RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 10 : Mencelupkan Tangan Ke Dalam Cat, Tidak Membuat Tembok Cepat Berwarna


__ADS_3

"Ternyata, Airi tidak bisa hidup tanpaku, huh?"


"Apa yang kau lakukan disini sebenarnya, Jizo?!" Jari airi beralih pada Jizo. Laki-laki itu terkekeh.


"Aku sudah bilang, aku membantumu."


Membantu apanya dengan menyiram orang tak dikenal, Jizo ini?


"Kakak, tolong maafkan kami!"


"Kami hanya bercanda tadi, sungguh!"


Airi menandangi ketiga orang yang kini terlihat kacau dengan badan basah kuyup. Jizo menyiram mereka dalam air besar pada satu siraman. Kasihan sekali, Airi menebak mereka bisa terkena masuk angin setelah ini.


"Kenapa kalian melakukan itu?" Tangan Airi disilangkan di depan dada. Biarkan saja Jizo, kebetulan urusannya dengan tiga orang di hadapannya. Airi tak peduli mengapa Jizo menyiram mereka.


"Kami hanya bercanda, Kakak! Sungguh!"


"Kami sangat menyesal! Kami tidak akan melakukannya lagi!"


Perempuan dalam kelompok itu sudah menangis sesenggukan. Oh, ayolah. Airi korbannya disini. Mengapa jadi dia yang terlihat seperti penjahatnya.


"Baiklah, jangan diulangi. Itu menyakiti orang lain." Airi sebenarnya ingin memarahi mereka lebih lanjut, namun melihat tiga orang itu mulai bergetar hebat dia mengurungkan niat.


Airi tidak boleh menyiksa anak orang lain. Mereka punya orang tua yang menunggu di rumah. Jizo, pasti telah melakukan sesuatu pada trio itu, dan Airi tak ingin menambah masalah.


"Pergilah."


"Terima kasih, Kak—"


Jizo menahan kerah salah seorang dari mereka yang sudah melangkah.


"Mau kemana?" tanyanya.


"Kau melepaskan mereka begitu saja?! Aku sudah susah payah menangkapnya dan kau akan membiarkannya berlalu?" Kini, pertanyaan itu diajukan kepada Airi.


Dengan datar, Airi membalas, "Jangan ikut campur, Jizo. Kau juga pergilah."


Airi berbalik badan setelah mengucapkannya. Dia sekarang jadi benar-benar tidak peduli soal selimut yang sedang dicuci ulang. Airi hanya ingin cepat-cepat menyelesaikannya lagi dan menghilang dari tempat itu begitu melihat Jizo.


"Tidak, tidak. Tidak bisa begitu."


Airi masih bertahan. Dia kembali menyibukkan diri. Menulikan indra pendengarannya dari Jizo.


"Kalian,"


"Y-ya!" Airi mendengar mereka membalas serempak padahal Jizo hanya memanggil dalam satu kata. Laki-laki itu pasti melakukan hal yang buruk sebelumnya pada mereka.


"Bertanggung jawab, pergi bantu dia."


Itu titah, perintah, mutlak.


Mereka bertiga mengangguk serentak lalu berjalan ke arah Airi. Gadis itu masih menutup mulut, tidak berkomentar. Tangannya menggosok kuat-kuat kain putih besar yang berat itu.


Tiga orang yang tadi menjahili Airo berdiri beberapa langkah darinya, menyenggol satu sama lain saling bisik. Jizo, mengawasi dari belakang.


Airi berusaha untuk tidak terdistraksi, namun mereka tidak bisa berhenti memanggil-manggilnya Kakak.


"Kakak, biarkan kami membantumu."

__ADS_1


"Apa yang bisa kita lakukan, kakak?"


"Kakak..."


"Ck," Airi berdecak. Dia melirik mereka tajam. Laki-laki lebih pendek di sebelah kiri, yang berambut hitam cepak paling tinggi berada di tengah, sisa perempuan seorang diri di ujung kanan.


Mereka menundukkan kepala. Airi yakin itu karena takut pada Jizo, bukan dirinya.


"Siapa nama kalian?"


"Daren."


"Shiga."


"Kouni."


Nama disebutkan berurutan dari kiri ke kanan.


"Baiklah, terserah," tanggap Airi.


"Yang laki-laki lepas baju kalian, jemur disana." Airi menunjuk seutas tali panjang yang terikat di dua palang berjauhan.


"Yang perempuan, tunggu disini. Ganti bajumu. Jangan sampai ada yang terserang flu."


Airi meninggalkan mereka begitu saja untuk mengambil kaos cadangannya di tas. Dia serahkan itu pada gadis yang kini dia tahu bernama Kouni.


"Ganti pakaianmu dengan ini. Pasti tidak nyaman." Airi menyodorkannya dengan setengah hati. Jizo masih tidak menanggapi apa-apa. Sibuk menyandarkan diri pada pohon. Namun, matanya mengamati tiap gerak.


Airi bisa merasakannya.


"Terima kasih, kakak!"


"Terima kasih, kakak Airi!"


"Oh, terserah."


Setelah itu, Airi meminta Daren dan Shiga memindahkan selimut-selimut yang sudah digosoknya bersama Kouni untuk dibilas. Ini memang lebih efektif dan cepat, namun sedari awal ini adalah akibat dari perbuatan mereka.


