RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 3 : Menguyah Roti Keju, Menguyah Kepalsuan


__ADS_3

"Hoi! Hoi! Jadi, benar-benar tertangkap, ya?"


Baru saja Airi akan melangkah ke kelas dengan segala dendamnya, suara familiar yang telah ia kutuk ribuan kali terdengar dari belakang.


Itu Jizo yang menyebalkan.


"Padahal, aku hanya bercanda. Tapi kau ternyata sepayah itu hingga tertangkap," kata Jizo sembari menyunggingkan senyum remeh. Tubuhnya yang tinggi membuat dia menurunkan arah mata ke bawah, dimana Airi berada.


Airi merengut.


Tadi saja dia mau mengomel, sekarang Jizo berada di hadapannya malah membuat segala sumpah serapah terbang entah kemana. Airi sendiri sudah lebih dulu dimakan kekesalan hingga mulutnya tak bisa berkata-kata.


Cahaya melewati jendela-jendela besar pinggir lorong koridor. Matahari menembus hingga dua sosok itu kini bisa saling melihat lebih jelas.


Pandangan mata Airi menajam walau dia tidak mengucapkan apapun. Sedangkan Jizo, masih berdiri disana dengan dagu terangkat dan kokoh, seakan Airi tak lebih dari debu yang menabraknya.


"Jizo, beli makananmu sendiri. Aku tidak sudi lagi." Airi berdesis. Wajahnya masam dan tangannya mencengkram kantung plastik terlalu erat.


"Tidak mau."


"Jizo, ayahku sampai dipanggil karena ini! Kau harus bertanggung jawab!"


Ekspresi Jizo terkejut. Namun, hanya sesaat tawa pecah dengan keras dari rongga mulutnya. Airi bergetar hebat. Sungguh, dia ingin memukul makhluk di hadapannya ini.


"Banyak sekali hal terjadi kurang dari satu jam! Luar biasa sekali kau, Airi!" Jizo masih dengan sisa-sisa gelaknya, sekarang dia bahkan menghapus air mata di sudut karena tertawa terlalu kencang.


"Jizo, aku serius!" Airi sekali lagi menegaskan. Alisnya berkerut hingga hampir bertemu. Mengapa orang di depannya ini bebal sekali, astaga!


Airi bisa gila! Dia sudah gila!


"O-oke. Jangan marah. Aku tidak tau kau bisa marah juga."


Tentu saja Airi bisa marah, Jizo. Dia manusia normal dengan saraf dan hati yang sehat. Hanya saja, selama ini Airi menahan diri. Dia sudah merasa seperti orang suci karena tidak pernah mengumpat di hadapan Jizo, atau laki-laki itu akan membuatkan Airi masalah baru.


Airi menutup matanya sebentar lalu menghembuskan napas. Tahan, ini masih di depan ruang dewan. Jangan menambah perkara Airi, jangan. Airi mengumpulkan kewarasannya dengan hati-hati. Agar dia tidak salah langkah.


"Airi! Airi!"


Kali ini Airi yang akan kembali bicara pada Jizo tertahan karena suara manis yang memanggilnya dari belakang. Airi dan Jizo sama-sama menangkap sosok Akane yang sedang berlarian kecil dengan wajah khawatir.


"Aku dengar ada yang tertangkap anggota dewan! Itu benar-benar kau? Lalu bagaimana? Kau dikeluarkan? Apa mereka menghukummu? Kau baik-baik saja?"


Mata Airi kosong mencerna pertanyaan yang datang bertubi-tubi ke arahnya. Di sampingnya, Jizo diam saja tak berkomentar apapun.

__ADS_1


"Um, ya. Aku baik-baik saja. Seseorang melaporkanku," jawab Airi lemas.


"Melaporkanmu? Siapa yang tega melakukan itu?!" Nada suara Akane meninggi. Airi buru-buru menepuk bahu sahabatnya itu. Memintanya untuk sedikit lebih tenang.


Airi bisa melihat Akane baru menyadari sosok lain disana. Akane memandangi Jizo dari atas ke bawah, dengan teliti, terlalu penuh curiga.


"Kau! Kau kan yang melaporkan Airi!"


Airi terkejut dengan pernyataan tiba-tiba Akane. Gadis itu langsung menoleh cepat ke arah Jizo.


Bagaimana dia tidak terpikir hal itu! Bisa saja Jizo yang menjebaknya kan?


Airi mengganti pandangannya penuh selidik. Yang ditatap, menaikkan alis lalu berdecak.


"Omong kosong apa itu," tanggap Jizo sembari meraih kantong plastik di tangan Airi. Airi tidak sadar karena itu terlalu cepat terjadi.


"Lalu kenapa kau disini, hah?!" Akane lagi-lagi melemparkan tuduhan. Jizo masih tidak peduli, kini dirinya sibuk melihat isi kantung palstik tadi.


"Ah, es krimnya sudah meleleh." Jizo memandang Airi kecewa dengan dibuat-buat. Airi bertahan dalam diamnya, masih mempertahankan kecurigaan pada Jizo.


"Hei, kau kelaparan? Mengapa membeli banyak sekali roti, sih?" Laki-laki itu bermonolog ria sembari menghitung jumlah roti yang ada disana.


