RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 15 : Anak Laki-laki Cantik Itu Tergeletak di Tempat Sampah


__ADS_3

Distrik Timur Laut,


Wilayah kekuasaan Caracal,


Perfektur Kido.


Beberapa jam sebelumnya...


Onaka menggaruk dagunya. Dikecapnya sekali rasa manis, lalu berkedip. Permen di mulutnya menguarkan legit yang memekakkan, membanting gigi-giginya. Namun, dia memang butuh sesuatu untuk membuatnya terjaga. Tadi, jarum jam bahkan belum menyentuh angka tujuh pagi saat ia dipaksa meninggalkan rumah dengan kopinya yang baru saja diseduh, belum sempat ditandaskan.


Telepon dari bawahannya datang bertubi tanpa kesabaran. Suara di seberang sana kalut dan bergetar. Onaka menjawabnya untuk tenang dan menarik napas, lalu bicara dengan benar.


Dia bergegas pergi ke pabrik ketika mendengar kata mayat dan warga sipil diucapkan. Pantas saja dia dihubungi dengan kacau, ternyata situasinya segawat itu. Dalam perjalanan, sudah dia duga ini akan jadi alasan sakit kepala.


Tanpa pikir panjang, dia menyambungkan diri pada Ken, tangan kanannya, "Ken, aku mau kesaksian semua anggota."


Teleponnya ditutup cepat, selagi sebelah tangannya memegang kemudi mobil dengan buru-buru.


Saat sampai disana, ia menatap Ken yang sudah lebih dulu sampai. Laki-laki awal dua puluhan itu tampak bicara dengan teleponnya sebelum matanya menangkap sosok Onaka yang menempatkan diri disana dengan tergesa. Tanpa ditanya, Ken menjelaskan apa yang dia dapat.


Onaka bernapas sedikit lega karena tak ada satu pun anggota Organisasi Caracal yang mengenal mayat itu. Artinya, mereka bersih. Mencuci tangan sebelum Biro lokal mengambil alih adalah pilihan yang tepat.


"Bukan bagian dari kita?" Pemilik jas putih selutut memastikan jawaban sekali lagi agar dia semakin tenang. Manisan di mulutnya hampir habis. Tangannya bersembunyi di saku, ketika mata cokelat laki-laki itu mengobservasi tanpa terlewat satu titik pun.


Mayat itu dibaringkan di antara limbah. Paras cantiknya masih terlihat mencolok walau ia dikelilingi sampah, seakan menegaskan bahwa emas akan tetap menjadi emas dimana pun dia berada.


Surainya pirang, bulu matanya lentik, kulitnya bahkan terlihat terlalu lembut untuk seorang laki-laki. Ukuran badannya kecil, dia mungkin hanya separuh Onaka.


Sayang, keindahan itu ternoda beberapa lebam disertai bau busuk serta tubuhnya yang memucat dan perlahan biru.


Kernyitan halus muncul di dahi Onaka. Dia jelas tidak mengenalinya. Siapa juga yang dengan sengaja membuang mayat disini, dari semua tempat, di pabrik farmasi Kelompok Organisasinya? Sengaja kah? Apakah pembunuh ini ingin bermain-main dengan mereka?


Dia memang tidak lagi mencari tahu informasi perihal siapa mayat itu saat anggotanya bilang mereka tidak terlibat. Sebagai solidaritas, dia mempercayai ucapan mereka. Itu sudah cukup. Namun, intuisinya tetap mencurigai semua kemungkinan. Dia bahkan memikirkan hasil terburuknya.


Kepala Onaka menoleh ke belakang, "Benar-benar tidak ada yang mengenalinya?"


Yang lebih kecil sosoknya mengangguk, "Ya, dia bahkan tidak ada di data." Jemari lentiknya mengotak-atik tablet, memastikan sekali lagi informasi yang dia bawa tepat. Dia menegaskan mata pada atasannya. Meyakinkan.


"Biro lokal akan mengurusnya. Pastikan saja tidak ada dari kita yang menyentuh mayat itu. Jangan membuang waktu untuk ini."


