RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 14 : Berita Kosong Di Antara Kunyahan


__ADS_3

Airi mengetuk-etukan pensil ke mejanya. Kepala disanggah dengan sebelah tangan, sementara matanya menembus kaca jendela. Menjelajah sudut lapangan dari bangkunya.


Ini sudah waktu kembali sekolah. Terhitung tiga hari sejak saat Akane tak menghubunginya. Saat mencari info ke kelasnya, orang-orang hanya bilang dia mengajukan surat ijin sejak hari ini. Entah sampai kapan.


Airi sudah agak menata hatinya. Dia masih khawatir sesuatu terjadi pada sahabatnya itu, namun mengingat Akane punya lingkungan yang tampak mendukung, dia yakin gadis itu akan baik-baik saja. Harapnya.


"Distrik Timur Laut? Hm? Ah, aku mengerti."


Airi menoleh saat mendengar suara dari belakangnya. Ada Jizo mengenakan airpod dan tampak sedang dalam panggilan. Laki-laki itu berjalan melewati Airi menuju bangkunya sendiri.


Gadis itu tak begitu peduli dan melanjutkan lamunannya. Cuaca cerah sekali hari ini. Tidak main-main, tak punya belas kasih pada hati yang sedang gundah. Malas menyesuaikan diri.


"Kau ditinggalkan temanmu itu secepat ini?"


Mata Airi bergulir melingkar, terlebih saat menyadari penekanan lidah Jizo pada kata teman. Menyindirnya habis-habisan. Entah sejak kapan laki-laki itu selesai dengan kesibukannya tadi. Kini, Jizo sudah memutar badan dan menghadapnya sempurna.


Beberapa orang di kelas mulai menatap ke arah mereka berdua yang sudah lama tidak bicara. Mereka mulai merapatkan tubuh dan menlayangkan pandang penuh penilaian.


"Kenapa berdiam disini? Benar-benar tidak punya teman, eh?" Jizo tampaknya tidak peduli soal itu.


Itensitas Jizo memang menganggunya berkurang drastis akhir-akhir ini. Tidak yakin apakah karena laki-laki itu mengikuti permintaannya dan memperbaiki diri atau memang sedang sibuk saja tak punya waktu mengurus Airi. Mengingat dia seringkali mendapati Jizo berada dalam panggilan serius seperti tadi.


Yang mana saja, Airi senang. Asal Jizo tak ada di sekitar.


Namun, jika laki-laki itu mulai menjalankan kebiasaan lamanya lagi, dia benar-benar menjadi lebih menyebalkan. Seperti yang dilakukannya sekarang ini.


Airi mendelik saat Jizo menyunggingkan senyum penuh main-main. Bibir laki-laki itu terlihat sedikit kering walau kulitnya jelas sehat. Kilauan jenaka di antara dua matanya terlihat seolah dia adalah orang yang ramah. Ditambahi dengan kerut-kerut halus akibat senyuman.


Jizo memberi kesan sebagai anak penurut saat tidak mengucapkan apapun. Yah, kecuali soal rambut dengan warna menyala di jambulnya, sih.


Airi bergidik. Mengapa malah memperhatikannya.


"Airi, kau tidak rindu bicara padaku?"


Gadis bersurai hitam legam itu hampir tersedak ludahnya sendiri saat Jizo menusuk-nusuk lengan Airi dengan jari, bersikap kekanakan. Dia melotot. Siapa yang mengajari Jizo bertingkah menjijikan seperti itu? Tidak cocok. Buruk. Tak enak dipandang.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Berhenti mengutukku di dalam hati dengan matamu." Jizo mengangkat tangan, seolah mendengar suara di pikirannya. Kini, dia kembali pada dirinya yang normal.


"Airi, kau sudah makan siang?"


Ah, benar juga. Makan siang. Airi sampai lupa mengisi perut karena terlena dengan bayangan-bayangan di otaknya.


"Kau pasti belum makan siang." Jizo menjawab pertanyaannya sendiri padahal Airi tutup mulut dengan rapat. Walau begitu dugaannya benar.


Sekarang Airi positif curiga bahwa Jizo punya kemampuan membaca pikiran. Dia rasa, mulai sekarang harus berhati-hati.


"Haaahhh, aku ingin sandwich es krim." Sekarang Jizo menyelonjorkan lengannya di meja Airi. Kepala laki-laki itu jatuh, sedangkan matanya memandangi Airi.


