjar kembali protes melayangkan pandangan kesalnya.
"Bodoh!"
"Kau tu lah,"
"Oi, oi! Kenapa kalian jadi bertengkar begini?" seru Deva sambil memandang malas mereka.
Togar dan Bisma saling pandang kemudian mengangkat bahu mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku saja tidak tahu!" Dharma memulai lagi.
"Itu bukan urusanmu! Memangnya kau siapa?" balas Nanjar yang langsung diangguki oleh Togar.
Togar menjadi kubu pemihak Nanjar.
"Aih, bisakah kalian diam, dan aku memulai ini lagi?"
Bisma diam memerhatikan. Ya, memerhatikan Nanjar dan Dharma.
"Bisa saja, asal dia menutup mulut iblisnya yang sialan itu!" Nanjar berkata serius sambil menunjuk Dharma.
"Cih! Kau harusnya sadar, bahwa kau tak ada artinya di sini? Apa kepentinganmu?!"
Dharma yang sombong dan lidahnya yang menyebalkan. Cemburu itu memang mengerikan.
"Berulang kali kukatakan, jangan pernah meremehkan orang meski orang tersebut kelihatan tidak berarti, Mas. Seperti sebuah pion, kelihatan biasa dan tak berarti, sering dipandang sebelah mata, dan sering diremehkan perannya dalam permainan."
Semua mata tertuju pada arah suara yang baru saja mengeluarkan kalimat-kalimat barusan. Itu bukan suara salah satu dari kelima pria tersebut. Melainkan suara lembut Kavyana.
"Kavya!"
Nanjar yang menyuarakan suaranya pertama kali. Wajahnya semringah kembali. Nada suaranya riang. Nanjar selalu menyukai sifat yang Kavya miliki.
"Namun jika mampu melewati segala rintangan dan sampai di titik terujung, yakni titik awal di bidang permainan lawan ... akan mampu berubah menjadi bidak yang jauh lebih kuat seperti benteng bahkan ratu sekalipun," Kavyana melanjutkan tanpa membalas sapaan Nanjar.
Dharma memandang Nanjar tajam. Yang menjadi suaminya itu Dharma bukan Nanjar! Lalu kenapa yang antusias malah si orang Palembang?!
Seketika ruangan sepi, lengang karena kedatangan Kavyana.
Deva berjalan menuju Kavya. "Selamat datang Kavya," ucapnya lembut.
Kavyana balas tersenyum sambil menggumam, "Thanks,"
Dharma berwajah masam karena adegan yang tersaji.
"Kavya," Bisma ikut menyapa.
Kavya membalas sapaan Bisma kemudian tertawa. Merdu sekali suaranya. Dharma bertambah lima tingkat kekesalannya. Dia benci reunian kecil-kecilan istrinya dengan dua teman lamanya. Benci atau cemburu, saat ini Dharma tak bisa memutuskan yang mana yang ia rasakan. Boleh jadi keduanya.
"Kavyana Riyanti,"
Arrgg!! Dharma mengerang! Bagaimana semua pria di sini bisa mengenal Kavya-nya? Bisma dan Deva adalah teman sekolahnya, Nanjar tentu saja kenal, mana ada teman baik kenal istri temannya. Togar? Togar ini siapa?! Tukang listrik? Tukang kredit, atau apa?
Jika saja Dharma bisa, ia akan menebas kepala-kepala yang beraninya mengakrabkan diri dengan istrinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Sayang?!" Dharma menggeram dengan penekanan di setiap kata, dan itu terlihat mencolok.
Kavya memusatkan atensinya pada Dharma. Empat pemuda lainnya mati-matian menahan tawa.
Sungguh lucu melihat kecemburuan Dharma.
"Aku bagian dari tim," Kavya berkata serius.
Dharma ingin sekali menarik Hinata dan mengurungnya di kamar mereka.
Tim katanya?
Lelucon buruk macam apa itu?
Dharma mendekat pada Kavya. "Istriku yang cantik berhati lembut, bisakah kita pulang?"
"Komandan tidak dengar? Aku bagian dari tim! Tim!" ulang Kavya.
Apa katanya? Komandan? Dharma lebih suka disapa mas kalau Kavya ingin tahu.
"Kavyana bagian dari misi ini. Kavya berhak atas itu, Komandan. Dhana bukan hanya putramu, tapi juga putra kami. Dia putra kita bersama."
Heh?! Semua pria kecuali Deva yang ada di sana menatap horor Bisma yang baru saja mengatakan itu. Bukankah harusnya putra Kavya, atau putra kalian: Dharma-Kavyana? Apa maksudnya dengan putra kami? Memangnya bisa kongsi?
Kavyana terkikik, sementara Deva menggumamkan kata 'bodoh'.
Rapat kembali digelar. Dharma tak membiarkan siapa pun duduk di dekat Kavyana. Ia masih bingung dengan peran istrinya di sini. Yang ia tahu, wanita cantik itu berperan sebagai istri sahnya selama-lamanya.
Deva adalah pecatur, ia menamai panji-panji yang termasuk dirinya menggunakan bidak catur.
Jika Deva adalah King, Bisma adalah Knight, dan Togar adalah Bishop, lalu Dharma adalah Rook, maka Kavyana adalah,
"Queen! Kavyana is Queen!" Nanjar berujar lirih.
Dia sendiri sebagai pawn.
"No, I'am Vizier!" sergah Kavya.
Semua mengernyit heran kecuali Deva si pecatur handal. Ia malah menyunggingkan senyuman miringnya.
"Apa maksudnya?!" para lelaki yang heran tadi menanyakan pertanyaan yang sama.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, Guys."
Deva masih mempertahankan senyuman miringnya.