RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 2 : Tertangkap Basah Lebih Buruk Daripada Disiram Air Panas


__ADS_3

Airi melirik ke kanan dan ke kiri. Dia pasang mode paling awas, sehingga dirinya tetap siaga, barangkali ada seseorang yang lewat.


"Masih ada dua menit." Airi bergumam pada diri sendiri sembari melirik jam tangannya. Dia menoleh sekali lagi ke arah punggungnya sebelum mendorong pelan gerbang belakang sekolah.


Kantung plastik putih di genggaman berisi satu sandwich es krim dan sekaleng jus jeruk yang adalah milik Jizo. Untuk dirinya, Airi tak hanya membeli lima bungkus roti keju, namun juga beberapa botol air mineral serta makanan ringan.


Sengaja, ini dimanfaatkan untuk balas dendam. Kapan lagi dia bisa memberi pelajaran pada Jizo, bahwa diperas itu menyebalkan. Lagipula, dia yakin tanggapan Jizo juga tak akan jauh-jauh dari meledeknya sebagai manusia rakus atau semacamnya.


Ludah diteguk sekali lagi saat kakinya berhasil melangkah masuk ke dalam area sekolah. Hm, terlihat aman.


Airi akan berjalan biasa seolah dia baru saja dari toilet sehingga orang-orang tak akan curiga. Walau kantung gemuk di tangannya jelas mencurigakan.


Tiba-tiba, punggungnya ditepuk dari belakang. Tangan itu terasa begitu besar di pundaknya. Hanya menyentuh sepersekian detik, tapi Airi merasa seseorang baru saja melubangi tubuhnya dan membuat ia terpaksa mengakui segala dosa.


"Airi nomor 24 kelas reguler. Sedang apa kau disini?"


Selesai sudah, begitu Airi meringis dalam hati saat yang ia dapati adalah suara berat seorang anggota dewan sekolah.


"Aku dapat laporan jika seseorang membolos lewat gerbang belakang. Ternyata itu kau?"


Airi menoleh. Menyunggingkan satu senyum canggung padanya. Tidak ada gunanya mengelak. Dia ini tertangkap basah, membantah hanya akan membuat suasana semakin buruk.


"Kau mau berjalan ke ruang dewan dengan sukarela atau aku perlu membuat surat panggilan?"


Rambut hitam Airi bergoyang seiring dia menggelengkan kepala. "Aku akan kesana sendiri."


Airi menatap rok putih selututnya dengan sendu. Sepatu kets dengan warna senada berjalan mengikuti anggota dewan yang sudah memimpin jalan.


Kantung plastik dipeluk ke dada. Aroma roti keju menguar dari sela-selanya. Membuat Airi bingung. Apakah dia sedih karena seseorang melaporkannya atau karena dia jadi tak bisa mendapatkan makan siangnya karena harus pergi ke ruang dewan?


"Buat laporan, tulis surat pernyataan, dan panggil orang tuamu ke akademi." Tanpa basa-basi, begitu sampai di ruang dewan, Airi langsung dihadapkan dengan selembar surat cerminan diri.


Airi mengangguk pasrah. Iyakan saja, supaya cepat berakhir. Dia sudah hampir terkena asam lambung bila harus menunda makan siangnya lebih lama lagi.


"Tapi, apakah aku harus memanggil ayahku?" Saat Airi baru akan menuliskan nama, dia tersadar satu hal. Anggota dewan memintanya menghubungi sang ayah.


Tolong, jangan.


Dia tidak berani membayangkan akan sekecewa apa ayahnya jika tahu Airi tertangkap pergi keluar. Airi bisa menanggung hukuman, dimarahi, atau dicaci. Asalkan ayahnya tidak tahu, Airi rasa dia akan baik-baik saja.


Seluruh dunia boleh memusuhinya, bahkan Airi bertahan dari kekejaman Jizo karena menurutnya, masih lebih buruk jika ayahnya yang melakukan.


Airi sanggup bertahan untuk deritanya, selagi ayahnya tetap percaya pada dia. Selama ayahnya tidak menganggap dia anak yang memalukan. Atau bodoh. Atau merepotkan. Atau biang masalah. Airi tidak mau itu terjadi.


