RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 7 : Hari Yang Buruk Selalu Diawali Dengan Bangun Pagi


__ADS_3

Saat Airi bangun di pagi hari, ayahnya sudah tidak nampak di sudut rumah manapun. Perasaannya jadi tidak enak karena semalam mengakhiri pembicaraan dengan tak cukup baik. Padahal, setelah berpikir jernih, mungkin ayah Airi bukan berniat melarangnya, namun hanya memberi saran.


Walau sebenernya dia masih tidak mengerti. Apa yang salah dengan lingkaran pertemanannya?


Airi berkemas dengan cepat untuk menuju ke sekolah. Dia menatap pantulan dirinya dengan baju serba putih. Akademi tempatnya belajar tidak mematok seluruh siswa harus mengenakan seragam. Namun, hanya ini baju terbaik yang Airi punya.


Hari ini, rambutnya diikat tinggi. Surainya yang lurus jatuh melewati bahu. Tak ada riasan menempel di wajahnya. Airi menahan diri, dia sebenarnya juga ingin berdandan. Tapi pada akhirnya hanya pelembab bibir yang meninggalkan jejak disana.


Dia melirik jam tangannya saat sampai di halte bus. Masih ada lima belas menit sebelum gerbang sekolahnya tutup. Airi punya lima menit digunakan untuk bernapas jika dikurangi lama perjalanan.


Baru saja Airi akan masuk ke dalam bus, tiba-tiba dia terdesak menjauh. Gadis itu tidak paham apa yang sedang terjadi karena para penumpang berbondong-bondong untuk keluar.


"Astaga! Astaga ada apa ini?!"


"Kyaaaaaa!!!"


"Minggir! Minggir!"


Kepanikan dan rusuh bercampur jadi satu. Airi bisa saja jatuh terinjak bila tak mengendalikan tubuhnya menjadi seimbang. Bahu Airi disenggol disana dan disini. Gadis itu meringih kecil. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?


"Panggil polisi! Seseorang panggil polisi!"


"Astaga, apakah dia gila?!"


"Kyaaaa!!!"


Airi bersusah payah menengok ke arah bus, mencari tahu penyebab semua keributan ini. Dia bisa melihat isi bus karena jendelanya yang bening. Demi Tuhan, ini baru pukul tujuh pagi dan seseorang berada disana dengan pisau teracung! Airi tidak habis pikir.


Secara naluriah, Airi ikut mundur dan mengamankan diri setelah selayang pandang menemukan kursi supir dalam keadaan kosong. Sepertinya, semua orang berhasil keluar. Namun, orang aneh itu masih di dalam bus, mengarahkan pisaunya ke segala arah dengan berteriak.


"GYAAAHHHHH!!!"


Semua orang serentak menjauh walau mereka berada di jarak cukup jauh dari bus. Halte dan trotoar menjadi penuh sesak. Beberapa kendaraan berhenti hingga macet kecil terjadi.


Airi rasa, dia harus pergi. Tidak ada gunanya menonton semua keributan ini. Dia yakin, seseorang sudah menghubungi polisi dan mereka sedang dalam perjalanan kemari.


Airi tidak boleh terlambat ke akademi. Gurunya, mungkin tidak mau mendengar alasan apapun karena kejadian ini tidak memengaruhi mereka. Pihak akademi tidak menoleransi keterlambatannya walau alasan itu berada di luar kuasa Airi.


Sebisa mungkin, Airi menembus kerumunan massa. Dia tidak mungkin naik bus selanjutnya, apalagi mengejar bus yang lebih awal. Barangkali, Airi hanya perlu berlari. Jika itu sepuluh menit dengan bus, kira-kira berapa lama jika gadis itu berlari? 30 menit? 45 menit? Ah, dia akan tetap terlambat.


Airi melenguh. Tidak ada gunanya. Dia memang khawatir akan terlambat tapi Airi juga tidak mau membuang-buang tenaga untuk memperjuangkan sesuatu yang sudah pasti gagal.


Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mengapa banyak sekali hal-hal tak diinginkan terjadi saat dia baru saja naik ke tingkat tiga?


Bip! Bip!

__ADS_1


Gadis itu seketika berhenti karena terkejut akibat suara klakson mobil yang tiba-tiba. Airi menoleh dan mendapati sebuah mobil hitam mengkilap menurunkan kecepatan dan mengikuti langkahnya.


"Airi!"


"Ho? Akane?"


Saat jendela pintu belakang diturunkan, kepala Akane melongok keluar. Temannya itu tersenyum cerah. Sepertinya, dia punya awal hari yang baik. Berbanding terbalik dengan Airi.


"Masuklah! Kau bisa terlambat!"


Tentu saja Airi tidak menolak. Ini adalah keajaiban yang dia harapkan sejak meninggalkan halte bus.


"Apa yang kau lakukan disana?" Setelah mendudukan diri di bangku belakang tepat sebelah Akane, dia langsung disambut pertanyaan.


Airi terpesona kala menyentuh jok mobil itu. Nyaman sekali! Akane sungguh dari keluarga yang beruntung, huh?


"Aku? Aku akan naik bus ke sekolah."


"Beruntung sekali kau bertemu denganku hari ini. Kau bisa terlambat jika tidak."


