RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 16 : Meledakkan Bom Airi Dengan Satu Kalimat


__ADS_3

"Seorang Pemain Teater Ditemukan Tewas Membusuk Di Tempat Sampah."


Dugaan awal adalah pembunuhan terencana. Polisi sedang menyelidiki kasus ini secara mendalam untuk menemukan bukti dan mengejar pelaku.


Klik.


Airi menutup jendela layar ponselnya yang menampilkan rekaman ulang berita itu. Kasus ini masih terus berjalan walau sudah berminggu-minggu sejak kejadian perkara.


Di saat itu pula, Airi belum juga bertemu dengan Akane. Dia tidak bisa menemukan jejaknya dimana pun. Airi bahkan menyerah untuk bertanya kesana-kemari pada dewan sekolah.


Menghilangnya Akane adalah pukulan besar untuk Airi. Ditambah dengan berita kematian aktor teater yang seharusnya mereka tonton hari itu, menambah keterkejutannya hingga hampir tak terbendung.


Airi mengusap keningnya yang mulai berdenyut nyeri. Dia membolak-balik buku matematika di hadapannya. Musim penilaian semester sedang berlangsung dan Airi harus belajar untuk mempertahankan nilai-nilainya tetap stabil jika ingin pergi dari akademi dengan tenang.


Tidak begitu banyak distraksi-distraksi lain yang menggoyahkan gadis itu kecuali tiga perihal di atas. Sisanya, dia menjalani hari-hari seperti sebelum bertemu dengan Akane. Menghabiskan waktu berlama-lama di depan buku, pergi kerja paruh waktu, dan tak bersosialisasi dengan orang lain. Persis bagaimana Airi ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Drrrrttt drrrrrtttt.


Airi melirik ke arah teleponnya yang beberapa saat lalu sudah dia matikan itu. Tertera tanda nama "Ayah" di layar sehingga Airi secara sadar cepat bergerak untuk mengangkatnya.


Dia melihat ke sekitar kelas, orang-orang sedang sibuk belajar dengan buku mereka di kelas sore tambahan suka rela. Airi berjinjit keluar menuju koridor. Berjalan agak lebih jauh agar bisa mendapat privasi lebih.


Dia memasangkan earphonennya. Gadis itu berdeham singkat, menyiapkan suara. "Halo, ayah?"


"Hai, Airi. Apa ayah menganggu?" Di seberang sana, suara ayahnya berat. Samar-samar Airi bisa mendengar gegap ramai di belakangnya. Royo pasti sedang ada di dermaga.


"Tidak, aku sedang kelas tambahan mandiri. Tidak ada yang terganggu."


"Syukurlah."


Suara ayahnya terdengar lega. Akhir-akhir ini ayahnya memang jadi sering menelepon untuk sekadar bertanya tentang bagaimana harinya berjalan sejak Airi bercerita bahwa Akane tidak ada lagi di sekitarnya.


Ayahnya tak berkomentar apa-apa soal itu. Royo malah bertanya apa dia makan dengan teratur, apa kerja paruh waktunya lancar, atau apa yang dia lakukan hari ini di sekolah.


Awalnya, sedikit terasa canggung karena ini memang pertama kali ayah Airi melakukannya. Gadis itu mengerti, Royo sedang khawatir dan perhatian dengan caranya sendiri.


"Airi, ayah sedang berpikir tentang sesuatu." Suara ayahnya berubah berat dan serius. Airi hanya mempersiapkan diri sebagai jawaban.


"Airi, apa kau masih ingin pergi ke Distrik Timur Laut?"


Gadis itu berkedip. Diam sesaat sebelum memberi tanggapan.


"Kenapa tiba-tiba bertanya?"


"Ayah hanya teringat kamu begitu bersemangat sebelum pergi. Jadi, aku bertanya-tanya apakah kau masih ingin berkunjung kesana."


"Tidak. Aku tidak tertarik dengan Distrik Timur Laut." Airi berkata lugas dan jelas. Tidak memberi keramahan dalam nadanya.

__ADS_1


"..."


Hubungan dua arah itu sepi untuk lima detik ke depan.


"Daripada Distrik Timur Laut, bagaimana jika mengunjungi Distrik Timur saja?" Akhirnya, Royo memecah sunyi. Bertanya dengan hati-hati pada anak gadisnya.


"Aku kan memang akan kesana saat lulus, ayah?"


"Bukan— bukan seperti itu," sela ayah Airi.


"Maksudku datang kesini untuk berlibur sebentar setelah ujianmu minggu ini. Datanglah untuk melihat-lihat dan membiasakan diri. Sebelum benar-benar pindah tahun depan." Royo menyambung ucapannya.


Airi yang mendengar itu tertegun sesaat.


Mengunjungi Distrik Timur untuk liburan sesaat? Ayahnya pasti sangat cemas hingga menawarinya sesuatu sejauh ini. Bahkan saat Airi berada di hari-hari beratnya dua tahun ke belakang, Royo tidak bernah berniat untuk menanyakan keadaannya.


"Maksud ayah aku bisa kesana untuk bertemu denganmu lebih cepat?"


"Ya, tentu saja," kata Royo yakin.


Airi menggigit bibir bawahnya ringan. Itu bukan hal buruk untuk di lakukan. Dia pasti bisa mendapat beberapa angin segar untuk menyegarkan pikiran.


"Akan aku pikirkan." Airi tidak melihatnya, tapi dia bisa merasakan ayahnya tersenyum di balik layar ponsel, puluhan kilometer jauh disana, mendengar Airi berkata seperti itu.


