RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 13 : Tas Punggung Berat Berisi Beban Hidupnya


__ADS_3

Airi mengecek kembali barang bawaannya. Dia hitung baju yang sudah dimasukkan, alat-alat kebersihan, hingga uang persediaan yang akan dia kantongi.


Akhirnya, hari yang paling ditunggu Airi dan Akane sudah tiba. Gadis itu tersenyum tulus saat melihat selembar tiket masuk ke pentas teater di sampingnya.


Pentasnya mulai nanti malam. Airi dan Akane akan berangkat pagi ini. Usai dari pentas, rencananya mereka akan berjalan-jalan sebentar di Distrik Timur Laut, lalu memesan hotel kotak sekali sewa. Besoknya, mereka akan melanjutkan berkeliling dan memesan tiket bus pulang saat siang agar kembali tidak terlalu larut.


Setidaknya 6 jam perjalanan karena Akane memutuskan untuk pergi dengan bus antar kota. Bisa menjadi lebih lama jika macet mengingat mereka pergi di akhir pekan.


Namun, Airi tidak bisa menghubungi Akane dari kemarin. Padahal, gadis itu lah yang paling bersemangat. Seharusnya, dia mengirim puluhan kalimat antusias ke ponselnya, bertanya soal bawaan, atau hanya sekadar bicara tentang betapa tak sabarnya ia.


Airi khawatir terjadi sesuatu. Walau tidak tahu bagaimana keadaan Akane, dia tetap berkemas. Berjaga-jaga jika mereka benar-benar akan pergi.


Dia mengetik pesan cepat pada Akane. Menanyakan apakah temannya itu sudah bersiap.


"Akane? Apa kita jadi pergi hari ini?"


"Kenapa tidak menghubungiku dari semalam?"


Tapi, tetap tidak ada balasan sampai beberapa puluh menit kemudian. Airi memutuskan untuk berangkat ke terminal bus antar kota lebih dulu karena mereka berjanji untuk bertemu disana. Supaya lebih terkesan petualangan, kalau Akane beralasan.


Akane bisa saja sudah disana dan sengaja mematikan ponsel. Dia kan penuh kejutan dan ide-ide aneh.


Airi naik bus bernomor 45 yang langsung sampai dalam setengah jam di depan pintu masuk terminal. Airi menggendong ranselnya, membelah lautan manusia. Dia genggam erat-erat cetakan tiket bus yang sudah dia pesan secara daring sejak beberapa hari lalu.


Setelah berkeliling beberapa menit dan masih tak menemukan sosok Akane di manapun, Airi mendudukan diri di kursi panjang dekat loker tiket.


Perasaannya mulai tak enak. Mengapa Akane tidak ada disini sekarang? Tidak ada satu jam sampai bus mereka berangkat ke Distrik Timur Laut dan mereka tidak punya waktu untuk disia-siakan. Apakah Akane sedang bermain petak umpet atau bagaimana?


"Akane, kau dimana?"

__ADS_1


"Aku sudah di terminal sedari tadi."


"Akane, apa kita jadi pergi hari ini?"


"Akane?"


Airi tidak mungkin pergi sendiri. Semua ini adalah Akane yang merencanakan. Akan jadi penyesalan besar bila tidak terwujud mengingat bagaimana Akane bahkan sudah membeli tiket pertunjukan, memesan nomor bangku bus, hingga memilih hotel tempat untuk bermalam.


Akane tidak berhenti membicarakannya selama dua minggu, tidak mungkin dia membatalkannya begitu saja. Tanpa memberi tahu Airi yang sudah dia bujuk setengah mati? Khayal.


Airi menekuk badannya dengan kepala yang menoleh kesana kemari. Ponselnya digenggam erat. Dia aktifkan seluruh indranya, berharap akan membantu dalam menemukan Akane.


Oh, ayolah, Akane. Jangan bercanda. Airi duduk disini lebih dari sepuluh menit. Gadis itu mulai berkeringat khawatir. Matanya tak tenang melirik ransel dan ponselnya bergantian, berharap ia temukan balasan dari Akane disana.


"Jika kau tidak sampai dalam sepuluh menit, kita batal menonton teater."


"Akane, supir bus tidak mau menunggu jika kau terlambat."