"Ya, tentu saja. Terima kasih banyak." Airi tersenyum cerah. Akane sangat membantunya mengurangi jumlah hukuman.


"Oh, iya! Aku punya sesuatu untukmu!"


Airi mengangkat alis saat melihat Akane kini merogoh isi tasnya. Gadis itu mengeluarkan dua lembar kertas sepanjang telapak tangan.


"Aku sebenarnya ingin memberikan itu saat di akademi. Tapi karena kita sudah bertemu, aku sangat ingin memberitahumu segera!"


Airi hanya mengangguk. Dia menunggu penjelasan Akane dengan sabar. Gadis itu masih dipenuhi antusiasme, Airi tidak ingin merusak momentumnya.


"Itu adalah tiket teater!" Airi berkedip mendengarnya.


"Teater?"


"Ya!"


"Nona, kita sudah sampai." Ucapan Airi tertahan kala supir Akane memberitahu mereka bahwa ini sudah berada tepat di depan gerbang akademi. Perjalanan dengan kendaraan pribadi sungguh terasa lebih cepat.


"Terima kasih," kata Airi pada supir Akane setelah ia ditarik turun oleh temannya itu. Mobil pergi melesat usai ia terima jawaban dengan anggukan tanpa senyum.


"Kenapa tiba-tiba ingin nonton teater?" Airi akhirnya bisa bertanya setelah mereka berjalan menuju gedung utama.


"Apakah ini bioskop?" Gadis itu kembali bertanya. Pasalnya, Akane ini memang suka hal-hal aneh, namun tidak pernah ia mendengar sedetik pun soal teater.


"Bukan!"

__ADS_1


"Ini teater! Teater asli! Panggung! Musik! Kostum!" Akane meneriakkan tiap elemen dengan kelewat semangat. Orang-orang sampai menoleh aneh ke arahnya.


"O-oke, aku paham." Airi tersenyum canggung karena sekarang mereka jadi pusat perhatian.


"Kau akan pergi denganku kan?" Kini, gadis itu memasang pose berpikir. Dia amati sekali lagi tiket itu dan membaca baik-baik keterangan waktu yang tertulis disana.


Itu masih dua minggu lagi. Jika Airi bisa menyelesaikan hukumannya tepat waktu serta mendapat gaji kerja paruh waktu yang sepadan, sepertinya dia bisa pergi.


"Akan aku usahakan." Namun, Airi tak mau berjanji. Hidupnya bukan sebuah kestabilan, dia sering punya hal-hal tak terduga untuk diurus sewaktu-waktu. Airi tidak mau mengecewakan Akane karena tak menepati ucapannya.


"Mendengarmu bilang itu saja, aku sudah senang!"


"Kita harus bersenang-senang kali ini! Ayo pergi dan menikmati masa muda! Kukukuku!" Airi tertarik untuk tertawa mendengar sura yang dikeluarkan Akane.


"Ngomong-ngomong, kau dari dulu menyukai teater? Aku tidak pernah dengar soal itu."


Akane menggeleng. "Tidak. Aku baru menontonnya kemarin dan kebetulan mereka menggelar pentas di Distrik Timur Laut dalam waktu dekat, jadi aku membeli tiketnya langsung!"


"Oh? Benarkah?" Akane sungguh penuh kejutan. Menyenangkan sekali punya kehidupan yang bebas. Airi tersenyum, turut senang melihat Akane.


"Tunggu dulu."


"Timur Laut? Distrik Timur Laut?" Airi melunturkan senyum kala mendengar hal janggal disebutkan oleh Akane. Tempat pentas teater itu terjadi sangat jauh!


"Ya! Sebenarnya, mereka berdomisili di Distrik Timur, namun kali ini pentas mereka di Distrik Timur Laut! Aku sangat tidak sabar!"


"Akane, tapi Distrik Timur Laut sangat jauh!"


"Itu butuh paling tidak dua hari untuk kembali kemari menggunakan mobil."


Akane masih tersenyum, "Aku tau!"


"Karena itu..."


Perasaan Airi tak enak mendengar Akane bicara setengah-setengah.


"Kita akan pergi naik bus antar distrik! Yahoo!" Setelah itu, Akane langsung berlari ke dalam kelasnya tanpa mendengarkan protes Airi.


"Hei! Akane apa maksudmu! Tunggu aku!"


Tangan Airi yang berusaha meraihnya tergantung di udara. Akane sudah membuat keputusan. Dia terlanjur bilang akan berusaha semampunya.


Airi menurunkan tangannya, membuang napas pasrah. Yasudah, sepertinya dia harus menyiapkan mental dan fisik. Namun, dia diam-diam juga senang. Ini juga akan jadi pertama kalinya untuk Airi pergi berwisata dengan orang lain selain keluarganya. Sungguh hal yang layak dinantikan.


"Aku memperingatkanmu untuk jangan percaya, tapi sekarang akan pergi bersama, huh? Sungguh kesetiaan yang tidak berguna."

__ADS_1


Airi mendengar suara familiar itu lewat di samping telinganya. Jizo berjalan begitu saja sembari bicara tanpa menoleh.


Oh, bagus sekali Jizo, membuat Airi mengawali jam sekolahnya dengan mendengar omong kosongmu lagi.


__ADS_2