RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 6 : Sup Ayam Beraroma Seperti Rumah Kami


__ADS_3

"Aku pulang..."


Tangan Airi membuka pintu rumahnya yang tak terkunci. Ruang tamu sempit itu gelap dan sedikit berbedu. Cahaya matahari tidak bisa menembus ruangan ini. lampu terlalu terang adalah satu-satunya penerangan yang ayahnya pasang sehingga dia tak takut gelap. Hidup siang maupun malam tanpa tahu waktu.


Bisa tercium aroma lem tikus saat Airi melangkahkan kakinya lewati tempat itu ke dapur untuk mendapati sang ayah mengaduk sesuatu dia atas kompor.


Kini, indra penciuman Airi seperti dicuci karena bau bawang, seledri, serta kaldu ayam tabrak-menabrak di sekitarnya.


"Sup ayam? Astaga, baunya enak sekali."


Airi mendekat dengan mengendus-endus ke arah tungku. Persis seperti anak anjing di ujung gang rumah keluarga itu. Royo tertawa melihat tingkah anaknya.


"Kau pulang tepat waktu. Ini sudah matang." Ayah Airi mengisyaratkannya untuk menyiapkan meja kecil serta peralatan makan mereka.


Gadis itu bergegas melakukan tugasnya setelah meletakkan tas dengan asal di lantai.


"Bukankah ayah yang terlambat? Siapa yang memasak sup jam 10 malam?" Airi tertawa kecil. Sebenarnya, dia tahu alasan ayahnya memasak selarut ini.


Karena ini adalah saat dimana Airi selesai dengan semua kegiatan sibuk dan melelahkannya seharian. Mereka berdua akan makan bersama sembari menonton film hingga sisa-sisa berita karena hanya itu lah yang tayang di televisi.


Ayahnya tidak banyak berada di rumah, dengan begitu, selagi bisa, Airi tak protes walau makan malam seterlambat ini. Masakan ayahnya layak untuk dinantikan.


Ini sudah hampir 10 tahun sejak ibu Airi meninggal. Royo memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan memakan waktu dan tenaga dengan sedikit hari libur untuk mengubur kesedihan. Lama-lama, laki-laki paruh baya itu terlihat terbiasa dengan pekerjaan yang dia lakoni.


Bahkan, tidak pernah ada lagi perbincangan tentang sosok wanita kesayangan mereka di dalam rumah ini.


Sejujurnya, Airi merindukan ibunya luar dalam. Kecelakaan yang menimpa keluarga ini sepuluh tahun lalu merenggut satu-satunya orang yang akan memeluknya setiap malam. Tapi, karena melihat ayahnya tampak tak pernah ingin membahasnya, Airi menahan diri. Menyimpan segala keinginan bertemunya pada malam-malam sepi.


"Airi, sepertinya ayah harus kembali lebih cepat."


Airi yang baru saja menyendok satu paha ayam menoleh pada Royo. "He? Bukankah ini baru beberapa hari?"


Biasanya ayahnya akan mengambil libur paling tidak tiga minggu setelah lebih dari enam bulan berlayar.


"Kata ayah laut sedang tinggi?" Airi kembali mengajukan pertanyaan, kini disambi mengupas kulit ayam dengan tanang kosing di atas mangkuknya.


"Ayah pergi mengurus sesuatu di dermaga."


"Hm, untuk pelayaran selanjutnya?"


"Iya."


"Sayang sekali, padahal Akane bilang akan berkunjung kesini."


Royo yang sedang mengganti-ganti saluran televisi dengan pengontrol jarak jauh berhenti.


"Akane?"


"Hmm." Airi mengangguk. Dia menyuapkan sesendok kuah sup beserta daging yang sudah dijadikan bagian kecil-kecil. Ah, enak sekali. Bagaimana bisa orang yang menghabiskan harinya di kapal masa sesuatu seenak ini?

__ADS_1


Airi menelan makanan di mulutnya lalu melanjutkan, "Temanku. Yang tadi ku kenalkan pada ayah."


"Ayah belum lupa kan? Itu baru beberapa jam lalu."


Ayahnya tersenyum canggung. "O-oh, dia. Sepertinya dia anak yang baik."


Royo kembali memilah tayangan, belum ada yang menarik untuk mendampingi mereka menghabiskan pengisi perut.


"Dia sangat baik. Ini juga akan jadi pertama kalinya aku punya teman yang berkunjung ke rumah." Airi tersenyum lebar-lebar. Sudah sejak lama dia ingin menceritakan perihal Akane pada ayahnya. Royo pasti ikut senang dirinya bisa berteman dengan normal.


"Benarkah? Ayah ikut senang..." Airi mengangguk puas mendengar jawaban sang ayah. Tepat persis seperti yang dibayangkan.


"Kau sudah lama mengenalnya?"


"Akane? Tidak juga itu baru dua tahun. Aku mengenalnya saat di akademi. Dia baru pulang dari luar negeri." Mata Airi menunjukkan kekaguman. Dia ingat seperti apa rupanya saat seorang gadis menyapanya dalam bahasa asing di salah satu hari beratnya sebagai siswa tingkat satu.


Sejak saat itu, mereka menjadi teman akrab seperti sekarang walau sebagian besar dihabiskan di sekolah.


"S-sungguh?" Ayahnya masih tersenyum kecil walau tak menatap Airi. Gadis itu tidak ambil pusing dan melanjutkan makan sembari menceritakan beberapa hal soal Akane oada ayahnya.


