RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 11 : Halte Bus dan Wawancara Jizo


__ADS_3

Airi sedang memainkan ponsel saat melihat Jizo berdiri di sebelahnya. Gadis itu mengerutkan kening. Dia geser dirinya satu langkah menjauh, Jizo mengikuti.


Airi tadi sudah berhasil pergi dari hukuman sosialnya. Dia kira, Jizo tak mengikuti karena lelaki itu masih duduk disana sampai beberapa menit lalu.


Dia sedang menunggu bus di halte tepat depan sekolahnya. Gadis itu yakin, Jizo tidak pulang lewat jalur ini juga, oleh karena itu dia semakin merasa tidak nyaman.


Laki-laki itu sendiri yang mengabaikannya seharian tadi dan Airi merasa senang untuk itu. Namun, sekarang dia malah berani sekali mengikutinya di perjalanan kembali ke rumah.


"Mereka sudah mengembalikan sikat dan ember ke ruang penyimpanan."


"Selimutnya juga sudah dipastikan tak akan terkena hujan."


Walau telinganya mendengar jelas, Airi memandang ke arah selain Jizo. Membiarkan dia bicara sendiri pada hampa jalan raya yang mulai lenggang karena senja hampir tiba.


Waktu makan malam hampir tiba dan banyak murid sudah pulang. Sekalipun jalan raya, tak banyak kendaraan lewat di sekitar pukul ini. Tapi jalanan akan kembali ramai ketika pekerja kantor selesai nanti.


Bus yang akan dinaiki Airi sudah terlihat beberapa meter dari arah kanan. Gadis itu melangkah sampai ke bahu jalan, tidak menganggap Jizo yang kini dengan nyaman berdiri di belakangnya dengan tangan dimasukkan ke saku.


"Airi, rokmu kotor sekali."


Airi tidak menanggapi dan segera masuk ke dalam bus. Tidak perlu diberitahu Jizo pun, Airi bisa melihat sendiri bagaimana penampilannya saat ini. Dia jelas tidak nampak seperti orang berpendidikan dari akademi terbaik di Distri Barat.


Airi lebih pusing mau memakai apa dia besok. Gadis itu tak pandai memadu-padankan pakaian. Dress putih yang dipakainya kini terpilih karena sederhana dan ayahnya memuji dia cantik dengannya. Bukan berarti Airi tahu apakah itu benar-benar cocok untuknya.


"Airi, di halte mana kau akan turun?"


"Apakah kau selalu naik bus selama ini?"


Airi mengeluarkan perangkat suara dari tasnya dan menyumpalkan itu dengan segera. Mulutnya masih terkatup tanpa bergeming.

__ADS_1


Dia sudah sengaja tidak duduk di dekat jendela, berjaga-jaga bila Jizo akan menempatkan diri di sebelahnya. Jika begini, Airi bisa memblokir akses laki-laki itu dengan tubuhnya. Airi tidak terpikir bahkan jika Jizo duduk di bangku bagian belakang pun, dia masih sama berisiknya.


Laki-laki itu masih terus mengajukan pertanyaan kosong pada Airi. Seperti apakah Airi tadi makan siang dengan nyaman, atau tentang di mesin minuman otomatis bagian manakah Airi biasa membelikannya jus jeruk. Jizo berusaha keras untuk menggoyahkannya.


Tapi maaf saja Jizo, coba lagi lain kali.


Mengikuti Airi pulang seperti ini malah semakin membuatnya malas untuk menganggap eksistensi laki-laki itu ada di sekitar.


Saat Airi melihat tanda halte tempatnya turun terlihat tinggal beberapa meter, Airi mengulurkan tangan untuk menekan tombol berhenti. Namun, dia hampir bersenggolan dengan tangan Jizo di saat bersamaan.


"Kau turun disini juga, Airi?"


Gadis itu mendelik. Jizo, ini keterlaluan. Dia akan melaporkannya ke polisi jika dia benar-benar mengikutinya sejauh ini.


"Jizo, sudah cukup. Aku harus pulang. Jangan bertindak lebih jauh." Airi melepaskan perangkat suaranya, bicara dengan nada tegas pada laki-laki itu.