Ken mengangguk kecil. Di belakang mereka, masyarakat berkumpul untuk menonton. Tentu saja ini bukan hal biasa, orang-orang yang tinggal di sekitar pabrik pasti berbondong-bondong untuk datang. Tapi mereka tak bisa lebih dekat dari itu. Sejak awal, pabrik farmasi yang berada di bawah pimpinan Onaka memang tidak sering dilewati banyak orang.


Sebenarnya, apa yang mereka lihat? Kematian seseorang bukan tontonan. Onaka sudah mulai merasa pening, belum lagi jika nanti Biro lokal dan reporter sampai kemari.


"Tuan Onaka, Biro lokal sudah sampai disini." Ken melirik ke kanan saat menyadari beberapa orang berjalan tergesa menuju mereka.


Kepala Onaka diayunkan untuk mendapati pria paruh baya berkacamata berdiri dengan buku catatan di tangannya.

__ADS_1


Matanya terlihat dilingkari garis-garis hitam. Onaka berguman, "Lihat itu, sepertinya Pak Takeda tidak mendapat jatah tidur yang sepadan dengan jam kerjanya lagi."


Ken yang mendengarnya hanya mendengus tidak peduli.


"Pak Takeda, apa kabar?"


"Apa aku terlihat baik, Tuan Onaka?" Tawa Onaka pecah mendengar pertanyaannya dibalas oleh lawan bicara dengan lidah tajam.


"Santai sedikit, Pak Takeda. Kau tidak boleh lagi menua lebih cepat."


"Ya, ya, terima kasih atas kerja kerasmu."


"Kami tidak melakukan apapun yang membantu, memberi kalian akses memang sudah tugas kami." Onaka menyeringai. Dia ikuti langkah Takeda yang sama mengamati mayat itu seperti dirinya tadi.


"Kau yakin anggotamu tidak terlibat?" Bisikan Takeda sampai ke telinga Onaka. Mereka berdiri berdekatan, mungkin hanya dia yang mendengarnya. Barangkali itu sengaja menjadi perbincangan khusus mereka karena tubuh pekerja Biro lokal itu saja masih condong ke arah mayat tadi.


"Eeeeeeiiiiiy, kami ini orang-orang bermartabat, Pak Takeda. Kami terlalu sibuk membuat obat, mana sempat melakukan hal seperti ini." Mata Onaka menatap Takeda dengan isyarat bahwa ia tersinggung. Laki-laki itu menagih permintaan maaf rendah hati.


Tapi kita bicara tentang Takeda, Onaka sudah tahu hasilnya saat melihat dia menghembuskan napasnya, Takeda selesai mencari-cari. "Kami mengidentifikasi identitasnya dari foto yang kalian kirim. Dia memang  bukan dari Distrik ini. Dia adalah warga Distrik Timur."


"Apa yang dilakukan warga Distrik Timur disini?"


"Dia pemain teater."


"Teater?"


Dia dan Onaka menoleh saat mendapati suara sirine lain datang mendekat.


Onaka dan Takeda bergeser, memberi akses anggota Biro lokal lain untuk mengumpulkan barang bukti dan mengangkut jenazah itu menuju tempat autopsi.


"Ingat-ingat sekali lagi, Tuan Onaka. Kalian tidak ada urusan dengan seseorang di Distrik Timur?" Onaka membalas tatapan pejabat Biro lokal itu dengan sama serius.


Distrik Timur? Kuroo memasang wajah tak goyah. Dia menurunkan hawa ramahnya tadi dalam sekejap. Permen di mulut Onaka menjadi pahit, sedangkan Takeda tetap berdiri disana, menatapnya penuh curiga di balik kacamata.


"Kami tidak dalam posisi seperti itu dengan seorang pun disana. Bahkan jika ada, mana mungkin kami memanggil kalian kemari. Organisasi kami jelas bisa bergerak lebih cepat dari kalian. Kenapa repot-repot menggunakan Biro lokal?"


Setengah percaya, Takeda hanya mengiyakan jawaban Onaka. Yang memberi pun memaklumi tingkahnya, kecurigaan memang makanan sehari-hari untuk mereka.


"Dugaan awal dia disiksa dengan benda tumpul, tapi lebam pada tubuhnya lebih buruk karena pembusukan."


"Bisa jadi ia sudah semalaman diletakkan disini. Kami tidak yakin tentang waktu kematiannya, tapi itu pasti terjadi sekitar dua hari ke belakang."


