RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 24 : Pelukan Untuk Dunia Yang Tidak Aman


__ADS_3

"Tuan Arba, anda sudah kembali."


Jizo dan Arba yang masih menatap ke arah gadis remaja yang sedang menangis diinterupsi oleh panggilan seorang petugas biro lokal.


Arba menoleh, sebelum sekali lagi memastikan bahwa Jizo belum berpindah dari tempatnya. Pemuda itu masih terpaku pada apa yang dilihatnya.


"Tuan Arba, kepala departemen ingin bicara dengan anda." Petugas itu ikut melirik ke tempat Airi berada karena dua orang di depannya tampak tidak begitu terkoneksi dengan apa yang dia bilang.


"Bukankah itu nona dari Distrik Barat?"


"Dia datang beberapa menit lalu dan tidak berhenti menangis setelah melihat mayat ayahnya," kata petugas itu. Akhirnya, Jizo memberi atensi pada perempuan berseragam abu-abu tersebut.


"Karena dia tidak bisa kembali ke Distrik Timur segera, kami persilahkan dia menunggu disini sebagai saksi dan kerabat."


"Walau semua pernyataannya sudah dicatat," sambungnya. Jizo dan Arba sontak kembali pada Airi.


Mereka hanya terpisah satu penghalang kaca, suara tangis Airi jelas bisa terdengar sampai sini. Jizo sadar betul bahwa Airi butuh waktu. Tidak mungkin untuk segera kembali pulang, padahal ia baru saja sampai.


"Tuan Arba, anda jadi bertemu kepala departemen?" Petugas itu menawari si laki-laki pudding sekali lagi. Arba tersadar cepat lalu mengangguk.


"Aku akan menemuinya," jawab dia dengan yakin sebelum melangkah pergi mengikuti arah yang ditunjukan petugas tersebut.


Arba menepuk pundak Jizo pelan, "Hiburlah, kau bilang dia temanmu."


Pemuda yang sudah Jizo anggap seperti kakaknya itu memberi isyarat bahwa dia boleh mendekati Airi. Jizo diijinkan untuk bicara dengan gadis itu.


Dengan pasti, Jizo menggeser pintu tembus pandang yang memberinya akses pada ruang tunggu. Disini, suara Airi terdengar jauh lebih keras. Melonglong dengan begitu menyedihkan. Jizo meringis dengan miris. Situasi ini tidak cocok untuk Airi.


"Airi," panggil Jizo. Suara bariton itu menyentuh pundak sang gadis yang sedang patah hati. Airi terjengkat sesaat kala mendengar suara yang familir menembus telinganya.


Masih bersimpuh di lantai, Airi menoleh ke belakang. Jizo berdiri dengan tegap dengan mata lurusnya. Dia melebarkan netra, tidak menyangka bahwa dari semua orang, Jizo lah yang berdiri disana.


Jizo bisa melihat bahwa kantung mata Airi mulai membengkak, hidungnya memerah gatal, dan tubuhnya belum juga berhenti bergetar. Dia menghampirinya dengan segera, ikut merendahkan diri di lantai.


"..."


Bibir Airi seakan bergerak, tapi tidak ada satu kalimat pun keluar dari sana. Malah, perlahan, genangannya semakin penuh, banjir, tumpah ruah menuruni pipi Airi. Dia menangis semakin menjadi-jadi.


Jizo sudah hilang kata-kata. Dia mengulurkan tangannya, melingkari tubuh Airi. Getarannya yang hebat, seakan menular pada laki-laki itu. Jizo terkoyak.


Kelopak Airi tertutup sedang dadanya ditepuk-tepuk keras karena sesak yang sungguh menyiksa. Jizo tahu, Jizo mengerti. Dia bisa merasakan bagaimana hati gadis itu sedang berhamburan. Alasannya untuk hidup baru saja direnggut.


Jizo mengeratkan peluknya, memberinya lebih banyak kekuatan. Airi tidak perlu merasa sendirian menghadapi takdir yang bermain-main dengan gila.

__ADS_1


"A-ayah... Ayah..."


