RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 4 : Bagaimana Bisa Kami Disebut Kekasih?


__ADS_3

"Ayah sudah dengar dari dewan sekolah."


Airi menunduk dalam-dalam. Dia pandangi kaki-kaki kecilnya. Rasa bersalah menggerogoti dalam diri Airi.


"Itu bukan masalah besar. Jangan khawatir." Ayahnya menepuk kepala Airi pelan, menenangkan. Perlahan, bahu Airi melemas mendengarnya.


"Benarkah?"


"Ya. Tentu saja. Itu tidak seperti kau merugikan orang lain." Ayahnya tersenyum kecil. Airi bisa merasakan urat-urat wajahnya mulai mengendur karena sedari tadi tegang berhadapan dengan Jizo.


"Oh iya, ayah. Perkenalkan ini Akane. Dia temanku." Airi memperkenalkan dua orang penting dalam hidupnya itu. Dia hampir saja lupa soal Akane yang memandang ayahnya penuh cahaya semenjak dia melihatnya keluar dari ruang dewan.


"Akane, apa yang kau lakukan?" Airi berbisik pada Akane. Melihat tingkah temannya itu membuat dia bingung.


"Kau tidak pernah menceritakan tentang ayahmu." Akane balas berbisik di telinga Airi. Benar juga, Airi memang tidak pernah melakukannya. Lagipula, Akane pun melakukan hal yang sama.


Mereka berteman selama dua tahun terakhir tanpa mengetahui latar belakang masing-masing.


"Ayah— ayah, kau baik-baik saja?" Ayahnya tak menanggapi, jadi dia berniat untuk memastikan apakah ada yang salah. Dan ayah Airi hanya berdiri diam disana memandang Akane yang menarik sudut-sudut bibirnya hingga ujung.


"Ayah?"


"O-oh, ya?" Seperti ditarik cepat, ayah Airi mendapatkan kembali konsentrasinya.


"Ayah, ini Akane. Dia temanku."


"Akane, ini ayahku. Sapa lah." Airi mengulang sesi perkenalan dua orang itu karena mereka belum terlihat tersambung tadi.


"Salam kenal, ayah Airi. Saya Akane, teman Airi. Senang bertemu dengan anda." Akane memperkenalkan diri dengan sopan walau senyum centilnya tak juga luntur.


"Ha-hai. Salam kenal juga. Terima kasih, hm, sudah menjaga Akane." Airi mengerutkan kening melihat ayahnya yang tiba-tiba bicara gagap. Ini aneh.


"Bukan masalah besar, Tuan." Akane membalas dengan menunduk sedikit, memperagakan sikap hormat gemulainya. Airi hanya menggeleng tak habis pikir.


"Airi, sepertinya ayah harus pergi sekarang. Sampai jumpa saat makan malam."


Belum sempat membalas salamnya, ayah Airi telah melesat pergi begitu cepat. Sepertinya memang dia buru-buru. Bisa datang hari ini saja sudah beruntung.


"Airi! Airi! Kenapa kau tidak pernah ceritakan tentang ayahmu!" Airi berjengit kaget saat punggungnya ditepuk keras oleh Akane.


Ekspresi kesakitan Airi berbanding terbalik dengan Akane yang terlihat baru saja mendapat jackpot.


"Sakit, Akane. Kau saja tidak pernah bertanya." Airi membalas dengan seadanya sembari berjalan ke arah tempat sampah terdekat untuk membuang bungkus roti kejunya tadi.


"Aku tidak tau ayahmu seperti itu!"


"Seharusnya dari dulu aku bermain ke rumahmu saja!"


Airi mendengarkan celotehan Akane dengan sedikit tidak paham. Mengapa temannya ini tiba-tiba punya suasana hati yang baik hanya karena bertemu ayahnya?


"Lagipula, ayahku jarang berada di rumah. Pergi ke rumahku tak menjamin kau bertemu dengan dia." Gadis itu menyunggingkan senyum. Dia kembali ke depan ruang dewan menatap pintu itu ketika bicara.