Semua pesan Airi ditinggalkan dengan status terkirim tanpa jawaban. Dia bersumpah, jika Akane tak muncul dalam hitungan ke seribu, Airi akan kembali pulang.


Airi bangkit, dia melongok ke luar dengan lehed panjangnya. Gadis itu menemukan bus yang seharusnya dia naiki nanti sudah terpakir rapi. Beberapa orang mengantri masuk, sedangkan yang lain mengangkat barang bawaannya ke garasi.


Ini belum ada separuh dari seribu hitungan, namun mereka seharusnya juga sudah berdiri di tempat itu. Sebenarnya, Akane ini sedang apa, sih?


Mulai yakin bahwa sahabatnya itu tak akan muncul hari ini setelah puluhan panggilang tanpa diangkat, Airi memutuskan untuk mengenakan kembali ranselnya dan berjalan keluar dari terminal.


Tiketnya dia kantongi, sudah tak berbentuk karena diremas terlalu erat sejak tadi menunggu Akane dengan perasaan tak tenang.


Notifikasi ponselnya kosong, begitu pula hatinya tanpa motivasi.

__ADS_1


Airi jadi memikirkan banyak hal di sepanjang perjalanan pulang. Apa dia setidakmenyenangkan itu untuk dijadikan teman hingga Akane memutuskan membatalkan perjalanan dua hari satu malan mereka? Apa kebetulan Airi menyakiti hatinya kemarin hingga ia berpikir ulang soal pergi?


Apakah Akane sakit sehingga tidak sempat menghubunginya?


Hati Airi tergores membayangkan itu semua benar. Tamat sudah pertemanan satu-satunya yang dia punya. Bagaimana Airi akan kembali mencari partner setelah ini jika dia saja selalu membuat orang menjauh?


Yang membuat semua makin buruk adalah Airi tidak tahu dimana rumah Akane berada. Dia tidak bisa menemukan jawaban, tidak punya orang lain untuk memberinya jawaban.


Airi menghela napas lelah. Dia sandarkan kepalanya pada tiang penanda jalan dekat halte. Tasnya berat di punggung, hatinya terbebani hingga mau runtuh.


Beberapa orang meliriknya iba karena kini dia terlihat seperti turis yang tersesat, ketika dia adalah penduduk asli distrik ini. Barangkali, kini yang tersesat adalah perasaan Airi.


Dia tidak kecewa karena batal menonton pertujukan teater (itu adalah Akane yang ingin menontonnya), dia hanya merasa lebih turun saat kembali mengingat bahwa hidupnya sedari awal memang tidak pernah rata seperti ini.


Airi pasti telah terlalu banyak bersenang-senang menghabiskan harinya dengan Akane tanpa gangguan Jizo akhir-akhir ini hingga dia terlena dan lupa. Lupa bahwa Airi tidak pernah mengantongi yang namanya ketenangan dalam saku takdirnya.


Airi merosot hingga terjongkok dengan tubuh yang masih bersandar pada tiang penanda. Ah, sekarang seseorang mungkin akan benar-benar menelepon polisi dan mengatakan ia imigran legal karena tampang kacaunya.


Hati Airi melemah soal pertemanannya dengan Akane. Memikirkan bahwa ini berakhir tepat di depan mata membuatnya takut.


Airi bergetar dan kembali melihat ponselnya. Dimana sebenarnya Akane berada saat ini? Airi menatap jalan dengan linglung. Berharap seseorang memberi jawaban. Berharap ke khawatirannya tidak benar.


Namun, tangannya bergulir pada kolom pesan ayahnya. Jarinya menyentuh huruf demi huruf perlahan. Matanya masih kering, padahal ingin sekali menangis.


Katakan bahwa Airi berlebihan hanya karena satu rencana bermain dengan orang lain gagal. Jika ini bukan Airi, mereka mungkin tinggal membuat janji lain dan menentukan hari baru.


Tapi, Airi tidak pernah berpengalaman soal ini. Apakah tidak datang di hari H tanpa pemberitahuan adalah hal yang wajar juga untuk orang lain? Pertanyaan Airi menderu berisik di dalam hatinya.


"Ayah..."

__ADS_1


Dan pesannya terkirim. Dibaca dalam hitungan detik oleh Royo. Membuat Airi semakin tidak bisa bangkit di atas kaki-kakinya yang lemas.


__ADS_2