
Distrik Timur,
Wilayah kekuasaan Corvus,
Perfektur Kido.
Sepatu kets dan sepasang pantofel cokelat keluar dari mobil sedan warna hitam mengkilap. Jizo dan Saka berjalan dengan cepat menuju kerumunan yang sudah mulai membubarkan diri.
Jizo sampai harus meninggalkan tasnya di mobil karena panik. Sedangkan Saka, laki-laki itu hanya menahan diri di belakang, bahkan sempat mengambil kaca mata anti sinar mataharinya di bangku belakang.
"Saka, Jizo." Mereka disapa oleh seorang berambut pudding yang terlihat tenang walau polisi sedang mondar-mandir di sekitarnya.
Jizo melirik arah punggung Arba, tidak ada mayat disana. Cat penanda mayat yang tidak terlalu jelas bagaimana bentuknya memang terjejak, tapi sepertinya sudah dievakuasi sebelum dia sampai kemari.
"Mayatnya sudah dibawa untuk autopsi. Kami sedang memastikan identitasnya." Jizo berjalan mengikuti Arba yang sedang menjelaskan. Saka di belakang, tidak banyak berkomentar, dia mendengarkan dengan baik.
"Arba, apa menurutmu..." Jizo menggantung kalimatnya. Kepalanya tertoleh ke sekitar, lalu merapatkan diri pada temannya itu dan bicara lebih pelan.
"Apa ada hubungannya dengan yang terjadi di tempat Caracal?" bisik Jizo. Laki-laki itu mencium bau tak menyenangkan dari kejadian ini.
Itu baru beberapa minggu sejak seorang mayat laki-laki sipil ditemukan di wilayah kekuasaan Caracal. Sekarang, satu lagi terjadi di dermaga, yang dari semua tempat, adalah teritori terjelas milik kelompok organisasi Corvus.
Ini bisa saja kebetulan, namun memikirkannya sebagai kesengajaan dan pembunuhan terencana, juga bukan langkah salah untuk dilakukan.
"Kita belum tahu. Tuan Ko hanya memintaku untuk menyerahkan ini lebih dulu pada Biro Lokal sampai bukti jika kita berhubungan ditemukan. Caracal juga melakukan hal yang sama."
Jizo menanggukan kepalanya paham. Keningnya berkerut tipis karena kepalanya kini dipenuhi banyak teori. Arba menghela napas pelan sembari menepuk pundak laki-laki itu.
"Berkeliling lah sebentar sebelum kembali ke Rumah Besar. Tuan mengatakan kau harus kumpulkan dulu pikiranmu benar-benar soal dermaga."
"Lalu kau?" tanya Jizo saat Arba berlalu menuju mobilnya sendiri. Kepala pudding menoleh, dia menarik pelan pintu kereta roda empat itu sembari menatap balik Jizo dan Saka.
"Aku akan ke kantor Biro Lokal. Saka, bantulah polisi disini jika mereka butuh sesuatu."
"Aku akan beri tahu detailnya nanti. Tetaplah disini sampai anggota lain datang untuk menggantikan kalian mengawasi dermaga." Arba bertitah sebelum memasuki mobilnya dan pergi ke tempat yang dia sebutkan tadi.
__ADS_1
Jizo tidak menahannya lebih lama. Laki-laki itu kini berjalan beriringan dengan Saka.
Laki-laki mullet di sebelahnya mengeluarkan sebungkus rokok saat mereka berdiri di tepi garis polisi. Tempat mereka berdiri sekarang adalah di bawah kran besar. Ini tidak terlalu di pojok, tapi juga tidak di lingkungan luas. Hanya sisi biasa dari dermaga yang tidak mencolok.
"Kau mau?" Saka menawarinya satu puntung setelah merogoh pematik api dari saku. Jizo menggeleng sebagai tanpa penolakan.
"Cuma kau anggota kelompok di bawah umur yang menolak rokok."
"Aku hanya menuruti hukum," kilah Jizo. Padahal, dia hanya tidak tertarik pada benda silinder itu. Belum, mungkin? Jizo hanya merasa tidak harus mengonsumsinya sekarang. Saat dia sudah lebih dewasa nanti, akan Jizo pikirkan lagi apakah dirinya benar-benar butuh benda itu atau tidak.
"Padahal mukamu seperti berandalan," ejek Saka sebelum menghisap rokonya. Jizo mendengus. Sialan, mukanya tidak ada hubungannya dengan tingkah laku Jizo, ya. Jangan main hakim sendiri.