Mengapa belum selesai juga? Apakah hukumannya belum ditentukan?


Akane berjalan melompat-lompat di belakangnya.

__ADS_1


"Benarkah? Benarkah? Apa pekerjaan ayahmu?"


"Dimana dia bekerja? Bagaimana lingkungan pekerjaannya? Apakah kau pernah ikut dia bekerja?"


Airi memproses satu per satu pertanyaan acak Akane. Astaga, kalau rasa ingin tahunya sudah begini, Airi hanya bisa pasrah.


"Memangnya kenapa? Kau mau ikut ayahku bekerja?"


"Heeee, aku kan hanya ingin tau." Akane masih mempertahankan senyumnya. Rambut ikal yang diikat dua dengan pipi merona membuatnya terlihat imut. Airi tak tega untuk menolak.


"Ayahku bekerja di dermaga. Berbulan-bulan di kapal. Masih berminat?"


"Tapi Distrik Barat tidak punya dermaga?"


"Ayahku bekerja di Distrik Timur," jelas Airi.


"Akane, aku tidak pernah tau berteman denganmu akan semenguntungkan ini." Temannya itu memandang Airi dengan mata menyala-nyala. Kerlingan bahagia keluar dari sana.


"Kau bercanda kan?"


"Tidak."


"Astaga, Akane..." Airi mengerutkan keningnya tak habis pikir. Ada-ada saja Akane ini.


"Akane, aku tidak mau memanggilmu ibuku suatu saat nanti." Airi terkikik kecil, diikuti Akane yang juga tergelak. Gurau mereka terbang menabrak langit-langit.


Ah, menyenangkan punya teman bercanda. Selama ada Akane, Airi merasa bahwa permasalahannya tak selalu diselesaikan sendirian. Dia punya seseorang untuk mengalihakan perhatian sejenak dari hal-hal berat.


Airi tak berani membayangkan akan bagaimana jadinya jika dia tidak pernah mengenal Akane. Barangkali, hidupnya benar-benar sempurna tanpa tawa. Airi ingin menghargai keberadaan Akane sepanjang hidupnya.


"Tapi! Tetap! Selagi ayahmu di rumah, ijinkan aku untuk berkunjung, ya?" Akane masih belum menyerah. Sebenarnya, Airi tidak keberatan. Itu ide bagus. Ini akan jadi pertama kalinya seorang teman datang ke rumahnya.


"Tapi bagaimana bisa ayahmu begitu muda, memiliki putri seusiamu, Airi?"


"Ayahku tidak muda. Dia hanya terlalu sehat."


"Itu hal bagus! Ayahmu juga tetap tampan!" Ayahnya tidak setampan itu juga. Akane hanya melebih-lebihkan.


"Ceritakan juga tentang orang tuamu, Akane." Airi mengarahkan Akane untuk ikut buka suara tentang dirinya. Supaya sepadan mereka saling membuka diri.


"Orang tuaku? Biasa saja. Mereka menakutkan dan kolot." Akane sepertinya tidak suka bicara tentang hal ini, terbukti dengan wajahnya yang langsung berubah muram.


"Menakutkan, ya? Ayah juga kadang menakutkan." Airi hanya bergumam pada diri sendiri. Dia pikir, mungkin semua orang tua memang begitu. Gadis itu menaikkan bibir bawahnya.


"Tapi, Akane. Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak ada kelas?"


Akane melongo, Airi berkedip.


"ASTAGA! INI KAN SUDAH BEL MASUK!" Akane berlalu pergi begitu saja tanpa pamit setelah berteriak. Airi sampai harus menutup telinga untuk menyelamatkan pendengarannya.


Airi menatap kepergian Akane yang sedang berlari sekuat yang dia bisa dengan senyum kecil. Suara langkahnya bersahutan keras dan perlahan menghilang.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala sebelum kembali memandangi pintu ruang dewan.


Ini sudah lebih dari lima belas menit. Ayahnya saja tak sampai selama ini. Yah, walau itu mungkin memengaruhi masa sekolah Airi hingga lulus. Airi beralih pada penunjuk waktu di tangannya dengan was-was.

