RAMPAK : Kehancuran

RAMPAK : Kehancuran
Bagian 8 : Orang Iseng Punya Banyak Waktu Luang


__ADS_3

"Pelaku penyerangan telah ditangkap oleh polisi saat kejadian berlangsung. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Kasus ini akan terus diselidiki hingga diketahui apa sebenarnya motif pelaku. BNB News melaporkan dari—"


Tut.


Airi mematikan ponselnya kala melihat Akane berjalan mendekat dengan beberapa bungkus roti. Dia melepas perangkat suaranya supaya bisa mendengar sapaan dari sahabatnya itu.


"Apa yang kau tonton?" Begitu duduk di hadapan Airi, Akane menelisik jawaban. Airi meraih benda yang tadi disodorkan gadis itu sembari menjawab.


"Berita. Soal tadi pagi."


Mereka berdua sedang berada di kantin. Akhirnya, setelah lebih dari dua tahun, Airi bisa ke kantin dengan tenang tanpa embel-embel mengurus Jizo.


Dia dan Jizo saling mengabaikan sejak kejadian tadi pagi. Airi memilih untuk tidak memedulikannya dan bersikap seolah Jizo tak terlihat. Laki-laki itu juga tampak lebih tenang hari ini. Dia hanya memainkan ponsel sepanjang kelas tanpa mengucap sepatah kata lagi pada Airi.


"Soal penyerangan di halte bus?"


Airi menggigit rotinya lalu mengangguk.


"Kau bisa melihat itu dari mobilmu?"


"Tidak." Airi mengerutkan kening. Lantas, darimana Akane tahu?


"Lalu?"


"Aku hanya tahu saja." Airi tidak ambil pusing dengan jawabannya dan lanjut mengunyah roti keju yang dibeli Akane.


"Airi."


"Hm?"


Airi masih mengetikan pesan pada ayahnya saat Akane memanggil. Jarinya bergerak cepat walau telinganya terpasang baik-baik.


"Menurutmu, apa yang membuat penyerangan itu terjadi?"


"Tiba-tiba saja?" Airi menoleh. Tidak menyangka jenis pertanyaan yang Akane lontarkan.


"Ya!" Akane mengangguk yakin, seolah dia sedang menanyakan kabar orang lain.


"Kau habis menonton video konspirasi ya?" Gadis itu melempar tatapan menyelidik. Biasanya, segala tingkah tidak terduga Akane dipengaruhi oleh apa yang baru saja dia tonton. Contohnya saja soal teater tadi pagi.


"Airi, apa menurutmu aku semudah itu dipengaruhi?"


Jawabannya adalah iya. Akane seperti kaset kosong yang terus diisi dengan hal-hal baru. Dia menyalinnya sama persis, memutar ulang lagi dan lagi hingga diisi topik lain.


"Tolong berkaca, Akane."


Akane mengerutkan bibir.


"Baiklah, baiklah. Akan ku jawab, oke? Berhenti merajuk." Airi meletakkan air mineral yang dia pegang saat melihat Akane menyilangkan tangan di depan dada.


Si rambut ikal ini sungguh masih kanak-kanak.


"Mungkin itu hanya iseng?" Airi menjawab asal. Pasalnya, dia memang tidak begitu mengerti soal ini. Darimana Airi bisa paham jalan pikiran penjahat?


"Iseng? Woah, dia pasti punya banyak waktu luang untuk itu." Akane tampak terpesona dengan jawabannya. Mereka sungguh akan membicarakan ini?


"Tapi siapa orang iseng yang bangun pagi-pagi sekali?" Airi menambahkan. Jika dipikir, pendapatnya itu tidak logis. Sudah dikatakan, Airi mana paham jalan pikiran seorang kriminal. Dia kan siswa biasa saja.


"Kalau menurutmu? Jangan buat aku membicarakan hal bodoh ini sendirian." Tak kunjung mendapat jawaban serta tanggapan, Airi menagih Akane yang malah memasang pose serius. Dia benar-benar tenggelam pada hal ini.


