RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 1 : Aku Harap Sandwich Es Krim Tidak Pernah Lahir ke Dunia!


__ADS_3

Perfektur Kido


Distrik Barat


Kalau ditanya apa hal yang paling disesali Airi saat ini, barangkali gadis itu akan menjawab, "Mengapa aku masuk ke Akademi Tingkat Atas?"


Pasalnya, disini dia menjadi bertemu dengan Jizo, remaja laki-laki yang selalu duduk di bangku depan Airi, selama tepat lebih dari dua tahun berturut-turut.


Jizo tidak bisa dikatakan sebagai teman dekatnya, walau jelas dia selalu berada di sekitar Airi. Menganggu Airi tiap ada kesempatan. Untuk Airi, Jizo tidak lebih dari pemuda brandal yang mengusik hidupnya.


Beruntung, kalau Airi hidup di dalam novel. Laki-laki semacam dia pasti akan jadi dambaan, lalu mereka jatuh cinta, dan berakhir bahagia.


Sayangnya, bagaimana mau jadi dambaan jika Airi menatap dia saja tidak sudi. Mengiritasi mata. Membuat hari-harinya terkesan buruk.


Memang, Jizo ini dengan rambut diwarna bagian depan, kaos di balik kemejanya yang tak terkancing, lengan digulung sampai siku, serta tambahan celana panjang tanpa sabuk, jelas sekali dia adalah anak bermasalah dengan akademis.


Sekalipun kenyataannya Jizo memang lemah dalam pelajaran akademis (ini terbukti dengan dia memonopoli Airi sebagai sumber contekan) laki-laki itu tidak terlihat kesulitan dengan segala hal berbau fisik.


Pelajaran olahraganya sempurna, dia bahkan pandai bela diri. Airi pernah melihatnya sekali saat praktek bagaimana Jizo, berlari lebih cepat dari semua orang di kelas dan melompati galah tanpa kesulitan sedikit pun. Seakan hal itu adalah makanan sehari-harinya.


Tapi tidak merubah kenyataan bahwa laki-laki itu pembawa sial di hidup Airi.


Orang-orang tak berhenti mengingatkannya untuk jaga jarak dari Jizo. Tidak ada untungnya, hanya membawa kesan buruk.


Padahal, Airi juga tidak berpikir hal yang berbeda. Jizo itu sekali lihat berantakan. Kebiasaannya mengganggu Airi, membuat dia jadi seribu kali lipat lebih menyebalkan. Ada juga sifat arogan, apalagi sikap bebalnya.


Belum lagi jika dia mulai egois, membuat Airi membayar untuk makan siangnya, jus jeruknya, bahkan uang kas bulanan di kelas. Tanpa pernah peduli apakah recehan hasil kerja paruh waktu di kantung Airi masih cukup untuk bertahan hidup.


Padahal, Jizo ini sekalipun penampilannya tak terurus, barang-barang yang dia pakai jelas bermerk. Airi cukup melirik tasnya, sudah yakin bahwa harga benda itu setara dengan uang makan dia dua bulan. Hanya dasarnya saja yang ingin merugikan Airi.


Kalau bisa, Airi ingin menjauh sejak dulu. Dia kan juga punya masalah pribadi yang harus diselesaikan. Mengapa masih harus mengurus seorang bayi besar menyebalkan bernama Jizo.


"Jizo..."


"Diam, aku sedang berpikir."


Pensil diketuk-ketukan ke meja. Tak! tak! tak! Suaranya menggelitiki telinga Airi, memancing darahnya naik ke puncak.


Gadis berambut hitam legam itu menggigit bibir bawahnya, sedangkan mata cokelat bening miliknya terasa memutih kala memandang jengah orang di hadapannya, menyamakan warna dengan kulit.


Seperti saat yang lain, hari ini mungkin akan digunakan laki-laki itu merugikan Airi. Mereka sedang berdua di kelas, padahal bel istirahat berdering sejak lima menit lalu. Semua orang pergi ke kantin untuk makan.


Airi juga ingin melakukan hal yang sama. Perutnya bergetar minta diisi sejak tadi. Dirinya tak sempat sarapan pagi, dan saat punya kesempatan, Jizo malah menjebaknya disini.

__ADS_1


Membuat Airi menunggu dia menyebutkan pesanannya, sembari Airi menahan rasa kelaparan yang menyiksa, karena laki-laki itu memintanya kali ke sekalian, untuk membelikan dia sesuatu yang bisa dimakan.


"Jizo..." Sekali lagi Airi mencoba. Barangkali, sekarang dia sudah terpikir apapun itu.


"Oh! Sudah ku tentukan!" Jizo bangkit dengan senyum licik.


Perasaan Airi tak enak. Bisik-bisik dia mendengar alam bawah sadarnya berucap bahwa Jizo pasti menentukan hal yang aneh dan merepotkan.


Namun, mata Airi tetap berkilau karena tahu akhirnya dia bisa pergi ke kantin juga.


"Aku mau sandwich es krim."


Mata Airi berkedip bingung. "Tapi tidak ada sandwich es krim di kantin?"


"Memang."


"Karena itu, pergilah ke minimarket depan sekolah." Jizo berujar santai. Kalimatnya ringan sekali seakan dia baru saja mengumumkan perayaan ulang tahun seseorang.


