RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 5 : Omong Kosong Jizo Adalah Yang Terburuk!


__ADS_3

Matahari perlahan turun dengan rendah hati, menarik cahayanya yang menghilang sedikit demi sedikit. Namun, jingga masih mampu menembus ke dalam ruang kelas beraroma lantai kayu itu. Airi duduk di bangkunya dengan tenang sembari memandang kertas putih yang disodorkan beberapa menit lalu oleh sosok di depannya.


Awalnya, Airi memang akan pergi ke ruang dewan untuk memastikan usai bel pulang berbunyi, namun dia rasa tidak perlu melakukannya karena laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu kelas dengan segala aura dominannya.


"Kau pasti mempermainkanku," desis Airi dengan mata memicing. Dia tidak suka pemandangan yang di hadapinya.


Jizo, yang kini duduk di atas mejanya sendiri setelah menyeret Airi kembali ke dalam kelas terkekeh. "Untuk apa?"


"Kau yang bicara disana selama hampir dua jam tapi hanya keluar dengan surat hukumanku? Dimana milikmu?"


Entah apa yang Jizo lakukan di ruang dewan hingga laki-laki itu bahkan tak kembali sampai jam pelajaran terakhir. Airi tidak mau membayangkan taktik macam apa yang dia gunakan sehingga keluar dengan selamat beserta segala sifat menyebalkannya.


Dengan wajah tanpa dosa, membawakan dia surat permintaan maaf yang tertera hukuman untuk Airi kerjakan. Itu adalah pekerjaan sosial selama beberapa puluh jam. Namun, bukan itu yang jadi masalah. Gadis tersebut lebih kesal karena hanya dirinya yang dihukum sedangkan Jizo sibuk tersenyum bodoh.


"Kau pasti menjadikanku kambing hitam." Airi menarik kertas itu kasar, memasukkannya ke dalam tas dengan paksa. Bibirnya meracaukan keluhan. Dunia sungguh tidak adil, ya?


Airi tidak tahu kemana dia bisa mengajukan keberatan. Mungkin kepada Tuhan? Karena mempertemukannya dengan Jizo.


"Ambil kembali uangmu dan jangan pernah bicara padaku lagi." Airi meletakkan uang seratus ribuan ke meja. Itu adalah semua sisa yang dia punya. Ayahnya tentu tidak akan memberi dia uang saku lebih. Mereka tak sekaya itu.


Gadis tersebut bangkit dari duduknya setelah melempar satu lagi pandangan tak puas pada Jizo. Mulai sekarang, dia harus dihindari. Benar-benar menjaga jarak, memblokir semua akses Jizo dalam hidupnya, dan menjalani hari normal.


Itu baru diputuskan beberapa menit lalu dalam hati Airi saat tangannya ditahan paksa. Airi hampir saja terpelanting ke belakang.


Dia melotot. "Kau gila? Ingin membunuhku sekalian?!"


Jizo, tersangka utama dari adegan itu diam sejenak. Mungkin terkejut karena Airi yang tiba-tiba menggunakan nada tinggi.


Tentu saja, itu reaksi yang wajar. Pasalnya, Airi memang selalu menahan diri selama ini untuk tak berteriak atau mengamuk di hadapannya. Untuk gadis itu, menguras lebih banyak tenaga. Dia sudah lelah dengan mendengar suara Jizo, jika masih harus beradu mulut, dia bisa mati di tempat sejak kalimat pertama.


Namun, kali ini Airi sudah ada di batasnya. Darah gadis itu terasa menyentuh puncak kepalanya dengan sempurna, dalam suhu tinggi, mendidih.


"Heh?"


"Kau bisa berteriak ternyata?"


Airi menepis tangan Jizo kasar. Matanya tajam seakan ingin merobek laki-laki itu menjadi bagian terkecil.

__ADS_1


"Jangan menyentuhku." Airi berada di tingkat, dimana Jizo adalah parasit menjijikan untuk hidupnya yang melelahkan.


"Woah, Airi benar-benar luar biasa hari ini."


Ini bukan waktunya memuji Airi, Jizo. Gadis itu ingin secepatnya pergi. Dia harus menuju tempat kerja paruh waktunya sebelum terlambat. Ditambah, dia mungkin harus mengambil beberapa absensi untuk digunakan mengerjakan hukuman sosial beberapa hari ke depan. Tanpa bayaran tentunya.


"Airi, Airi, sekarang kau terlihat seperti manusia."


"Berhenti beromong kosong, aku harus pergi." Airi hendak melanjutkan langkahnya yang tertunda hingga Jizo kembali menahan dirinya. Tangan Jizo melingkar di pinggang gadis itu, membuat jarak mereka begitu cepat.


Dipotretnya manik hazel Jizo yang gelap, rambut laki-laki itu yang ternyata tidak sekasar kelihatannya. Tangan Jizo terasa panas di tubuh Airi. Jizo menarik senyum menyebalkannya.


