
Awan-awan terarak pelan, matahari menopang tubuh dengan gagah, membakar kota metropolitan dan segala kebisingannya. Jizo memakai topi hitamnya dengan benar. Di pundak kanannya tersampir tas ransel yang sebenarnya, cuma berisi satu stel pakaian ganti serta barang elektronik.
Laki-laki itu sedang memainkan game arkade di ponselnya. Sedangkan, telinganya disumpal perangkat suara, Jizo tenggelam dalam kesibukannya sendiri.
Jizo duduk di halte bus tepat depan gedung apartemennya. Dirinya akan pulang ke Distrik Timur hari ini. Arba, teman baiknya, menghubungi dia untuk kembali lebih cepat. Padahal, tinggal sisa enam bulan sampai masa hukumannya disini selesai.
Dia memang sengaja dikirim kemari oleh pamannya untuk menjauhkan Jizo dari kekacauan di wilayah kekuasaan Corvus itu. Pemimpin besar kelompok organisasinya, ingin dia menjaga jarak sementara waktu dari Distrik Timur dan hidup layaknya pelajar biasa saja di kota ini.
Pelajar biasa apanya.
Jizo memang bersekolah disini, namun pikirannya penuh dengan hal-hal yang terjadi di dalam, maupun di luar organisasi Corvus. Arba menghubunginya secara berkala soal semua perkembangan yang terjadi. Jiwa Jizo, masih terpaku pada kota tepi laut tersebut.
Ngomong-ngomong soal Distrik Timur, dia jadi ingat saat masih ada kelas belajar tambahan, gadis yang selalu dia ganggu, Airi, bertanya soal Distrik Timur.
Jizo benar-benar tidak bisa menahan diri untuk menggambarkan ingatannya. Dia tidak menyangka, bahwa dari semua orang, Airi akan bertanya kepadanya.
Mengapa pula, gadis itu ingin tahu? Apakah setelah gagal pergi bersama temannya ke Distrik Timur Laut, dia memutuskan berbelok ke Distrik Timur?
Sebenarnya, Jizo sedikit iba padanya. Insting laki-laki itu tidak pernah salah. Sama seperti bagaimana Jizo, selalu ingin berada di dekat Airi untuk bermain-main dengannya karena didorong oleh perasaannya bahwa sang gadis pasti bereaksi menyenangkan, alam bawah sadar Jizo juga mengatakan bahwa laki-laki yang Airi panggil Akane itu, berbahaya.
Jizo tidak tahu, darimana keyakinannya soal Akane. Dia, hanya melihat dari senyum palsu dan kekhawatiran yang dibuat-buat oleh Akane, dan Jizo sudah dapat jawabannya. Bagaimana bisa Airi tidak melihat itu semua?
Namun, setiap kali Jizo memberitahunya soal itu, Airi hanya akan meledak-ledak, mengutuknya, mencacinya, mengatakan dia sok tahu, dan sebagainya. Jizo tak ambil pusing, dia biasa diperlakukan seperti itu. Lagipula, satu-satunya yang merugi adalah Airi. Dia terlalu bodoh hingga membiarkan dirinya dikelilingi orang-orang palsu.
Dan jika Airi benar-benar pergi ke Distrik Timur di periode liburan kali ini, bukankah akan jadi kebetulan yang menyenangkan?
Jizo jadi terpikir apakah dia harus menghubungi gadis itu untuk mencari tahu.
Bip! Bip!
Jizo masih ada di level dua belas saat suara klakson mobil menyeru padanya. Laki-laki remaja itu menoleh dan mendapati sebuah sedan hitam mengkilap berdiri sombong di depan halte. Jizo berdecih.
Itu Saka, dan segala kesombongannya.
Kaca jendela diturunkan, pria berambut mullet belah tengah keluar dari sana. "Yow! Anak SMA, jemputan sekolahmu sudah datang!"
__ADS_1
Kini, semua orang jadi menoleh ke arah mereka. Saka, yang suka mencari perhatian dan mempermalukan Jizo. Yang dipanggil bangkit, berjalan menuju mobil itu dan membuka pintu bangku sebelah kemudi. Jizo mendudukan diri tanpa banyak bicara.
"Tuan Ko mengijinkanku membeli ini setelah lulus sekolah. Jangan iri begitu Jizo, kau bisa mendapatkannya juga suatu saat nanti." Saka menggoda teman satu organisasinya yang sedang menekuk wajah itu.
"Diam, aku tidak peduli. Paling juga, kau merengek dulu pada paman." Jizo menanggapi dengan sama meledeknya. Laki-laki itu kenal betul tabiat Saka dan Pamannya, yang dipanggil Tuan Ko tersebut.
Mereka tumbuh bersama. Jizo, sudah khatam dengan segala kelakuan laki-laki yang hanya dua tahun lebih tua darinya itu, namun selalu bersikap seakan dia lah kakak laki-lakinya.