"Menurutku...."


"Sepertinya memang hanya iseng! Hahaha!" Akane tertawa dengan bodoh. Bahkan, tangannya dia letakkan di pinggang seolah dia telah berhasil menjawab rumus penyelesaian untuk masalah dunia.


Airi menggelengkan kepala. Akane memang hanya butuh seseorang untuk mendengarnya bicara. Pantas saja mereka berdua bisa berteman dekat padahal dari dua asal yang berbeda. Tidak ada yang mau dekat dengan Airi, serta tidak ada yang tahan dengan keacakan Akane. Mereka berdua saling melengkapi.

__ADS_1


"Kenapa bisa ada seseorang yang iseng mencelakai orang lain..."


Akane menarik senyum tinggi.


"Bisa saja ada..."


"Mungkin dia bosan, mungkin benar-benar punya waktu luang, mungkin ingin mencoba pisau baru."


"Akane, kau menonton terlalu banyak film. Bersihkan pikiranmu itu." Airi merapatkan matanya mendengar Akane menyebutkan segala kemungkinan tadi. Ada-ada saja.


"Lagipula, ekspresinya terlihat marah. Dia pasti tidak hanya iseng," sambung Airi sambil menenggak kembali air mineralnya.


"Benarkah?" Oh, astaga. Airi pasti telah mengatakan sesuatu yang menarik perhatian gadis di hadapannya semakin mengebu-ngebu.


Airi hanya mengangguk. Menyesali ucapannya.


"Jangan-jangan dia sedang membalas dendam! Atau dia punya urusan dengan mafia!"


Akane mendramatisasi bahan perbincangan mereka. Lihat saja matanya yang berlinangan seakan telah menemukan seonggok harta karun.


"Hei, hei. Itu terlalu jauh."


"Mana ada mafia jaman sekarang. Di distrik ini? Tidak mungkin." Airi mengibaskan tangan di depan wajah Akane. Dia tidak setuju pendapat yang ini.


Mafia apanya.


"Airi, kau naif sekali!" Hati Airi mencelos mendengarnya. Mengapa tiba-tiba menghina dia?


"Airi, hal-hal seperti itu memang ada!" Akane belum juga menurunkan antusiasmenya. Dia seolah sedang menjelaskan tentang sejarah perdamaian dunia di depan wajah Airi.


"Akane, berhenti berkhayal, oke?" Airi menepuk kepala Akane. Dia sudah selesai mengisi perut. Kini dirinya berjalan ke arah wastafel umum untuk membilas tangannya. Di belakang, Akane mengekor.


"Mau taruhan?"


"Kalau suatu hari ada berita soal mafia di distrik ini, kau harus membelanjakanku tiket teater!"


Airi memasang wajah tak percaya. Meskipun begitu, dia mengangguk. Tak punya pilihan lain apalagi saat Akane tersenyum lebar meyakini setiap kata yang keluar dari mulutnya.


"Kau sungguh harus mengurangi kadar tontonan berbahayamu." Airi mengeluh sembari berjalan. Masih ada lebih banyak waktu sebelum bel masuk.


Dia mengecek kembali ponselnya, tidak ada balasan apapun disana. Ayahnya pasti masih di perjalanan menuju Distrik Timur.


Airi menghela napas. Dia seharusnya tidak perlu kasar kemarin jika akan menyesal seperti ini.


"Kau kenapa?" Akane yang tampak menyadirinya memandangi ponsel dengan sendu, kini menatapnya khawatir.


"Hmm, tidak apa-apa. Aku hanya sedang menunggu pesan ayahku," jawab Airi jujur.


"Ayahmu?"


"Ya, dia berangkat bekerja hari ini."


"HAH?!" Airi otomatis menutup telinga saat Akane berteriak karena terkejut.


"Akane, itu berlebihan." Airi menggosok daun telinganya. Semoga pendengarannya tidak mendapat masalah karena nyaringnya suara Akane.


