RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 25 : Siapa Sebenarnya Gadis Itu?


__ADS_3

"Dia baik-baik saja, hanya terlalu kelelahan." Haru menutup pintu tinggi di belakangnya. Dia tersenyum menenangkan para pria yang sedang memasang wajah banyak pikiran.


"Arba, Jizo, makan malam lah dulu, aku akan menjaganya." Perempuan cantik berambut pirang tersebut mengelus pelan bahu Jizo, memberi tahunya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Sebenarnya, wajar saja rumah besar Corvus menjadi seramai ini, apalagi dengan Jizo dan Arba yang tiba-tiba membawa pulang seorang gadis tidak dikenal.


Haru melempar tatapan penuh tanya pada Arba saat dia melihat Jizo menggendong gadis bernama Airi itu di punggungnya dan meminta Haru menyiapkan kamar segera. Arba hanya menggeleng, terlihat enggan menjelaskan apa yang terjadi.


"Haru, kau bisa tetap disini. Yang lain, ikuti aku." Itu adalah perintah mutlak pemimpin Corvus. Ko tidak banyak berkomentar soal perilaku keponakannya. Dia percaya, Jizo pasti menggunakan akal sehat sebelum membuat keputusan dengan membawa gadis itu kemari. Rumah besar kelompok organisasi Corvus.


Identitas mereka bukan sesuatu yang terlarang diketahui, tapi pekerjaan Corvus dan kelompok organisasi lainnya adalah hal yang harus disembunyikan rapat-rapat. Jika Jizo membawa Airi kemari, artinya dia sudah siap membuka hal yang seharusnya dia simpan sampai mati, terlebih jika gadis itu adalah masyarakat sipil biasa.


Empat laki-laki itu duduk di kursi masing-masing. Mereka berada di ruang makan rumah besar. Meja panjang terbentang disana, dengan berbagai hidangan khas pesisir yang mengggoda.


Biasanya, tempat itu hanya ramai saat ada perayaan atau pertemuan penting. Di hari-hari biasa, Ko selalu makan berdua saja dengan Haru, terkadang ada Arba jika dia sedang kebetulan bertugas di rumah besar. Saka jarang pergi ke rumah besar, dia menghabiskan waktunya di dermaga, kala senggang pria berambut mullet itu lebih memilih pergi ke bar atau bersenang-senang di pusat kota daripada pulang. Jizo apalagi, dia ada di ujung lain pulau ini, tidak mungkin makan di rumah besar.


Sebenarnya, anggota Corvus itu sangat banyak. Terlalu banyak malah. Tapi, mereka semua ada di tempat masing-masing. Sebagian di dermaga utama, sebagian lagi di dermaga penyokong, kelompok lain ada di sudut-sudut Distrik Timur, sisanya pulang ke keluarga masing-masing. Ko, berhasil memimpin mereka semua di bawah pengawasannya tanpa banyak masalah. Terima kasih pada Arba yang harus bekerja dua kali lipat untuk itu.


"Jizo, kau berhutang penjelasan."


Yang disebut baru saja akan menenggak air putih pertamanya hari ini saat dia dibombardir dengan tatapan penuh selidik. Jizo menghela napas. Cepat atau lambat, dia perlu menjelaskan.


"Kami teman sekelas."


Ko memasang wajah tak puas. Arba masih dengan sikap tenangnya, dia menyendok sup ikan pedas yang dimasak pelayan rumah besar Corvus. Laki-laki pudding itu merengut sedikit karena panas yang membakar lidahnya. Sedangkan Saka tersenyum mengejek di seberang meja, tampak tak sabar dengan segudang cerita yang Jizo siapkan.


"Kami selalu sekelas. Dia sering membantuku membeli makan siang," sambung Jizo sembari melanjutkan minumnya yang tertunda. Satu teguk, dua teguk. Dia melirik Ko, bukan itu yang pamannya ingin dengar.


"Membantumu membeli makan siang? Kau yakin bukan memaksanya membelikan makan siang, Jizo?" Air yang melewati tenggorokan Jizo berhenti mendengar kalimat penuh provokasi dari Saka. Dia mendengus. Suka sekali Saka mengoloknya jika seperti ini.


"Aku sungguh tidak pernah macam-macam."


"Sungguh, aku cuma suka mengggodanya saja."


"Dia hanya terlalu baik, oke?"

__ADS_1


"Aku tidak pernah membuat masalah untuk Airi."


Jizo berhenti sejenak. Tidak, yang satu itu bohong. Jizo jelas sekali kalau diingat-ingat selalu memberi Airi masalah baru untuk diselesaikan.


