
Kaki Airi melangkah turun dari bus. Dia sudah merasa perutnya baikan setelah tidur sepanjang jalan menuju Distrik Timur. Gadis itu tersenyum kecil merasakan hangat sinar matahari yang mulai habis menabrak kulitnya.
Distrik Timur beraroma pesisir, ada angin dimana-mana. Bau garam menyeruak cepat ke dalam penciuman Airi. Dia segera merogoh sakunya untuk mencari selembar kertas berisi alamat rumahnya yang baru.
Airi membaca tiap huruf disana pelan-pelan, membandingkannya dengan peta virtual yang muncul di ponsel pintar milih gadis itu. Ini berjarak sekitar 2 km dari tempat Airi berdiri sekarang, terminal bus Distrik Timur. Katanya, Airi bisa mengambil jalur bus dalam kota untuk sampai kesana, berlajan sedikit selama sepuluh menit, lalu mencari sebuah apartemen kecil bercat hijau. Rumah yang Royo beli ada di lantai dua, nomor 31.
Dia mengeratkan gendongan pada ransel besarnya, bersiap untuk mencari transportasi yang Airi butuhkan. Gadis itu tak berniat mengabari sang ayah jika dia sudah sampai disini, Airi ingin membuat kejutan. Lagipula, Airi sangat yakin, Royo akan segera pergi kemari untuk menjemputnya jika dia bilang sudah sampai di terminal. Itu bukan lagi kejutan namanya.
Sembari menunggu, Airi menatap lamat-lamat pembatas jalan yang memisahkan kota ini dengan laut berdiri kokoh di seberang sana. Dekat sekali dengan samudra, semua orang di Distrik Timur mungkin bisa melihat laut hanya dengan naik ke lantai dua rumah mereka. Akan sangat bagus kalau Airi juga bisa memandanginya setiap hari. Jizo benar soal tempat ini adalah kota yang nyaman untuk ditinggali.
Gadis itu tak bisa berhenti tersenyum membayangkam akan tinggal disini juga tahun depan bersama ayahnya. Akan ada sup ayam di waktu dekat, saling bertemu saat lelah, bahkan tidak perlu terpisah berbulan-bulan lamanya. Airi sangat suka dengan rencana-rencana yang dia pasang di otak saat itu. Semuanya begitu sempurna, seakan dia tidak pernah punya hari-hari berat lagi untuk dihadapi.
Kala Airi sudah melihat bus datang mendekat, dia dikagetkan dengan ponselnya yang bergetar berkali-kali di dalam saku. Sepertinya, gawat. Jadi, Airi berhenti sejenak hanya untuk mendapati sebuah nomor tidak terkenal terpampang disana.
Intuisinya mengatakan untuk mengangkat saja panggilan itu. Jadi, Airi menggeser tombol hijau disana.
"Halo?"
"Halo. Apakah saya bicara dengan anak dari Tuan Royo?"
Dahi Airi berkerut. Dia tidak kenal suara ini. Lantas, mengapa juga dia bertanya soal ayah Airi? Perasaannya jadi tidak enak.
"I-iya?" Airi membalas tak yakin. Suara di seberang telepon hilang sesaat. Jantung Airi menjadi suara latar pada kekosongan beberapa detik itu.
"Jika memungkinkan, bisakah anda datang ke biro lokal Distrik Timur? Kami perlu anda untuk mengonfirmasi sesuatu."
"Maaf, tapi aku sedang bicara dengan siapa? Dimana ayahku? Kenapa kau bertanya soal dia?"
__ADS_1
Airi tidak bisa percaya begitu saja. Kebetulan, dia memang sedang ada di Distrik Timur, tapi orang yang menghubunginya ini patut dicurigai. Dia bahkan tidak memperkenalkan diri lebih dulu.
"Datang saja, kami akan menunggu jika itu memungkinkan. Anda bisa melihatnya sendiri. Saya akan mengirim alamat biro lokal segera."
Tut.
Dan panggilan diputus begitu saja secara sepihak. Mata Airi melebar. Apa-apaan itu? Dia jadi tak karuan, tapi khawatir pada kondisi ayahnya sekarang.
Mengapa Royo ada di biro lokal? Apa dia terlibat masalah? Apakah ayahnya berurusan dengan seseorang yang jahat?
Airi menggelengkan kepala. Tidak mungkin, tidak mungkin. Dia sedang bicara soal ayahnya, laki-laki gila kerja itu mana sempat untuk mengenal orang-orang jahat apalagi aneh sampai datang ke biro lokal.