"Bro, tiga tahunmu ternyata tidak cukup untuk belajar sopan santun." Saka memutar balik arah mobilnya kembali ke Distrik Timur. Sesungguhnya, dia juga tak ambil pusing soal Jizo yang selalu merendahkannya. Itu sudah sifat bawaan lahir.
"Tiga tahunmu juga tidak berguna sama sekali."
"Hei! Aku membantu banyak di dermaga!" Sangkal Saka.
"Mulutmu mana bisa dipercaya. Aku yakin kau masih sering salah menyortir barang."
"Hei, apa yang diketahui anak SMA?"
"Jangan bawa-bawa anak SMA, kau juga baru lulus sekolah kemarin!"
"Heh, apa itu salahku jika terlahir lebih lambat, hah?!"
"Iya, itu salahmu, bocah!"
"Haaaa?!"
Begini lah mereka jika sudah bertemu. Selalu ada hal yang diperdebatkan dan diributkan.
Jizo mengutuk Arba dari dalam hati, mengapa bukan dia saja yang menjemputnya? Apa dia sengaja mengirim Saka untuk membuatnya darah tinggi? Jizo yakin, Arba sekarang pasti sedang duduk di ruangan berpenyejuk sembari main catur dengan pamannya. Dia akan mengajukan keluhan saat sampai di Rumah Besar nanti.
"Apa Distrik Barat menyenangkan?" Mobil yang dikendarai Saka dan Jizo mulai memasuki jalur bebas hambatan yang memotong langsung menuju Distrik Timur. Mereka akhirnya tidak menemukan pemenang dari perdebatan di awal tadi.
Jizo terdiam sebentar. Saka meliriknya, pria itu tersenyum. "Gez, apakah semenyenangkan itu sampai kau tidak menjawabnya?"
"Woah, Jizo apa kau lupa alasanmu dikirim kesana?"
__ADS_1
Saka terkekeh pelan saat Jizo hanya memandangnya dengan datar. Wajahnya mengatakan bahwa Saka harus menutup mulut jika tidak ingin Jizo mengirim bom akrilik untuk membuatnya diam sesaat.
"Kenapa itu menyenangkan? Kau punya pacar disana? Ada gadis yang kau sukai disana? Jizo kita sudah besar, Jizo sudah besar."
Jizo memandanginya dengan jengkel sekarang. Tangannya terulur untuk menarik ekor rambut Saka.
"Aaaak! Aaaak! Jizo itu menyakitkan! Hei! Hei! Lepaskan! Aku sedang menyetir!" Akhirnya, Jizo merasa Saka sudah dapat balasan setimpal untuk mulutnya yang begitu tidak tahu diri.
"Laki-laki macam apa bergelut dengan menjambak rambut, Jizo!" Saka melotot ke arah Jizo horor. Itu menyakiti harga dirinya.
Jizo mendengus, "Jadi, kau ingin bertarung di arena? Haruskah ku telepon Arba untuk menyiapkannya agar kita bisa langsung bertanding saat sampai?"
"Haaaaaaaa?!" Saka menjerit dengan kesal. Anak muda ini baru satu jam duduk di sebelahnya, tapi sudah membuat dia ingin menghabisinya segera.
"Telepon saja! Telepon Arba! Bilang padanya untuk kumpulkan semua anggota untuk lihat kau dikalahkan!"
Jizo ingin terbahan keras mendengar kalimat penuh percaya diri dari Saka. Egonya juga tidak mau kalah. Walau lebih muda, patriarki tidak membuat Jizo merasa dia akan gagal. Jizo ini, cukup yakin dengan kemampuannya bertanding secara fisik. Saka hanya segelintir orang yang berani menantangnya begini.
Drrrrrtttt! Drrrrrtttt!
"Oh, kebetulan sekali Arba menelepon."
Saka menoleh. Jizo mengangkat panggilan di ponselnya itu.
"Hai, Arba! Aku—" Belum sempat Jizo mengatakan kalimatnya dengan utuh, di seberang sana, Arba terdengar begitu genting.
"Jizo! Saka! Jangan banyak berkelahi dan datanglah langsung ke dermaga begitu sampai. Tidak perlu ke Rumah Besar." Suara Arba terdengar diburu. Di belakangnya terpantul keributan disana.
Apa yang terjadi di dermaga?
"Arba, ada apa? Apa ada masalah di dermaga?"
Saka ikut memasang telinga. Ekspresi Jizo begitu serius saat ini. Dia mendengarkan setiap kata dari Arba. Jizo mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk.
"Terjadi pembunuhan warga sipil di dermaga."
__ADS_1
Dan hanya dengan itu, Jizo mengeratkan sabuk pengamannya dan duduk tenang. Saka, menginjak pedalnya dengan keras hingga angka 120 dan melaju menuju Distrik Timur dengan tergesa. Mereka tidak sedikit pun berdebat di sisa perjalanan.