
Satu minggu lebih terlewat dengan cepat. Ini tinggal beberapa hari sampai pentas teater dilaksanakan. Airi beberapa kali mengambil kerja sekali bayar di malam hari untuk menambah uang sakunya.
Entah sekadar membantu membersihkan gedung orang lain sampai mengerjakan tugas sekolah para murid malas. Dia bersyukur dikaruniai otak yang memadai, dirinya jadi bisa melakukan itu di sela-sela mengerjakan hukuman sosial dan cuti kerja paruh waktunya.
"Selamat siang, Kakak Airi!"
Airi yang sedang meminum susu dingin yang baru saja dia beli dari mesin penjual otomatis hampir tersedak mendengar sapaan kejutan dari belakang.
Itu adalah trio Kouni, Shiga, dan Daren. Mereka tersenyum cerah, memandangnya dengan ramah. Airi hanya mengangguk singkat. Di sampingnya, Akane terlihat penasaran.
"Aku tidak tau kau dekat dengan adik tingkat," bisik Akane. Cukup keras, tidak berguna juga.
"Kami pernah membantu Kakak Airi mengerjakan hukumannya." Itu adalah Kouni. Gadis dengan rambut pendek itu menjelaskan.
Tidak, kalian mengacaukan pekerjaan Airi. Kalian hanya bertanggung jawab. Tidak membantu.
"Membantunya? Mengapa?" Akane menatap mereka curiga. Airi berdeham.
Wajar saja, ini memang aneh. Airi bahkan tidak pernah mengobrol dengan orang lain. Mengenal sekelompok adik tingkat yang rela membantunya (sebut saja begitu) mengerjakan hukuman adalah hal yang aneh. Airi saja melarang Akane untuk mendekat takut merepotkannya.
"Pacar Kakak Airi memerintahkan kami melakukannya."
"PACAR?!"
Shiga dan mulut sialannya. Siapa yang dia sebut pacar itu hah?!
Lihat, sekarang Akane menatapnya dengan terkejut yang berlebihan sembari menuntut penjelasan.
Airi menggeleng. "Jangan mengada-ada. Dia bukan pacarku."
"Kakak Jizo bukan pacarmu?"
"JIZO????"
Airi menggesar badannya karena suara Akane bergeming di telinganya. Trio itu juga melakukan hal yang sama. Terheran-heran dengan tingkah temannya itu. Padahal, mulut mereka lah penyebab Akane bereaksi secara berlebihan.
"Airi kau berpacaran dengan Jizo sialan itu?!"
"Tidak!"
Akane ini membenci Jizo sebesar Airi membenci laki-laki itu. Dia tidak tahu alasannya, sedari awal mereka terlihat tidak akrab. Jizo pun, terang-terangan tidak menyukai keberadaan Akane. Airi tidak keberatan dengan kenyataan itu, hal bagus jika mereka tidak perlu saling berhubungan.
Kecuali bagian bagaimana Jizo selalu mengadu-dombanya dengan Akane lewat peringatan separuh hati yang Airi tidak pahami.
"Airi, kau harus menjelaskan sesuatu padaku!" Tubuh Airi digoyang-goyangkan oleh Akane. Gadis itu memijit pelipisnya. Benar-benar dihabisi di hadapan adik tingkat.
__ADS_1
Airi yang menyadari Kouni, Shiga, dan Daren masih disana mengisyaratkan mereka untuk pergi. Tanpa suara mulutnya berbisik, sambil menunjuk Akane susah payah karena tubuhnya bergerak terus menerus.
"Dia gila," bisiknya. Tiga sejoli yang mengerti situasi itu mengangguk bersama lalu pergi tanpa suara.
"Akane... Berhenti..."
"Akane... Tidak ada yang perlu aku jelaskan."
Akane berhenti. "Jadi kau memang pacarnya? Kau tidak mau menjelaskan itu padaku karena itu sudah jelas?"
Astaga.
"Aku tidak mau menjelaskan karena jelas-jelas itu tidak mungkin aku berpacaran dengannya, Akane..."
"Benarkah?"
Airi mengangguk sekali lagi.
"Huh, aku lega." Akane menurunkan tangannya dari lengan Airi. Wajahnya terlihat seperti telah berhasil menyelamatkan korban kriminal.
"Kau selega itu?"
"Ya! Tentu saja! Aku tidak bisa membayangkan kau berpacaran dengan orang sepetinya." Kata Akane sembari melengos. Dia melanjutkan meminum minuman berperisa lecinya. Airi melakukan hal yang sama dengan susu dingin yang sempat dia abaikan.
"Dia menganggumu, menyebalkan, sok keren, dan juga..."
"Ah, palsu!"