Airi tidak yakin apakah dia harus berterima kasih atau tidak karenanya. Gadis itu hanya diam sepanjang sisa pekerjaan sedangkan tiga remaja tadi sepertinya malah menemukan permain baru.


"Apa yang Jizo lakukan pada kalian?" Airi bertanya di sela-sela perasan terakhir selimut yang siap dijemur. Kouni yang kini berdiri di sebelahnya terbatuk sesaat.


Airi merekan reaksi itu dan mengartikannya sebagaimana otaknya tadi menduga.


"Dia... Kakak yang itu..."


"Katakan, dia tak akan macam-macam." Airi menyakinkannya karena dilihat dari gelagat Kouni yang mencuri pandang ke Jizo, gadis itu masih merasa was-was.


"Tidak. Tidak apa-apa. Kami pantas mendapatkannya! Kami yang bersalah!" Bukannya melanjutkan pernyataan, Kouni malah membuat seruan lain.


Airi memandangnya datar. Percuma saja menari tahu. Tidak ada gunanya. Yang terpenting, sekarang tugasnya hampir selesai.


Airi mengambil alih selimut di tangan Kouni. "Pulanglah. Ajak dua temanmu pergi dari sini."


"Aku sudah selesai," sambungnya.


"Benarkah?! Yahoo!"


Mata Kouni berpijar, membuat Airi ingin segera menyingkirkannya dari sini sekarang juga.

__ADS_1


"Shiga! Daren! Ayo per—"


"Siapa mengijinkan kalian pergi?" Ucapan Kouni yang tadi disertai senyum sumringah tenggelam seketika. Airi yang sedang menjemur selimut menoleh kala mendengar suara Jizo yang muncul dari balik selimut.


Laki-laki itu sudah bagus bertahan tak bersuara sedari tadi. Mau apa dia sekarang?


"Kalian selesaikan ini. Harus selesai sebelum gerbang ditutup."


Daren, Shiga, serta Kouni menangguk bersama. Airi mengerutkan kening. Astaga, terserah saja.


"Hei, gembal. Kau tidak pulang?"


Airi berpura-pura tuli. Dia masih menepuk-nepuk selimut yang sudah dijembrang besar di atas tali jemuran.


"Hoi! Nona Airi!"


"Airi, kau benar-benar tuli sekarang?"


"Oe, mau aku membantumu mendengar?"


Airi bergidik saat Jizo bicara tepat di samping telinganya. Arti tatapannya adalah isyarat untuk Jizo menyingkir. Tapi, Jizo tetap Jizo. Laki-laki itu terkekeh puas.


"Baiklah, urus ini. Aku yang pergi." Airi tanpa basa-basi lagi, meninggalkan tempat itu.


Tidak ada gunanya membalas setiap perlakuan Jizo. Airi sudah kelelahan.


Gadis itu duduk di bangku tempatnya meletakan tas tadi. Dia memandangi tepian roknya yang berubah warna jadi cokelat. Itu sudah kering, tapi tetap menjijikan.


Airi baru saja akan kembali mengecek telepon genggamnya saat mendapati Jizo juga mengikutinya kemari. Dia mendelik. Apa lagi, Jizo? Apa lagi?!


"Jangan lagi sengaja menjaga jarak seperti hari ini." Jizo mendudukan diri di samping Airi. Gadis itu tak bergeming, melanjutkan untuk membuka kotak pesannya. Tersenyum kecil mendapati balasan dari sang ayah akhirnya tiba.


"Ayah sudah sampai."


Hanya itu dan Airi merasa sangat lega.


Jizo mengocok kaleng jus jeruknya, Airi masih sibuk dengan ponselnya.


"Aku tau kau tidak punya teman mengobrol selain aku di kelas."


Itu tidak seperti mereka pernah memiliki perbincangan yang sesungguhnya, Jizo. Airi membatin, namun masih mengabaikannya.


"Aku tau orang-orang menganggumu jika aku tidak di sekitarmu."


Oh, lihat menurutmu salah siapa itu? Terima kasih pada Jizo, dia jadi sasaran empuk untuk dipermainkan.


"Aku tau—"


"Jizo, berhentilah ikut campur dalam urusanku atau urusan orang lain."


"Jangan sok peduli. Itu tidak berpengaruh apa-apa." Airi memotongnya sebelum Jizo bicara lebih banyak hal tak berguna.


Airi tidak tertarik akan visi misinya.


Laki-laki di sebelahnya tertawa keras. Reaksi yang selalu dia gunakan entah untuk kalimat apapun yang keluar dari bibir Airi.


Airi membereskan barang-barangnya. Dia bangkit tanpa mengucapkan apa-apa pada Jizo. Oh, gadis itu menoleh sekali untuk terakhir kalinya.


"Pastikan mereka mengembalikan ember dan sikat ke tempatnya." Airi melirik tiga sejoli yang sibuk menjemur selimut. Dia memberi tanda pada Jizo, jika dia sudah ikut andil, maka selesaikan.

__ADS_1


Setelahnya, Airi melangkah menjauh dari Jizo yang kini duduk berdua saja dengan jus jeruk kesukaannya itu.


__ADS_2