Hanya itu lirihan yang akhirnya keluar dari bibir ranum Airi. Sang gadis tidak membalas rengkuham Jizo, sibuk menopang dirinya sendiri yang sudah hilanh arah. Airi merasa sesuatu berdengung dengan keras di telinganya.


"Ayah... A-yah... Yah..."


Jizo menegarkan tubuh Airi dengan masih dalam posisi berjongkok. Panggilan Airi pada ayahnya berubah menjadi latar belakang tragedi.


"Shhhh... Tidak apa-apa, Airi."


"Memangis lah..."


Jizo menegarkan punggung rapuh gadis di pelukannya. Mengusapnya pelan, berharap dengan begitu Airi bisa mendapat sedikit energinya untuk bertahan.


"Tidak apa-apa..."


"Tidak—"


Buk!


Jizo terdorong ke belakang. Kini dia duduk sempurna di lantai. Laki-laki itu mengerutkan kening, melongarkan peluknya, mengintip wajah Airi.


Ah, dia tertidur.


Jizo menghela napas. Gadis ini adalah Airi yang sama, yang melemparinya padangan permusuhan beberapa bulan terakhir. Orang yang sama juga, yang tidak segan membentak bahkan memasang wajah tak suka secara terang-terangan padanya. Airi yang begitu keras, tapi selalu berakhir menuruti ego Jizo.


Jizo berulang-kali memperingatkannya untuk tidak terlalu percaya pada orang lain, bahkan termasuk dirinya. Tapi, lihatlah. Airi baru saja kehilangan ayahnya yang paling berharga, merasa seorang diri di dunia yang kejam, namun saat Jizo menghampirinya untuk memberi sedikit dukungan, gadis itu merasa aman. Dia sampai jatuh tertidur tanpa takut sesuatu hal yang buruk bisa saja kembali terjadi.


Airi dan kecerobohannya. Bagaimana bisa Jizo meninggalkan dia saat Airi bahkan tidak bisa menjaga diri sendiri di hari terburuknya?


Itu tidak seperti Airo harus selalu menjadi kuat, tapi Jizo juga tidak tahu siapa saja yang bisa berada di sekitar gadis itu untuk menjaganya. Airi juga tidak punya orang lain untuk dipercaya.


Jizo mempertahankan posisi itu beberapa saat walau tangan dan kakinya jelas sekali akan keram sebentar lagi. Apa dia bilang, Airi mana bisa hidup tanpa Jizo. Padahal saat mengatakannya laki-laki itu hanya main-main. Tapi, takdir sepertinya suka gurauan yang tidak lucu, ya?


***


Tok! Tok!


Pintu kayu itu diketuk pelan. Arba muncul dari baliknya dengan sapaan sopan. Dia menundukan badan sesaat sebelum kembali berdiri tegak.


"Duduklah, Arba. Kita harus bicara." Pria botak besar dengan cerutu di bibirnya bangkit dari kursi kerja yang nyaman. Ruangan yang dipenuhi tumpukan berkas-berkas itu berbau seperti cengkeh. Arba yakin, bahkan kertas dan perabot disini juga akan beraroma yang sama.


Meski begitu, Arba adalah laki-aki yang tidak banyak bicara apalagi protes. Dia duduk di sofa berbahan bulu sintetis, yang diyakini, barangkali harganya tak sampai separuh dengan yang ada di ruang pemimpim Corvus.

__ADS_1


"Aku sebenarnya ingin bicara dengan Ko langsung, tapi aku yakin dia akan menyerahkan ini padamu dan bilang dia sedang sibuk."


Kepala departemen biro lokal bernama Baku itu meletakan secangkir teh mawar di depan Arba. Ucapannya separuh benar, pemimpin Corvus itu memang mengamanatkan kasus ini secara langsung kepada Arba. Tapi, Ko tidak sibuk. Atasannya itu pasti sedang menunggu kembalinya mereka di rumah besar sembari bermain catur dengan Saka.


Arba hanya berdeham. Dia tidak datang kemari basa-basi. Baku jelas tahu dirinya adalah orang yang sibuk. Membicarakan segala sesuatu tepat sasaran, adalah bagaimana Arba bekerja.