Jizo malah memasang tampang bodoh lalu berkata, "Tapi aku tidak melakukan apapun? Aku memang akan turun disini juga."


"Apa tadi pagi kau naik bus dari sini?" Jizo melontarkan pertanyaan bertubi padanya. Airi ini sudah hampir pingsan tadinya karena terlalu percaya diri.


Tapi, Jizo yang malah makin mengorek informasi jadi membuatnya ingat, untuk apa malu di hadapan Jizo. Itu tidak seperti Jizo pernah peduli dimana harga diri Airi.


"Apa pedulimu?" Airi bertanya dengan ketus. Dia menghitung dalam hati berapa lama lagi akan sampai.


"Aku hanya bertanya. Kau lihat kejadian tadi pagi?"


Mengapa Jizo malah bertanya soal hal itu seakan Airi adalah saksi yang sedang dimintai keterangan dan Jizo adalah detektifnya.


Mata Airi memicing. Separuh tidak percaya, separuh lagi malu kalau-kalau ternyata dia salah paham.

__ADS_1


Airi tidak mengatakan apa-apa dan langsung bangkit untuk turun saat melihat halte tepat berada di tepi jalan.


Tempat itu tidak ramai seperti tadi pagi. Tak ada kerumunan apalagi garis polisi. Semua terlihat normal seakan tidak ada keributan yang terjadi.


Sejujurnya, Airi sedikit tidak tenang naik transportasi umum hari ini. Kejadian tadi pagi bisa saja menimpanya juga. Itu akan jadi dobel sial pastinya untuk Airi.


Airi menoleh ke belakang sebelum meninggalkan area itu. Jizo ternyata memang tidak mengikutinya.


Laki-laki itu kini sedang bicara serius dengan seseorang yang tadi duduk di halte bus, mengenakan jas di sore hari begini. Terlihat aneh dengan rambut pudingnya yang tak cocok.


Kenalan Jizo ternyata orang-orang aneh. Lagipula, apa yang dia lakukan disini? Tidak biasanya Airi melihat Jizo di areal rumahnya.


Terlebih, karena urusan pribadi.


Namun, Airi tak ambil pusing dan bergegas pulang. Pekerjaan rumahnya menunggu untuk dilakukan dan dia ingin segera berganti baju.


Dia juga mungkin akan menelepon Akane untuk menanyakan pendapat gadis itu soal baju yang harus dia kenakan besok.


Saat sampai di depan pintu rumah kecilnya, Airi menemukan paket besar. Itu berasal dari jasa pindahan rumah. Iya, Airi memesan dus-dus barang untuk mengepak perabotan. Di dalam dus besar itu, ada dus-dus kecil yang Airi pesan.


Airi memang akan pindah rumah. Ini adalah rencana jangka panjang yang sudah dibicarakan sejak lama bersama ayahnya. Dia akan menyusul Royo ke Distrik Timur saat lulus nanti. Namun, Airi sudah mulai berkemas walau ini masih beberapa bulan darinya.


Dia sedang tidak buru-buru. Airi sengaja, saat tahu dia bisa mengambil cuti dari kerja paruh waktu karena harus melakoni hukuman, waktu senggang di malam hari dia gunakan untuk mulai bersiap. Airi memesannya kemarin. Jasa pengantar barang sungguh cepat akhir-akhir ini.


Dengan susah payah, gadis itu mengangkat paketnya dengan kedua lengan sedangkan punggungnya digunakan untuk mendorong pintu mundur.


Walau seumur hidup tinggal disini, Airi tidak sabar untuk pindah. Kota metropolitan seperti Distrik Barat tidak cocok untuknya. Dia ingin pergi ke Distrik Timur yang "katanya" lebih sepi dan tenang. Dia akan belajar ke univeritas disana, mencari kerja paruh waktu lain, serta mempermudah ayahnya.


Royo tidak perlu berkendara selama berjam-jam untuk pulang-pergi dari dermaga setiap kali menepi usai berlayar.

__ADS_1


Dan itu saja, membuatnya semakin mantap untuk meninggalkan Distrik Barat.


Terlebih, Airi tak perlu berurusan dengan Jizo jika pergi kesana. Distrik Timur sungguh tempat impiannya.


__ADS_2