RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 17 : Laut Distrik Timur Tanpa Laut, Airi Datang!


__ADS_3

"Kau malu, ya?"


Airi melenguh. Hatinya mencelos mendengar ucapan Jizo yang mengoloknya itu. Gadis itu menekuk tangannya di atas meja, menyembunyikan wajah di antaranya.


Orang-orang yang tadi menoleh ke arahnya, sudah kembali sibuk dengan buku mereka. Jizo menusuk-nusuk lengannya, memanggil nama Airi penuh main-main.


"Sudah, tidak apa-apa."


"Tidak ada yang peduli bahkan jika kau menari zumba sekarang."


Airi mengerutkan kening. Jizo, yang baru saja itu jelas sekali meledek. Walau begitu, gadis tersebut tak menampik bahwa sebagian adalah kesalahannya yang menjadi lebih sensitif akhir-akhir ini.


Dia jadi kehilangan semua kendali diri yang sudah dia latih selama bertahun-tahun. Jizo selalu bisa meruntuhkan kehidupannya yang tenang.


"Berhenti pundung. Oke, oke, aku tidak akan bicara soal temanmu itu lagi." Jizo masih belum menyerah. Dia membujuk Airi untuk mengangkat kepala. Dirinya yakin, Jizo akan melanggar yang satu itu juga.


"Akan ku ceritakan soal apa tadi? Distrik Timur? Aku tau banyak soal itu."


Coba saja, Jizo. Airi tidak percaya dengan segala bentuk keseriusanmu.


"Hei, aku serius," kata Jizo sembari berbisik di telinganya. Airi bergidik, dia langsung bangkit dan memandangi laki-laki itu tajam.


Jizo terkekeh, sebelum matanya menerawang ke arah jendela di hadapannya.


"Distrik Timur punya banyak laut. Ada suara ombak dimana-mana. Aroma garam menguar di setiap penjuru kota. Ada bangunan-bangunan kuno yang masih berfungsi, seringkali ramai sesak saat hari kerja."


Laki-laki itu mulai bercerita. Airi masih denial, dia membuka bukunya tanpa peduli pada apa yang akan Jizo kisahkan. Namun, telinganya dipasang diam-diam. Sial, mengapa Jizo harus memulainya dengan kalimat menarik perhatian.


"Gang-gang kecil terhitung hampir ratusan. Tapi, semuanya menuju ke satu arah : dermaga besar Distrik Timur. Kapal, nelayan, ikan, barang, truk, besi-besi berkawat, pajak, hingga berlian. Dermaga itu punya semuanya."


Hm, seperti apa yang sering ayahnya bilang soal perkerjaannya disana. Airi masih merundung halaman berisi rumus kalkulus di matanya.


"Bergeser sedikit, bisa ditemukan pasar makanan. Yang terbaik adalah kerang bumbu kari milik warung bertenda merah. Jika tendanya hijau, kuning, atau pelangi, rasanya tidak seperti kari, mungkin hanya sekadar kerang rebus bumbu garam dan saus."


Suara berat Jizo sampai ke telinga gadis itu. Dia seperti seorang ahli makanan yang memberi penilaian profesional. Memang, bisa seenak apa kerang kari itu? Lebih dari sup ayam ayahnya?


"Disana sejuk. Pantai dengan angin kencang, juga tumbuhan-tumbuhan penahan abrasi. Ada rumah yang rapat, ada rumah yang berjauhan. Tapi, Distrik Timur layak untuk dijadikan tempat pulang."


Airi tertegun. Pantas saja, ayahnya ingin pindah kesana. Laki-laki dewasa itu pasti telah memperhitungkan segalanya di samping jarak mereka. Royo pasti ingin dia hidup di tempat yang lebih nyaman dari kota penuh polusi seperti disini.


"Kalau sedikit berani, jelajahi saat gelap. Ada pentas-pentas kecil penyanyi lokal, teater, hingga hiburan lawak. Semuanya pantas dinikmati."


Gadis itu akhirnya menoleh ke arah Jizo untuk mendapatinya tersenyum menatap serabut-serabut jingga di luar dengan penuh nostalgia.

__ADS_1


Dia menaikkan alis sesaat, sepeti teringat sesuatu. Mata Jizo bersibubruk dengan Airi. Laki-laki itu tiba-tiba jadi serius.


"Satu-satunya hal yang perlu dihindari dari Distrik Timur adalah aroma mesiunya. Di sudut manapun berdiri di kota itu, jika tercium bau mesiu, besi panas, atau pematik api, menjaulah lalu pulang."


Tidak ada senyum. Nyata sebuah peringatan. Tapi, hanya sebentar sampai senyum kecil kembali terbit di wajah Jizo.


"Namun, sekali lagi, Distrik Timur adalah kota yang jauh lebih menyenangkan dari yang pernah diceritakan orang-orang."