Airi mengerutkan kening. Jizo dan Akane sama-sama mengatai satu dan lainnya dengan palsu. Seakan mereka tahu dan melihat sesuatu yang Airi tidak bisa.
Apakah Airi yang terlampau bodoh atau mereka saja yang didasari perasaan tak suka?
"Apa yang membuat Jizo palsu?" Airi bertanya dengan hati-hati sambil mulai berjalan. Akane mengalungkan lengannya pada tangan kiri Airi. Kini mereka berjalan bersisihan dengan rapat.
"Hmmm, apa ya?" Akane terlihat menimang sembari bibirnya masih melekat pada sedotan plastik.
Saat sampai di cabang koridor, Airi menoleh ke kanan, sisi lain yang tidak mereka lewati. Airi masih menunggu jawaban Akane, saat kebetulan dia lihat Jizo ada disana. Menyandarkan diri pada tembok sembari menelepon seorang diri.
Jizo juga tampak menyadari tatapannya. Laki-laki itu melambaikan tangan dan mengumbar senyum. Namun, masih menempelkan telepon genggamnya di telinga. Tidak bisa diputus, tapi sempat-sempatnya menggoda Airi.
Airi mengacuhkan hal itu karena kini dia ditarik Akane berjalan ke lorong arah kiri. Sahabatnya masih tampak berpikir soal jawaban yang akan dia beri untuk Airi.
"Pokoknya, seperti itu! Dia palsu!"
Hanya itu. Tidak ada sebab, hanya ada api. Tidak ada alasan pasti di jawaban Akane, yang membuat gadis itu berpendapat bahwa Jizo palsu.
__ADS_1
Secara pribadi, Airi juga tidak yakin. Dia memang tidak tahu banyak soal laki-laki itu, tapi Jizo selama ini sangat blak-blakan soal pendapatnya pada Airi. Dia tidak bisa menemukan kepalsuan macam apa yang diberikan Jizo. Karena sedari awal, Airi tak berekspetasi apapun.
Berbeda dengan Akane. Saat Jizo bilang Akane palsu, gadis itu menjadi terlalu banyak berpikir. Walau akhirnya, dia tetap pada pendirian bahwa Akane adalah teman yang sebenar-benarnya.
"Sudah! Sudah! Jangan bicarakan dia! Polusi suara!"
Airi tertawa mendengarnya. Bukan lelucon, tapi ekspresi Akane sangat menggemaskan.
"Lebih baik kita bicarakan soal teater! Aku tidak percaya itu terjadi tiga hari lagi!"
Akane memasang wajah cerah. Mengeratkan lengannya sembari bersorak kecil.
"Tiga hari sebelum pergi ke Distrik Timur berdua saja dengan Airi! Aku saaaaangat tidak sabar!"
"Aku juga." Airi menarik sudut bibirnya tinggi.
Benar, lupakan soal Jizo. Perjalanan menyenangkan mereka menunggu di depan sana. Sembari sempat dia untuk pergi bersenang-senang, Airi tidak boleh melakukannya.
Dia akan sibuk dengan ujian dan pindah rumah jika ditunda lebih lama lagi. Ah, ngomong-ngomong dia juga belum bercerita soal rencana pindah ini pada Akane.
Seharusnya, sejak lama bisa dia katakan, namun Airi menahan diri. Dia tidak mau Akane merasa buruk.
"Oh, iya Akane."
"Apa yang kau lakukan setelah lulus?"
"Kau akan kembali ke luar negeri?"
Akane menoleh. "Pertanyaan tiba-tiba soal masa depan adalah yang terburuk."
Airi melongo. Apa baru saja dia salah kata? Karena sekarang, Akane terlihat muram.
"Maaf, apakah itu menganggu privasimu?" Airi merendahkan hati. Jangan sampai Akane terganggu karena mulut lancangnya.
"Bukan begitu. Tapi apakah aku terlihat seperti orang yang sudah merencanakan masa depan?" Akane balik bertanya.
Tidak juga. Gadis itu dipenuhi kejutan dan kebebasan. Jawabannya adalah Akane belum tahu akan apa dia nanti.
"Aku memang bisa saja kembali ke luar negeri, bisa saja menetap disini selamanya, bisa saja pergi ke distrik bahkan perfekfur lain, bisa saja mati di perjalanan untuk pergi."
"Tidak ada yang pasti untuk masa depanku selagi ayah masih memegang kendali." Akane kembali merangkulkan tangan. Airi tertegun mendengarnya.
Ternyata, kebebasan Akane bermakna ganda. Bahkan orang-orang yang hidup nyaman pun, punya ketidakstabilan sama seperti Airi.
Gadis itu menepuk punggung tangan sahabatnya, menenangkan. Meyakinakan bahwa semua akan baik-baik saja untuk mereka berdua di masa mendatang. Semoga.
__ADS_1