Mata Airi melebar sempurna.


Plak!


Dia layangkan satu tamparan keras pada pipi Jizo. Dari semua kelakuan tidak menyenangkan yang dilakukan laki-laki itu, melecehkan Airi seperti tadi berada di tingkat yang berbeda. Rasa-rasanya, ini perlahan akan menjadi kebencian.


Bila Airi mati dan dijadikan hantu gentayangan, sungguh Jizo akan menjadi pilihan pertama untuk dia seret ke neraka.


"APA MAUMU?!" Pita suara Airi hampir putus hingga suaranya bahkan terpotong di akhir karena berteriak lebih dari oktaf yang biasa dia pakai.


"Tenang, Airi. Jangan marah." Jizo masih sama dengan diri biasanya. Laki-laki itu mundur selangkah, kalau-kalau Airi memberi serangan tambahan pada pipi kanannya yang sekarang memerah.


"BERHENTI MENGACAUKAN HIDUPKU!!" Satu hentakan dan Airi resmi berbalik.


"Siapa yang lebih kau percaya, temanmu itu atau ayahmu?"


Airi menahan pintu kelas yang dia dorong. Alisnya bertaut. Wajah muram gadis itu bercampur tanda tanya.


Jizo mengatakan hal aneh serupa sebelumnya. Sebenarnya, apa maksud dia? Mengapa membuat Airi berspekulasi banyak hal?


"Heeeiiiiii, pantas saja kau bertahan denganku selama lebih dari dua tahun."


"Kau bodoh." Jizo bicara sambil mengambil tasnya sendiri dari bangku. Sudut bibirnya kembali tertarik. Ah, senyum khas laki-laki itu yang selalu punya makna ganda.


Airi tidak pernah bisa mengartikan senyum Jizo. Faktanya, dia memang selalu tersenyum entah kalimat apa yang keluar dari bibirnya. Cacian, makian, perintah, hingga pujian yang dia lempar pada Airi selalu disandingi dengan senyum.

__ADS_1


Bukan senyum palsu, hanya... memang tidak berarti keramah-tamahan secara harfiah saja. Airi sering melihatnya berlaku kasar atau bertengkar. Namun, Jizo tak pernah terlihat marah. Laki-laki itu selalu mempermalukan lawan keributannya dengan senyum. Entah angkuh, atau meremehkan, kadang juga terlihat seperti kebanggaan. Arti senyumnya berubah-ubah seperti cuaca. Yang jelas, bukan kebaikan.


"Bisa kau berhenti bertanya hal-hal seperti itu?" tanya Airi. Dia tidak suka Jizo mencoba mengadu dombanya dengan pikiran Airi sendiri. Jizo pasti tahu jelas hal-hal ini sensitif untuk Airi.


"Kau tahu, aku punya berbincangan yang saaaaangat menarik di ruang dewan. Seharusnya kau disana agar bisa dengar."


Benar dugaan Airi, Jizo memang melakukan sesuatu di ruang dewan.


"Apa maksudmu?"


"Kasihan sekali, Airi kecil kita."


"Jizo, berhenti bercanda!" Untuk apa Airi meladeni Jizo yang sengaja memancing emosinya.


"Biar ku ulangi saranku, Airi."


"Jangan terlalu percaya pada orang-orang di sekitarmu. Hal-hal palsu memang indah, tapi tidak pernah berakhir baik."


Jelas sekali laki-laki ini hanya ingin membuat Airi kacau dengan bicara soal palsu, percaya, Akane, dan ayahnya. Bohong dan omong kosong.


"Jizo, mungkin satu-satunya yang harus tidak ku percayai disini adalah kau."


"Berhenti main-main. Aku sangat muak."


Airi sekarang nyata meninggalkan tempat itu setelah mengucapkan kalimatnya dalam sarkastik yang terang-terangan.


Derap-derap langkahnya sama berisik dengan suara hatinya yang terus bertanya-tanya. Meninggalkan Jizo sendiri di ruang kelas itu dengan jawaban kecilnya.


"Ya, termasuk aku. Jangan percaya padaku."


Ini adalah usaha terakhir Airi untuk tidak menyingkirkan laki-laki itu dengan nekat. Tidak boleh, tahan saja. Sekali lagi, jangan dengarkan dia.


Sudah dari dulu Jizo penuh omong kosong. Airi meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa melewati ini semua.


Sore itu, Airi menghabiskan waktunya hingga setengah larut di kedai kopi tempat dia bekerja. Melupakan suara Jizo, menenggelamkannya pada kesibukan.


Tidak ada Jizo dalam hidupnya, tidak ada Jizo dalam hidupnya. Begitu Airi merapal terus menerus.

__ADS_1


__ADS_2