Ting!
Tak sampai lama, pesan berisi sebuah alamat datang ke ponselnya. Airi mengecek itu di internet sembari menggigiti jarinya dengan panik. Dia memastikan alamat itu tidak palsu, dan benar saja, alamat yang dikirimkan orang asing itu sama dengan apa yang tertulis di halaman resmi biro lokal Distrik Timur.
Menurut penunjuk jalan, itu hanya dua blok dari sini. Airi bahkan tidak perlu bus untuk kesana. Gadis itu sontak berjalan pergi dengan tubuhnya yang sudah panas dingin. Entah mengapa, berat sekali untuk berjalan. Tapi, Airi tidak bisa mengentaskan pikiran buruknya.
Napas Airi terengah begitu dia sampai di depan gedung dengan gaya modern itu. Warna putih dan abu-abu serta lambang besar biro lokal yang terjajar bersama polisi tersebar di setiap penjuru. Airi tidak membuang waktu, gadis itu menghampiri meja resepsionis dengan segera.
"Permisi, aku dipanggil kemari untuk seseorang bernama Royo." Airi menengguk ludahnya. Semakin dekat dengan tempat ayahnya berada, perasaan Airi semakin kacau. Dia takut jika sesuatu yang tak bisa diperbaiki adalah hal yang akan dia lihat disini.
Petugas dengan seragam abu-abu itu terdiam sesaat melihatnya. Dia tidak langsung memberi tahu dimana tempat yang Airi tuju.
"Anda datang dari Distrik Barat?" Petugas perempuan itu bertanya dengan nada terkesiap. Dia pasti bukan seseorang yang bicara dengan Airi di telepon.
"Y-yah, aku kebetulan memang sedang dalam perjalanan menemui ayahku."
__ADS_1
"Oh!" Seperti mendapatkan jawabannya sendiri, petugas itu segera beranjak untuk mengantarnya melewati lorong-lorong panjang yang dipenuhi kesibukan. Ada banyak orang bicara satu sama lain, beberpa berteriak dengan alat komunikasi. Itu jelas bukan kantor yang ramah.
Airi berhenti di depan pintu paling ujung di lorong ini. Petugas yang bersamanya mengetuk pintu bertuliskan ruang autopsi. Airi rasa, dia dibawa ke tempat yang salah.
"A-ano, aku ingin bertemu ayahku. Kenapa aku dibawa kemari?"
Petugas itu menoleh sama bingungnya. Dia berkedip memandang Airi.
"Bukankah anda dipanggil kemari untuk memastikan sesuatu? tanya petugas itu.
Airi menggaruk tengkuknya. "Aku rasa begitu. Tapi kenapa kita disini?"
Mereka belum sepenuhnya masuk ke ruangan itu. Tapi, dari jarak Airi dia bisa mencium bau pendingin ruangan beserta disinfektan yang bercampur jadi satu.
"Sepertinya Tuan Arba tidak menjelaskan padamu secara detail."
"Anda disini untuk memastikan identitas Tuan Royo. Seorang mayat ditemukan beberapa jam lalu. Dan nomormu ada di barisan paling atas daftar kontak di ponselnya."
Mata Airi terbelalak. Dia menolak percaya. Kakinya tanpa sadar mundur selangkah.
"Anda pasti bercanda."
Orang-orang ini pasti ingin mengerjainya. Bagaimana mungkin orang yang di dalam itu ayah Airi saat baru tadi pagi dia mendengar suaranya sebelum berangkat? Mereka punya janji makan malam dengan sup hari ini. Ayahnya, pasti sedang di rumah baru, memanaskan kaldu.
"Karena itu anda disini, nona. Kami perlu konfirmasi anda untuk memastikan apakah identitasnya sesuai." Petugas itu seakan bicara tanpa hati padahal jelas sekali gadis remaja di hadapannya ini bergetar hebat.
"Anda mau masuk?" tawarnya sekali lagi pada Airi.
__ADS_1
Gadis itu menggeleng keras. Tentu saja Airi tidak mau! Mana sudi! Tidak mungkin orang di dalam sana ayahnya! Bohong! Pembual! Drama!
Airi kembali mundur satu langkah saat petugas itu berusaha meraih tangannya dengan lembut. Dia menepis begitu saja bantuan untuk berdiri tegap padahal kedua tumpuannya sudah mati rasa.