"Kenapa? Ayahmu sedang di luar kota?"


"Ya! Dia sedang di luar kota!" Airi menjawab dengan seruan kelewat semangat.


Anggota dewan meliriknya tak habis pikir. "Ck ck. Kau bohong. Cepat telepon ayahmu di depanku. Mari lihat apakah dia benar-benar di luar kota atau tidak."


Airi kembali melengkung lemas. Tidak ada gunanya, anggota dewan ini terlalu pintar.


Gadis itu mengambil ponselnya di saku. Dia buka tombol panggilan cepat sehingga langsung tersambung ke ayahnya.


Airi tidak butuh waktu lama, hanya satu kali dering, jawaban ayahnya tepat berada di seberang sana. Dia menghirup napas dalam-dalam. Bersiap untuk menghadapi akibat kelakuannya.

__ADS_1


"Ayah pikir kau sedang di akademi, Airi?" Ayahnya membuka perbincangan karena Airi tak juga mengucapkan sepatah kata.


"Ayah, bisa kah datang ke sekolah hari ini?" Suara kecil Airi mencicit minta dikasihani. Jarinya meremas roknya kuat, sedangkan matanya melirik ke arah plastik putih yang kini tergeletak di atas meja dewan.


"Apakah ada masalah? Kau meninggalkan barangmu di rumah?"


"Um... tidak, sebenarnya aku membuat masalah." Habis sudah keberanian Airi. Dia tidak mendengar tanggapan ayahnya dari seberang sana.


"..."


"A-ayah?"


"Baiklah, ayah akan disana dalam sepuluh menit."


Tut tut tut.


Panggilan diputus. Ponsel Airi turun dengan menyedihkan. Kini matanya menatap anggota dewan yang memasang wajah menyeramkan.


"Ayahmu bisa datang?"


Kepala Airi terangguk. Dia raih kembali pena yang tadi sempat tertunda. Mengisi data diri sembari menunggu ayahnya datang.


Itu benar-benar hanya sepuluh menit untuk ayahnya naik bus dari rumah mereka ke akademi. Namun, Airi merasa sudah menunggu selama seabad, dengan sejuta kekhawatiran yang menumpuk.


"Kenapa tidak beli makanan di kantin? Tidak sesuai seleramu?" Anggota dewan memecah sunyi saat Airi sibuk mengisi suratnya.


Gadis itu hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Seseorang menyuruhmu?"


Bukankah ini semua bermula karena Jizo menyebalkan itu menyuruhnya melakukan semua ini? Lihat, sekarang dia terjebak di ruang anggota dewan.


Mengapa dia harus disini sendirian, huh?


Kini kepala Airi bergerak ke atas dan ke bawah dengan cepat. Matanya terbuka lebar, rahangnya mengeras. Meyakinkan anggota dewan dengan sungguh-sungguh.


"Ya! Ya! Seseorang menyuruhku, Pak! Jizo menyuruhku pergi ke minimarket membeli makanan untuknya!"


Masa bodoh jika Jizo mengamuk. Airi akan memastikan laki-laki itu menanggung akibat dari memperlakukan Airi semena-mena. Mari kita urus ini dengan benar, Jizo.


"Jizo? Seseorang dari kelasmu itu?"


"Ya! Benar sekali!" Airi terlalu bersemangat sampai dia terbangun dari kursinya.


"Hei, tenang sedikit!" Anggota dewan mengingatkan Airi. Kini gadis itu kembali memposisikan diri dengan benar.


"Maaf."


"Benarkah itu Jizo? Dia tidak terlihat akan makan semua ini sendiri," kata anggota dewan sembari mengecek isi kantung plastik putih milik Airi tadi.


"Lagipula dia tidak punya teman. Kau yakin dirimu tak ikut andil? Kau benar-benar tidak ikut makan?"


Airi terdiam. Lebih dari separuh isi kantung miliknya, itu dibayar dengan uang Jizo, tapi Airi yang akan memakannya. Jadi, itu memang miliknya.