"Oh, iya. Tapi ayah, kenapa ayah tidak marah padaku soal kejadian tadi?" Supnya hampir tandas saat Airi bertanya. Akhirnya, Royo menoleh ke anak perempuannya itu.


"Marah? Bukankah lebih tepat jika ayah bersedih?"


"Kenapa ayah sedih?" Airi mulai membereskan peralatan makannya. Gadis itu bangkit meninggalkan meja kecil mereka di lantai dan berjalan menuju wastafel.


"Kau bertindak sejauh itu karena ayah tidak bisa melindungimu. Seharusnya, kamu lah yang menyalahkan ayah."


Airi menoleh, menatap lama punggung ayahnya yang masih tegap. Lihat, Royo bahkan tidak mengubah gelagatnya sedikit pun.


"Itu tidak seperti ayah punya waktu. Aku bisa menjaga diri sendiri." Airi berbisik pada dirinya sendiri. Suaranya yang kecil terendam dengan derasnya kran pencuci piring.


"Oh, iya. Airi, siapa itu Jizo?" Tangan Airi yang sedang menggosok garpu terhenti. Kepalanya menoleh cepat ke belakang hanya untuk mendapati sang ayah masih di posisi semula.


"Dengar darimana ayah soal Jizo?" tanya Airi.


"Dari dewan sekolah, tentu saja. Dia temanmu? Kalian bertengkar?"


"Hah?" Airi melongo. Kesimpulan macam apa itu? Sebenarnya, apa yang ayahnya bicarakan dengan dewan sekolah hingga mereka membuat konklusi semacam itu?


"Tidak."


"Kalian tidak bertengkar."


"Tidak, maksudku aku bukan temannya." Akhirnya, jawaban itu berhasil membuat Royo menggerakkan badan. Dia menatap Airi bingung.


"Kalian bukan teman?"


"Ya." Airi menjawab datar. Dia selesaikan barang terakhir yang harus dibilas.

__ADS_1


"Dia anak laki-laki yang tadi juga menyapa ayah kan?"


Bagus sekali Jizo, meninggalkan jejak pada ayahnya. Dari semua orang, mengapa ayah-anak ini harus membicarakan jelmaan kutukan itu di waktu istirahat? Airi meruntuk sembari mengeringkan tangannya dengan lap bersih yang tergantung di lemari.


"Iya," jawab Airi, lagi-lagi dengan suara datar.


"Dia kelihatan pintar."


"Tidak, dia bodoh, bebal, dan menyebalkan."


"..."


Airi yang baru akan meraih tas punggungnya yang tergeletak di lantai tiba-tiba tersadar. Astaga, apakah dia baru saja menghujat Jizo di hadapan ayahnya?


"Kau tidak suka dia?"


Airi sungguh ingin mengakhiri obrolan ini. Dia tidak mau lagi kelepasan menyumpahi Jizo. Seharian sudah kacau. Jangan sampai pergi tidur pun masih harus mendengar namanya.


"Tapi ayah pikir itu baik-baik saja untuk berteman dengannya."


Sungguh, ayah Airi tidak akan pernah mengatakan itu jika sudah melihat separuh saja kelakuan Jizo di hidup Airi. Bahkan, hari ini dia terkena masalah pun karenanya. Ayahnya ini tidak mengerti keadaan Airi dan Jizo.


"Ayah, bisa tolong berhenti membahas dia? Aku lelah." Airi berjalan ke arah kamarnya sendiri.


Royo menoleh, melihat gerak-gerik Airi yang jelas tidak nyaman.


"Kalian bertengkar?"


"Ayah! Kan tadi sudah bertanya soal itu!" Airi merengut tidak suka. Demi Tuhan, gadis itu sudah sangat ingin mendapatkan hidup tenang tanpa sangkut paut Jizo.


"Ayah kan hanya bertanya..."


"Tidak. Kami bahkan tidak berteman, ayah." Airi membuang napas. Ini tidak akan habisnya. Lebih baik dia selesaikan disini dan pergi mandi lalu tidur.


"Airi, boleh ayah beri satu lagi masukan?" Mau tidak mau, karena rasa hormatnya dn kesopanan, sekali lagi Airi menoleh.


"Ayah hanya berpikir kau sepertinya harus mencari teman lain selain Akane." Suara ayahnya tegas. Airi terkejut bukan main.


"Hah?!" Hanya itu yang berhasil lolos dari mulut gadis itu.


"Ayah, apa-apaan itu? Ayah, aku akhirnya punya teman! Teman! Dan itu Akane! Lalu sekarang ayah ingin aku berhenti padahal baru saja melihatnya sekali? Ayah ingin aku sendirian seumur hidup?"


Airi meledak. Sisa energinya dia gunakan untuk bicara, bukan menenangkan diri. Dia sudah terganggu dengan ucapan Jizo sore tadi soal ini, dan ayahnya seperti menyiram bensin di atas api.


Akane yang menemaninya melewati masa-masa akademi melelahkan dan kini orang terpenting dalam hidupnya ingin dia menjauhi sahabatnya sendiri? Jangan bercanda.


Akane bahkan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya ketimbang Royo sendiri.


Airi sekarang benar-benar masuk ke kamarnya setelah membantung pintu. Tidak ada lagi kesabaran. Dia rebahkan diri di atas kasur.

__ADS_1


Lupa soal membersihkan diri, juga surat permintaan maafnya. Yang dipikirkan Akane saat itu hanya campuran hitam dan putih yang acak tentang hari paling melelahkan di hidupnya itu.


__ADS_2