"Kau pasti suka Distrik Timur."


"Ayah selalu bilang begitu."


Lalu panggilan ditutup setelah beberapa wejangan singkat ayahnya dan salam pendek Airi.


Gadis itu mengantongi perangkat suara beserta ponselnya dalam saku. Dia berjalan menunduk kembali ke kelas.


"Hai, Nona berkabut, apa kau tidak bisa melihat jalanmu?"


Airi hampir saja menambrak seseorang di pintu kelas karena tak memperhatikan apa yang di hadapannya.


"Ah, maaf aku—" Bahu Airi turun. Matanya menjadi garis melihat sosok yang tadi membuat panggilan aneh untuknya.


Disana, Jizo menggigit es krim stik yang sudah setengah meleleh dengan warna hijau terang. Airi bahkan harus mundur selangkah agar nodanya tak mengenai seragam gadis itu juga.


Lagipula, apa yang Jizo lakukan disini? Bukankah dia sudah pulang? Adalah hal biasa bila Jizo membolos kelas tambahan. Karena itu Airi lega tak perlu berurusan dengannya.


"Kau darimana, Airi?"


Airi yang sudah duduk kembali di bangkunya mengabaikan Jizo. Sepertinya, laki-laki itu tadi akan pergi, mengapa malah sengaja kembali kemari?


"Aku tadi mau mencarimu karena tidak biasanya Airi menghilang saat kelas tambahan." Kini, Jizo berbisik setelah mendapat teguran beberapa siswa lain yang sedang belajar, sembari meletakkan kursinya di sisi lain meja Airi. Turut serta, membawa barang-barangnya ke meja gadis itu.

__ADS_1


Airi diam saja dan melanjutkan soal-soal yang belum sempat dia jawab tadi. Jizo tidak ambil pusing dan sibuk mencoret-coret bukunya sendiri, masih di wilayah Airi.


Gadis itu tidak sampai menyelesaikan dua pertanyaan saat otaknya mengulang kembali ucapan sang ayah perihal Distrik Timur.


"Jizo," panggil Airi setengah hati pada laki-laki yang menggunakan lenganya sendiri sebagai bantal di saat tangan lainnya sibuk menggambar asal.


"Hm?" Jizo mengalihkan matanya pada Airi. Tapi, tangannya belum juga berhenti. Nada suaranya pelan dan lembut, dia mengerti situasi bahwa Airi tidak bicara padanya jika tak begitu penting. Jangan sampai mengacaukan di kalimat pertama.


"Kau pernah ke Distrik Timur?" Airi bicara dengan pelan. Dia memastikan bahwa hanya mereka berdua yang dengar.


Jizo mengerutkan kening, mengangkat kepala, menatap Airi lamat-lamat. Gadis itu merasa tak nyaman dipandangi begitu. Dia memundurkan kepala agak ke belakang.


"Kenapa?"


"Ini soal teman palsumu itu?"


Hati Airi mencelos. Dia tidak suka perkataan Jizo barusan.


"Tidak, lupakan saja." Gadis itu berniat untuk bertanya dengan baik, barangkali Jizo punya pendapat. Hanya laki-laki itu yang memasang telinga untuknya. Namun, setiap kali dia mulai mengungkit perihal Akane, Airi jadi membencinya karena itu merusak suasana hati Airi.


Pembicaraan tentang Akane di antara Jizo dan Airi adalah hal tabu karena kedua belah pihak berdiri di sisi yang terlalu berbeda.


"Kau seharusnya bersyukur karena dia tidak ada lagi di sekitarmu." Jizo bicara dengan dia yang kembali pada aktifitas terakhirnya tadi. Menunduk, tanpa menatap mata Airi seperti biasa.


"Jizo, tutup mulutmu."


"Kau berkabut, sedih, mudah tersinggung. Dia benar-benar pengaruh buruk."


"Aku tidak minta pendapatmu." Airi mengeratkan tangannya pada pensil yang dia genggam. Mulai dingin dan memutih, Airi menumpuk semua emosinya dalam kepalan itu.


"Kenapa harus muram hanya karena seseorang yang tidak setia pergi dari hidupmu?"


"JIZO, AKU BILANG DIAM! DIAM! DIAM! APA KAU TULI, HAH?!"


Airi tidak bisa menahannya lagi. Urat-urat tipis menyembul dari wajahnya. Kini dia memerah, terlihat siap meledak kapan saja disulut lebih jauh.


Mata Jizo berkedip. Dia terkejut, seisi kelas terkejut. Semua orang menempatkan matanya pada Airi yang kini susah payah mengatur napas.


Airi mengusap wajahnya sendiri. Menarik napas panjang, mengumpulkan akal sehatnya. Terlebih, saat dia menyadari bahwa gadis itu baru saja mengacaukan jam tambahan teman-teman sekelasnya.


Dia menunduk malu.


"Airi..."


"Apa bedanya kau dengan dia?"


"Airi?"

__ADS_1


"Kau juga membuatku sedih, marah, kerepotan. Kenapa kau juga tidak pergi sepertinya saja, Jizo?" Airi berdesis dengan kepala yang masih tertunduk ke bawah.


Airi gila, gadis tidak waras. Bisa-bisanya dia kelepasan lagi. Astaga, Airi tidak tahu dimana dia harus meletakkan wajahnya. Walau, dia masih marah pada Jizo, rasa malunya tetap tidak tertahankan.


__ADS_2