__ADS_1


Dia tidak khawatir pada Jizo, dia hanya tak yakin laki-laki itu tidak mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya. Seorang Jizo bisa melakukan itu, dan sudah pasti tega.


Tingkat kepercayaan diri Airi sudah sampai batas terendahnya, namun dia masih tidak ingin masuk dan ikut bicara walau hanya itu pilihannya.


Airi pikir, mungkin akan lebih baik jika dia kembali ke kelas lebih dulu. Ini tidak seperti Jizo dan anggota dewan akan keluar tepat setelah dia berharap. Tak ada gunanya membuang-buang waktu disini.


Airi baru beberapa hari duduk di tingkat tiga, dan meninggalkan sehari pembelajaran adalah hal yang merepotkan untuk dia tanggung akibatnya. Gadis itu tidak mau menambah lagi masalah baru karena tidak hadir dalam kelas.


Langkah Airi tenang tak bersuara. Dia mengintip pelan-pelan hingga menahan napas, untuk mencari tahu siapakah yang mengajar jam ini.


Gadis itu bersorak dalam hati saat mendapati tak ada satu pun pengawas disana. Orang-orang di kelasnya saja berpencar kesana-kemari.


Airi masuk ke kelas lewat pintu belakang dengan sama heningnya. Dia berusaha sebaik mungkin untuk tidak menimbulkan suara dan menjadi pusat perhatian.


Kreeeekkk.


Sialnya, kursi Airi berderit keras sehingga hampir seluruh pasang mata mengarah padanya saat ini.


Bangku di depan Airi juga kosong. Tentu saja, itu milik Jizo. Hanya mereka berdua yang tak kembali usai jam makan siang.


Pelan tapi pasti bisik-bisik mulai menjalar ke seisi ruangan. Airi bukan tak dengar, dia hanya bersikap tidak peduli.


Ini bukan pertama kalinya mereka berdua dirumorkan ini dan itu. Airi menjadi terbiasa, mau tak mau. Tentu saja, sebagian besar tidak benar. Namun, itu tidak seperti Airi punya cukup tenaga untuk membungkam semuanya.


"Mereka benar-benar rekan dalam hal buruk."


"Aku kira dia hanya dirundung, ternyata dia sama saja."


"Mereka seperti pasangan sungguhan."


"Kau yakin mereka tidak pacaran?"


Bawah mata Airi berkedut mendengar pertanyaan terakhir. Bisa-bisanya mereka menyebut Airi dan Jizo pasangan? Hah?!


Airi bisa memahami soal patner in crime tapi pacar? Bercanda. Bagian mana dari dia dan Jizo yang terlihat seperti pasangan?


Tidak bisakah mereka memberi judul pada gosip dengan sedikit kreatifitas dan akal sehat. Menyebut Jizo kekasih Airi itu menyinggu tahu! Melukai harga diri Airi!


Mereka mana mungkin jadi pasangan. Tidak akan pernah. Tidak mungkin.


Ingat baik-baik!


ps.


Perfektur Kido berisi 6 distrik berbeda yang masing-masing dikuasai oleh kelompok organisasi terkuat dalam mengelola sumber dayanya.


Distrik Barat : Wilayah kekuasaan Taka. Daerah metropolitan. Penghasil timah dan peluru.


Distrik Timur : Wilayah kekuasaan Corvus. Daerah pesisir, dermaga utama Perfektur Kido.


Distrik Timur Laut : Wilayah kekuasaan Caracal. Daerah industri pabrik kimia.


Distrik Utara : Wilayah kekuasaan Alba. Daerah penghasil wine lokal.


Distrik Selatan : Wilayah kekuasaan Noumin. Daerah perkebunan cengkeh.

__ADS_1


Distrik Tenggara : Wilayah kekuasaan Turquoise. Daerah pertambangan mineral laut.


Seluruh keseimbangan kerja sama Perfektur Kido antara kelompok organisasi dan pemerintah pusat telah diatur dalam Perjanjian Terbuka Kido.


__ADS_2