
"Teman? Teman yang mana? Memang kau punya teman?" Saka sedikit denial dengan ucapan Jizo. Pasalnya, semua orang tahu jika anak itu tidak terlalu baik dalam bersosialisasi.
Hitung saja berapa jumlah orang yang dikenal Jizo di luar organisasi Corvus dan serikatnya. Bisa menggunakan dua tangan ditambah sedikit jari kaki. Jizo sepayah itu berhubungan baik dengan orang lain. Saka bahkan sangat yakin, Jizo menghabiskan masa SMA-nya dengan bersenang-senang seorang diri dan membuat masalah, daripada membangun relasi.
Jizo merengut mendengar ejekan yang jelas-jelas menyinggung, tapi tepat sasaran itu. Dia menahan diri untuk tidak menyumpal mulut Saka dengan setumpuk lolipop yang sepertinya, sangat dia sukai. Menggantikan rokoknya yang tidak berani dia hidupkan di dalam ruangan, terlebih dengan Haru yang ada di sekitar mereka.
"Baiklah, aku tidak bisa menyebutnya teman, oke? Puas?"
"Aku memang kebetulan kenal dan pernah berurusan dengannya hingga bertemu dengan orang tuanya juga, terutama ayahnya. Itu saja."
"Tunggu, Jizo." Ko menyela. Pemimpin Corvus itu memandang keponakannya dengan curiga.
"Berhubungan dengan dia sampai bertemu orang tuanya? Apa kau membuat masalah di sekolah Distrik Barat, Jizo?"
Puf, Jizo mengkerut. Saka sontak terbahak keras-keras. Dia baru saja membuka kartu As seorang Jizo di depan satu-satunya orang yang akan laki-laki itu turuti serta takuti.
Arba pura-pura tidak mendengarnya, sedangkan Haru sudah menggeleng paham. Mana mungkin tiga tahun Jizo di tempat asing tidak menimbulkan satu masalah sedikit pun. Dunia akan terlalu tenang jika itu benar-benar terjadi.
"Hey, hei! Itu tidak penting! Lihat dulu apa topik kita sekarang!" Jizo mengalihkan pembicaraan yang hampir saja melenceng dan mengancamnya untuk mendapat jatah hukuman lebih lama lagi.
Jizo kembali fokus pada foto itu. Dia ingin tidak percaya, tapi terpampang jelas siapa yang ada disana. Sudut hatinya dicubit miris, Jizo bisa membayangkan bagaimana reaksi perempuan itu saat tahu.
Jika benar dugaannya, laki-laki dalam foto itu adalah... ayah Airi. Ah, bahkan sekarang wajah Airi sudah berputar di kepala Jizo seperti kaset lama yang rusak.
Jizo masih menyisakan sedikit sudut di ruang hatinya untuk tidak mempercayai apa yang dia lihat. Jizo sekali saja bertemu dengan ayah Airi, Royo. Mengapa dia mengingatnya adalah karena cara pria awet muda itu tersenyum palsu bahkan pada anaknya sendiri saat itu.
Dia tidak bermaksud lain selain membuat Airi kesal, tapi menjadi tidak bisa mengontrol mulutnya untuk mengatakan apa yang instingnya bilang. Jizo ini besar di dunia yang keras, melihat mana yang palsu dan mana yang asli sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak kecil. Dia bisa menyimpulkan sekali lihat bahwa Royo tidak sepenuhnya baik hati.
Jizo memperingatkan Airi soal Akane, tapi tidak begitu keras soal ayahnya. Itu dua hal berbeda. Jizo bisa membuat Airi meninggalkan teman palsu, tapi ayah palsu? Tidak mungkin ada dalam kamus Airi. Gadis itu terlalu sensitif jika Jizo mengungkitnya. Jadi, satu-satunya yang dilakukan laki-laki itu adalah memperingatkan Airi untuk tidak terlalu percaya.
__ADS_1
Apa Airi sedang menangis sesenggukan, ya, sekarang?
"Arba, aku mau ke kantor biro lokal. Aku akan menemui walinya."
"Jizo, kita belum selesai bicara." Ko menahan laki-laki itu yang sudah bangkit dari duduknya.
"Aku akan jelaskan nanti. Aku harus kesana sekarang, dia sudah disana kan?"
"Siapa?" Arba belum mencerna Jizo yang tiba-tiba menjadi begitu diburu. Dia mengikuti laki-laki itu keluar ruangan. Barang bawaan Jizo ditinggalkan begitu saja.
Saka dan Haru sama tidak mengertinya dengan tingkah Jizo. Ko menghela napas.
