RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 21 : Wajah Pada Foto Itu Wajah Yang Dulu Ku Ejek


__ADS_3

"Pembunuhnya pasti ingin mengadu-domba. Terlihat jelas sekali dari polanya."


"Bisa jadi, ini bukan yang terakhir. Mungkin akan ada yang ketiga, keempat, sampai habis."


"Mereka pasti ingin main-main dengan kita."


Saka menjelaskan maksud ucapannya. Dia masih sibuk dengan manisan yang diambil dari meja tamu paman Jizo. Ko mengangguk paham mendengar penjelasan Saka.


Suasana menjadi jauh lebih berat setelahnya. Hanya suara detakan jam besar di sudut ruangan. Setiap kepala disana, berpikir dengan otak mereka.


Ini bukan masalah main-main yang bisa diselesaikan dengan canda. Jurang besar menanti organisasi Corvus jika mereka salah langkah sedikit saja.


Ada banyak pihak yang akan memanfaatkan momen ini untuk menjatuhkan mereka. Wajar saja, dermaga yang dinaungi Corvus adalah dermaga utama Perfektur Kido. Pemasukannya tiap tahun hampir mencapai 20% dari total devisa Perfektur Kido.


Pajak yang berjalan lancar, akomodasi yang dirawat baik-baik. Corvus bersusah payah mempertahankan dermaga itu tetap di tangan mereka. Jika seseorang mendapat satu saja tali untuk dipotong, Corvus bisa kehilangan segalanya.


Tak hanya antar kelompok, seperti yang telah disebutkan, orang-orang dari pemerintahan, biro lokal, polisi, penegak hukum, akan berbondong-bondong membuat mereka terpojok. Lima orang yang sedang duduk di tempat masing-masing itu membawa beban besar kekuasaan Corvus di Distrik Timur.


"Bagaimana menurut yang lain?"


"Kita harus kumpulkan semua kemungkinan terburuk untuk tahu cara mengatasinya."


Pemimpin Corvus itu membimbing rapat dadakan mereka ke jalan yang seharusnya. Jizo mengerut keningnya pelan. Dia baru sampai disini beberapa jam lalu, dan sudah dihadapkan sesuatu yang berat untuk dipikirkan. Jizo kira, dia pulang untuk liburan dan misi ringan, ternyata ini bisa berakhir lebih besar dari dugaannya.


"Caracal bahkan tidak punya satu pun tersangka sampai sekarang," kata Jizo. Jika ini benar-benar satu pola, bukan tidak mungkin Corvus berakhir buntu seperti Caracal.


"Dari mana kau tau itu, Jizo?" Arba menatapnya penuh tanya. Laki-laki itu menyerahkan selembar foto pada atasannya sembari matanya tak lepas dari Jizo.


"Ken meneleponku." Jizo mengatakan yang sebenarnya. Dia memang berhubungan dengan Ken, anggota utama Caracal, berapa hari pasca mayat seorang pemain theater ditemukan.


"Aku tidak tau kau dekat dengan Ken." Haru juga mengajukan keheranannya. Pantas saja, Ken, anggota Caracal itu, memang terkenal karena jarak yang selalu dia beri pada orang lain. Laki-laki itu bahkan terlihat tidak menyatu dengan kelompoknya sendiri.


Tapi, Ken mempunyai loyalitas tinggi. Sebagai anggota Caracal, pengabdiannya tidak bisa dihitung dengan jari. Orang-orang banyak yang ingin mendekatikanya untuk mencari celah, namun Ken tidak pernah menurunkan penjagaannya sedikit pun bahkan kepada serikatnya sendiri seperti kelompok Corvus, yang telah bekerja sama selama puluhan tahun.

__ADS_1


Tapi, Jizo rasa Ken tidak seperti yang dirumorkan. Dia hanya terlalu pendiam, bukan berarti benar-benar tidak bisa didekati. Jizo mencoba menyapanya dulu sekali, dan Ken terlihat baik-baik saja dengan itu. Mereka bahkan bertukar kontak dan mengobrol.


"Orang-orang aneh, selalu berkumpul dengan orang-orang aneh juga, Haru." Saka berkomentar dengan tenang. Jizo menyeringai mendengarnya.


"Lihat, orang aneh lainnya sedang bicara."


Saka menendang kakinya pelan, memicu pertengkaran di antaranya dengan Jizo. Beruntung, Haru duduk disana sehingga bisa menahan keduanya untuk tidak melakukan hal sia-sia lebih lanjut.