"Tapi— tapi—"


"Aku bahkan belum bermain ke rumahmu." Akane menunjukan raut kekecewaan yang tidak dibuat-buat. Airi menekan bibirnya ke bawah.


"Kau bisa bermain kapanpun di rumahku. Akan ku beritahu saat ayahku pulang lagi nanti." Airi berusaha menenangkannya. Dia tidak mau Akane bersedih terlalu lama. Ayolah, apa yang begitu spesial dari ayahnya di mata Akane?


"Benarkah? Kau yakin?"


"Kau akan memberitahuku kapan ayahmu pulang?"

__ADS_1


"Iya," kata Akane meyakinkan.


"Bagaimana dengan nomor teleponnya? Kau akan memberiku itu juga?" Airi berhenti berjalan mendengarnya. Matanya mengarah pada Akane dengan sorot, "Cukup sampai disitu."


"Akane, sungguh."


"Aku benar-benar, bersungguh-sungguh, sangat, tak akan pernah, kapanpun, selamanya, memanggilmu ibu." Tangan Airi teracung. Kalimatnya menjadi begitu kacau karena dia tidak punya waktu menyusunnya.


Akane malah terkikik kecil. Mungkin, burung gereja akan takut mendengar tawa gadis itu karena dia terlihat seperti sosiopat kali ini.


"Akane! Jaga jarak!" Airi mundur saat Akane menghampirinya yang tadi berhenti lebih dulu.


"Ppfffttt, bwahahahahahaha!!!!!!" Tawa Akane menyebur tanpa bendungan. Airi menyipitkan mata.


"Akane, aku serius."


"Astaga, astaga. Airi dimana jiwa humormu!" Akane memegangi perutnya karena tertawa terlalu banyak. Airi mendengus. Tentu saja dia tahu itu candaan. Dirinya juga sedang bercanda.


"Baiklah, astaga hahaha, maaf aku ingin tertawa melihatmu. Kau sungguh tau cara bermain peran." Akane menepukkan tangan di bahu Airi. Gadis itu tersenyum kecil.


"Benarkah? Mungkin aku harus jadi pelawak," tanya Airi. Lagi-lagi tawa Akane pecah.


Hm, sepertinya bukan Airi yang lucu. Namun, ada yang salah dengan tingkat humoris temannya itu.


Airi melanjutkan perjalanan sembari menggeleng. "Jangan bicara padaku. Orang-orang akan mengira aku mengenalmu."


"Airi tunggu aku! Hei!"


Airi tidak menurunkan kecepatan. Kaki-kaki jenjangnya terbuka lebar menuai langkah yang besar.


"Dasar gila," kata Airi.


"Dasar pelawak," balas Akane.


"Humor rendah."


"Orang kaku."


"Tawa bar-bar."


"Robot tanpa senyum."


"Hei, apa itu?! Aku kan selalu tersenyum!" Protes Airi mendengar julukan yang ditujukan padanya.


"Hanya padaku. Tapi tidak pernah pada orang lain."


"Kalau begitu aku tidak akan tersenyum padamu."


"Airi~" Mata Airi menyipit karena tawa, begitu pula Akane yang kini bergelayutan di lengannya.


"Airi, apakah hari ini aku bisa bermain ke rumahmu?"


"Tapi sudah ku bilang ayahku tidak di rumah."


"Aku ingin bermain denganmu..." Akane memohon. Airi melirik ke arah lapangan saat mendengarnya.


Sepertinya musim panas akan tiba sebentar lagi, saat melihat beberapa anak laki-laki berlarian dengan bola mereka dengan kaus putih terang.


"Jangan hari ini, aku ada tugas sosial."


"Lain kali saja, ya?"


Airi juga ingin menghabiskan waktu untuk bermain seperti orang lain. Namun, dia melakukan pekerjaan paruh waktu sepulang sekolah, dia hampir tidak punya waktu luang untuk dirinya sendiri. Saat ada seperti kali ini, dia malah harus menjalankan hukuman.


Airi membuang napas. Rasanya, ia ingin lahir di kehidupan berbeda saja, huh.

__ADS_1


__ADS_2