"Airi! Airi sudah disana, kan?"
"Airi? Siapa Airi?"
Laki-laki itu terlalu kalut untuk menjawab dengan lugas. Dia hanya ya dan ya saja, meninggalkan orang-orang di tempat itu tidak mengerti.
"Arba, pastikan Jizo tidak mengacaukan apapun," pesan Ko singkat sebelum Jizo dan Arba memasuki mobil milik laki-laki pudding itu.
Tidak ada yang mengerti apa sebenarnya yang ada di pikiran Jizo, bahkan Jizo sendiri. Saat itu, dia hanya ingin cepat-cepat pergi menemui Airi disana. Tapi, jauh di sudut hatinya, dia berdoa bahwa dugaannya salah. Jizo ingin apa yang dia lihat tidak tepat, relasinya tidak berhubungan.
Butuh sepuluh menit untuk sampai di kantor biro lokal Distrik Timur. Jizo segera merangsak masuk, dengan Arba yang menunjukkan tanda pengenalnya lebih dulu pada penjaga.
Laki-laki itu berlari tunggang langgang menuju ruang tunggu. Jizo kehabisan udara di dadanya saat sampai di sebuah pembatas kaca.
Jantung Jizo seakan berhenti berdetak saat itu juga. Kepingan pikirannya yang tadi jadi sepaian, kini berdiri kokoh, berdentang keras, mengolok dan memujinya di waktu bersamaan. Hal yang paling Jizo khawatirkan terjadi.
Disana, seorang gadis berambut lurus dengan gaun putihnya menangis sesenggukan sembari memeluk tas besar yang kini basah oleh derai air matanya.
__ADS_1
Jizo mengangkat tangannya, mengetuk dua kali pembatas kaca itu dengan lemah. Dia keluarkan suara yang selama ini menjadi nadanya untuk memanggil nama gadis itu.
"Airi..."
Jizo tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Melihat Airi bersimpuh lemah di lantai dingin ruang tunggu kantor biro lokal, membuatnya hilang kata-kata.
Di belakangnya, Arba berhasil menyusul langkah Jizo. Laki-laki itu ikut memandang objek yang menjadi perhatian Jizo sepenuhnya. Dia adalah wali yang tadi bicara dengan Arba di telepon.
Dia pasti sangat terpukul hingga tidak tahu jika kini dua laki-laki memandangnya dari jarak beberapa meter saja.
Jizo menyadari tubuh Airi bergetar hebat, tapi dia tidak bisa menggerakan seujung kuku pun untuk menghampirinya. Airi yang ada di ingatan Jizo adalah perempuan penurut yang senang mengerutkan wajah, menekuk ekspresinya, meledak dan marah, juga bersikap dingin pada orang lain. Tapi, melihat sisi Airi yang seperti ini dengan matanya sendiri membuat hati Jizo diremukkan.
Laki-laki itu tidak menyadari bahwa hubungannya dengan Airi selama hampir tiga tahun bisa memberi dampak seperti ini.
Gadis itu pasti sedang hancur hatinya hingga menjadi debu. Dia adalah tipikal orang yang begitu menyayangi dan mempercayai ayahnya hingga mati. Airi bahkan bertanya pada Jizo perihal Distrik Timur, setelah menurunkan sedikit egonya.
Seperti dugaan Jizo, Airi memang pergi kesini. Ternyata, untuk mengunjungi ayahnya. Dimana, di hari yang sama dia malah ditinggalkan dengan menyedihkan.
Jizo tidak boleh memandang gadis itu lebih lama lagi jika dia ingin memisahkan urusan organisasi Corvus dengan perasaan pribadinya. Jizo tahu betul dia adalah remaja implusif yang masih suka berubah-ubah. Laki-laki itu berusaha untuk tidak mencampur adukkan segalanya.
Sungguh, tapi Jizo ingin menghampiri gadis itu sekarang. Menggodanya, memberinya sepotong roti keju, melemparkan guyonan biasa, agar gadis itu kembali tersenyum. Kembali menjadi Airi yang ada di ingatan Jizo.
"Jizo, dia Airi itu?"
Arba mengguncangnya dengan pertanyaan pelan. Berbanding terbalik dengan Jizo, laki-laki seumuran Saka itu terlihat begitu tenang dan dewasa. Dia tidak membiarkan apapun menjadi distraksi untuknya.
"Dia... Airi." Jizo menjawab lemah dengan suaranya yang menggantung di langit-langit biro lokal yang sunyi.
Kasihan sekali Airi, teman sebangkunya yang malang.
__ADS_1