"Tuan, apa yang anda pikirkan?" Sedang Arba tak menghiraukan mereka, dia melihat atasannya yang sedang menatap foto yang tadi dia serahkan dengan begitu serius.


"Kau bilang dia bekerja di dermaga?"


"Iya, Tuan."


"Berapa lama dia bekerja disana?"


"Menurut orang-orang di dermaga, ini adalah tahun keenamnya."


"Kenapa, paman? Ada yang aneh?"


Sang pemimpin Corvus mengarahkan matanya pada Jizo. Haru, Saka, dan Arba menatapnya juga saat itu.


"Arba, walinya sudah di kantor biro lokal?" Kali ini Ko menoleh pada asisten serta tangan kanannya itu.


"Ya, tuan. Kebetulan dia memang sedang dalam perjalanan ke Distrik Timur untuk mengunjunginya."


"Ouh, kasian sekali. Dia datang berkunjung, tapi orang yang dikunjungi malah tiada." Haru meringis membayangkan ada di posisi sosok tersebut.


"Kenapa, Paman?" Jizo menyela sekali lagi obrolan mereka. Menuntut jawaban atas pertanyaannya yang tadi diabaikan. Pamannya pasti menemukan alasan yang bagus mengulik serinci itu.


"Aku hanya merasa tidak mengenali wajahnya."


"Apa?"

__ADS_1


Jizo memandang pria itu aneh. Ada-ada saja pamannya ini, tentu tidak mungkin dia mengenal semua orang di dermaga. Ada ratusan hingga ribuan orang datang dan pergi, mana mungkin bisa menggapai semuanya.


Apalagi, Ko tidak selalu berada di dermaga, tak seperti anak buahnya yang setiap hari berjaga. Itu adalah hal wajar. Tanyakan saja pada awak kapal lainnya, pasti ada yang mengenali, karena mayat itu adalah seorang yang bertahun-tahun bekerja di dermaga.


"Tidak, bukan itu maksudku. Aku benar-benar asing dengan wajahnya." Ko masih pada pendiriannya. Dia merasa ada yang janggal pada mayat itu.


"Arba, kau mengenalinya?" tanya pemimpin Corvus itu pada laki-laki pudding di sebelah. Arba mengamati baik-baik wajah yang terpotret di selembar kertas tersebut.


Ada luka lebam dan kulit memucat namun kontur wajahnya belum benar-benar rusak. Tapi, Arba juga sependapat. Dia tidak mengetahui siapapun yang ada di foto.


"Aku tidak mengenalnya, tuan." Arba menyuarakan pikirannya. Jizo semakin penasaran, Saka dan Haru sudah mulai ikut menengok ke arah gambar tersebut. Ikut mencari tahu.


"Coba ku lihat. Kalian kan yang setiap hari disini, tidak mungkin tak pernah berpapasan walau hanya sekali." Jizo meraih kertas itu dari tangan Arba. Dia pasang matanya dengan jelas untuk merekam apa yang dia lihat dan sambungkan dengan bagian otak manapun yang mengandung ingatan soal mayat itu.


Jantung Jizo serasa akan berhenti saat melihatnya.


"Arba..."


Jizo, masih tidak percaya sosok disana adalah orang yang sama yang di pikirannya.


"Kau mengenalinya, Jizo?" Saka lah yang menyahuti panggilannya pada Arba. Jizo bertingkah aneh setelah tiga detik melihat foto itu dengan mata kepalanya sendiri.


"Kau bilang dia orang Distrik Barat?"


Arba mengangguk membenarkan. Jizo menghela napas lalu meletakkan foto itu di meja dengan wajah frustasi. Semua orang disana memandangnya penuh tanda tanya. Apa yang membuat Jizo menjadi seperti itu?


"Jizo, kau mengenalinya?" Kali ini Ko mengulang pertanyaan Saka. Jika Jizo benar-benar mengenalnya, bisa jadi dia bukan orang sipil biasa. Jadi, kasus ini tidak perlu ditangani oleh biro lokal maupun polisi. Pemimpin Corvus itu sudah berpikir untuk membungkus perkara ini sendiri.


"Aku tidak mengenalnya. Aku hanya pernah bertemu dengannya sekali."


"Dia..."


"Ayah temanku."

__ADS_1


__ADS_2