
Matahari masih punya sisa dari puncaknya. Bersinar terang-terangan tanpa belas kasih. Airi mendengus, menghitung dalam hati kapan hari libur akan tiba. Keringat di pelupuknya mengguyur jelas, menegaskan bahwa ia bersungguh-sungguh butuh istirahat.
Selimut-selimut kotor ruang kesehatan sekolah dia injak sekuat tenaga di dalam rendaman air. Kakinya mulai mati rasa karena dia sudah melakukan ini lebih dari dua puluh menit, namun tidak ada tanda-tanda akan bersih juga.
Airi sedang berada di belakang ruang perawatan sekolah. Dia harus menyapu, mencuci, menjemur, hingga mengecek kembali peralatan kebersihan. Ini dia lakukan sebagai bentuk hukuman sosial yang Airi terima.
Melihat bayangan kakinya sudah mulai buram karena air dalam ember mengeruh, Airi melompat keluar. Tangannya meraih penampung air lain di sebelah kanan. Namun, belum sampai dia menyentuhnya, segerombol adik tingkat laki-laki berlarian hingga salah satu menendang ember itu.
Airi melotot. Dia memasang wajah tak terima lalu meneriaki oknum bersalah yang membuat pekerjaannya semakin sulit.
"HEI, KALIAN BERHENTI!!!" Airi bukan tipe bersuara keras. Dia banyak menyimpan suaranya. Tapi hari ini dia sudah sangat lelah, diganggu sedikit, ia akan menggigit.
"MAAF! MAAF!" Yang diteriaki balas menyeru. Kurang ajar. Mereka bahkan tak berniat membantu.
Airi melangkah dengan malas menuju ember yang sudah tertendang lumayan jauh itu. Gadis itu lupa kakinya sedang tidak beralas. Dia menghembuskan napas. Tanah di sekitar sudah becek, bisa-bisanya dia malah mengotori kaki.
Meskipun begitu, Airi tetap mengambilnya dan melanjutkan pekerjaan suka relanya. Satu-satunya hal yang dia sesali adalah melewatkan jatah pekerjaan paruh waktunya. Dia bisa mendapatkan jatah makan, gajinya akan tetap utuh, bila saja Airi tidak dihukum.
Mengapa pula waktu itu dia pergi ke minimarket. Airi bahkan tidak tahu bagaimana dia hidup beberapa tahun terakhir. Dia pasti sudah tidak waras karena mau-mau saja selalu mengiyakan perintah Jizo. Syukurlah, Airi yang sekarang seperti baru saja mendapat kembali kuasa hidupnya.
Air yang keluar dari kran mulai memenuhi ember secara perlahan. Sembari menunggu, Airi mengambil ponsel yang terletak di bangku kering tak jauh dari tempatnya berada, bersama dengan tas dan barang-barangnya.
Airi tidak mendapati satu pun balasan dari Royo, ayahnya. Ayahnya pasti sudah sampai di Distrik Timur. Tentu saja, tengah hari sudah lewat beberapa jam lalu. Royo berangkat dari pagi buta, lalu lintas pasti belum menghambat perjalanannya.
"Apakah ayah sudah sampai?"
"Ayah, balas pesanku saat sempat."
"Jangan lupa makan malam."
Biasanya, ayahnya akan memberi kabar bahkan tanpa diminta. Airi sedikit tidak tenang memikirkan apa ayahnya tersinggung dengan sikapnya.
Airi meletakkan ponselnya dengan setengah hati dan berniat melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Betapa terkejutnya gadis itu saat melihat tiga orang berkumpul di depan ember yang sedang dia isi.
Apa yang mereka lakukan?! Airi bersumpah firasatnya buruk. Dia berjalan cepat bahkan tanpa memedulikan lumpur yang kini menyimprat hingga ke rok putihnya.
"Hei! Hei! Apa yang kalian lakukan!"
Mendengar suara Airi, mereka berhenti berbisik dan tertawa. Kini, tiga orang itu memasang wajah terkejut. Mereka adalah dua laki-laki dan satu perempuan, yang perempuan berambut pendek. Airi hampir salah mengiranya tadi.
Dia tidak kenal wajah-wajah itu. Jika masih di lingkungan ini, kemungkinan besar mereka murid akademi. Tapi, Airi tidak tahu siapa mereka dan apa yang sedang mereka lakukan di depan cuciannya.
Airi tinggal beberapa langkah saat tiga orang itu kabur begitu saja. Meremehkan Airi yang kini menatap selimut ruang kesehatan akademi dengan nanar.
__ADS_1
"KURANG AJAR KALIAN, HEI! KEMBALI!" Airi mengejar mereka sedetik setelah melihat pekerjaannya dikotori dengan beberapa tanah dan batu. Selimut yang sudah dia injak-injak hingga kakinya membiru dan pinggangnya terasa kaku, kini sia-sia saja.
"KEMBALI KALIAN, BERANDAL!" Yang dikejar tertawa sembari lari terbirit-birit. Sedangkan Airi di belakang, sudah kehabisan napas.
"MAAF, KAK! KAMI CUMA ISENG!"
"MAAF! YAHOO!"
"JANGAN LUPA CUCI SAMPAI BERSIH YA, KAK!"