"Hah... Ya sudah, aku makan rotimu satu. Buang saja es krimnya dan simpan kembaliannya untuk lain kali." Jizo seperti menemukan akhir dari masalahnya sendiri dengan makan siang.


"Jizo..." Airi berucap dengan nada yang tidak bersahabat. Mengapa laki-laki itu malah berurusan dengan roti dan es krim di saat seperti ini?


Hei! Harusnya Airi yang berseru seperti itu!


"Lalu, siapa yang melaporkanku?" Pertanyaan itu lebih tepat diajukam ke diri Airi sendiri.


Kalau dipikir, penangkapannya tak menguntungkan pihak manapun, kecuali jika seseorang memang menaruh dendam padanya.


Namun, bagaimana dia mau meninggalkan urusan dengan pihak lain jika hanya dua orang di hadapannya ini saja yang sering berinteraksi dengan Airi?


Apakah dengan tidak sengaja Airi pernah memancing orang lain?


Tapi itu tidak penting! Yang terpenting sekarang adalah membuat Jizo ikut bertanggung jawab!


"Tapi itu tidak membenarkanmu untuk meninggalkan aku sendirian, Jizo." Airi mengeluh. Dia sudah kehabisan energinya.


Airi meraih bungkusan yang tadi Jizo ambil alih. Gadis itu membuka satu bungkus roti keju dan memakannya dalam beberapa suap. Dia kembali melakukan hal yang sama sampai dua kali.


"Airi, makanlah pelan-pelan! Kau bisa tersedak, tau!" Akane membuka tutup botol air mineral dengan segera. Jizo hanya menggeleng tak habis pikir.

__ADS_1


"Baiklah! Baiklah! Aku akan ikut membuat pernyataan, oke? Lagipula aku yakin kau sudah membawa namaku ke dalam." Jizo memberi solusi yang ditunggu-tunggu oleh Airi.


Pipi Airi yang masih gembung, dengan mulutnya sibuk menguyah, tak berhenti walau etensinya kini dipusatkan pada Jizo.


"Bwenakwaah?"


"Iya! Geez, kotor sekali." Jizo memandangnya jijik. Airi tak peduli. Yang dia butuhkan adalah laki-laki itu memegang ucapannya dan membersihkan nama Airi.


"Airi, jadi dia benar-benar yang melaporkanmu?" Akane kembali bertanya. Airi berkedip lalu mengangkat bahunya. Dia tidak tahu, hanya Jizo yang punya jawaban.


"Aku sudah bilang, aku tidak melakukannya." Jizo ikut membuka bungkus roti keju yang dia simpan di awal tadi. Sepertinya, laki-laki itu juga lapar.


Haha, Airi menang!


Ceklek


Airi hampir tersedak karena pintu di belakangnya tiba-tiba terbuka.


Gadis itu segera menyingkir, memberi jalan pada ayahnya dan dewan sekolah. Apa mereka sudah selesai? Uh, perasaan Airi tidak tenang lagi.


"Terima kasih sudah datang, Tuan." Anggota dewan menyalami Royo, ayahnya. Yang perangainya mirip dengan dia tersenyum.


"Akan ku pastikan ini tidak pernah terjadi lagi."


"Tentu saja— Ho? Jizo kau juga disini? Aku perlu bicara denganmu. Kemari, kau perlu menyelesaikan sesuatu." Anggota dewan menyadari keberadaan Jizo dalam beberapa detik. Pemuda jangkung yang sama sedang mengunyah itu memang mencolok dimana pun.


Airi memandang bergantian pada Jizo, ayahnya, dan anggota dewan. Woah, Jizo benar-benar dipanggil! Ini pertama kalinya Jizo memberinya masalah, namun juga ikut menanggung akibatnya. Airi hampir saja menangis haru bila tak ingat dia masih punya urusan dengan sang ayah.


"Hm, oke." Jizo membalas dengan asal. Dia tampak tak terlalu terpengaruh. Apa sebenarnya yang bisa membuat laki-laki itu menurunkan harga diri, sih?


"Oh, tunggu sebentar." Jizo sudah satu langkah di dalam ruang dewan saat akhirnya menoleh dan menatap tepat di mata Airi.


Airi balas dengan tanda tanya. Apa lagi kali ini?


"Sebagai hadiah makan siangnya. Biar aku beri kau satu saran." Kalimatnya sengaja diputus. Membuat Airi ingin meremasnya hingga tak berbentuk karena sengaja mengulur-ulur waktu.


"Jangan terlalu percaya pada orang di sekitarmu. Hm, mereka terlihat palsu." Jizo terkekeh. Dia memandang Airi dengan senyum biasanya.


"Permisi." Kali ini, ucapan itu ditujukan kepada ayah Airi, karena jelas-jelas Jizo menangguk kecil ke arahnya sembari tersenyum tengil.


Ayah Airi mengerutkan kening. Sedangkan putrinya panik. Apa-apaan Jizo itu? Mengapa dia membuat masalah ke semua orang? Bahkan ayahnya?


Lagipula apa maksud sarannya tersebut? Palsu? Orang-orang di sekitar Airi?

__ADS_1


Memangnya Jizo tahu apa? Darimana dasar dari semua ucapannya itu?


Di samping Airi, Akane dan ayahnya juga diam. Tidak memberi pendapat atas apa yang dikatan Jizo sampai laki-laki itu menghilang di balik pintu.


__ADS_2