"Itu tidak bisa disebut merundung kalau kau dapat manfaat darinya."

__ADS_1


"Apa?! Tapi, Pak—"


Tok! tok!


Kalimat Airi terputus karena suara ketukan diikuti pintu yang didorong masuk. Ayahnya muncul disana setelah itu.


"Permisi, apakah ini ruang anggota dewan?"


"A-ayah..."


"Oh, sepertinya benar. Hai, Airi."


Ayahnya datang dengan gaya biasanya. Janggut berambut yang tak tebal, dengan kemeja hitam serta celana bahan yang nyaman. Ayahnya mengenakan sepatu dengan desain yang sama dengan Airi, hanya berbeda ukuran dan warna.


Ayah Airi menyapa anaknya santai. Seperti bagaimana dia biasanya. Laki-laki itu tak terlihat marah. Apakah Airi aman untuk saat ini?


"Anda Tuan Royo ayah Airi? Terima kasih sudah datang." Anggota dewan bangkit dan menyambut ayahnya. Mereka bersalaman sesaat.


Airi pikir jantungnya berhenti berdetak kala ayahnya mendudukan diri di sampingnya. Auranya terasa berat. Ditarik! Dia tidak aman! Airi dalam bahaya!


"Aku cukup terkejut mendapat panggilan dari Airi tadi." Ayahnya memulai percakapan. Sedangkan Airi hanya menunduk dalam-dalam, memandang kuku-kuku jarinya yang memutih.


"Maafkan aku, apakah aku mengganggu waktu anda, Tuan?" tanggap anggota dewan.


"Oh, tidak, tidak masalah. Ini kewajibanku." Ayah Airi mengakhiri kalimatnya dengan kekehan pelan. Laki-laki itu tak melirik Airi sedikit pun kala bicara.


Perbincangan mereka membawa kepanikan dalam tubuh Airi.


"Jadi, apa yang anak perempuanku laku—"


Grrrrrrrrr


Mata Airi hampir lepas dari tempatnya. Dia menutup mulut dengan satu tangan, sedangkan tangan lain menyentuh perutnya yang baru saja bergelora.


Sial sekali. Dia malu dan sangat takut. Ini karena dia belum makan apapun sejak pagi, melewatkan jam makan siangnya, ditambah juga pikirannya yang memakai banyak energi. Airi kelaparan!


"Apakah kau melewatkan makan siangnu karena ini Airi?" Ayahnya bertanya dengan perhatian. Gadis itu sekali lagi mengangguk. Entah sudah berapa kali kepalanya dia gunakan berkomunikasi hari ini.


"Maaf, tapi bisa ijinkan dia untuk makan siang? Anda bisa membahas masalah ini dengan saya." Kini, ayah Airi beralih pada anggota dewan.


Mau tidak mau, demi keberlangsungan etika moralnya, anggota dewan mempersilahkan.


Airi ingin menangis haru saat akhirnya diberi kesempatan makan dan pergi dari sini. Setidaknya, dia tak perlu mendengar apa yang ayahnya bicarakan dengan anggota dewan, dan pergi menyelamatkan kesehatan hatinya.


Airi berdiri. "Bo-boleh aku bawa kantung plastiknya? Makananku ada disana..."


Terserah walau anggota dewan kini memandangnya aneh. Dia tidak punya tenaga untuk ke kantin. Lagipula, dari awal makan siangnya memang ada disana!


"Silahkan." Dengan begitu, Airi meraihnya dengan cepat, segera berlalu dari ruangan sesaat setelah mengundurkan diri.


Airi merogoh isi kantung begitu menutup pintu ruang dewan. Dia mengerutkan kening kala sesuatu yang basah menyentuh tangannya.


Astaga, itu sandwich es krim sialan pesanan Jizo. Benar juga, Jizo pasti belum makan siang sama sepertinya karena ini.


Rasakan! Airi senang mengetahui bahwa laki-laki itu kelaparan karena salahnya sendiri.

__ADS_1


Ngomong-ngomong, dimana Jizo? Airi perlu membuat perhitungan dengannya!


__ADS_2