Airi memegangi dadanya yang terasa sesak. Sialan, dia tidak mungkin mengejar lagi. Tubuhnya sudah mau ambruk sekarang. Airi menarik napas panjang, lebih panjang dari jalur pencernaannya, dari kesabarannya yang tinggal sepenggal.
"Sialan."
Airi tak menahan umpatannya. Dia sangat benci dibuat begini. Orang-orang tidak peduli akan apa kesulitan yang dilalui orang lain, mereka hanya peduli pada kesenangan pribadi.
Kerja kerasnya tidak berarti apa-apa. Jika mereka ingin menghancurkan, hancurkan. Mana mereka peduli apakah Airi sependapat atau tidak. Sudi atau mengutuk.
Gadis itu berjalan kembali ke belakang ruang perawatan sekolah. Kini, dia harus mengulang semuanya dari awal. Dengan usaha ekstra pula.
Airi serasa mencuci selimut-selimut ini dengan keringat, dibilas oleh air matanya, dikeringkan bersama keluhan. Dia memang sangat ingin menangis. Namun, Airi sudah lama tidak melakukannya
Direndahkan seperti ini memang melukai perasaan dan harga dirinya. Tapi, daripada menangis, Airi pikir seharusnya dia mengamuk saja. Walau akhirnya dia tidak melakukan keduanya.
Airi berjongkok untuk memindahkan cuciannya ke wadah baru yang bersih. Bagian belakang sekolahnya kini sudah nampak tidak layak. Jika ada yang melihat, Airi yakin dia memang dianggap seorang pegawai kebersihan, bukan murid akademi ini.
Buruk sekali.
Semoga mereka tidak pernah merasa sekesulitan ini hidup. Karena jika iya, selamat hidup tiga orang tadi akan dipenuhi mimpi-mimpi penyesalan. Airi yang mendoakan.
Airi merenggangkan tubuhnya setelah selesai dengan air bersih. Sekarang, kembali menggosok. Airi harus memastikan tidak ada noda disana. Lagipula, Airi heran. Akademi sebesar ini, masih menggunakan tenaga manusia untuk mencuci selimut ruang kesehatan.
Jangan-jangan mereka punya, sengaja saja supaya Airi kesulitan. Untungnya, Airi terbiasa melakukan ini sehari-hari di rumah karena tidak ada mesin pencuci baju disana.
Airi akan berbalik untuk memindahkan ember itu ke tempat lebih kering. Dia baru saja menyentuhnya saat ekor mata mendapati ada yang mendekat.
"Kau duluan."
"Kau saja."
"Hei, kau kan yang memberi ide."
Tubuh Airi sontak tegap mengetahui siapa yang datang.
__ADS_1
"Kalian! Kalian..." Suara Airi bahkan sampai bergetar karena ditahan begitu kuat.
Tiga sosok yang Airi acungi telunjuk dengan kasar berhenti berjalan karena Airi berderap dengan tegas.
"Kalian! Apa yang tadi kalian lakukan, hah?!" Airi menyentak. Mereka mundur selangkah, Airi ikut maju.
Tidak ada takut-takutnya. Airi sudah mengejar mereka susah payah tadi, walau akhirnya kalah. Pasrah dan mengulang pekerjaannya dengan perasaan kacau, kini mereka berani kembali dan menampakkan diri?
"Kalian gila, ya!"
"Kenapa melakukan hal seperti itu padaku!"
"Kalian punya dendam?!"
Airi membentak-bentak tiga sejoli itu tanpa ragu. Dia tidak akan berbelas kasih. Airi pastikan mereka menerima balasan setimpal.
"M-maafkan kami!"
"Iya, maafkan kami!"
"Kami akan membantumu mengurusnya. Tolong, maafkan kami!"
Alis Airi malah terangkat bingung saat remaja-remaja itu menundukkan diri. Kini, Airi yang menjaga jarak. Apa mereka bertiga, secara kebetulan, punya masalah kepribadian yang sama?
Mengapa minta maaf seakan mereka telah membunuh seseorang padahal waktu melakukannya saja tidak merasakan apapun.
Greb!
Tangan Airi yang basah diraih satu-satunya perempuan dalam kelompok itu. Matanya berlinangan memohon ampun. Ya, Airi marah. Tapi dia bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun soal membalas mereka, belum.
Apakah doanya yang tadi cepat sekali terkabul? Setelah beberapa puluh menit saja? Luar bias—
BYUUURRRRR!!!!!
Airi melotot dan secara reflek mundur saat seseorang menyiram air besar-besaran kepada tiga orang di hadapannya. Gadis itu menatap tak percaya pada apa yang dia lihat.
"Jizo, apa yang kau lakukan?!"
Disana, Jizo tersenyum santai. Mengejek trio yang sekarang panik sembari berusaha bernapas karena terkejut dihujani air yang entah datang darimana.
"Membalaskannya untukmu."
"Ini bahkan baru sehari kita berjarak. Tapi kau sudah jadi korban disana dan disini."
__ADS_1
"Ternyata, Airi tidak bisa hidup tanpa Jizo."
Airi memandang jijik Jizo. Lebih baik katakan dia sedang bercanda sekarang atau Airi yang akan menyiramnya sendiri.