Padahal, titahnya tadi bisa saja membawa petaka pada Airi.


Yang jadi masalah bukan sandwich es krim, bukan juga minimarket. Tapi jarak dan waktu yang digunakan untuk pergi kesana kan tidak sebentar! Belum lagi usaha yang harus dilakukan Airi diam-diam agar tak tertangkap dan disangka membolos.


"Jizo, itu terlalu jauh. Mana sempat." Airi rasanya ingin putus asa. Bagaimana bisa orang dilahirkan begitu semena-mena seperti Jizo?


Kelas mereka ini ada di gedung belakang akademi, sedangkan minimarket yang dimaksud Jizo ada tepat di seberang jalan raya, gerbang paling depan. Airi setidaknya harus mencoba melewati gerbang belakang akademi lalu memutari tembok selama lima menit untuk sampai di jalan raya.


"Sempat jika berlari."


Bawah mata Airi berkedut. Benar-benar menyebalkan.


"Jizo, aku ini juga harus ke kantin dan makan. Aku bisa mati kelaparan, tahu?!"


Tidak dia sembunyikan kekesalannya. Jizo keterlaluan, tidak berperikemanusiaan, kejam, arogan!


"Beli saja makanan disana sekalian."


Gampang sekali dia bilang! Airi bukan tidak terpikir melakukannya. Namun, uang jajan gadis itu sudah benar-benar menipis.


Jika harus digunakan untuk membelikan Jizo sandwich es krim sialan itu, serta menyuap untuk diri sendiri, uangnya tidak mungkin cukup. Lagipula, harga makanan di minimarket kan bisa dua kali lipat dari kantin.


Airi masih menatap Jizo tajam. Berharap bahwa laki-laki itu akan merubah keputusannya. Sedikit sadar diri dan sadar keadaan Airi.


"Apa?" Tanya Jizo dengan wajah tak berdosa. itu.

__ADS_1


"Oke, oke. Hari ini aku yang bayar." Seperti mengerti arti tatapan Airi, Jizo merogoh sesuatu dari sakunya.


Lihat! Jizo itu punya uang saku sendiri. Mengapa harus pakai punya Airi selama ini?


Airi memandangi uang 100 ribuan itu. Lalu, kembali mengarahkan pandangannya pada Jizo.


"Tidak mau? Cepatlah!"


"Jika sampai bel berbunyi dan kau belum kembali. Tanggung jawab. Ganti juga uangku." Jizo mengibaskan tangannya di depan Airi.


Sang gadis melotot sebelum buru-baru bangkit. Sikunya sampai menyenggol keras punggung kursi, membuatnya meringis sesaat.


"Oi! Oi!" Saat Airi baru saja akan melewati pintu kelas, Jizo memanggilnya.


Apalagi kali ini? Airi tidak punya waktu dan perutnya perlu diselamatkan. Bisakah Jizo membantunya dengan tidak menambah beban lagi sekali saja?


"Jangan sampai tertangkap dan ada yang melaporkanmu ke dewan!" Jizo berseru sembari mengedipkan mata.


Rasanya, Airi ingin melepas kepalanya sendiri dan melemparkan itu kepada Jizo saat ini juga. Dia pikir memangnya siapa yang membuat Airi harus melakukan itu semua saat ini?!


Airi lanjut berlari dengan kaki yang dihentak-hentakan. Di pikirannya saat ini hanya makan, makan, makan, hati-hati, dan jangan sampai ketahuan.


Beberapa orang meliriknya bingung saat ia melesat tak terhentikan di lorong-lorong panjang sekolah.


Rambut hitam legamnya yang lurus tertiup angin, terbang bersamaan dengan larinya yang sudah mulai tergopoh-gopoh.


"Airi! Airi kenapa kau berlarian! Airi!"


Kaki Airi reflek berhenti seketika saat mendengar suara familiar memanggilnya. Dia bisa saja jatuh terjerembab ke belakang bila tidak segera mengendalikan diri. Napasnya diburu.


Oh, itu Akane. Sahabat baiknya. Satu-satunya teman yang dia punya selama ini. Terima kasih pada Jizo, karena dia Airi tak sempat bersosialisasi.


"Aku baru saja akan ke kelasmu. Mau kemana kau?"


"Oh, duluan saja. Aku harus ke minimarket."


Airi menurunkan suara beberapa oktaf hingga berbisik di telinga Akane pada kalimat terakhir sehingga orang lain tidak bisa mendengarnya.


"He?"


"Duluan saja, duluan saja. Aku harus pergi, dah!" Airi melambaikan tangan. Lalu lanjut berlari sekuat tenaga. Dia tidak bisa membuang-buang waktu untuk mengobrol sekarang.


Akane bisa menunggu.

__ADS_1


"O-oke. Hati-hati." Akane hanya tersenyum dan itu lah hal terakhir yang Airi rekam sebelum semuanya menjadi buram karena dia berlari begitu cepat.


Di setiap langkahnya, dia gunakan untuk menyumpahi Jizo dan meyakinkan bahwa Airi akan membuat laki-laki itu menyesal menyuruhnya pergi sejauh ini!


__ADS_2