RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 20 : Reuni Kecil Di Rumah Besar


__ADS_3

"Selamat datang di rumah, Jizo." Seorang perempuan dengan rambut pirang indah tersenyum manis menyambut kedatangan pemuda itu. Mata Jizo menyipit karena bibirnya ditarik terlalu kencang. Jizo, menghampiri sosok itu segara.


"Aku pulang." Jizo memeluk Haru penuh kerinduan. Ini sudah hampir tiga tahun sejak terakhir kali Jizo bertemu dengan gadis cantik itu. Jizo tidak bisa untuk menahan dirinya.


"Apa kau makan dengan baik disana?" Suara lembut Haru mengalun. Dia memberi perhatian lebih pada Jizo yang tak juga melepaskan pelukannya.


"Aku makan teratur, tapi tidak ada yang seenak masakanmu di Distrik Barat," keluh Jizo. Saka di belakangnya memasang wajah jijik. Jiwa manja Jizo selalu bangkit jika di dekat Haru.


"Kalian akan bermesraan seperti itu sampai besok?"


Haru tertawa kecil mendengar sindiran Saka yang tidak dipasang rem. Gadis itu mendorong pelan tubuh Jizo, memberi mereka jarak, sehingga Haru bisa melihat wajah Jizo. Laki-laki itu memandangi Haru dengan penuh arti.


"Masuklah, pamanmu menunggu." Jizo mengikuti langkah Haru menuju Rumah Besar Corvus. Dia menggendong erat tas punggungnya sembari masuk ke dalam dengan penuh antusiasme.


Huh, akhirnya Jizo akan bertemu dengan orang yang mengirimnya pergi jauh.


Rumah Besar dihias dengan interior kuno berbau eropa. Ini adalah gaya milik kakek Jizo. Saat pamanya mewarisi Rumah Besar, beliau mempertahankan segalanya. Kata Ko, paman Jizo, semuanya sudah ada di tempat yang tepat. Kemegahan rumah ini cukup untuk menampung anggota eksekutif Corvus. Yang terpenting, letaknya dekat dengan laut.


"Jizo, keponakanku!"


"Paman!"


"Honoho!" Pria berbada besar itu memeluk Jizo dengan bangga. Dia melepaskannya beberapa detik setelahnya. Ko mengamati bagaimana Jizo bertambah semakin tinggi.


Jizo menyeringai. "Aku selalu menjaga diriku, paman. Tidak perlu terkejut melihat genku sebaik ini."


Ko terbahak mendengarnya. Diikuti Haru yang tersenyum maklum melihat reuni kecil tersebut. Sedangkan Saka, laki-laki itu memilih duduk di sofa sembari mengambil permen yang ada di toples.


"Apa perjalananmu menyenangkan?"


"Ya, tidak ku duga Saka menyetir tanpa menabrak orang lain."


Saka hampir tersedak oleh permen yang sedang dilumatnya. "Bisakah kau tidak menjelekkanku sebentar saja, anak sialan?"


Jizo hanya membalasnya remeh saat ikut menyamankan diri di tempat duduk. Haru menyodorkan segelas jus jeruk padanya dan Saka yang baru saja dibawa oleh seorang pelayan.


"Haru, aku tidak suka jus jeruk." Saka memandang Haru kecewa, merasa didiskriminasi. Di sebelahnya, Jizo menyesap cairan kuning itu penuh nikmat. Jus jeruk adalah minuman terbaik di dunia.

__ADS_1


"Terima kasih, Haru. Aku sudah lama ingin minum jus jeruk buatan rumah." Jizo lagi-lagi tersenyum. Entah sudah berapa kali laki-laki itu memasang wajah terbaiknya sejak sampai di hadapan Haru. Hanya Haru yang bisa membuatnya sepenurut itu.


Haru mengangguk. "Kau tidak pernah membuat jus sendiri selama ini?"


"Tidak, aku selalu beli dari mesin otomatis."


Ah, Jizo jadi ingat rasanya. Bukan dia yang membeli, sebagian besar, jus jeruk itu dibayar dengan uang Airi. Jizo meringis geli.


"Kenapa Jizo?"


"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu yang lucu." Dia mengibaskan tangan. Bisa gawat jika mereka tahu soal Airi di hidup Jizo.


Jizo tidak ingin berbagi perihal kenalannya di Distrik Barat. Itu seperti rahasia kecil yang membuat dadanya berdebar-debar. Jizo berpikir untuk membuat segala hal soal Airi dan Distrik Barat sebagai zona privasi.