"Kenapa bertanya? Kau akan pergi kesana?"


Airi tidak menjawab, dia hanya bergumam asal. Sebenarnya, semua yang dikatakan Jizo terekam dengan baik di kepala Airi. Gadis itu seperti melihat sendiri dunia yang laki-laki itu ceritakan.


Dia tidak menyangkan Jizo mendeskripsikannya begitu rinci dan lengkap. Airi pernah dengar soal teater, tapi tidak dengan penyanyi, grup komedi, kerang kari, atau dermaga selengkap itu.


Jizo bicara seakan laki-laki itu pernah tinggal disana. Terlepas dari valid atau tidaknya informasi dari Jizo, Airi memilih untuk menjadikannya panduan wisata libur singkat gadis itu beberapa hari kemudian.


Bukan Distrik Timur Laut, hanya Distrik Timur saja.


Seorang diri, menuju ayahnya. Tanpa teman, tanpa tiket bergantian.


Disini lah Airi sekarang. Terminal bus yang sama.


Karena musim ujian akademinya sudah selesai dengan hasil memuaskan, Airi akhirnya memutuskan untuk pergi saja dan menerima tawaran ayahnya. Tidak ada yang rugi dari itu. Airi hanya sedang menjadi manusia, mengambil jeda untuk hidupnya yang sibuk.


Airi menarik leher kopernya, menembus gerombolan orang di terminal bus. Perasaan Deja Vu merundungnya seketika.


Uh, gadis itu bahkan sampai harus memegangi dada karena hatinya tidak nyaman. Dia menarik napas sedalam mungkin, menjejel udara ke dadanya sehingga dia bisa mengendalikan detak jantung yang bergerak tak nyaman. Lebih buruk lagi, perutnya sekarang menjadi mual.


Airi berlari buru-buru ke toilet umum. Dia memuntahkan sarapan nasi kepalnya begitu saja dan berakhir lemas.


"Ukkkhhh..."


Airi bersandar pada pintu kamar mandi. Matanya berkunang sebentar sebelum akhirnya dia mampu menguasai tubuhnya yang bereaksi tak benar.


Dia ini akan pergi rekreasi, membayar rindu dengan ayahnya, namun mengapa sekarang perasaan juga badannya terasa tidak enak.


Drrrrttt drrrrrtttt


Airi berkedip karena terkejut, masih dengan memegangi pintu toilet, dia merogoh ponsel di kantongnya.


"Kamu jadi berangkat hari ini kan?"


Ah, itu pesan dari ayahnya.

__ADS_1


"Tentu saja," ketik Airi sebagai balasan untuknya.


Sadarlah Airi, ayahmu menunggu. Batinnya mendorong diri sendiri. Airi merasa tidak punya waktu untuk drama traumatis.


"Aku harus segera naik ke bus," kata Airi bermonolog setelah mencuci wajahnya di wastafel.



Distrik Timur


Wilayah Kekuasaan Corvus


Perfektur Kido


Pria berbadan tegap dengan sorot mata tajam menggerakkan bidak catur dua langkah ke depan. Lawannya, seorang pemuda dengan rambut puding yang diwarna beberapa bagian mendengus sesaat membaca strategi atasannya.


"Anda pasti bercanda, Tuan."


"Aku suka candaan, Arba," jawabnya dengan nada pongah. Dia tertawa bersama suara beratnya. Pria yang dipanggil Tuan itu seketika kehilangan wibawanya.


"Arba," panggilnya dengan sisa tawa.


"Ya, Tuan." Sang Arba menjawab. Memakan satu pion dengan kurang ajar. Tidak merasa takut sedikit pun atas keputusannya.


"Bagaimana dengan anak itu? Bukan kah ini sudah waktunya untuk pulang? Ku dengar libur panjang sudah datang."


Arba dengan netra pastel menatap balik Tuannya. "Dia sedang dalam perjalanan. Aku mengirim Saka untuk menjemputnya."


"Benarkah?"


"Kau tidak khawatir mereka akan baku hantam?" Yang dewasa menarik mundur pion kuda hitamnya. Memberi jalan Arba untuk maju tanpa gentar.


"Kau bertemu dengannya beberapa minggu lalu kan? Apa ada perubahan?"


Arba tidak bergeming. Laki-laki itu hanya membuang napas lelah.


"Dia sama saja."


"Hahaha! Tentu saja!" Sang Tuan kembali terbahak.


"Jika dia berubah jadi anak baik, itu akan lebih aneh."


"Anda harus berhenti menoleransinya terlalu banyak, Tuan." Arba hanya memberi saran. Pasalnya, pemuda itu saja bisa bergidik ngeri jika mengingat segala kekacauan yang oknum itu sebabkan.

__ADS_1


__ADS_2