Takeda membaca catatannya. Sedangkan Onaka mendengarkan dengan khidmat. Laki-laki itu memberi kesan bahwa ia mengerti semua yang diucapkan lawan bicaranya.


Onaka membuka bungkus baru permen pop dari sakunya. Menawarkan satu untuk Takeda.


"Dengarkan aku dengan serius, Tuan Onaka."

__ADS_1


"Aku mendengarkan dengan serius."


Takeda melanjutkan ucapannya, "Kami butuh semua rekaman kamera pengawas di sekitar. Aku ingin kau memastikan anggotamu tidak menghalangi pekerjaan kami, Onaka."


Onaka tersenyum sekali lagi. Dia menunjukkan keramah-tamahan sebagi tuan rumah. "Tentu saja. Ken, kirim semua salinan rekaman kamera pengawas dan bantu apa yang mereka butuhkan."


"Ah, tapi Pak Takeda, aku juga tidak mau para pekerjaku merasa terganggu jika kau tidak ramah begitu. Bukankah kita perlu akur untuk bekerjasama?"


Takeda diam beberapa saat. Tanggapannya ditunggu dengan sabar oleh Onaka. Seperti yang sudah-sudah, tak ada yang bisa diharapkan dari seorang Takeda.


"Tuan Onaka, aku yakin kau mengerti keadaannya."


"Pembunuhan penduduk sipil di areamu sudah merepotkan, terlebih dia adalah warga Distrik Timur, kelompokmu sendiri belum bisa memberi alibi kalian tak terlibat dengan seseorang disana. Kalian tidak memberi kami bukti bahwa ini bukan perkara antar organisasi kalian yang menyebabkan warga sipil terbunuh."


"Perjanjian Terbuka jelas bisa merugikanmu saat ini."


Sudut bibir Onaka ditarik tinggi. Seperti tebakannya, ini adalah lubang besar. Anggota Kelompok Organisasinya dipaksa ke ujung jurang. "Biro lokal punya banyak celah untuk menyalahkan kami, eh?"


"Ya, aku tidak menyangkalnya."


"Aaaah, jadi kalian meragukan kami, Pak Takeda."


"Onaka, masalahmu bukan hanya dengan Biro lokal. Bagaimana dengan organisasi lain? Kau yakin ini bukan salah satu jebakan?" Alis Takeda terlipat. Dia mendekat ke arah Onaka agar suaranya bisa dipelankan.


Onaka terbahak mendengarnya. Dia menumpukkan kedua tangannya pada pinggang, sedangkan dadanya naik turun. "Kau mengkhawatirkan hal itu?"


Padahal, dia jelas tahu. Itu bahkan mampir di otaknya sebagai urutan pertama. Onaka ini tidak bodoh membaca situasi. Tapi tak ada bukti dan semua di kepalanya hanya asumsi. Pilihannya cuma satu, menjaga hati-hati kalimatnya.


"Ayolah Pak Takeda, ini hampir seabad sejak Perjanjian Terbuka ditandatangani. Menjatuhkan satu sama lain seperti itu sangat kuno."


"Terserah." Takeda berlalu pergi. Bicara dengan Onaka, tidak ada gunanya, begitu dia membatin.


Sepeninggal Takeda, perlahan senyum Onaka meluntur sedikit demi sedikit. Wajahnya berubah serius. Tak ada jejak-jejak jenaka seperti beberapa detik lalu. Permennya dipisahkan dengan lidah, matanya menyorot tajam.


"Ken."


"Ya."


"Hubungi Corvus."


Ps.


Isi Perjanjian Terbuka nomor dua :


Kelompok Organisasi bekerja sama dengan aparat Biro lokal dan penegak hukum dalam menyelesaikan kasus yang terjadi di wilayah Kelompok Organisasi terkait jika diminta dalam surat perintah khusus.


Ketersediaan bantuan dianggap sebagai kode etik yang menunjukan kemartabatan pemimpin Kelompok Organisasi.

__ADS_1


Sebagai gantinya, Kelompok Organisasi diberi kebebasan tanpa campur tangan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan internal dalam kelompok dan antar kelompok. Segala dampak yang terjadi di luar tanggung jawab pemerintah pusat dan sepenuhnya hak milik Kelompok Organisasi.


__ADS_2