Laki-laki itu hanya mengamati TKP, melihat-lihat beberapa petugas polisi berjaga disana. Orang-orang yang bekerja di dermaga diminta menjaga jarak. Mereka tidak seramai bayangan Jizo, tapi dia yakin rumor dan berita akan menyebar dengan cepat.
"Apakah mayatnya dibungkus sesuatu?" Setelah beberapa saat mengamati, Jizo terpikir satu hal pada ukuran penanda itu. Tempat kejadian perkaranya tidak terlalu luas untuk ukuran satu orang jenazah.
Asap rokok dihembuskan Saka sebelum menanggapi ucapan Jizo. Dia ikut memandang lamat-lamat cat merah disana.
"Sepertinya— Hei! Hei! Kau, kemari!"
"Apakah mayatnya dibungkus dengan sesuatu?" tanya Saka pada petugas bertagar nama Fuda itu. Laki-laki mullet itu menyilangkan tangannya di depan dada.
Petugas tersebut tidak langsung menjawab, melainkan memandangi Jizo dan Saka bergantian dengan penuh selidik.
"Ah, aku anggota Corvus." Menyadari bahwa dia baru saja bertanya detail sebuah kasus, Saka menggulung lengannya untuk menunjukan sebuah tato gagak disana.
Fuda akhirnya mengerti. Meski begitu, dia hanya menjawab super singkat.
"Iya," katanya. Kening Saka berkedut. Itu bukan jawaban yang dia harapkan. Jizo mengerti, orang ini ingin info yang lebih rinci.
"Dengan apa?"
"Tas."
"Tas apa?"
__ADS_1
"Tas saja."
Fuda masih setia dengan idelismenya untuk tidak menuawab lebih dari itu. Sebelum Saka bergerak untuk menuntut yang tidak-tidak, Jizo menahannya.
"Terima kasih banyak."
"Polisi menyebalkan." Saka mengeluh setelah melempar tatapan jengkel terang-terangan pada Fuda. Sipir polisi muda itu sudah pergi tanpa berkata lebih.
"Kau tahu sendiri polisi dan biro lokal membeci kita." Jizo tak ambil pusing. Petugas penegak hukum di Perfektur Kido adalah badan yang berdiri berlawanan dengan semua kelompok organisasi di wilayah ini.
Wajar saja, mereka menganggap bahwa kelompok-kelompok itu tidak lebih dari sekumpulan mafia yang memonopoli sumber daya. Namun, karena kuasa dan kekuatan tiap organisasi, memaksa para penengak hukum dan pemimpin pusat untuk berdiri berdampingan bersama mereka.
Semua cerita ini adalah rahasia umum antar politikus dan anggota kelompok organisasi. Namun, bertahun-tahun mereka berhasil menjauhkan telinga masyarakat biasa untuk mencegah kegaduhan.
"Saka! Jizo!"
Jizo melihat ke sumber suara yang memanggilnya. Oh, itu Huta. Pria botak dengan wajah seperti bayi itu datang bersama anggota Corvus yang lain.
Huta merangkulnya singkat, menyapa dia dengan sangat ramah. "Apa kabar, bro? Kau suka Distrik Barat?"
Bola mata Jizo memutar. Semua orang suka menggodanya soal Distrik Barat. Jelas-jelas Jizo tidak pernah minta untuk meninggalkan Distrik Timur sendiri.
"Arba menghubungiku. Aku langsung kemari dari sub dermaga saat ku dengar kau telah sampai."
"Mana ucapan kau rindu aku?" Huta ini hanya sedikit lebih baik dari Saka. Tapi sifat menyebalkannya yang sebelas dua belas itu, sama saja terasa seperti kutukan bagi Jizo.
Barangkali, mereka hanya secara alamiah selalu mengganggu Jizo karena dia lah yang termuda di antara semuanya. Seperti apapun Jizo di hadapan dunia, saat kembali ke Distrik Timur, Jizo tidak lebih dari seorang adik laki-laki yang pandai berkelahi.
"Karena kau sudah disini, aku akan pulang ke rumah besar." Jizo melepaskan rangkulan Huta. Dia berdiri dengan tegap tanpa beban apapun.
"Perjalanan enam jam dengan orang bodoh itu melelahkan tahu," sambungnya. Di seberang sana Saka melotot.
"Haaaaahhhh?!"
"Aku bahkan tidak mengatakan apapun?!" Saka berseru kesel, sedangkan Huta tertawa keras sembari melambaikan tangannya tanda berpisah.
__ADS_1