"...hanya beberapa kali. Tidak sesering itu." Jizo meletakkan gelasnya yang sudah tandas. Dia merasa sedang menghadiri sebuah sidang etika dimana semua dosa Jizo pada Airi perlu dipertanggung jawabkan.


Ko mengikuti kegiatan Arba yang sudah lebih dulu makan. Pria besar itu masih belum merasa cukup dengan ucapan Jizo, tapi lebih memilih menghabiskan makanannya dahulu.


"Kau dalam masalah besar." Saka membuat gestur bibir ke arah Jizo. Laki-laki itu tak hentinya menjadikan Jizo sasak mentah untuk dihina hari ini.


"Aku kira dia kekasihmu."


"Uhuk!" Jizo tersedak hebat. Rasa cabai menjalar cepat ke telinganya. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus siap tiris. Ko yang sedang menunduk pun membuka matanya lebar. Menatap bawahannya tersebut dengan takjub.


Darimana seorang Arba mendapat kesimpulan seperti itu?


Si pudding terlihat seperti yang paling tidak tertarik dengan masalah Jizo dan Airi, tapi dirinya membuat pernyataan paling heboh malam itu.


Setelah meminum dengan cepat airnya yang diisi ulang, Jizo melemparkan tatapan tidak percaya.


"Haaahhh?"


"Airi? Seorang Airi? Tidak mungkin!"


Muka Jizo terlihat seakan dia baru saja mendengar berita paling menjijikkan di dunia. Arba balik memandangnya datar.


"Jika reaksimu seperi itu, berarti memang bukan." Arba mengendikkan bahu. Ya sudah, mau Jizo dan Airi seorang kekasih pun, itu bukan urusannya.


"Tentu saja bukan!"


Jizo mengelak cepat. Dia sebenarnya sering mendengar orang-orang berbisik soal dia dan Airi di sekolah. Tapi, laki-laki itu tak pernah ambil pusing. Namun, mendengarnya dari mulut Arba membuat Jizo merasa seharusnya dari dulu dia membungkam mulut mereka.


Jizo dan Airi jelas terlihat seperti sebuah simbiosi mutualisme, mana ada interaksi mereka yang mengandung romansa?


"Jadi, dia memang bukan kekasihmu? Lalu kenapa kau sepanik itu tadi?" Saka akhirnya menyumbang suara dalam pembicaraan itu. Walau masih saja merugikan posisi Jizo.

__ADS_1


"Karena dia teman sekelasku. Kau dengar tidak tadi ku katakan karena aku mengenalnya?!"


"Heh, jika aku mengalami hal yang sama, memang kau akan pergi buru-buru seperti tadi?"


"Kenapa aku harus pergi untukmu? Memang kau tidak bisa menjaga diri?"


"Gadis bernama Airi itu apa juga tidak bisa menjaga diri sampai kau menjemputnya?"


"Memang kenapa jika aku menemuinya, kau ibuku?"


"Kau lupa aku ini lebih tua darimu?"


"Lalu apa, hah?! Ada hubungannya dengan Airi?"


"Airi! Airi! Kau ini penjaganya?"


"Haaahhhh?!"


Jizo mengacungkan garpu pada Saka. Lelaki mullet itu balas mengangkat kaki gelas.


Ko tidak berniat memisah mereka. Sudah cukup lama tidak terdengar adu mulut di rumah besar sejak Saka dan Jizo tumbuh dewasa. Karena itu, sang pemimpin Corvus hanya menikmati makanannya dengan tenang.


Arba, yang sudah lebih dulu selesai juga tampak tidak terganggu. Dia sibuk membersihkan jejak makanan di sudut bibirnya dengan sapu tangan, lalu meminum air leci yang baru saja diantarkan oleh pelayan.


Jizo dan Saka tampak terengah di tengah berdebatan mereka. Dua laki-laki tak jauh berbeda umurnya itu terlihat seperi balita yang sedang berebut mainan.


Ting! Ting!


Ko menjeda pertengkaran tidak penting mereka berdua. Meminta perhatian sejenak dengan mengetuk pinggiran gelasnya dengan sendok.


"Jadi, bisa kita bicara pada intinya?"


Jizo masih menatap nyalang pada Saka. Laki-laki berjambul kuning itu tampak tidak mau kalah. Saka juga masih belum menyerah walau kini dia sudah duduk lebih tenang.


"Mari bicara sebagai anggota organisasi," sambung Ko dengan suara berat. Meruntuhkan Saka dan Jizo seketika.

__ADS_1


__ADS_2