Laki-laki itu tidak mau membayangkan bagaimana reaksi orang-orang di Corvus jika dia memanfaatkan seorang gadis kecil hanya karena reaksinya yang lucu. Jizo bahkan terkadang terlalu manja pada Airi, yang jelas-jelas adalah orang asing, bukan bagian dari anggota organisasi.


Itu mengerikan untuk diceritakan pada orang-orang disini. Mereka akan mempertanyakan dimana jiwa penguasa Jizo yang merupakan keturunan asli keluarga Corvus.


"Jizo, aku memintamu pulang lebih cepat karena sesuatu yang mendesak." Ko buka suara setelah beberapa obrolan ringan Jizo, Saka, dan Haru.


"Aku sebenarnya ingin kau membantu Arba dengan kasus yang terjadi pada Caracal, tapi hari ini..."


"...hari ini adalah kebetulan yang mengejutkan."


"Sepertinya, misi ini akan sepenuhnya jadi milikmu."


Wajah pemimpin Corvus itu menjadi begitu serius. Permasalahan yang sedang dihadapi kelompok itu tidak main-main. Ada lubang dimana-mana, pada tanah landai sekalipun, ada ranjau. Setiap langkah mereka bisa membawa kepada kegoyahan.


"Pergilah ke Distrik Timur Laut dengan Saka untuk menemui Onaka. Arba dan Huta akan—"


Ceklek.


"Maaf, Tuanku. Aku harus menyela. Tapi, aku sudah dapatkan identitas korban."


Semua orang di ruangan itu menatap Arba yang baru saja masuk dan memotong rapat mereka. Laki-laki itu membawa sebuah file hijau di tangannya.


"Duduklah, Arba."

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan." Arba menegakkan tubuhnya kembali. Si rambut pudding membuka berkas yang tadi dia genggam. Ada foto-foto mayat seseorang, selembar identitas diri, juga sebuah kertas persegi panjang yang dibungkus plastik.


"Jelaskan, Arba."


"Namanya Royo Jiznor. Dia adalah warga Distrik Barat."


Arba menjeda. Memandang Atasannya yang tampak memproses informasi yang baru dia dapat. Jizo melakukan hal yang sama.


Distrik Barat? Mengapa mayat warga Distrik Barat ada di dermaga Corvus? Apakah dia pekerja disini?


"Dia bekerja sebagai awak pembantu kapal sementara, tapi sebagian besar dia membantu di dermaga."


Seperti mendengar setiap suara penasaran makhluk di ruangan itu, Arba kembali melanjutkan.


"Dibunuh karena kekerasan, terjejak bekas gar, dia pasti ditaburi garam atau bahkan dicelupkan ke laut."


Jizo mengerutkan kening. Dia membayangkan bagaimana seorang buruh dermaga dibunuh sedemikian rupa. Bukankah sudah pasti tubuhnya sangat besar dan kuat? Pelakunya pasti seseorang yang setidaknya sama kuat, atau bisa jadi lebih dari satu orang.


"Masih tidak jelas apa motif memasukkan mayat itu ke dalam tas. Tapi, polisi beranggapan itu digunakan untuk mempermudah pemindahannya."


"Jadi, maksudmu dia tidak dibunuh di dermaga, tapi sengaja dibawa ke dermaga?"


Ko menyela setelah beberapa penjelasan Arba membawa pada bayangan kejadian.


Jizo memutarnya seperti film di kepala. Otak yang tidak terlalu baik dalam bidang akademis itu dia paksa untuk berpikir kritis saat ini. Laki-laki tersebut memandang satu per satu anggota keluarganya yang juga sedang berpikir.


"Apakah pelakunya lebih dari satu orang?" Haru mengajukan pertanyaan lebih dulu. Tepat sekali seperti apa yang tadi Jizo duga.


Arba mengiyakan. "Untuk mengangkatnya, apalagi jika benar-benar ditenggelamkan dulu di air, pasti massanya cukup berat."


"Bagaimana menurutmu, Saka?"


Yang dipanggil masih sibuk dengan permen rasa cerinya. Dia adalah yang palinh terlihat santai dari semuanya. Saka melepaskan lolipop itu dari mulut.


"Bukankah ini jelas sekali satu tipe dengan kasus Caracal?"


Dan satu-satunya kalimat yang dia sumbangkan dalam diskusi itu, membuat semuanya terdiam penuh kewaspadaan yang tinggi.

__ADS_1


__ADS_2