"Jadi, kalian akan mengurus kasus ini sendiri atau menyerahkannya pada kami?" Baku menyesap teh mawar yang kemanisan itu. Rokonya sudah tergeletak di asbak sejak pertama kali pria paruh baya tersebut melayani kedatangan Arba kemari.


"Kami akan menghubungi soal itu nanti. Anggota Corvus masih mencari tahu soal latar belakangnya." Arba menjawab dengan tenang. Mengabaikan sodoran hangat teman bicara mereka.


Baku mengangguk. Dia mengerti jika Corvus sangat berhati-hati pada setiap keputusan. Seorang bawahan seperti Arba pun tahu, caranya menjaga langkah mereka tetap tepat. Dengan tidak buru-buru.


"Ko bilang dia tidak akan bekerja sama?" Baku memancing Arba sekali lagi. Matanya menyipit, khas sekali dari bangsanya. Dia terlihat licik jika memasang ekspresi seperti itu.


Arba tak goyah. Tidak memakan umpannya sedikit pun. "Tuan Ko masih membicarakannya dengan kami. Corvus hanya meminta pembagian barang bukti."


Yang diajak bicara menyeringai. "Arba, kau tahu biro lokal bukan pengangguran."


"Barang bukti ganda di dua tangan, tapi yang satu mulai bekerja, yang satu sibuk bicara. Menurutmu siapa yang akan menemukan pelakunya lebih dulu?"


Arba berkedip sekali. Maksud Baku adalah, Corvus dan biro lokal memang saling berbagi barang bukti, tapi investigasi biro lokal sudah dimulai lebih dulu ketika Corvus masih belum mengambil keputusan apapun. Mudahnya, dia mengancam mereka jika saja biro lokal menemukam sadikit pun celah untuk menyalahkan Corvus.


"Kami sangat tahu, apa yang kami lakukan, Tuan. Cukup berdiri saja di kaki masing-masing." Arba menanggapi seperlunya sembari bangkit berdiri. Kesimpulan obrolan ini sudah didapat, tidak ada gunanya berlama-lama disini dan membiarkan Baku terus menariknya.


"Hahahaha!!!" Pria itu terbahak kencang. Arba baru saja akan menyumpahinya tersedak kelopak mawar karena dia merasa tersinggung dengan tawa barusan. Tapi, wajah laki-laki pudding itu masih tetap datar.


"Kau akan jadi pemimpin Corvus seandainya anak laki-laki itu tidak ada kan, Arba?"


Arba yang baru saja akan berpamitan, terhenti. Dia tidak suka pertanyaan yang barusan. Dari semua orang, cuma Baku yang berani membahas hal tersebut di depannya. Arba masih menjaga ekspresi.


"Tolong jangan ikut campur, Tuan Baku."


"Itu masalah internal kami."


Dengan begitu, Arba keluar tanpa berpamitan. Menutup pintu kayu ruang kepala departemen biro lokal dengan sedikit keras.


Benar, itu adalah rahasia umum di kalangan kelompok mereka jika Arba adalah kandidat terbaik pemimpin Corvus selanjutnya. Namun, "anak laki-laki" yang disebut Baku barusan, nyatanya adalah seseorang yang akan menempati posisi itu.


Arba membuang udara dari dadanya dengan tenang. Dia tidak peduli soal menjadi pemimpin dan berkuasa. Bisa bekerja untuk Corvus dan Tuan Ko saja, sudah lebih dari cukup untuknya. Kompetisi menuju puncak adalah hal yang tidak ingin dia lakukan secara pribadi. Arba, tidak punya energi untuk itu.


Saat berjalan kembali ke ruang tunggu, dia mendapati Jizo sedang duduk di kursi panjang, dengan pahanya yang menjadi bantal seorang gadis yang tertidur nyenyak. Jizo melempar tampang meminta bantuan kepadanya.


"Bisakah kita membawanya ke rumah besar?" Tanya Jizo, yang seketika membuat Arba semakin sakit kepala.

__ADS_1


Dia punya banyak sekali hal untuk dibereskan.


__ADS_2