Gadis itu bergeser menjauh tak suka. Terlalu malas mengusir, walau tak sudi dekat-dekat. Bisa-bisanya Jizo merindukan hal yang membuat Airi harus kerja rodi dua minggu penuh. Dasar tidak punya hati.


"Airi, kau mau makan siang bersama?"


Gadis itu masih bertahan tidak goyah dengan segala usikan Jizo. Lagipula, itu hanya ajakan kosong. Barangkali, nanti malah dia yang berakhir harus membelikannya. Airi bersumpah dia tidak akan kalah lagi kali ini.


"Airi..."


"Airi..."


Airi mendengus. Gatal sekali telinganya karena Jizo benar-benar sedang kambuh.


"Jizo, berhentilah mengangguku. Sebentar lagi kelas siang dimulai." Airi membuat gestur agar Jizo segera menyingkirkan tangannya dari teritori milik Airi. Sekarang, sesegera mungkin.


"Ayo makan siang bersama," ulang Jizo. Bukan hal baru, Jizo dan kepala batunya. Tapi sekarang dia sudah mengangkat kepalanya kembali ke tempat semula sehingga Airi bisa meletakkan buku-buku yang dia ambil dari laci.


"Airi..."


"Jizo, pintu keluar ada di arah kirimu, dua puluh tiga langkah dari sini, jika kau tidak tau," kata Airi datar.


"Kau tidak mau makan siang? Yakin?" Jizo masih mencoba sekali lagi. Airi mendengus.


"Aku malas. Pergi sendiri." Akhirnya, Airi memberi jawaban yang tepat untuk menutup mulut Jizo.

__ADS_1


"Kau malas? Kalau begitu aku akan pergi sendiri. Ingin titip sesuatu? Hari ini aku yang traktir. Apa? Roti keju? Baiklah, roti keju lima bungkus akan datang."


Airi mengerutkan kening. Heran dia, melihat Jizo yang bermonolog ria. Memainkan peran sebagai dirinya, membuat keputusan tanpa pertimbangan Airi.


Tapi dia lega, karena setelahnya laki-laki itu memang segera pergi. Ke arah kiri, dua puluh tiga langkah menuju pintu kelas. Tidak peduli Airi apakah dia benar-benar ke kantin, atau pergi ke neraka.


"..."


Sepeninggal Jizo, tidak ada lagi yang berinteraksi dengan Airi. Gadis itu menatap malas tumpukan buku pelajaran di hadapannya.


Otaknya sedang tidak terkoneksi dengan baik. Tidak ada gunanya belajar sekarang. Airi akhirnya memilih membuka ponsel dan melihat kembali ruang perbincangannya dengan Akane yang masih ditinggal tanpa balasan.


Dia menghembuskan napas. Lalu, tangannya bergerak, membuka sosial media yang tidak banyak juga dia gunakan. Hanya untuk keperluan tetap terhubung dengan dunia luar, agar tidak terlalu tertinggal jauh oleh dunia.


Beberapa guliran, tangannya berhenti pada berita dengan judul kepala berwarna merah, beraroma duka. Matanya terbuka lebar membaca tiap kata disana.


Buru-buru, Airi membuka tasnya. Mencari kertas panjang bertuliskan tiket disana. Dia bolak-balik benda itu.


Oh, astaga. Apa-apaan ini?! Airi hampir saja mengumpat saking terkejutnya. Gadis itu tidak beraksi beberapa saat bahkan sampai Jizo kembali dengan barang-barang di tangannya.


"Airi, aku bawa roti kejumu."


Airi yang masih tenggelam dalam berita itu menoleh cepat pada Jizo saat dia meletakkan sekaleng jus jeruk dan beberapa bungkus roti keju di atas mejanya.


Dipandangi aneh, Jizo menatapnya horor.


"Apa?"


"Airi?" Jizo menggerakan telapaknya di depan mata Airi. Menuntut atensi sang gadis.


Airi tidak bereaksi. Program-progam di saraf otak pintarnya bekerja cepat. Dia memproses semua informasi yang baru saja sampai.


Jizo memanggilnya beberapa kali. Suaranya hanya berdenging, tidak cukup menembus gendang milik Airi. Laki-laki itu terheran-heran dan masih terus mencoba mendapatkan perhatiannya.


Namun, Airi malah meraih bungkus roti dan membukanya dengan mata kosong. Lupa mengucapkan terima kasih atas roti keju yang sekarang dikunyahnya.

__ADS_1


__ADS_2